Jakarta | Carl Pei, CEO Nothing Phone sekaligus salah satu pendiri OnePlus, menilai iPhone Duo dibanderol terlalu mahal jika dibandingkan dengan fitur yang ditawarkan. Ponsel lipat pertama Apple itu memiliki harga awal US.999, atau sekitar Rp35 jutaan. Menurut Pei, harga tersebut sulit dibenarkan ketika perangkat tidak menyertakan beberapa kemampuan yang ia anggap sudah mutakhir. Ia secara khusus menyoroti ketiadaan kamera telefoto dan Face ID, fitur yang dikenal tersedia pada sejumlah model iPhone lainnya. Kritiknya berpusat pada kesenjangan biaya pembelian yang tinggi dan kelengkapan teknologi yang diperoleh konsumen.
Pei menggambarkan pilihan membeli iPhone Duo sebagai situasi ketika pengguna membayar lebih untuk mendapatkan lebih sedikit dibandingkan iPhone Pro. Perbandingan itu menyoroti bahwa desain lipat baru tidak otomatis membuat perangkat menjadi pilihan bernilai lebih baik, terutama bagi pembeli yang mempertimbangkan spesifikasi dan fitur sehari-hari. Harga awal yang mendekati Rp35 juta juga menempatkan ponsel ini pada kategori premium yang menuntut alasan kuat untuk dibeli. Dari sudut pandang Pei, absennya kamera telefoto dan Face ID membuat penawaran tersebut terasa kurang lengkap pada tingkat harga demikian. Penilaiannya merupakan kritik terhadap prioritas dan nilai produk, bukan sekadar terhadap bentuk lipatnya.
Meski demikian, Pei mengakui adanya perhatian Apple terhadap detail, terutama animasi yang muncul ketika ponsel dilipat. Apresiasi itu menunjukkan bahwa ia melihat upaya perusahaan dalam memoles pengalaman penggunaan, bukan hanya menghadirkan perangkat dengan desain berbeda. Ia juga memprediksi iPhone Duo akan meraih sukses besar, sebuah pengakuan bahwa produk Apple kemungkinan tetap menarik bagi banyak konsumen. Namun, menurutnya, animasi yang halus saja bukan alasan yang cukup untuk membeli ponsel tersebut, terlebih ketika harga menjadi pertimbangan utama. Dengan demikian, komentarnya memadukan pujian atas pengerjaan perangkat dengan keraguan mengenai nilai yang diterima pembeli. Calon pengguna tetap perlu menimbang apakah desain lipat dan detail antarmuka sepadan dengan biaya, serta apakah fitur yang tersedia sesuai kebutuhan mereka.
Program pre-order iPhone Duo dimulai pada Jumat, 16 Oktober 2026, dan perangkat itu segera menarik perhatian pembeli. Sejak pemesanan dibuka, calon konsumen dilaporkan bergerak cepat untuk mengamankan unit sebelum persediaan habis. Kecepatan respons tersebut menjadi gambaran awal besarnya minat terhadap produk baru ini, terutama di tengah perhatian publik terhadap harga dan ketersediaannya. Namun, tingginya antusiasme tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana penjualan akan berlangsung di setiap negara. Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa pengalaman pemesanan dapat berbeda menurut pasar dan jumlah unit yang dialokasikan.
Di China, laporan menyebutkan bahwa kuota pre-order habis dalam hitungan detik. Persediaan yang dijual pada tahap awal disebut tidak lebih dari sekitar 200 ribu unit, sehingga jumlah tersebut tampak terbatas dibandingkan derasnya permintaan. Angka itu merujuk pada ketersediaan yang dilaporkan, bukan gambaran pasti seluruh pasokan atau distribusi perangkat di berbagai wilayah. Meski demikian, kombinasi pemesanan yang berlangsung sangat cepat dan jumlah unit yang terbatas membantu menjelaskan mengapa calon pembeli harus bersaing untuk memperoleh perangkat. Situasi tersebut juga membuat stok awal menjadi perhatian penting bagi mereka yang ingin membeli melalui kanal resmi.
Persaingan tidak hanya melibatkan konsumen yang berniat menggunakan ponsel tersebut. Calo juga dikabarkan berupaya mendapatkan unit untuk dijual kembali, dengan harga yang dilaporkan mencapai US$3.885 atau sekitar Rp70 jutaan. Nilai itu jauh lebih tinggi daripada harga pembelian biasa dan mencerminkan potensi keuntungan yang dicari penjual kembali ketika barang sulit diperoleh. Harga jual ulang dapat berubah mengikuti kondisi pasokan dan minat pembeli, sehingga angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai laporan, bukan patokan harga resmi. Secara keseluruhan, kabar dari China memperlihatkan permintaan yang tinggi sekaligus ketersediaan awal yang terbatas. Informasi ini tidak cukup untuk menyimpulkan tingkat permintaan, stok, ataupun harga jual kembali di Indonesia, karena kondisi pasar Indonesia tidak dijelaskan dalam bahan yang tersedia.
