Jakarta | Belum ada cara yang terbukti secara ilmiah untuk mengatur jenis kelamin anak sesuai keinginan orang tua. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Muhammad Fadli menyampaikan bahwa hingga saat ini, pasangan tidak dapat memastikan apakah bayi yang akan lahir berjenis kelamin laki-laki atau perempuan dengan memilih metode tertentu. Penjelasan tersebut disampaikan Fadli saat dihubungi pada Kamis, 29 Oktober, menurut keterangan sumber.
Keinginan orang tua mengenai jenis kelamin anak dapat berbeda-beda. Sebagian pasangan menerima apa pun jenis kelamin anak yang lahir dan lebih memusatkan perhatian pada kesehatan ibu serta bayi. Bagi mereka, kehadiran anak merupakan hal utama, tanpa memandang apakah anak tersebut laki-laki atau perempuan. Sikap ini menunjukkan bahwa harapan terhadap jenis kelamin bukanlah sesuatu yang dirasakan seragam oleh setiap keluarga.
Di sisi lain, ada pula pasangan yang berharap anak berikutnya memiliki jenis kelamin berbeda dari anak pertama. Harapan tersebut dapat muncul karena mereka ingin merasakan pengalaman membesarkan anak laki-laki dan perempuan. Dalam sejumlah budaya, keinginan memiliki anak laki-laki juga dikaitkan dengan harapan meneruskan garis keturunan. Pertimbangan keluarga dan tradisi dapat membentuk ekspektasi, tetapi tidak mengubah peluang biologis menjadi kepastian.
Karena itu, penting membedakan keinginan pribadi dan metode yang dapat diandalkan. Berbagai saran yang beredar, termasuk pengaturan waktu hubungan seksual, pola makan tertentu, atau cara lain yang diklaim dapat memengaruhi jenis kelamin, tidak dapat diperlakukan sebagai jaminan. Harapan pasangan, sekalipun kuat atau didasarkan pada tradisi, tidak membuktikan bahwa terdapat cara yang mampu menentukan hasil kehamilan secara pasti.
Penegasan dokter ini memberi konteks bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan. Informasi tentang jenis kelamin anak sebaiknya dipahami secara realistis dan tidak menjadi dasar untuk mempercayai klaim yang menjanjikan hasil tertentu. Pasangan dapat mendiskusikan rencana kehamilan serta kondisi kesehatan dengan tenaga medis, sembari menyadari bahwa keinginan akan anak laki-laki atau perempuan berbeda dari kemampuan untuk memilihnya. Sampai ada bukti ilmiah yang memadai, tidak ada metode yang dapat menjamin jenis kelamin anak sesuai harapan orang tua.
Menurut penjelasan Fadli, pembentukan jenis kelamin biologis anak berkaitan dengan kromosom yang diwariskan dari kedua orang tua. Anak menerima materi genetik dari ibu dan ayah melalui proses pembuahan. Sel telur yang dihasilkan perempuan umumnya membawa satu kromosom X. Sementara itu, sel sperma dapat membawa kromosom X atau kromosom Y. Perbedaan kromosom yang dibawa sperma inilah yang menjadi dasar penjelasan umum mengenai bagaimana kombinasi kromosom seks terbentuk pada awal perkembangan embrio.
Dalam satu ejakulasi, jumlah sperma dapat mencapai sekitar 15 juta, meskipun angka sebenarnya bervariasi. Sperma bergerak melalui saluran reproduksi menuju sel telur, tetapi hanya sebagian kecil yang berhasil mencapai lokasi pembuahan. Pada akhirnya, satu sperma membuahi satu sel telur. Jika sperma yang berhasil membuahi membawa kromosom X, kombinasi kromosom yang terbentuk biasanya XX; jika membawa kromosom Y, kombinasi yang biasanya terbentuk adalah XY. Sel telur menyumbangkan kromosom X dalam kedua kemungkinan tersebut.
Karena itu, dalam pola kromosom yang umum, kromosom seks yang dibawa sperma menentukan apakah kombinasi awalnya XX atau XY. Namun, penjelasan tersebut tidak berarti orang tua dapat memastikan sperma tertentu akan mencapai dan membuahi sel telur. Banyak faktor biologis terlibat dalam perjalanan sperma dan keberhasilan pembuahan, dan hasilnya tidak dapat dipilih secara sadar melalui cara alami. Selain itu, perkembangan karakteristik biologis manusia tidak selalu sesederhana satu pasangan kromosom; variasi biologis juga dapat terjadi. Jadi, uraian tentang kromosom X dan Y membantu menjelaskan proses dasarnya, tetapi bukan cara untuk menjamin jenis kelamin anak.
