Kemenpora Ingatkan Pentingnya Karakter di Tengah Kompetisi Teknologi Anak

Kemenpora Ingatkan Pentingnya Karakter di Tengah Kompetisi Teknologi Anak

Tangerang | Kementerian Pemuda dan Olahraga mendorong Codero National Competition (CNC) 2026 sebagai wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan pengetahuan, daya saing, dan ketangkasan digital. Kompetisi coding dan robotik tersebut dinilai dapat mempertemukan proses belajar dengan pengalaman berkompetisi, sehingga peserta tidak hanya memahami konsep teknologi, tetapi juga berlatih menerapkannya dalam tantangan nyata. Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora, Hendro Wicaksono, menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan ajang itu di Tangerang pada Sabtu. Ia menilai ruang kompetisi semacam ini penting untuk mendukung tumbuhnya minat dan kemampuan anak di bidang teknologi.

Menurut Hendro, CNC 2026 dapat membantu meningkatkan pengetahuan sekaligus daya saing anak. Melalui coding dan robotik, peserta berkesempatan mengasah cara berpikir logis, menyusun langkah penyelesaian masalah, serta memahami hubungan gagasan dan hasil yang diwujudkan. Mereka juga dapat menguji kemampuan, belajar menghadapi tantangan, dan memperoleh pengalaman berinteraksi dengan peserta lain. Pengalaman tersebut menjadi bekal yang relevan di tengah perkembangan teknologi digital yang terus memengaruhi berbagai bidang kehidupan. Anak-anak perlu memiliki kecakapan untuk mengikuti perubahan, sekaligus keberanian untuk mencoba dan terus memperbaiki hasil karyanya.

Meski demikian, Hendro mengingatkan bahwa peningkatan kemampuan teknis perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Prestasi dalam kompetisi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan; peserta juga perlu membangun sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan kemampuan bekerja sama. Nilai-nilai itu membantu anak menggunakan pengetahuan secara bijak dan menghargai proses maupun kontribusi orang lain. Dengan demikian, kompetisi teknologi dapat menjadi ruang pendidikan yang lebih utuh, bukan sekadar ajang untuk menentukan pemenang. Dorongan Kemenpora terhadap CNC 2026 menempatkan penguasaan teknologi dan penguatan karakter sebagai dua unsur yang saling melengkapi dalam pengembangan generasi muda. Harapannya, pengalaman mengikuti kompetisi dapat mendorong anak mengembangkan potensi secara berkelanjutan, baik sebagai pembelajar maupun sebagai bagian dari masyarakat yang semakin terdigitalisasi.

Hendro berpandangan bahwa pengembangan literasi digital dan penguasaan teknologi informasi pada anak tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan menggunakan perangkat atau memahami aplikasi. Kemampuan tersebut perlu tumbuh bersama karakter yang kuat, sehingga anak dapat memilih, menilai, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Di tengah kompetisi teknologi yang semakin cepat, kecakapan digital memang penting, tetapi arah penggunaannya ditentukan oleh nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini. Karena itu, pendidikan teknologi sebaiknya berjalan seiring dengan pembiasaan sikap positif, seperti kejujuran, disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab.

Untuk menjelaskan hubungan kemampuan dan nilai, Hendro menggunakan analogi “man behind the gun”. Senjata, dalam perumpamaan tersebut, dapat disamakan dengan teknologi: alat yang memiliki daya besar, tetapi hasil penggunaannya bergantung pada orang yang mengendalikan. Penguasaan teknologi dan kecerdasan tidak otomatis menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Apabila digunakan dengan karakter yang baik, kemampuan itu dapat membantu menciptakan solusi, berbagi pengetahuan, dan mendukung kemajuan bersama. Sebaliknya, tanpa pertimbangan moral, kecakapan yang sama dapat dipakai dengan cara yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, pembentukan karakter membantu anak memahami bukan hanya bagaimana teknologi bekerja, tetapi juga kapan dan untuk tujuan apa teknologi seharusnya digunakan.

Hendro juga mengingatkan bahwa tumbuh kembang anak mencakup tiga aspek yang saling berkaitan, yaitu fisik atau body, kecerdasan atau mind, dan jiwa atau soul. Ketiganya perlu mendapat perhatian agar perkembangan anak berlangsung seimbang. Pendidikan formal, menurutnya, terus berperan mengasah kecerdasan melalui proses belajar dan pengembangan pengetahuan. Namun, penguatan aspek kognitif saja belum memadai untuk membimbing anak menghadapi pilihan di ruang digital. Karakter menjadi pilar penting yang melengkapi kecerdasan, sekaligus memberi landasan bagi penggunaan teknologi secara bijak. Ketika body, mind, dan soul berkembang bersama, anak diharapkan bukan hanya mampu mengikuti perubahan teknologi, tetapi juga mampu mengarahkannya demi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Hendro mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dan digitalisasi perlu diimbangi dengan perhatian terhadap perkembangan sosial anak. Perangkat digital dapat membuka akses luas bagi anak untuk belajar, berkreasi, dan mengenal bidang baru. Namun, penggunaannya tidak semestinya membuat mereka terlalu asyik dengan dunianya sendiri, semakin individualis, atau enggan berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, keberhasilan anak di bidang teknologi tidak hanya diukur dari kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga dari kemampuannya menjalin hubungan dan bekerja bersama.

