Produksi Mangga Indonesia Turun, Jawa Timur Tetap Menjadi Sentra Utama

Produksi Mangga Indonesia Turun, Jawa Timur Tetap Menjadi Sentra Utama

Jakarta | Produksi mangga Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 3,01 juta ton, turun 8,87% dibandingkan 2024 yang mencapai 3,30 juta ton. Perubahan ini menunjukkan bahwa volume panen nasional melemah dalam setahun, meskipun catatan jumlah pohon yang menghasilkan pada salah satu periode 2025 justru lebih besar. Kedua data tersebut menggambarkan aspek berbeda dalam kegiatan budidaya dan tidak dapat dibaca sebagai ukuran yang saling menggantikan.

Pada triwulan IV 2025, jumlah pohon mangga yang tercatat menghasilkan mencapai 17,91 juta pohon. Angka tersebut lebih dari dua kali jumlah pada triwulan II, yakni 7,92 juta pohon. Kenaikan jumlah pohon produktif dalam catatan triwulanan tidak serta-merta berarti total produksi tahunan ikut meningkat. Jumlah pohon menggambarkan banyaknya tanaman yang masuk kategori menghasilkan pada periode tertentu, sedangkan produksi mengukur bobot buah yang dipanen sepanjang tahun. Periode pengamatan dan satuan kedua indikator pun berbeda.

Volume panen bergantung pada lebih dari sekadar berapa banyak pohon yang menghasilkan. Produktivitas per pohon dapat berbeda, sementara usia tanaman dan varietas turut memengaruhi kapasitas serta karakter hasil buah. Kondisi selama musim produksi juga berperan dalam menentukan pembentukan dan perkembangan buah hingga panen. Karena itu, pertambahan pohon produktif tidak selalu diikuti kenaikan bobot panen apabila hasil rata-rata per pohon berubah atau faktor musim memengaruhi produksi. Data yang tersedia menunjukkan perbedaan arah ant indikator, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab pasti penurunan produksi.

Meski mengalami penurunan tahunan, produksi 2025 masih berada di atas capaian 2021 sebesar 2,83 juta ton. Dibandingkan tahun tersebut, volume produksi meningkat sekitar 6,1% dalam empat tahun. Dengan demikian, gambaran jangka pendek memperlihatkan pelemahan dari 2024, sementara perbandingan lebih panjang tetap menunjukkan tingkat produksi yang lebih tinggi daripada 2021. Membaca tren mangga nasional secara utuh perlu mempertimbangkan produksi tahunan, jumlah pohon produktif, serta faktor-faktor yang menentukan hasil setiap tanaman.

Produksi mangga Indonesia tersebar dalam jumlah yang berbeda di sejumlah provinsi, dengan Jawa Timur sebagai penyumbang terbesar. Provinsi ini menghasilkan sekitar 1,30 juta ton mangga, setara dengan 43,33% dari total produksi nasional. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan peran penting Jawa Timur dalam pasokan mangga Indonesia. Produksi itu ditopang oleh 8,42 juta pohon menghasilkan, yaitu tanaman yang telah memasuki masa produktif. Jumlah pohon yang besar menjadi salah satu unsur yang mendukung tingginya volume panen. Karena itu, perkembangan produksi mangga di Jawa Timur memiliki pengaruh nyata terhadap angka nasional dan ketersediaan komoditas ini di pasar.

Jawa Tengah berada pada posisi berikutnya dalam pembagian produksi mangga berdasarkan provinsi. Produksinya tercatat sebanyak 545,26 ribu ton, atau 18,12% dari total produksi nasional. Capaian tersebut didukung oleh 3,72 juta pohon menghasilkan. Angka itu memperlihatkan bahwa Jawa Tengah juga menjadi salah satu basis produksi penting, meskipun volumenya berada di bawah Jawa Timur. Perbandingan kontribusi produksi dan jumlah pohon produktif memberikan gambaran tentang skala kegiatan budidaya di provinsi ini. Data tersebut sekaligus menegaskan bahwa pasokan mangga nasional tidak hanya bertumpu pada satu wilayah, walaupun sumbangan terbesar tetap berasal dari Jawa Timur.

Jawa Barat menyumbang 14,12% terhadap produksi mangga nasional, setara dengan 424,83 ribu ton. Produksi ini didukung oleh 3,38 juta pohon menghasilkan. Dengan demikian, tiga provinsi tersebut memberikan gambaran utama mengenai pembagian produksi mangga di tingkat nasional: Jawa Timur menyumbang 1,30 juta ton dari 8,42 juta pohon produktif, Jawa Tengah menghasilkan 545,26 ribu ton dari 3,72 juta pohon, dan Jawa Barat mencatat 424,83 ribu ton dari 3,38 juta pohon. Penyajian angka produksi, persentase, dan jumlah pohon produktif secara berdampingan membantu menjelaskan skala kontribusi tiap provinsi. Data ini menunjukkan konsentrasi produksi pada ketiga wilayah tersebut, dengan selisih kontribusi yang jelas provinsi terbesar dan dua provinsi berikutnya.

