Jakarta | LSM Bicara Udara mengajak masyarakat, terutama para pelari, untuk lebih peduli terhadap kualitas udara dan memperjuangkan hak atas udara bersih. Ajakan tersebut disampaikan dalam momentum lomba lari di Jakarta yang berlangsung baru-baru ini. Pesan yang dibawa tidak hanya menyangkut kenyamanan ketika berolahraga, tetapi juga dampak paparan udara terhadap kesehatan serta tanggung jawab bersama untuk mendorong lingkungan yang lebih sehat. Kualitas udara dapat memengaruhi pengalaman berlari, mulai dari kenyamanan bernapas hingga kemampuan tubuh mempertahankan aktivitas fisik. Karena itu, isu ini perlu mendapat perhatian, baik sebelum seseorang memilih rute maupun saat komunitas dan penyelenggara merancang kegiatan luar ruang.
Co-founder Bicara Udara Novita Natalia mengatakan, berlari merupakan aktivitas yang dekat dengan kehidupan banyak orang, tetapi udara yang dihirup tidak selalu ideal. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan yang diterima di Jakarta pada Senin. Menurutnya, kebiasaan berlari dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan kondisi lingkungan dan kesehatan sehari-hari. Pelari menghabiskan waktu di ruang terbuka dan menghirup udara selama bergerak, sehingga kualitas lingkungan di sepanjang rute patut menjadi pertimbangan. Kesadaran tersebut tidak dimaksudkan untuk menghalangi masyarakat berolahraga, melainkan mendorong mereka mengenali risiko dan menuntut kondisi yang lebih baik.
Melalui ajakan ini, Bicara Udara menekankan bahwa akses terhadap udara bersih merupakan hak dasar, bukan sekadar kebutuhan tambahan bagi orang yang berolahraga. Pencemaran udara dapat berdampak luas dan tidak terbatas pada peserta lomba; warga yang tinggal, bekerja, atau beraktivitas di sekitar jalan juga turut terpapar. Momentum lomba lari di Jakarta menjadi kesempatan untuk memperluas percakapan publik mengenai persoalan tersebut. Pelari dan masyarakat dapat mulai dengan mencari informasi tentang kondisi udara, menyampaikan perhatian kepada pihak terkait, serta mendukung upaya perbaikan kualitas lingkungan. Dengan melibatkan komunitas olahraga, isu udara bersih dapat dibicarakan lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari dan mendorong kepedulian kolektif yang berkelanjutan.
Dalam momentum lomba lari, Bicara Udara menghadirkan edukasi yang mengajak peserta memperhatikan kualitas udara sebagai bagian dari pengalaman dan persiapan berlari. Inisiatif ini diwujudkan melalui peluncuran buklet berjudul “Run Smart, Breathe Easy: An Air Quality Guide for Pelari Kalcer”. Materi tersebut dirancang sebagai panduan praktis agar pelari dapat mengenali informasi mengenai kondisi udara dan memahami relevansinya sebelum maupun saat beraktivitas di luar ruang. Dengan pendekatan yang dekat dengan kebutuhan pelari, pesan tentang hak atas udara bersih dihubungkan dengan keputusan sehari-hari yang dapat mendukung kegiatan olahraga yang lebih sadar kondisi lingkungan.
Penyusunan buklet melibatkan koordinasi dan konsultasi dengan sejumlah pihak yang memiliki keahlian dan tanggung jawab terkait. Bicara Udara bekerja bersama BMKG, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Medical Director Jakarta Running Festival, serta dokter spesialis paru. Kolaborasi lintas bidang ini membantu memastikan isi panduan mempertimbangkan informasi meteorologi dan lingkungan, konteks penyelenggaraan lomba, serta perspektif kesehatan pernapasan. Keterlibatan para mitra juga ditujukan untuk menyajikan penjelasan yang mudah dipahami tanpa melepaskan dasar pengetahuan yang relevan, sehingga pelari memperoleh rujukan yang lebih berguna dalam menilai informasi kualitas udara.
Selain meluncurkan panduan, Bicara Udara melakukan pemantauan kualitas udara di sekitar area acara. Kegiatan ini memperkenalkan pentingnya memperhatikan kondisi lingkungan di ruang tempat lomba berlangsung, sekaligus melengkapi upaya edukasi kepada peserta dan masyarakat. Buklet dan pemantauan tersebut sama-sama diarahkan untuk membantu pelari mengakses, memahami, dan menggunakan informasi kualitas udara secara lebih bijak. Informasi itu dapat dipertimbangkan ketika menyusun persiapan berlari, termasuk menentukan cara menyikapi kondisi lingkungan pada hari kegiatan. Dengan demikian, pelari didorong untuk tidak hanya berfokus pada jarak, kecepatan, dan kebugaran, tetapi juga memasukkan kualitas udara ke dalam pertimbangan sebelum berolahraga. Pendekatan ini mendukung kebiasaan berlari yang lebih terinformasi dan meningkatkan perhatian terhadap lingkungan yang sehat.
