Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah sedang mengevaluasi sejumlah kawasan ekonomi khusus (KEK) yang kinerjanya dinilai masih agak lambat. Pernyataan itu disampaikan kepada awak media di kantornya pada Rabu, 21 Oktober 2026. Airlangga tidak menyebutkan secara terperinci KEK mana saja yang masuk dalam evaluasi tersebut. Karena itu, informasi yang disampaikan pemerintah sejauh ini terbatas pada adanya peninjauan terhadap beberapa kawasan, tanpa identifikasi lokasi atau nama kawasan tertentu.
Keterangan tersebut menandai bahwa kinerja sejumlah KEK tengah menjadi perhatian pemerintah. Namun, Airlangga tidak memaparkan ukuran yang digunakan untuk menilai kawasan tersebut berjalan agak lambat. Ia juga tidak menguraikan data, periode penilaian, maupun rincian hasil evaluasi yang sedang dilakukan. Dengan demikian, belum ada informasi yang dapat memastikan bagaimana perbedaan kinerja antarkawasan dinilai atau aspek apa yang menjadi dasar peninjauan. Pernyataan itu hanya menyampaikan bahwa evaluasi sedang berlangsung terhadap beberapa KEK.
Airlangga juga tidak merinci alasan yang melatarbelakangi penilaian tersebut. Ia tidak menjelaskan langkah lanjutan yang mungkin ditempuh pemerintah, sehingga belum dapat disimpulkan tindakan apa yang akan diambil setelah proses evaluasi. Tanpa keterangan tambahan, tidak tepat untuk mengaitkan peninjauan ini dengan penyebab atau kebijakan tertentu. Fokus informasi yang tersedia tetap pada pernyataan bahwa pemerintah sedang menilai kinerja sejumlah kawasan ekonomi khusus, sementara daftar kawasan, rincian proses, dan tindak lanjutnya belum diungkapkan. Keterangan lebih lanjut diperlukan untuk memahami cakupan evaluasi maupun perkembangan peninjauan tersebut.
Dalam paparannya mengenai kinerja Kawasan Ekonomi Khusus, Airlangga menyoroti potensi kunjungan wisatawan ke KEK Lido yang diperkirakan mencapai 220.000 orang pada 2027. Angka tersebut menggambarkan peluang kunjungan yang dapat dicapai kawasan itu pada tahun tersebut. Namun, potensi itu masih perlu didorong agar dapat menjadi bagian dari perkembangan KEK Lido. Penyampaian angka ini menempatkan sektor wisata sebagai salah satu hal yang diperhatikan dalam pembahasan mengenai kawasan tersebut, tanpa mengubahnya menjadi jumlah kunjungan yang sudah terealisasi.
Airlangga juga menyebut nilai ekonomi dari potensi kunjungan tersebut sebesar Rp352 miliar. Nilai ini dikaitkan dengan perkiraan 220.000 wisatawan pada 2027, sehingga keduanya menggambarkan potensi yang sama dalam konteks paparan. Angka Rp352 miliar bukan keterangan mengenai nilai yang telah diperoleh, melainkan nilai ekonomi yang disebut seiring dengan potensi kunjungan. Karena itu, penjelasan mengenai KEK Lido perlu mempertahankan konteks perkiraan tersebut, sekaligus mencatat bahwa kawasan itu masih perlu didorong.
Selain nilai ekonomi kunjungan, sumber juga mencantumkan potensi devisa KEK Lido sebesar US$1,8 miliar. Angka ini disampaikan sebagai potensi devisa kawasan dan tidak dinyatakan sebagai capaian yang telah terealisasi. Dengan demikian, terdapat beberapa ukuran potensi yang disebut dalam paparan: perkiraan kunjungan wisatawan sebanyak 220.000 orang pada 2027, nilai ekonomi sebesar Rp352 miliar, serta potensi devisa sebesar US$1,8 miliar. Ketiga angka itu memiliki konteks masing-masing dan tidak perlu ditafsirkan melampaui keterangan yang tersedia. Sorotan Airlangga sekaligus menegaskan bahwa potensi wisata KEK Lido masih memerlukan dorongan. Paparan tersebut menyampaikan peluang dan kebutuhan untuk mendorong kawasan, sementara angka-angka yang disebut tetap merupakan potensi sebagaimana dinyatakan. Dengan pembacaan itu, informasi tentang wisatawan, nilai ekonomi, dan devisa dapat disampaikan secara terpisah serta akurat.
Angka potensi yang dipaparkan untuk sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus menunjukkan besaran sasaran kunjungan dan nilai ekonomi yang berbeda. Untuk KEK Kura Kura Bali, potensi kunjungan disebut mencapai 600.000 wisatawan, dengan nilai ekonomi sebesar Rp600 miliar. Sementara itu, KEK Mandalika memiliki potensi menerima 1,6 juta wisatawan. Dalam paparan yang sama, penyelenggaraan MotoGP di Mandalika dikaitkan dengan nilai ekonomi Rp8,6 triliun. Adapun KEK Tanjung Lesung mencatat potensi kunjungan 1,5 juta wisatawan dan nilai ekonomi Rp3 triliun.
