Jakarta | Trio GJLS kembali ke layar lebar melalui film berjudul GJLS: Berapi-api. Karya ini menjadi film kedua bagi Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir sebagai trio GJLS. Setelah menghadirkan film pertama mereka, ketiganya kini kembali hadir bersama dalam sebuah proyek layar lebar yang menempatkan persahabatan dan komedi sebagai perpaduan utama. Judul GJLS: Berapi-api menandai babak berikutnya dalam perjalanan mereka di film, sekaligus mempertemukan lagi nama-nama yang dikenal sebagai satu trio. Dengan demikian, film ini dapat dikenali melalui dua unsur pokok yang disebutkan sejak awal: kebersamaan para personel GJLS dan pendekatan komedi yang menyertai kisahnya.
Diproduksi oleh Amadeus Sinemagna, GJLS: Berapi-api memadukan kisah persahabatan dengan komedi. Perpaduan tersebut menjadi dasar pengenalan film ini, tanpa perlu mengungkap rincian cerita yang belum disampaikan. Persahabatan memberi konteks bagi kebersamaan trio, sementara komedi menjadi unsur yang berdampingan dengannya. Keduanya hadir sebagai bagian dari identitas film yang diperkenalkan kepada penonton. Bagi Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir, film ini merupakan kelanjutan keterlibatan mereka sebagai trio GJLS di layar lebar. Informasi yang tersedia menegaskan fokus pada ketiganya dan pada gabungan tema tersebut, sehingga pengenalan film dapat tetap sederhana dan bertumpu pada hal-hal yang telah dipastikan.
Film ini menyusul GJLS: Ibuku Ibu-ibu, film pertama mereka yang dirilis pada 2025. Urutan tersebut menempatkan GJLS: Berapi-api sebagai karya layar lebar kedua trio GJLS, setelah langkah perdana mereka bersama dalam film sebelumnya. Kehadiran judul baru ini memperlihatkan bahwa Rigen, Ananta, dan Hifdzi kembali bekerja sebagai trio dalam sebuah film yang membawa perpaduan persahabatan dan komedi. Tanpa menambahkan rincian mengenai alur maupun unsur lain, garis besar pengenalannya tetap jelas: ini adalah film kedua GJLS, diproduksi Amadeus Sinemagna, dan mengikuti film pertama mereka yang dirilis pada 2025. Informasi tersebut memberi konteks yang cukup untuk mengenali posisi film ini dalam perjalanan trio GJLS di layar lebar.
Rigen menilai kisah dalam GJLS: Berapi-api terasa dekat dengan perjalanan persahabatan mereka di kehidupan nyata. Menurutnya, film tersebut tidak hanya menghadirkan cerita tentang tiga sahabat, tetapi juga menangkap pengalaman ketika mereka memiliki tujuan dan berusaha mengejarnya bersama. Kedekatan itu muncul dari semangat untuk terus bergerak menuju impian, meskipun setiap orang mungkin menghadapi proses dan tantangan yang berbeda. Bagi Rigen, unsur tersebut membuat cerita film terasa akrab karena berangkat dari dinamika yang juga ia rasakan bersama kedua sahabatnya.
Salah satu contoh yang disebut Rigen adalah impian menjadi pemadam kebakaran dalam film. Ia menyampaikan contoh tersebut sebagai gambaran tentang cita-cita yang ingin diraih, bukan sebagai uraian lebih jauh mengenai alur cerita. Baginya, keinginan untuk mencapai sesuatu merupakan bagian penting dari pengalaman para tokoh sekaligus menjadi tema yang selaras dengan persahabatan mereka. Perjalanan mengejar mimpi bersama dapat mencerminkan bagaimana dukungan dan kebersamaan tumbuh ketika sahabat memiliki ambisi, lalu mencoba mewujudkannya. Kemiripan itulah yang membuat kisah layar lebar tersebut terasa bersinggungan dengan kehidupan mereka di luar film.
Rigen juga mengatakan bahwa ambisi selalu menyertainya dan kedua sahabatnya. Pernyataan ini menggambarkan bahwa dorongan untuk mengejar cita-cita bukan hal yang baru bagi mereka, melainkan bagian dari perjalanan yang dijalani bersama. Ambisi hadir sebagai semangat untuk terus mencoba dan mengupayakan tujuan, sementara persahabatan memberi konteks pada perjalanan tersebut. Pandangan itu ia sampaikan dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Melalui keterangannya, Rigen menyoroti hubungan cerita film dan pengalaman personal: keduanya sama-sama memuat persahabatan serta keinginan untuk meraih mimpi. Ia melihat kemiripan tersebut sebagai salah satu alasan kisah GJLS: Berapi-api terasa dekat dengan dirinya dan kedua rekannya.