Menurut Fadli, anggapan bahwa jenis kelamin anak dapat diatur melalui makanan tertentu tidak didukung bukti. Hal yang sama berlaku untuk klaim mengenai waktu berhubungan badan. Mengonsumsi makanan tertentu atau memilih waktu tertentu untuk berhubungan tidak dapat dijadikan cara yang terbukti untuk memperoleh anak laki-laki ataupun perempuan. Karena itu, informasi semacam ini perlu dipahami sebagai klaim yang belum terbukti, bukan sebagai panduan medis untuk menentukan jenis kelamin anak.
Fadli juga menyampaikan bahwa urutan ejakulasi tidak terbukti dapat mengatur jenis kelamin. Dengan kata lain, mengubah urutan atau cara berhubungan berdasarkan anggapan tersebut tidak memberikan kepastian mengenai jenis kelamin anak. Berbagai saran yang beredar mungkin terdengar sederhana dan meyakinkan, tetapi tanpa bukti yang mendukung, saran itu tidak dapat dianggap sebagai metode untuk memilih jenis kelamin.
Selain cara-cara tersebut, metode inseminasi swim up pernah diteliti dalam konteks pemilihan sperma. Namun, penting untuk membedakan tujuan memilih sperma berdasarkan kualitas dari kemampuan menentukan jenis kelamin anak. Menurut dokter, swim up tidak terbukti dapat menghasilkan anak dengan jenis kelamin yang diinginkan. Dengan demikian, penelitian atau penggunaan metode ini tidak berarti bahwa jenis kelamin dapat dipastikan melalui proses pemilihan sperma.
Perbedaan tersebut menjadi penting karena istilah “memilih sperma” dapat menimbulkan kesan bahwa seseorang juga dapat memilih apakah anaknya laki-laki atau perempuan. Padahal, dalam penjelasan Fadli, pemilihan sperma berkualitas dan penentuan jenis kelamin merupakan dua hal yang berbeda. Metode yang ditujukan untuk memilah sperma berdasarkan kualitas tidak otomatis mampu mengarahkan hasil pada jenis kelamin tertentu. Oleh sebab itu, klaim bahwa swim up dapat menjamin jenis kelamin anak tidak sesuai dengan keterangan dokter.
Secara umum, makanan, waktu berhubungan, urutan ejakulasi, maupun metode swim up tidak dapat dijadikan dasar yang terbukti untuk memastikan jenis kelamin anak. Penjelasan ini membantu membedakan informasi yang berkaitan dengan kualitas sperma dari klaim tentang pemilihan jenis kelamin. Pasangan sebaiknya tidak menganggap cara-cara tersebut sebagai jaminan memperoleh anak dengan jenis kelamin tertentu.
Dalam program bayi tabung, pembuahan berlangsung di luar rahim. Sel telur dan sperma dipertemukan di laboratorium, kemudian tenaga medis mengamati perkembangannya hingga terbentuk embrio. Tahap ini berbeda dari kehamilan yang terjadi melalui pembuahan di dalam tubuh, tetapi tujuan akhirnya tetap membantu embrio berkembang dan, bila memenuhi pertimbangan medis, ditanamkan ke rahim.
Sebelum pemindahan embrio, dokter dapat menawarkan pemeriksaan genetik praimplantasi atau preimplantation genetic testing (PGT). Pemeriksaan ini menganalisis materi genetik pada embrio, termasuk kromosom yang dapat menunjukkan jenis kelamin kromosomalnya. Informasi tersebut membantu dokter dan pasien memahami karakteristik embrio yang diperiksa. Namun, PGT merupakan pemeriksaan, bukan metode untuk mengubah atau mengatur kromosom embrio.
Fadli menjelaskan bahwa hasil pembentukan embrio tidak selalu menghasilkan komposisi jenis kelamin tertentu. Sebagai contoh, apabila terdapat lima embrio, kelimanya mungkin berjenis kelamin perempuan, kelimanya laki-laki, atau terdiri atas kombinasi keduanya. Komposisi itu terbentuk saat pembuahan dan perkembangan awal embrio. Memilih untuk menggunakan sejumlah embrio dari tiap jenis kelamin tidak dapat mengubah hasil biologis tersebut, dan pemeriksaan genetik tidak menciptakan embrio dengan kromosom yang berbeda.
Keputusan mengenai embrio yang akan ditanam juga tidak semata-mata didasarkan pada jenis kelamin. Dokter menilai hasil pemeriksaan, kondisi dan kelayakan embrio, serta faktor medis lain yang relevan, kemudian mendiskusikan pilihan bersama pasien. Konsultasi memberi kesempatan untuk memahami kondisi setiap embrio dan kemungkinan yang perlu dipertimbangkan apabila embrio berkembang menjadi janin dan kemudian dilahirkan.
Baca juga: Warga Buka Aduan Dugaan Pemerasan, Kanit Reskrim Merakurak Diminta Beri Penjelasan