Dalam hal ini, orang tua memiliki peran penting untuk menjaga komunikasi dengan anak. Pendampingan bukan sekadar membatasi waktu layar, melainkan juga menyediakan ruang percakapan yang terbuka dan membangun kebiasaan berinteraksi di rumah maupun lingkungan sekitar. Anak perlu mendapat kesempatan untuk bermain, berdiskusi, serta terlibat dalam kegiatan bersama. Melalui pengalaman tersebut, mereka dapat memahami bahwa manusia tetap membutuhkan orang lain, termasuk untuk berbagi gagasan, saling membantu, dan menyelesaikan persoalan.

Penekanan pada kehidupan sosial tidak berarti menghambat minat anak terhadap sains dan teknologi. Kemenpora berkomitmen mendukung wadah pengembangan minat dan bakat kepemudaan di berbagai bidang, termasuk sains dan teknologi. Ruang pengembangan tersebut mencakup kegiatan yang berada dalam naungan Persatuan Robotik Seluruh Indonesia, serta ekosistem e-sport. Wadah yang tepat dapat membantu anak dan pemuda mengasah kompetensi, disiplin, kreativitas, dan kemampuan bekerja dalam tim. Dengan pendampingan yang seimbang, aktivitas digital dapat menjadi sarana belajar sekaligus kesempatan untuk membangun hubungan sosial.

Dukungan terhadap pengembangan bakat itu sejalan dengan visi Indonesia Emas, yang membutuhkan generasi muda tidak hanya cakap menghadapi perubahan, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan yang kuat. Pemuda diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, mengambil tanggung jawab, dan menggunakan kemampuannya untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Orientasi sosial perlu tumbuh bersama keterampilan teknis, agar kemajuan individu berjalan seiring dengan kepedulian terhadap sesama. Peran keluarga, komunitas, dan lembaga pengembangan kepemudaan dapat saling melengkapi dalam membentuk generasi yang terampil, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi bangsa.

Head of Marketing and Growth Codero, Jesslyn Catherine, menjelaskan bahwa CNC 2026 berlangsung selama dua hari, pada 24–25 Oktober 2026. Ajang kompetisi antarsekolah ini diikuti sekitar 450 peserta berusia 4 hingga 17 tahun, dengan latar jenjang pendidikan yang beragam, mulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA). Kehadiran peserta dari kelompok usia dan tingkat sekolah yang berbeda memberi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan keterampilan sesuai tahap belajar masing-masing.

Selain peserta, CNC 2026 diperkirakan dihadiri sekitar 1.000 pengunjung dan pendamping. Para peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, lain Banjarmasin, Jogja, Solo, Surabaya, dan kawasan Jabodetabek. Jangkauan tersebut menunjukkan bahwa kompetisi ini menarik minat keluarga dan sekolah dari sejumlah wilayah, sekaligus menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk bertemu dengan peserta lain yang memiliki ketertarikan pada teknologi.

Kompetisi tersebut menyediakan 11 kategori lomba yang mencakup sejumlah bidang dan bentuk kegiatan. Peserta dapat mengikuti kategori coding, robotika melalui robot challenge dan speed building, coloring, serta simulasi modul elektronik berbasis Arduino. Ragam kategori ini memungkinkan kompetisi diikuti oleh anak dengan minat dan pengalaman yang berbeda, baik dalam pemrograman, perakitan robot, maupun kegiatan kreatif dan eksplorasi elektronika.

Menurut Jesslyn, coding dan robotika menjadi kategori yang paling diminati peserta. Ketertarikan itu terlihat dalam pilihan lomba yang mengajak anak menyusun instruksi, menyelesaikan tantangan, dan bekerja dengan perangkat teknologi. Namun, CNC tidak hanya menawarkan aktivitas bagi peserta yang telah terbiasa dengan coding atau robotika.

Baca juga: Silaturahmi Penuh Jelang HUT TNI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko Ingatkan tentang Profesionalisme Prajurit | Bentuk Karakter Pelajar Sejak Dini, Babinsa Lakukan Manunggal Pendidikan | Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045: Kodim Bojonegoro Perkuat Karakter Kebangsaan Komponen Masyarakat