Jakarta | Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan pengawasan yang lebih ketat terhadap dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui kamera CCTV yang terhubung dengan sistem pusat dan didukung kecerdasan buatan (AI). Kebijakan ini disampaikan Kepala BGN Sudaryono dalam acara Transformasi MBG 2.0, sebagaimana tercantum dalam keterangannya pada 30 Oktober 2026. Melalui skema tersebut, seluruh dapur MBG diwajibkan menghubungkan CCTV ke sistem BGN agar aktivitas operasional dapat dipantau dari pusat di Jakarta.
Keterhubungan kamera dengan sistem pusat menjadi bagian penting dari upaya membangun pengawasan yang lebih terstruktur. Dengan akses terhadap tayangan dari berbagai lokasi, BGN dapat memperoleh gambaran mengenai aktivitas dapur tanpa hanya mengandalkan laporan berkala. Sistem berbasis AI juga disiapkan untuk membantu proses pemantauan, sehingga data visual yang masuk dapat dimanfaatkan dalam pengawasan program. Penerapan teknologi ini menempatkan CCTV bukan sekadar perangkat perekam di lokasi, melainkan sarana untuk mendukung pemantauan terpusat.
Kewajiban menghubungkan CCTV berlaku bagi seluruh dapur MBG, sehingga setiap unit perlu memastikan perangkatnya terhubung dengan sistem yang ditetapkan BGN. Pemantauan dari Jakarta memungkinkan pusat mengawasi kegiatan dapur yang tersebar di berbagai wilayah melalui saluran yang sama. Dalam pelaksanaannya, keterhubungan tersebut menjadi prasyarat agar pengawasan dapat menjangkau operasional di lapangan secara lebih konsisten. Keberadaan kamera juga menyediakan rekaman aktivitas yang dapat membantu peninjauan apabila diperlukan, meskipun pemanfaatan rekaman tetap perlu mengikuti ketentuan dan tata kelola yang berlaku.
Pengawasan terpusat ini diharapkan mendukung pelaksanaan MBG dengan menyediakan visibilitas yang lebih luas terhadap kegiatan dapur. Bagi pengelola, kebijakan tersebut berarti kesiapan infrastruktur dan kepatuhan pada sistem pemantauan BGN menjadi bagian dari operasional. Bagi lembaga, integrasi CCTV dan AI menyediakan sarana untuk memperkuat pengendalian serta menindaklanjuti informasi dari lapangan. Dengan demikian, arah kebijakan yang disampaikan dalam Transformasi MBG 2.0 adalah memastikan seluruh dapur terhubung, aktivitas dapat dipantau dari Jakarta, dan teknologi digunakan untuk membantu memperketat pengawasan program.
Penggunaan kecerdasan buatan dalam pengawasan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditujukan untuk membantu memantau kegiatan pengolahan makanan dan menemukan pelanggaran terhadap standar operasional prosedur. Dengan pemantauan tersebut, petugas diharapkan dapat mengetahui ketika praktik di dapur tidak sesuai dengan ketentuan, sehingga masalah bisa diperhatikan lebih awal. Teknologi ini bukan sekadar untuk mengamati aktivitas, melainkan diharapkan memberi penanda yang jelas atas temuan yang perlu ditindaklanjuti.
Sudaryono memberi contoh sejumlah kondisi yang menjadi perhatian dalam pengawasan. Bahan makanan yang diletakkan langsung di lantai merupakan salah satunya. Contoh lain adalah pekerja yang tidak memakai sarung tangan saat menangani bahan, serta kol yang dicacah di lantai. Praktik-praktik tersebut disebut sebagai pelanggaran prosedur pengolahan yang perlu dikenali dalam kegiatan dapur. Contoh itu menjelaskan jenis temuan yang diharapkan dapat ditampilkan atau ditandai oleh sistem, bukan daftar pelanggaran tambahan.
Penandaan dini penting karena bahan makanan masih dapat diperiksa sebelum diolah menjadi makanan untuk penerima manfaat. Jika sistem menunjukkan adanya kondisi seperti bahan diletakkan di lantai, petugas dapat memberi perhatian pada temuan tersebut dan mencegah bahan itu berlanjut ke proses pengolahan. Demikian pula, temuan terkait penggunaan sarung tangan atau pencacahan kol di lantai dapat menjadi sinyal agar praktik yang tidak sesuai segera ditangani. Dengan demikian, sasaran pengawasan berbasis AI adalah mendukung pengenalan pelanggaran SOP pada saat kegiatan dapur berlangsung dan membantu mencegahnya sebelum bahan diolah menjadi makanan. Penjelasan ini berfokus pada pemantauan dan penandaan contoh yang disebutkan, tanpa mengasumsikan bahwa sistem dapat mengambil tindakan sendiri atau memeriksa aspek lain di luar informasi tersebut. Pengawasan manusia tetap diperlukan untuk menindaklanjuti temuan yang muncul, memastikan konteksnya, dan menentukan langkah koreksi yang sesuai dengan prosedur yang berlaku di dapur program MBG.
