Jakarta | Megawati Soekarnoputri mengajak generasi muda untuk berani menyuarakan kebenaran, melawan ketidakadilan, dan berpihak kepada rakyat. Seruan tersebut menekankan pentingnya keberanian moral, terutama ketika kelompok lemah membutuhkan pembelaan. Pesan itu disampaikan melalui pidato video dalam puncak Merah Putih Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Dalam pesannya, keberpihakan kepada rakyat menjadi bagian penting dari tanggung jawab generasi muda. Suara anak muda, menurut inti seruan tersebut, tidak semestinya hanya diarahkan pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Mereka juga diharapkan peka terhadap keadaan masyarakat dan berani menyampaikan sikap ketika menyaksikan perlakuan yang tidak adil.
Ajakan untuk membela kebenaran juga membawa perhatian pada mereka yang berada dalam posisi rentan. Kelompok lemah kerap membutuhkan dukungan agar pengalaman dan kepentingannya tidak diabaikan. Karena itu, keberanian yang dimaksud bukan sekadar berbicara lantang, melainkan kesediaan untuk mengambil sikap dengan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat luas.
Penyampaian melalui video memungkinkan pesan Megawati hadir dalam rangkaian acara puncak festival tersebut. Meski tidak disampaikan secara langsung di hadapan peserta, pokok pesannya tetap berfokus pada peran anak muda dalam kehidupan publik: menjaga keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan menolak ketidakadilan, sekaligus memastikan rakyat menjadi pihak yang diperhatikan.
Seruan ini menempatkan keberpihakan sebagai sikap yang perlu diwujudkan dalam tindakan dan kepedulian sehari-hari. Generasi muda dapat memulainya dengan tidak bersikap acuh terhadap kesulitan orang lain, mendengarkan suara masyarakat, serta menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab. Dengan demikian, pesan dalam pidato video di Merah Putih Fest 2026 mengingatkan bahwa keberanian membela kebenaran memiliki arti ketika diarahkan untuk melindungi kepentingan rakyat, khususnya mereka yang paling membutuhkan dukungan.
Dalam pesan kepada generasi muda, Megawati menekankan bahwa kecerdasan dan keterampilan merupakan bekal penting, tetapi keduanya belum cukup untuk menghadapi berbagai persoalan masyarakat. Pengetahuan dapat membantu seseorang memahami keadaan dan menemukan jalan keluar, sementara kemampuan praktis mendukung pelaksanaan gagasan. Namun, tanpa integritas, bekal tersebut tidak dengan sendirinya menjamin seseorang akan mengambil keputusan yang benar. Karena itu, anak muda perlu membangun karakter yang selaras dengan tanggung jawabnya sebagai bagian dari kehidupan berbangsa.
Integritas berarti menjaga kejujuran dan konsistensi, termasuk ketika seseorang menghadapi tekanan, kepentingan, atau pilihan yang tidak mudah. Megawati mengingatkan bahwa orang pintar tetap dapat goyah dan tidak teguh dalam pendirian. Kecakapan berpikir tidak otomatis membuat seseorang berani mempertahankan prinsip. Seseorang mungkin memahami apa yang benar, tetapi memilih diam atau mengalah ketika kepentingan tertentu terasa lebih menguntungkan. Pesan ini bukan meremehkan pendidikan, melainkan menggarisbawahi perlunya menyertai pengetahuan dengan keteguhan moral agar kemampuan dapat digunakan secara bertanggung jawab.
Nilai-nilai Pancasila dapat menjadi pegangan dalam membentuk sikap tersebut. Dengan menjadikannya pedoman, generasi muda dapat mempertimbangkan kepentingan bersama, menghormati martabat manusia, serta berupaya berlaku adil dalam tindakan sehari-hari. Pegangan ini juga membantu mereka menilai informasi dan keputusan secara kritis, bukan sekadar mengikuti arus atau tekanan kelompok. Keberanian membela kebenaran perlu berpijak pada fakta, pertimbangan yang jernih, dan penghormatan terhadap hak orang lain.
Keteguhan itu penting ketika suara masyarakat kurang didengar atau keadilan belum terwujud. Memperjuangkan kepentingan rakyat tidak selalu berarti melakukan tindakan besar; hal itu dapat dimulai dengan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, menolak penyalahgunaan wewenang, dan mendukung penyelesaian masalah yang berpihak pada kepentingan umum. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi terampil dan berprestasi, tetapi juga bersedia menggunakan kemampuannya untuk tujuan yang bermanfaat. Dengan integritas dan keberanian yang berpadu, pengetahuan dapat menjadi kekuatan untuk menjaga kebenaran, memperjuangkan keadilan, serta memberi kontribusi nyata bagi bangsa.