Di rangkaian cerita tentang persahabatan dan ambisi Trio GJLS, salah satu adegan terakhir menghadirkan suasana yang sangat emosional bagi Rigen. Ia mengaku ikut merasakan kesedihan yang muncul dalam momen tersebut, bukan sekadar menjalankan tuntutan akting. Perasaan yang harus ia tampilkan terasa dekat dengan bayangan kehilangan sahabat-sahabatnya. Karena itu, Rigen berusaha menghayati adegan tersebut dari hati, sehingga emosi yang hadir dapat terasa tulus dan selaras dengan hubungan persahabatan yang menjadi inti cerita film.
Pengalaman itu juga memperlihatkan tantangan ketika Rigen harus memainkan adegan drama bersama Hifdzi. Untuk dapat masuk ke suasana yang dibutuhkan, keduanya memilih menjaga jarak dan tidak saling mengajak berbicara. Mereka bahkan menghindari tatapan satu sama lain sebelum pengambilan gambar. Cara tersebut membantu mereka menahan diri dari interaksi yang mungkin membuat suasana menjadi lebih ringan, sekaligus memberi ruang untuk merasakan emosi masing-masing. Bagi dua komedian yang biasanya dikenal lewat percakapan dan humor, pendekatan ini menjadi proses yang berbeda dari kebiasaan mereka.
Rigen menjelaskan bahwa Monty memberi waktu kepada dirinya dan Hifdzi untuk menenangkan diri sebelum adegan itu diambil. Jeda tersebut penting agar keduanya tidak terburu-buru menghadapi momen yang berat, melainkan dapat mempersiapkan perasaan secara bertahap. Dengan menjaga jarak, mengurangi komunikasi, dan memusatkan perhatian pada emosi yang hendak disampaikan, mereka berupaya menghadirkan kesedihan yang meyakinkan. Bagi Rigen, adegan itu bukan hanya bagian dari alur film, tetapi juga kesempatan untuk membayangkan kehilangan orang-orang terdekat. Penghayatan personal itulah yang membuat momen tersebut terasa begitu kuat baginya dan menjadi salah satu pengalaman akting yang membekas selama proses produksi film Berapi-api.
Kesempatan menggarap film kedua bersama Amadeus Sinemagna memiliki arti khusus bagi Rigen, Rispo, dan Hifdzi. Bagi trio GJLS, kembali bekerja dalam sebuah proyek layar lebar bukan sekadar melanjutkan pengalaman sebelumnya, melainkan bagian dari mimpi yang mereka bawa selama berkarya di dunia hiburan. Kesempatan itu memberi ruang bagi mereka untuk menjalani proses kreatif yang lebih luas, sekaligus kembali bekerja bersama dalam format film. Mimpi tersebut tumbuh dari perjalanan mereka sebagai kelompok yang dikenal melalui komedi, pertunjukan, dan berbagai kegiatan hiburan lainnya. Karena itu, hadirnya film kedua menjadi momen yang terasa penting bagi ketiganya. Mereka dapat kembali terlibat dalam pembuatan film, kali ini dengan tujuan yang berbeda dari proyek pertama. Kolaborasi bersama Amadeus Sinemagna menjadi jalan untuk mewujudkan keinginan itu, dan sekaligus menandai kelanjutan perjalanan GJLS di ranah perfilman.
Tujuan film pertama dan film kedua, seperti yang disampaikan Rigen, memiliki penekanan masing-masing. Film pertama menjadi cara untuk memperkenalkan GJLS kepada masyarakat luas melalui medium film. Sebagai kelompok yang berangkat dari dunia hiburan, mereka ingin membawa nama dan karakter GJLS ke hadapan penonton dalam bentuk cerita layar lebar. Proyek perdana itu menjadi kesempatan untuk membuka pintu, sehingga masyarakat dapat mengenal mereka melalui karya film. Sementara itu, film kedua dimaknai sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa keterlibatan mereka dalam perfilman bukan hanya percobaan sesaat. Ada keseriusan yang ingin diperlihatkan dalam proses membuat film dan menjalani peran sebagai bagian dari sebuah produksi. Perbedaan tujuan ini memperlihatkan tahapan yang mereka pandang penting: pertama memperkenalkan diri, kemudian membuktikan komitmen berkarya. Dengan demikian, film kedua membawa beban harapan yang bersifat personal sekaligus kreatif bagi trio tersebut.
Bagi Rigen, terwujudnya film kedua bersama Rispo dan Hifdzi merupakan mimpi bersama yang akhirnya mendapat kesempatan untuk dijalani.
Baca juga: Olahraga Bersama Pererat Persahabatan Prajurit TNI dan Negara Sahabat di SGS 2026