Pada 2025, konsumsi mangga rumah tangga di Indonesia tercatat sebesar 156,68 ribu ton. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, ketika konsumsi mencapai 206,69 ribu ton. Dengan demikian, volume konsumsi pada 2025 berkurang 50,01 ribu ton, atau turun 24,19% dari tingkat pada 2024. Perubahan tersebut menjadi gambaran penting untuk membaca perkembangan konsumsi mangga di tingkat rumah tangga, di samping perubahan yang tercatat pada produksi. Kedua angka tahunan itu dapat dibandingkan secara langsung sebagai catatan konsumsi rumah tangga pada masing-masing tahun. Meski menunjukkan penurunan tahunan, angka tersebut perlu dibaca bersama cakupan datanya dan perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Data konsumsi rumah tangga ini mencakup mangga segar maupun mangga olahan. Artinya, jumlah yang dicatat tidak hanya menggambarkan mangga yang dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi juga mangga yang telah diolah. Oleh karena itu, angka 156,68 ribu ton merupakan total konsumsi dari kedua bentuk tersebut, bukan ukuran khusus untuk konsumsi buah segar. Angka 2024 sebesar 206,69 ribu ton juga merujuk pada konsumsi rumah tangga dengan cakupan yang sama. Data yang tersedia tidak memisahkan jumlah konsumsi mangga segar dan olahan, sehingga perbandingan yang dapat dibuat di sini terbatas pada totalnya.

Dalam rentang waktu yang lebih panjang, konsumsi rumah tangga pada 2025 masih sedikit lebih tinggi daripada angka pada 2021, yang tercatat sebesar 145,78 ribu ton. Selisihnya mencapai 10,90 ribu ton. Perbandingan ini memberi konteks tambahan terhadap penurunan yang terjadi 2024 dan 2025: meskipun konsumsi tahunan turun cukup besar, tingkat pada 2025 belum berada di bawah angka 2021. Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan konsumsi dapat terlihat berbeda bergantung pada periode pembanding yang digunakan. Namun, angka-angka ini hanya menggambarkan perubahan volume konsumsi; tanpa informasi pendukung, data tersebut tidak cukup untuk menjelaskan penyebab penurunan maupun kenaikannya.

Jumlah pohon mangga yang menghasilkan buah tercatat berubah cukup nyata dari satu triwulan ke triwulan berikutnya sepanjang 2025. Pada triwulan I, jumlahnya mencapai sekitar 8,88 juta pohon. Angka tersebut kemudian turun menjadi 7,92 juta pohon pada triwulan II. Setelah penurunan itu, jumlah pohon menghasilkan meningkat menjadi 12,44 juta pada triwulan III dan kembali bertambah hingga 17,91 juta pohon pada triwulan IV. Dengan demikian, catatan tahunan menunjukkan pola turun pada paruh pertama, lalu naik pada paruh kedua.

Perubahan jumlah pohon yang menghasilkan buah merupakan salah satu gambaran aktivitas produksi, tetapi belum menjelaskan seluruh variasi hasil panen. Jumlah buah yang dapat dipetik dari satu pohon juga berbeda menurut usia dan kondisi tanaman. Informasi budidaya menyebut pohon matang berusia 10 tahun ke atas dapat menghasilkan sekitar 100–200 buah per musim. Masa berbuahnya berlangsung selama kurang lebih tiga hingga empat bulan, meskipun hasil aktual setiap kebun dapat bervariasi.

Pohon mangga yang masih muda, dengan usia sekitar tiga hingga lima tahun, umumnya menghasilkan lebih sedikit, yakni sekitar 10–50 buah. Seiring pertumbuhan dan kematangan tanaman, potensi hasil dapat meningkat. Dalam kondisi tertentu, pohon besar bahkan dapat menghasilkan lebih dari 500 buah. Kisaran tersebut menggambarkan potensi pada tingkat pohon, bukan angka yang otomatis berlaku untuk semua varietas, lokasi, atau musim.

Baca juga: Pesan Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto : TNI Harus Terus Menjadi Pelopor Perjuanngan Bangsa Meraih Kejayaan | Ketika Luka Menjadi Barang Bukti: Dedy Luqman Hakim Bongkar Titik Kritis Visum dalam Perkara Kekerasan | Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026