Megawati mendorong generasi muda untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal menghadapi perubahan zaman sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat. Penguasaan tersebut tidak cukup berhenti pada pemahaman teori atau kecakapan menggunakan perangkat digital. Anak muda perlu mengembangkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan, menilai persoalan secara cermat, dan menghasilkan solusi yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara itu, inovasi dapat memberi manfaat nyata, bukan sekadar menjadi simbol kemajuan.
Teknologi terapan memiliki peran penting karena berangkat dari kebutuhan konkret. Berbagai tantangan, seperti akses pendidikan dan kesehatan, ketahanan pangan, lingkungan, serta pemerataan layanan, memerlukan gagasan yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Generasi muda dapat memanfaatkan riset, kreativitas, dan kolaborasi untuk merancang pendekatan yang efektif dan dapat dijangkau. Namun, solusi teknis juga perlu mempertimbangkan dampaknya bagi manusia, lingkungan, dan kelompok yang mungkin terdampak. Kemajuan yang hanya mengejar kecepatan atau keuntungan berisiko mengabaikan kebutuhan publik.
Karena itu, kecakapan intelektual perlu berjalan bersama etika dan karakter. Kejujuran membantu anak muda menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab; disiplin mendukung proses belajar dan kerja yang konsisten; sedangkan tanggung jawab mendorong mereka mempertimbangkan akibat dari setiap keputusan. Nilai moral juga menjadi pedoman ketika teknologi membuka pilihan baru, termasuk dalam pengelolaan data dan penggunaan kecerdasan buatan. Keterampilan tanpa pertimbangan etis dapat menimbulkan kerugian, sementara nilai yang kuat membantu mengarahkan kemampuan menuju tujuan yang bermanfaat.
Megawati juga menekankan pentingnya gotong royong, sebab persoalan masyarakat umumnya tidak dapat diselesaikan oleh satu orang atau satu bidang saja. Kerja bersama memungkinkan ilmuwan, pemerintah, pelaku usaha, dan warga memahami kebutuhan dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, generasi muda diharapkan tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dalam menentukan arah penerapan ilmu. Teknologi tetap perlu berpijak pada nilai kemanusiaan: menghormati martabat, memperluas kesempatan, dan meningkatkan kesejahteraan. Perpaduan pengetahuan, etika, kepedulian, serta semangat kebersamaan menjadi dasar agar inovasi benar-benar melayani rakyat.
Menjelang peringatan ke-98 Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026, Megawati mengingatkan generasi muda pada keberanian para pemuda yang berikrar untuk bersatu pada 1928. Saat itu, Indonesia masih berada di bawah penjajahan, sementara cita-cita kemerdekaan belum terwujud. Para pemuda dari beragam latar belakang memilih mengikatkan diri pada satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Pesan tersebut mengajak kaum muda masa kini untuk mengenali arti penting persatuan dalam perjalanan bangsa, serta memahami bahwa semangat Sumpah Pemuda lahir dari tekad bersama di tengah keadaan yang tidak mudah.
Keberanian pemuda pada 1928 bukan sekadar keberanian menyampaikan gagasan. Mereka juga mengambil sikap untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas perbedaan. Dengan persatuan, mereka membangun landasan bagi perjuangan menuju kemerdekaan. Megawati menyinggung keberanian itu sebagai pengingat bahwa generasi muda memiliki peran dalam menjaga cita-cita kebangsaan. Semangat tersebut dapat dimaknai melalui kesediaan untuk berdiri bersama sebagai bagian dari bangsa Indonesia, tanpa melupakan keragaman yang ada. Peringatan Sumpah Pemuda menjadi kesempatan untuk kembali mencermati ikrar para pendahulu dan memahami konteks ketika ikrar itu diucapkan, yakni saat bangsa belum memiliki kebebasan menentukan arah sendiri.
Megawati juga mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan akhir dari perjuangan. Kemerdekaan merupakan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Karena itu, makna peristiwa 1928 tidak berhenti pada pengenangan sejarah atau peringatan tahunan. Ikrar persatuan tersebut berkaitan dengan perjalanan bangsa setelah , ketika rakyat memiliki ruang untuk menentukan masa depan bersama. Menjelang 28 Oktober 2026, pesan itu kembali mengarahkan perhatian kepada keberanian generasi muda di masa penjajahan dan pilihan mereka untuk bersatu.
Baca juga: Dari Sesepuh untuk Generasi Penerus, Mantan Panglima TNI Titip Pesan bagi Prajurit TNI | Pesan Sesepuh TNI Pada HUT Ke-81, TNI Diminta Terus Mengabdi Untuk Rakyat





