Jakarta | Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menyampaikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan yang tinggi di Kalimantan Tengah mulai Senin, 26 Oktober. Potensi tersebut diperkirakan berlangsung hingga lima hari berikutnya. Untuk Sumatra Selatan, peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan diperkirakan mulai Selasa, 27 Oktober, dan dapat berlangsung selama lima hari berikutnya. Keterangan itu disampaikan Faisal di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 26 Oktober. Pernyataan tersebut secara khusus menyebut dua wilayah itu dalam rentang waktu yang berbeda, dengan Kalimantan Tengah menjadi wilayah yang berpotensi terdampak lebih dahulu.
Informasi BMKG ini menggambarkan potensi pertumbuhan awan hujan di tingkat wilayah, bukan kepastian bahwa hujan akan turun merata di setiap lokasi. Perkiraan waktu yang disampaikan juga membedakan awal periode potensi bagi masing-masing provinsi: Senin untuk Kalimantan Tengah dan Selasa untuk Sumatra Selatan. Dengan demikian, warga di kedua wilayah dapat mencermati perkembangan informasi cuaca dari BMKG selama periode tersebut. Pernyataan yang disampaikan di Jakarta itu menjadi perhatian karena memberi gambaran mengenai kondisi atmosfer yang berpotensi mendukung terbentuknya awan hujan dalam beberapa hari ke depan, sesuai wilayah dan jangka waktu yang telah disebutkan.
Cakupan keterangan tersebut terbatas pada Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Informasi itu tidak menyatakan bahwa potensi serupa berlaku untuk seluruh Pulau Kalimantan maupun seluruh Pulau Sumatra, sehingga kedua provinsi tidak seharusnya dianggap mewakili kawasan yang lebih luas. Perbedaan waktu mulai yang disebutkan pun perlu diperhatikan ketika membaca perkembangan cuaca di masing-masing wilayah. BMKG menyampaikan potensi pertumbuhan awan hujan yang tinggi, bukan kepastian intensitas atau sebaran hujan di setiap daerah. Karena itu, masyarakat dapat merujuk pada pembaruan prakiraan resmi untuk mengetahui perkembangan kondisi cuaca setempat, terutama selama rentang lima hari yang disampaikan bagi masing-masing provinsi tersebut.
Faisal menjelaskan bahwa pertumbuhan awan hujan berkaitan erat dengan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC), terutama ketika wilayah tertentu menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah menjalankan OMC secara masif di daerah yang terdeteksi memiliki banyak titik panas. Upaya ini menjadi bagian dari penanganan karhutla, dengan memanfaatkan peluang terbentuknya awan hujan untuk membantu menghadirkan hujan di kawasan yang membutuhkan. Dengan demikian, pemantauan kondisi atmosfer dan sebaran titik panas menjadi pertimbangan penting dalam menentukan wilayah operasi.
Menurut Faisal, ia bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut Nasional mendatangi Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menangani persoalan karhutla di sejumlah daerah. Ketiga wilayah itu menjadi perhatian karena menghadapi risiko kebakaran, sementara kondisi cuaca dan ketersediaan hujan dapat memengaruhi upaya pengendalian. Pelaksanaan OMC di kawasan yang memiliki banyak titik panas, karena itu, ditempatkan sebagai salah satu langkah dalam respons pemerintah, bersamaan dengan penanganan karhutla di lapangan.
Faisal juga menyampaikan bahwa kebakaran meningkat di sejumlah lokasi dalam rentang dua hingga empat minggu sebelum musim hujan datang. Periode menjelang musim hujan tersebut menjadi fase penting karena kebakaran masih dapat meluas sebelum hujan turun secara lebih teratur. Kehadiran awan hujan dan kemungkinan terjadinya hujan menjadi perhatian dalam menghadapi situasi ini, tetapi OMC diarahkan secara khusus ke daerah yang terdeteksi memiliki banyak titik panas. Penjelasan itu menunjukkan hubungan perkembangan awan, pemantauan kondisi kebakaran, dan keputusan menjalankan operasi. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari penanganan karhutla di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, ketika sejumlah lokasi mengalami peningkatan kebakaran menjelang perubahan musim.
