Jakarta | Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai kemungkinan Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi menerus dalam waktu dekat masih rendah. Penilaian tersebut merujuk pada hasil evaluasi terhadap perkembangan aktivitas kegempaan gunung api itu setelah rangkaian erupsi pada 4–6 September 2026. Meskipun aktivitas vulkanik tetap dipantau secara ketat, pola gempa terbaru belum menunjukkan peningkatan yang mengarah pada pengulangan erupsi menerus dengan karakter serupa.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan bahwa salah satu dasar penilaian itu adalah menurunnya jumlah gempa hibrid dan gempa frekuensi rendah. Kedua jenis gempa tersebut berkaitan dengan proses pergerakan magma di dalam tubuh gunung api, sehingga perubahannya menjadi salah satu indikator penting dalam membaca potensi peningkatan aktivitas. Berdasarkan pemantauan terbaru, frekuensi kedua gempa itu jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi sebelum Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada awal September.
Perbedaan pola kegempaan tersebut menunjukkan bahwa suplai atau pergerakan magma yang berpotensi memicu erupsi berkelanjutan belum memperlihatkan penguatan signifikan. Rita menyatakan, dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, kemungkinan terjadinya kembali erupsi menerus seperti pada 4–6 September 2026 dalam waktu dekat masih rendah. Namun, rendahnya potensi itu bukan berarti aktivitas Anak Krakatau dapat diabaikan. Badan Geologi tetap melakukan pengamatan terhadap kegempaan, aktivitas permukaan, serta perubahan lain yang dapat mengindikasikan perkembangan sistem vulkanik. Hasil pemantauan menjadi dasar untuk memperbarui evaluasi dan menyampaikan informasi apabila terdapat perubahan penting pada tingkat aktivitas gunung api.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 6–9 Oktober 2026 menunjukkan adanya peningkatan frekuensi erupsi harian. Dalam periode tersebut, tercatat 14 kali erupsi, dengan durasi terpanjang sekitar 12 menit. Catatan ini memperlihatkan bahwa aktivitas letusan masih berlangsung dan perlu terus dipantau melalui pengamatan visual maupun instrumental. Namun, bertambahnya jumlah erupsi tersebut belum dapat langsung diartikan sebagai tanda bahwa tekanan magma di dalam tubuh gunung meningkat secara tajam.
Data kegempaan selama periode pengamatan tidak memperlihatkan lonjakan yang signifikan. Dengan demikian, kenaikan frekuensi erupsi tidak disertai perubahan mencolok pada aktivitas gempa yang dapat mengindikasikan peningkatan tekanan secara mendadak. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, meskipun pemantauan tetap diperlukan karena karakter aktivitas gunung api dapat berubah dari waktu ke waktu.
Selain kegempaan, pengamatan juga dilakukan terhadap kemiringan tubuh gunung menggunakan tiltmeter di stasiun pemantauan. Hasil pengukuran menunjukkan kecenderungan yang relatif mendatar. Artinya, sejauh data yang tersedia, belum terlihat perubahan kemiringan yang mencolok pada tubuh gunung. Parameter ini berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan tekanan atau akumulasi magma di dalam tubuh gunung, sehingga kestabilan pola kemiringan menjadi informasi penting dalam evaluasi aktivitas vulkanik.
Gabungan data erupsi, kegempaan, dan kemiringan tubuh gunung menunjukkan bahwa peningkatan jumlah letusan belum diikuti indikator instrumental yang mengarah pada perubahan besar. Berdasarkan kondisi tersebut, potensi terjadinya erupsi yang berlangsung terus-menerus dalam waktu dekat dinilai masih rendah. Penilaian ini bukan berarti Gunung Anak Krakatau sepenuhnya aman atau tidak berpotensi mengalami perubahan aktivitas. Masyarakat dan pihak terkait tetap perlu mengikuti informasi resmi serta mematuhi ketentuan keselamatan yang berlaku di sekitar kawasan gunung api.