Jika dibandingkan dari sisi potensi jumlah pengunjung, angka Mandalika berada pada tingkat tertinggi, yakni 1,6 juta wisatawan. Tanjung Lesung menyusul dengan potensi 1,5 juta wisatawan, atau berbeda 100.000 dari angka Mandalika. Kura Kura Bali memiliki potensi 600.000 wisatawan. Berdasarkan angka yang tersedia, potensi kunjungan Kura Kura Bali lebih rendah daripada dua kawasan lainnya: selisihnya satu juta dibandingkan Mandalika dan 900.000 dibandingkan Tanjung Lesung. Perbandingan ini menggambarkan skala potensi kunjungan sebagaimana disampaikan dalam paparan, bukan jumlah wisatawan yang telah terealisasi.
Dalam hal nilai ekonomi, angka Rp8,6 triliun untuk penyelenggaraan MotoGP di Mandalika merupakan nilai yang paling besar di angka yang disebutkan. Nilai ekonomi Kura Kura Bali tercatat Rp600 miliar, sedangkan Tanjung Lesung Rp3 triliun. Dengan demikian, angka Mandalika tersebut lebih besar Rp5,6 triliun daripada nilai yang disampaikan untuk Tanjung Lesung dan Rp8 triliun daripada nilai Kura Kura Bali. Perlu dicatat, angka Mandalika merujuk secara khusus pada penyelenggaraan MotoGP, sementara angka untuk dua kawasan lain dipaparkan sebagai nilai ekonomi kawasan.
Data tersebut menempatkan tiga kawasan dalam perbandingan yang mencakup dua ukuran: potensi kunjungan wisatawan dan nilai ekonomi. Mandalika disebut berpotensi menerima 1,6 juta wisatawan serta memiliki nilai ekonomi MotoGP Rp8,6 triliun; Tanjung Lesung mencatat potensi 1,5 juta wisatawan dan Rp3 triliun; sedangkan Kura Kura Bali memiliki potensi 600.000 wisatawan dan Rp600 miliar. Angka-angka ini merupakan potensi yang disampaikan, sehingga tidak dengan sendirinya menunjukkan realisasi kunjungan ataupun nilai ekonomi aktual. Penyajian menurut ukuran dan kawasan membantu memperjelas perbedaan angka tanpa menyamakan cakupan masing-masing nilai ekonomi.
Realisasi investasi di seluruh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mencapai Rp46 triliun selama Januari hingga September 2026. Nilai tersebut menjadi catatan akumulasi investasi sampai dengan kuartal III, sekaligus menunjukkan perkembangan pencapaian terhadap target yang ditetapkan untuk tahun berjalan. Target investasi KEK pada 2026 tercatat sebesar Rp69,1 triliun.
Dibandingkan dengan target tahunan itu, realisasi hingga September setara dengan 67 persen. Dengan demikian, angka Rp46 triliun menggambarkan porsi investasi yang telah terealisasi selama tiga kuartal pertama 2026, sementara target Rp69,1 triliun menjadi tolok ukur yang digunakan untuk menilai capaian investasi kawasan sepanjang tahun. Data tersebut memperlihatkan bahwa realisasi investasi belum menyamai keseluruhan target 2026.
Secara tahunan, realisasi investasi sampai kuartal III 2026 turun 9,09 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Perbandingan ini menunjukkan perubahan nilai investasi dua periode dengan rentang waktu yang setara, yakni Januari–September 2026 dan Januari–September 2025. Persentase penurunan tersebut merujuk pada realisasi investasi KEK secara keseluruhan, bukan pada perbandingan dengan target investasi tahun 2026.
Sebagai pembanding, catatan rapat kerja nasional dan evaluasi kinerja KEK menyebutkan realisasi investasi sebesar Rp50,6 triliun hingga triwulan III 2025. Nilai itu lebih tinggi daripada realisasi Rp46 triliun yang dicatat pada periode Januari–September 2026. Perbedaan nilai tersebut sejalan dengan penurunan tahunan sebesar 9,09 persen yang tercatat untuk capaian kuartal III 2026. Angka pembanding dari 2025 menyediakan konteks untuk membaca perkembangan investasi KEK antartahun, sedangkan persentase 67 persen menunjukkan posisi realisasi 2026 terhadap target tahunannya. Kedua ukuran tersebut memakai acuan yang berbeda: capaian tahunan dibandingkan dengan target Rp69,1 triliun, sementara perubahan tahunan dibandingkan dengan nilai realisasi pada periode serupa tahun sebelumnya.
Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla | TNI Bersama Pemerintah Perkuat Penanggulangan Karhutla | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Kawasan IKN Melalui Darat dan Udara