Dalam operasi modifikasi cuaca (OMC), BMKG mengombinasikan penggunaan dry ice dan garam atau natrium klorida (NaCl) untuk membantu mengurangi asap yang terperangkap sekaligus mendorong pembentukan awan hujan. Faisal menjelaskan, tahapan penyemaian dilakukan secara berurutan: dry ice digunakan lebih dahulu, kemudian awan disemai menggunakan NaCl. Kedua bahan tersebut memiliki peran berbeda dalam rangkaian operasi, sehingga penerapannya disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan tujuan penanganan di wilayah sasaran.
Dry ice dimanfaatkan untuk membantu membongkar lapisan inversi, yaitu kondisi atmosfer yang dapat menahan pergerakan udara dan membuat asap berkumpul pada ketinggian tertentu. Menurut penjelasan Faisal, lapisan yang menghambat tersebut berada pada kisaran 6.000–7.000 kaki. Ketika lapisan inversi dapat ditembus, asap yang sebelumnya tertahan diharapkan bergerak naik. Proses ini menjadi bagian dari upaya mengubah kondisi atmosfer yang menghambat penyebaran asap, meskipun hasilnya tetap bergantung pada dinamika cuaca dan keadaan awan setempat.
Setelah asap naik, panas matahari dapat memicu penguapan dan mendukung pembentukan awan hujan. Pada tahap berikutnya, NaCl digunakan dalam penyemaian awan untuk membantu proses pembentukan presipitasi. OMC tersebut dilaksanakan atas arahan Presiden, dengan dukungan pesawat Hercules, CN-295, serta pesawat lain milik TNI. Pengerahan armada memungkinkan bahan semai dibawa dan disebarkan di wilayah operasi sesuai kebutuhan pemantauan. Sebelumnya, hujan berintensitas tinggi dilaporkan terjadi di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan setelah OMC dengan dry ice dan NaCl diterapkan. Laporan itu menjadi bagian dari perkembangan operasi, sementara pemantauan kondisi cuaca dan evaluasi pelaksanaan tetap diperlukan untuk melihat hasilnya di setiap daerah.
BMKG memperkirakan sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Peralihan musim tersebut tidak terjadi serentak, sehingga waktu awal hujan dapat berbeda satu daerah dan daerah lainnya. Meski demikian, periode menjelang akhir tahun menjadi penanda penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan tinggi.
Faisal menyebut awal musim hujan tahun ini diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau setara dengan 20–30 hari. Keterlambatan tersebut dipengaruhi oleh kondisi El Niño. Karena itu, masyarakat tidak sebaiknya hanya berpatokan pada pola waktu musim hujan pada tahun-tahun sebelumnya. Informasi prakiraan cuaca dan pembaruan peringatan dari BMKG perlu dipantau secara berkala, khususnya saat memasuki masa peralihan menuju musim hujan.
Adapun puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Desember, Januari, dan Februari. Secara umum, sifat hujan diperkirakan berada pada kategori normal jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir. Namun, kategori normal tidak berarti hujan akan turun merata atau dengan intensitas yang sama setiap hari. Hujan dapat terkumpul dalam jumlah cukup banyak, tetapi terjadi dalam durasi yang lebih pendek. Kondisi seperti ini tetap dapat memicu genangan maupun aliran permukaan, terlebih di kawasan dengan drainase terbatas.
Perbedaan jumlah hujan musiman dan pola turunnya hujan penting dipahami dalam perencanaan kesiapsiagaan. Hujan lebat yang terkonsentrasi pada waktu singkat dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, serta gangguan aktivitas, sekalipun sifat hujan secara keseluruhan tergolong normal. Warga dapat mengambil langkah sederhana sejak dini, seperti membersihkan saluran air, memastikan jalur evakuasi diketahui, dan mengamankan dokumen atau barang penting. Pemerintah daerah dan pengelola infrastruktur juga perlu memperhatikan titik rawan serta kesiapan layanan darurat.
BMKG mengingatkan bahwa bencana hidrometeorologi basah pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya perlu diwaspadai. Peringatan ini menjadi alasan untuk melakukan persiapan sejak sekarang, bukan menunggu sampai hujan lebat terjadi. Kewaspadaan dan pemantauan informasi resmi dapat membantu masyarakat merespons perubahan cuaca dengan lebih cepat dan mengurangi risiko dampak yang mungkin timbul.
Baca juga: Sinergi Bersama Hadapi Potensi Bencana, Personel Kodim Bojonegoro Segarkan Kemampuan Jinakkan Api