Dalam persaingan memperoleh iPhone Duo, bot juga dimanfaatkan untuk mengikuti proses pre-order. Kehadiran bot menjadi bagian dari situasi antrean yang mendapat perhatian, terutama ketika calon pembeli berusaha mendapatkan unit melalui pemesanan awal. Namun, penggunaan teknologi tersebut bukan sekadar persoalan mengikuti pre-order. Francis Fong Po-kiu, presiden kehormatan Federasi Teknologi Informasi Hong Kong, mengingatkan bahwa penggunaan bot dapat membawa risiko bagi penggunanya. Peringatan itu menyoroti kemungkinan timbulnya biaya tindak lanjut serta risiko terhadap keamanan informasi pribadi dan pembayaran.
Menurut Fong, penggunaan bot berisiko menimbulkan biaya tindak lanjut. Peringatan ini penting diperhatikan oleh konsumen yang mempertimbangkan penggunaan bot untuk mengikuti pre-order, karena biaya terkait dapat muncul setelah proses pemesanan. Ia juga memperingatkan adanya peluang pencurian data pribadi atau informasi kartu kredit. Dengan demikian, risiko yang disampaikan mencakup potensi beban biaya tambahan dan kemungkinan informasi sensitif tidak terlindungi. Kedua hal tersebut merupakan kekhawatiran yang disebutkan secara langsung oleh Fong, bukan kepastian bahwa setiap pengguna bot akan mengalami masalah.
Bagi calon pembeli, peringatan tersebut menjadi pertimbangan saat memilih cara mengikuti pemesanan awal. Keinginan memperoleh unit melalui pre-order perlu diseimbangkan dengan perhatian terhadap potensi biaya tindak lanjut dan keamanan data. Fong menyampaikan risiko itu dalam kapasitasnya sebagai presiden kehormatan Federasi Teknologi Informasi Hong Kong. Karena itu, atribusi peringatan perlu tetap jelas: risiko biaya dan peluang pencurian informasi pribadi maupun kartu kredit merupakan hal yang ia soroti terkait penggunaan bot. Konsumen dapat mencermati risiko tersebut sebelum memutuskan ikut pre-order dengan bantuan bot, tanpa menganggap bahwa penggunaan bot menjamin pesanan berhasil ataupun bahwa pencurian pasti terjadi.
Jadwal pengiriman iPhone Duo masih diperkirakan berada cukup jauh dari masa peluncurannya. Perangkat lipat Apple tersebut kemungkinan baru mulai dikirim pada akhir tahun, atau bahkan memasuki awal 2027. Perkiraan ini menunjukkan bahwa konsumen mungkin perlu menunggu beberapa bulan setelah pengumuman sebelum unit mulai sampai kepada pemesan. Namun, rentang waktu itu belum dapat dianggap sebagai tanggal pengiriman pasti. Informasi yang tersedia hanya mengarah pada kemungkinan keterlambatan, sehingga jadwal sebenarnya masih dapat berubah seiring perkembangan produksi dan pengumuman resmi dari Apple.
Analis Jeff Pu menyebut masalah pada engsel sebagai salah satu penyebab keterlambatan produksi. Komponen ini menjadi bagian penting pada ponsel lipat karena memungkinkan perangkat dibuka dan ditutup, sekaligus menopang layar saat digunakan dalam berbagai posisi. Kendala dalam menyempurnakan engsel dapat memengaruhi kesiapan proses produksi, sehingga pengiriman berpotensi bergeser dari perkiraan awal. Meski demikian, keterangan tersebut menjelaskan dugaan penyebab penundaan, bukan memastikan durasi keterlambatan atau tanggal unit akan tersedia. Karena itu, calon pembeli sebaiknya membedakan jadwal peluncuran yang diperkirakan dan waktu pengiriman yang masih belum dipastikan.
Dalam gambaran yang disampaikan sumber, iPhone Duo dijadwalkan dirilis pada September bersama dua ponsel iPhone 18 Pro. Desainnya disebut menyerupai paspor: relatif kecil ketika dilipat, tetapi memiliki bentuk yang lebar. Perangkat ini dikabarkan dilengkapi layar depan berukuran 5,4 inci untuk penggunaan saat masih tertutup. Ketika dibentangkan, layar Super Retina XDR berukuran 7,6 inci akan menjadi bidang tampilan yang lebih luas. Perpaduan ukuran tertutup yang ringkas dan layar terbuka yang lebar menjadi ciri utama bentuk ponsel lipat tersebut.