Ketua Tim Informasi Pencemaran Udara Direktorat Layanan Iklim Terapan BMKG, Dwi Atmoko, menjelaskan bahwa kualitas udara tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Kondisi cuaca dan iklim turut memengaruhi bagaimana pencemar tersebar, bertahan, atau terakumulasi di suatu wilayah. Perubahan angin, hujan, suhu, dan keadaan atmosfer dapat mengubah kondisi udara dari waktu ke waktu. Karena itu, informasi kualitas udara perlu dipahami sebagai keadaan yang dinamis, bukan gambaran yang selalu sama setiap hari. Penjelasan ini juga mengingatkan bahwa pemantauan lingkungan membutuhkan informasi yang diperbarui dan konteks yang memadai.
Untuk membantu masyarakat mengambil keputusan, BMKG menyediakan prakiraan kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk memantau kondisi lingkungan dan merencanakan kegiatan sehari-hari. Masyarakat dapat memeriksa pembaruan sebelum beraktivitas di luar ruang, terutama ketika hendak berolahraga atau menghabiskan waktu cukup lama di luar rumah. Dengan mengetahui prakiraan, seseorang bisa mempertimbangkan waktu dan bentuk kegiatannya, atau memilih langkah pencegahan yang sesuai. Prakiraan bukan pengganti perhatian terhadap kondisi setempat, tetapi dapat mendukung keputusan yang lebih terinformasi.
Dampak kualitas udara yang memburuk juga tidak dirasakan secara seragam oleh semua orang. Anak-anak, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu dapat menghadapi risiko lebih besar dan mungkin memerlukan kewaspadaan tambahan. Kelompok tersebut sebaiknya memperhatikan informasi resmi dan mengikuti saran tenaga kesehatan yang relevan dengan keadaan masing-masing. Keluarga, pengasuh, dan komunitas dapat membantu dengan membagikan informasi yang tepercaya serta menyesuaikan kegiatan ketika diperlukan. Bagi para pelari, perhatian terhadap prakiraan menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan diri sekaligus memahami hak masyarakat atas udara bersih. Memantau informasi dan meresponsnya secara bijak merupakan langkah praktis untuk mengurangi paparan, sembari mendorong kepedulian bersama terhadap kualitas udara.
Selain memberikan edukasi dan mendorong pemantauan kualitas udara, Bicara Udara mengadakan kampanye solidaritas bagi masyarakat di Kalimantan dan Sumatera. Inisiatif ini mengajak publik untuk melihat persoalan pencemaran udara sebagai isu yang melampaui batas wilayah. Dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat, tetapi tingkat paparan dan kemampuan untuk menghadapinya tidak selalu sama. Karena itu, perhatian terhadap kualitas udara juga perlu disertai kepedulian terhadap mereka yang menghadapi risiko pencemaran secara langsung.
Kampanye tersebut dimaksudkan untuk memperkuat solidaritas publik lintas wilayah sekaligus mengingatkan bahwa dampak pencemaran udara tidak dirasakan secara merata. Masyarakat yang terdampak membutuhkan perhatian dan perlindungan, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan. Dengan mengangkat situasi di Kalimantan dan Sumatera, Bicara Udara mendorong publik agar tidak memandang dampak pencemaran sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kampanye ini juga menyoroti pentingnya mitigasi karhutla sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat dan mengurangi risiko pencemaran udara.
Gagasan Clean Air Human Rights turut diperkenalkan untuk menegaskan pentingnya hak atas udara bersih. Pesan ini menghubungkan perhatian pada kualitas udara dengan perlindungan bagi masyarakat yang menghadapi paparan dan konsekuensinya. Solidaritas yang dibangun melalui kampanye diharapkan dapat membuka ruang bagi perhatian publik terhadap kondisi warga terdampak, sekaligus menguatkan dorongan agar mitigasi karhutla menjadi perhatian bersama. Novita berharap kesadaran mengenai kualitas udara dapat menjadi bagian dari budaya berlari, sehingga pelari tidak hanya memperhatikan kondisi udara saat beraktivitas, tetapi juga mengembangkan kepedulian terhadap masyarakat yang menghadapi risiko pencemaran udara.
Baca juga: Peduli Kemarau Panjang, Kodim Bojonegoro Salurkan 130 Ribu Liter Air Bersih Setiap Hari | Peduli Kekeringan, Kodim Bojonegoro Salurkan 133 Ribu Liter Air Bersih ke 6 Kecamatan | Darurat Air Bersih: IJTI, Kodim 0813 dan BPBD Bojonegoro Pasok 21 Ribu Liter Air Bersih di Tlogohaji