Karakter aktivitas Gunung Anak Krakatau dinilai berkaitan erat dengan sistem vulkanisme terbuka. Dalam sistem tersebut, magma dan gas memiliki jalur yang telah tersedia untuk bergerak menuju permukaan. Kondisi ini membuat pelepasan material vulkanik dapat berlangsung secara relatif lancar, termasuk melalui erupsi yang terjadi berulang dalam keseharian. Oleh karena itu, munculnya erupsi tidak selalu didahului oleh peningkatan kegempaan yang tajam.
Pola tersebut membantu menjelaskan hubungan data kegempaan yang menurun dan erupsi harian yang masih berlangsung. Penurunan aktivitas gempa tidak serta-merta berarti seluruh aktivitas erupsi berhenti. Pada gunung dengan sistem vulkanisme terbuka, material dan gas dapat tetap keluar melalui jalur yang sudah terbentuk, meskipun perubahan kegempaan tidak menunjukkan kenaikan signifikan. Dengan demikian, keberlangsungan erupsi harian perlu dipahami bersama karakter sistem vulkanismenya, bukan hanya berdasarkan kecenderungan data kegempaan dalam satu periode.
Penilaian bahwa potensi erupsi menerus dalam waktu dekat masih rendah juga tidak berarti Badan Geologi mengabaikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Setiap perubahan tetap menjadi bagian dari pemantauan untuk melihat kecenderungan aktivitas gunung secara menyeluruh. Data kegempaan yang menurun menjadi salah satu unsur penilaian, sementara erupsi harian dan karakter sistem vulkanisme terbuka tetap diperhitungkan dalam membaca kondisi terkini. Pendekatan tersebut memungkinkan penilaian dilakukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan bahwa aktivitas erupsi dapat terus berlangsung tanpa harus disertai lonjakan kegempaan yang mencolok.
Badan Geologi menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II atau menjadi Level III atau Siaga. Perubahan status tersebut berlaku sejak 9 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB. Keputusan ini diambil setelah pengamatan menunjukkan bahwa jumlah erupsi harian masih memperlihatkan tren peningkatan. Aktivitas tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperketat kewaspadaan di sekitar gunung api yang berada di Selat Sunda.
Sejalan dengan peningkatan status, masyarakat dan nelayan diminta tidak mendekati area dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Larangan juga berlaku dalam radius 1 kilometer dari dua pulau yang teramati muncul setelah berlangsungnya erupsi menerus. Pembatasan ini diperlukan untuk mengurangi risiko apabila terjadi perubahan aktivitas secara tiba-tiba, termasuk lontaran material vulkanik yang dapat membahayakan manusia dan kegiatan pelayaran.
Sejumlah bahaya perlu diwaspadai di sekitar kawasan gunung api tersebut. Lontaran batu pijar dapat terjadi ketika material vulkanik terlontar dari kawah, sedangkan hujan abu lebat berpotensi mengganggu jarak pandang, kesehatan pernapasan, serta aktivitas warga. Selain itu, letupan dapat muncul akibat kontak lava panas dengan air laut atau air hujan. Kondisi tersebut dapat berlangsung tanpa tanda yang mudah dikenali dari jarak aman yang tidak memadai.
Masyarakat pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang serta tidak terpengaruh isu liar mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Warga dan nelayan sebaiknya mengikuti perkembangan melalui informasi resmi Badan Geologi atau layanan Magma Indonesia, termasuk arahan mengenai zona yang harus dihindari. Status Siaga menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan dan pembatasan aktivitas, tetapi tidak serta-merta berarti tsunami akan terjadi. Masyarakat tetap dianjurkan mematuhi rekomendasi petugas dan segera melaporkan informasi penting dari lapangan melalui saluran resmi.
Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda | Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Semangat Kemerdekaan Dimulai dari Anak-anak, Siti Nurlaela Dorong Budaya Bermain dan Berkarya