Sudaryono menegaskan bahwa setiap dapur yang terlibat dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib menghubungkan CCTV ke sistem Badan Gizi Nasional (BGN). Ketentuan ini berlaku untuk seluruh dapur, sehingga pemasangan atau koneksi kamera bukan pilihan yang dapat diterapkan hanya oleh sebagian pengelola. Penegasan tersebut menempatkan pengawasan sebagai bagian dari tata kelola operasional program, bukan sekadar fasilitas tambahan. Dengan cakupan yang menyeluruh, BGN dapat memperoleh dukungan pemantauan dari lokasi dapur yang menjalankan layanan MBG.
Mekanismenya memanfaatkan gambar dari CCTV yang sudah tersedia di dapur. Rekaman atau tampilan kamera tersebut dihubungkan ke pusat pemantauan BGN, lalu diproses dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Dengan demikian, sistem menggabungkan sumber gambar di lapangan dan pengolahan digital untuk mendukung pemantauan. Penjelasan ini tidak berarti bahwa AI menggantikan seluruh peran manusia; teknologi tersebut digunakan sebagai alat bantu agar informasi visual yang diterima dapat mendukung proses pengawasan. Koneksi kamera menjadi prasyarat agar gambar dari dapur dapat diakses melalui sistem pusat.
Kewajiban menghubungkan CCTV juga membuat standar pengawasan berlaku merata bagi para pengelola dapur MBG. Setiap dapur perlu memastikan perangkat yang telah tersedia dapat terkoneksi dengan sistem BGN, sesuai mekanisme yang ditetapkan. Melalui cara ini, pusat memiliki dukungan informasi visual untuk memantau kegiatan dapur, sementara AI membantu pemrosesan gambar yang masuk. Pernyataan Sudaryono menegaskan bahwa koneksi tersebut merupakan kewajiban bagi semua dapur, bukan opsi sukarela. Penerapan pengawasan berbasis teknologi ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat pemantauan pelaksanaan program dari pusat, dengan memanfaatkan CCTV yang berada di lokasi dapur dan menghubungkannya pada sistem BGN.
Dalam penerapan pengawasan berbasis kecerdasan buatan untuk dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Badan Gizi Nasional (BGN) telah menguji sistem tersebut di sekitar 70 dapur. Angka ini merujuk pada lokasi yang sudah menjadi bagian dari tahap uji coba, bukan jumlah dapur yang telah terhubung secara nasional. Pengujian menjadi langkah awal untuk melihat bagaimana sistem dapat mendukung pemantauan operasional dapur secara terpusat dan membantu BGN memperoleh informasi dari lapangan.
Setelah tahap uji coba, BGN merencanakan perluasan dengan menambahkan sekitar 300 dapur. Jumlah tersebut merupakan sasaran penambahan berikutnya, sehingga berbeda dari sekitar 70 dapur yang telah diuji. Perluasan ini memberi ruang bagi sistem untuk diterapkan pada lebih banyak lokasi dan menjadi dasar untuk menilai kesiapan pengoperasian dalam skala yang lebih luas. Rencana tersebut tetap perlu dipahami sebagai tahap lanjutan, bukan bukti bahwa seluruh dapur tambahan sudah terkoneksi atau menggunakan sistem.
Untuk jangka yang lebih luas, BGN menargetkan 5.000 hingga 10.000 dapur terkoneksi dengan sistem pengawasan terpusat hingga akhir 2026. Target akhir tahun itu menggambarkan skala konektivitas yang ingin dicapai, bukan capaian yang telah terealisasi. Dengan demikian, perkembangan penerapan sistem terdiri atas tiga angka yang memiliki arti berbeda: sekitar 70 dapur dalam uji coba, sekitar 300 dapur sebagai rencana penambahan, serta 5.000–10.000 dapur sebagai target koneksi hingga penghujung 2026. Pembedaan ini penting agar tahapan pelaksanaan dan sasaran BGN dipahami secara tepat. Progres menuju target tersebut akan bergantung pada pelaksanaan perluasan dan kesiapan dapur untuk terhubung dengan pemantauan terpusat. Sampai batas waktu yang ditetapkan, angka sasaran itu tetap berstatus target, sementara jumlah yang sudah diuji dan rencana penambahan harus dilaporkan sebagai kategori terpisah. Pendekatan bertahap ini menunjukkan arah pengembangan sistem tanpa mencampuradukkan rencana dengan hasil yang sudah dicapai.





