Jakarta | Kehidupan Keziah Veendorp kini bergerak jauh dari jadwal latihan, pertandingan, dan perjalanan sebagai pesepak bola profesional. Pada usia 29 tahun, mantan kapten tim nasional Belanda U-17 itu menjalani babak baru di Belanda: lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga sekaligus mengembangkan usaha barang bekas. Perubahan ini menandai pergeseran besar dari karier yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kesehariannya. Veendorp, pemain berdarah Indonesia-Belanda, kini membagi perhatian kehidupan rumah tangga dan aktivitas bisnis yang dibangun bersama istrinya, Djanisha.
Usaha keluarga tersebut bergerak di bidang barang bekas, sebuah pilihan yang membuat keseharian Veendorp berbeda dari kehidupan atlet profesional. Bersama Djanisha, ia terlibat dalam membangun bisnis itu, mulai dari mengelola kegiatan usaha hingga menjalani pekerjaan sehari-hari di luar lapangan. Pengalaman sebagai pemain tentu membentuk rutinitas yang disiplin, tetapi dunia bisnis menghadirkan tantangan dan tanggung jawab yang berbeda. Kini, waktu yang dahulu banyak tersita untuk latihan dan kompetisi dapat dialihkan kepada keluarga dan usaha mereka. Peralihan itu bukan sekadar perubahan pekerjaan, melainkan penataan ulang prioritas setelah meninggalkan sepak bola profesional.
Kisah Veendorp berlangsung di Belanda, tempat ia menjalani kehidupan dan menjalankan bisnis bersama keluarganya; ini bukan peristiwa yang terjadi di Indonesia. Latar belakang Indonesia-Belanda menjadi bagian dari identitasnya, sementara babak baru yang sedang ia bangun berpusat pada kesehariannya di Belanda. Setelah dikenal sebagai pemain muda yang pernah memimpin tim Belanda U-17, Veendorp kini memperlihatkan sisi lain perjalanan hidupnya. Fokusnya tidak lagi hanya pada pencapaian di lapangan, tetapi juga pada kebersamaan keluarga dan upaya mengembangkan usaha bersama Djanisha. Perubahan tersebut menggambarkan bagaimana seorang mantan atlet dapat menemukan arah baru setelah karier profesional berakhir, dengan menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan keluarga dan dunia usaha.
Di Kropswolde, wilayah Groningen, Keziah Veendorp dan Djanisha membuka Kringloopwinkel Vindhet, sebuah toko barang bekas yang mulai beroperasi pada 2026. Usaha ini menjadi babak baru bagi Veendorp setelah dikenal sebagai mantan kapten tim nasional Belanda U-17. Bersama Djanisha, ia kini mengelola ruang belanja yang menawarkan berbagai kebutuhan rumah tangga dengan harga terjangkau. Kehadiran Vindhet memberi warga setempat pilihan untuk mencari perlengkapan sehari-hari tanpa harus selalu membeli barang baru.
Barang yang dijual mencakup sejumlah kategori penting untuk kebutuhan rumah. Pengunjung dapat menemukan pakaian, furnitur, peralatan dapur, serta dekorasi rumah. Ragam tersebut membuat toko ini dapat dikunjungi oleh orang yang sedang melengkapi hunian, mencari barang pengganti, atau sekadar melihat pilihan yang tersedia. Harga yang terjangkau menjadi bagian utama dari penawaran Vindhet, sehingga barang-barang yang masih dapat digunakan bisa menjangkau lebih banyak pembeli dengan kebutuhan dan anggaran berbeda.
Keberadaan pilihan yang beragam juga memberi masyarakat kesempatan untuk berbelanja sesuai kebutuhan, baik untuk mencari satu barang tertentu maupun membandingkan beberapa jenis perlengkapan. Pakaian dan peralatan dapur melayani kebutuhan sehari-hari, sementara furnitur dan dekorasi dapat membantu melengkapi ruangan. Sebagai toko barang bekas, Vindhet menghadirkan alternatif bagi warga yang ingin mempertimbangkan pilihan selain produk baru. Namun, daya tarik utamanya sebagaimana dijelaskan dalam laporan setempat adalah kombinasi barang rumah tangga dan harga yang ramah bagi pembeli.
Respons masyarakat terhadap toko tersebut dilaporkan positif. RTV Midden-Groningen, dalam laporannya pada 24 Juni 2026, menyebut Vindhet memperoleh sambutan baik selama beberapa bulan pertama setelah dibuka. Tanggapan awal itu menunjukkan bahwa toko baru tersebut mulai menarik perhatian warga Kropswolde dan sekitarnya. Bagi Veendorp dan Djanisha, penerimaan tersebut menjadi perkembangan penting pada masa awal usaha mereka. Vindhet pun memperkenalkan pilihan belanja barang rumah tangga bekas yang mudah dijangkau di wilayah Groningen, dengan koleksi yang mencakup beberapa kebutuhan berbeda.
Peralihan Keziah Veendorp dari sepak bola ke usaha barang bekas bukan berarti ia baru mengenal kegiatan jual beli setelah berhenti bermain. Ketertarikan itu sudah tumbuh ketika ia masih aktif sebagai pesepak bola. Di sela-sela kesibukan kariernya, Veendorp terbiasa mencari barang melalui platform jual beli daring. Kebiasaan tersebut memberinya ruang untuk menjelajahi minat di luar lapangan, tanpa harus menunggu masa bermainnya berakhir.
Aktivitas itu tidak berhenti pada menemukan barang yang menarik. Veendorp juga memperbaiki barang yang diperolehnya, kemudian menjualnya kembali. Rangkaian mencari, memperbaiki, dan melepas barang tersebut menjadi bagian dari kegemaran yang telah ia jalani sejak masih menjadi pemain. Dengan demikian, pengalaman membangun usaha yang kini ditekuni berangkat dari praktik sederhana yang sudah akrab baginya, bukan dari keputusan mendadak setelah meninggalkan sepak bola.
Seiring waktu, kegemaran tersebut berkembang menjadi usaha yang dijalankan secara fisik. Perubahan dari transaksi melalui platform daring menuju toko memberi bentuk baru bagi kegiatan yang sebelumnya ia lakukan sebagai minat pribadi. Kini, usaha itu dijalankan bersama keluarganya. Perkembangan tersebut menandai babak berbeda dalam perjalanan Veendorp: keterampilan dan ketertarikan yang telah lama diasah memperoleh ruang yang lebih nyata untuk dijalankan.
Keterlibatan keluarga juga menjadi bagian dari bentuk usaha yang dijalani saat ini. Namun, benang merahnya tetap sama dengan kebiasaan Veendorp ketika masih bermain: mencari barang, memperbaikinya, lalu menjualnya kembali. Yang berubah adalah skala dan cara kegiatan itu dilakukan, dari rutinitas melalui layanan jual beli daring menjadi usaha dengan kehadiran fisik. Kisah ini menunjukkan bahwa langkah barunya tidak sepenuhnya terpisah dari masa lalu. Minat yang dahulu tumbuh berdampingan dengan karier sepak bola kini menjadi kegiatan utama yang ia bangun bersama keluarganya.
Perjalanan tersebut memperlihatkan kesinambungan kegemaran lama dan kehidupan Veendorp sekarang. Ia tidak sekadar beralih dari satu bidang ke bidang lain, tetapi mengembangkan kebiasaan yang telah dikenalnya menjadi usaha yang dijalankan bersama orang-orang terdekat. Toko fisik itu menjadi wujud baru dari minat yang sudah lama hadir dalam kesehariannya, sejak ia masih aktif sebagai pemain sepak bola.
Keziah Veendorp lahir di Sappemeer, Belanda, pada 17 Februari 1997. Sejak usia muda, namanya tumbuh dalam lingkungan sepak bola yang memberi ruang bagi pemain bertahan dengan kemampuan membaca permainan dan beradaptasi. Ia menempuh pendidikan sepak bola di akademi FC Groningen, salah satu klub yang menjadi bagian penting dalam perjalanan awalnya. Di sana, Veendorp dikenal sebagai pemain yang dapat mengisi lebih dari satu peran, kualitas yang membuat prospeknya menarik untuk diikuti. Ia mampu bermain sebagai bek tengah, posisi yang menuntut ketenangan dan kedisiplinan, sekaligus sebagai gelandang bertahan yang harus membantu menjaga keseimbangan tim.
Perkembangannya di level usia muda kemudian membawanya ke tim nasional Belanda U-17. Veendorp dipercaya menjadi kapten, sebuah tanggung jawab yang menempatkannya sebagai salah satu figur penting di dalam skuad. Ia juga menjadi bagian dari tim yang melaju hingga final Piala Eropa U-17 pada 2014. Pencapaian tersebut memberi gambaran tentang tingginya harapan yang pernah menyertai kariernya. Pada masa itu, kemampuannya sebagai pemain serbabisa menarik perhatian sejumlah klub Eropa. Lingkungan sepak bola pun sempat membandingkannya dengan Virgil van Dijk: ketika masih menimba ilmu di akademi Groningen, Veendorp dijuluki “The Next Virgil van Dijk”. Julukan itu mencerminkan besarnya ekspektasi, bukan kepastian bahwa perjalanan keduanya akan serupa.
Nama Veendorp juga pernah dikaitkan dengan timnas Indonesia U-23, menambah dimensi lain pada perhatian publik terhadap kariernya.






