Raffi Ahmad Dorong Anak Muda Hadapi AI dengan Percaya Diri dan Berkarya

Raffi Ahmad Dorong Anak Muda Hadapi AI dengan Percaya Diri dan Berkarya

Jakarta | Raffi Ahmad mengajak peserta Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 untuk tidak takut menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI). Pesan itu ia sampaikan saat acara berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Jumat. Dalam sesi bersama Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Raffi menjawab pertanyaan moderator mengenai tantangan yang dihadapi anak muda di tengah kemajuan teknologi AI yang berlangsung cepat. Raffi hadir dalam kapasitasnya sebagai staf khusus presiden bidang pembinaan generasi muda dan pekerja seni. Ia mendorong peserta memandang perubahan teknologi sebagai sesuatu yang perlu dipahami, bukan alasan untuk berhenti bergerak atau berkarya.

Perkembangan AI telah memunculkan berbagai pertanyaan tentang masa depan pekerjaan, kreativitas, dan keterampilan yang dibutuhkan generasi muda. Dalam konteks itu, ajakan Raffi menempatkan sikap percaya diri sebagai bekal untuk menghadapi perubahan. Anak muda, menurut pesan yang ia sampaikan, tidak perlu merasa gentar hanya karena teknologi terus berkembang. Mereka dapat mempelajari cara kerja AI, memahami manfaat dan batasannya, serta mempertimbangkan bagaimana teknologi tersebut dapat mendukung kegiatan sehari-hari. Sikap terbuka dan kemauan belajar dapat membantu peserta mengikuti perubahan tanpa kehilangan kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri.

Raffi juga menekankan pentingnya tetap berkarya di tengah hadirnya teknologi baru. AI dapat menjadi alat yang membantu proses kerja, tetapi anak muda tetap perlu mengembangkan gagasan, keterampilan, dan karakter mereka. Dengan memadukan pemahaman teknologi dan kreativitas, generasi muda dapat menghasilkan karya yang relevan sekaligus menunjukkan ciri khas masing-masing. Pesan tersebut sejalan dengan peran IYS sebagai ruang pertemuan bagi anak muda untuk membahas tantangan dan peluang yang memengaruhi masa depan mereka. Ajakan untuk percaya diri bukan berarti mengabaikan risiko, melainkan menghadapi perubahan dengan kesiapan, sikap kritis, dan kemauan untuk terus belajar. Melalui pendekatan itu, peserta diharapkan mampu melihat AI sebagai bagian dari lingkungan yang terus berubah dan tetap mengambil peran aktif dalam membentuk karya serta kontribusi mereka.

Raffi Ahmad memandang perkembangan kecerdasan buatan (AI) sebagai perubahan yang pengaruhnya semakin terasa di berbagai bidang kehidupan, termasuk industri hiburan dan perfilman. Teknologi ini tidak lagi terbatas pada eksperimen atau pembahasan teknis, sebab hasil penerapannya mulai hadir dalam konten yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Di media sosial, misalnya, beredar film atau serial pendek yang menampilkan seluruh tokohnya sebagai figur berbasis AI. Contoh tersebut menunjukkan bahwa perangkat digital dapat digunakan untuk membentuk karakter, menyusun visual, dan menyampaikan cerita dengan cara yang semakin mudah diakses. Meski demikian, hadirnya karya semacam itu tidak serta-merta berarti seluruh proses pembuatan film telah beralih kepada mesin.

Fenomena ini sekaligus memperluas kemungkinan berkarya: kreator dapat bereksperimen dengan bentuk narasi, desain karakter, serta teknik produksi yang sebelumnya mungkin memerlukan sumber daya besar. Namun, perubahan tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai posisi manusia dalam ekosistem kreatif. Pembuat konten digital, pembuat film, dan pekerja kreatif lain dapat merasa khawatir ketika melihat kemampuan AI berkembang cepat dan hasilnya makin realistis. Kekhawatiran itu berkaitan dengan peluang kerja, nilai keterampilan, serta pengakuan atas ide dan kontribusi manusia. Bagi sebagian pelaku, munculnya figur buatan dalam produksi audiovisual menimbulkan pertanyaan apakah keahlian mereka tetap dibutuhkan dan bagaimana mereka dapat menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas.

Kekhawatiran tersebut layak dipahami sebagai respons terhadap perubahan, bukan bukti bahwa pekerjaan manusia telah tergantikan secara menyeluruh. Penggunaan AI dalam film dan konten digital masih hadir berdampingan dengan keputusan kreatif manusia, mulai dari pemilihan gagasan hingga penentuan pesan dan konteks cerita. Teknologi dapat membantu proses tertentu, tetapi arah karya, kepekaan terhadap pengalaman manusia, serta pertimbangan etis tetap menjadi hal penting. Karena itu, contoh serial berkarakter AI lebih tepat dibaca sebagai tanda berkembangnya pilihan produksi dan tantangan baru bagi industri. Pandangan Raffi menempatkan perkembangan ini dalam konteks yang perlu dihadapi dengan terbuka: memahami peluangnya, membicarakan dampaknya bagi pekerja, dan memastikan kreativitas manusia tetap memiliki ruang.

Raffi Ahmad meminta peserta IYS untuk tidak merasa takut menghadapi perkembangan kecerdasan buatan. Ia mengingatkan bahwa AI merupakan teknologi yang diciptakan oleh manusia. Karena itu, kehadirannya dapat dipahami sebagai hasil dari pemikiran dan karya manusia, bukan sesuatu yang perlu langsung dipandang sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Pesan tersebut mengajak anak muda melihat perubahan dengan sikap terbuka dan percaya diri, sekaligus tetap mengenali nilai yang melekat pada diri mereka sendiri. Bagi Raffi, salah satu pembeda penting manusia dan AI terletak pada hati dan nurani. AI, menurutnya, tidak memiliki keduanya sebagaimana manusia.

Penekanan pada hati dan nurani memberi konteks pada ajakan Raffi. Ia tidak menyampaikan bahwa anak muda harus mengabaikan teknologi, melainkan mendorong mereka agar tidak kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan untuk menghasilkan karya yang bermakna. Manusia dapat menimbang, merasakan, dan menaruh perhatian dalam proses berkarya. Nilai-nilai tersebut berkaitan dengan cara seseorang menyampaikan gagasan serta memahami orang lain. Dalam pesannya, karya yang berangkat dari hati dan dibuat dengan hati berpeluang menyentuh hati orang lain. Makna ini menempatkan ketulusan dan kepedulian sebagai bagian penting dari proses kreatif, bukan sekadar hasil akhir yang terlihat.

Pesan Raffi kepada peserta IYS juga menjadi dorongan agar mereka terus mengembangkan diri. Belajar diperlukan agar anak muda dapat memahami perubahan dan memperluas pengetahuan, sementara berkarya memberi ruang untuk menerapkan gagasan serta menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Ia mengajak peserta untuk terus belajar dan berkarya dengan hati, tanpa membiarkan rasa takut menghambat langkah mereka. Ajakan itu menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak perlu menghapus peran manusia dalam proses kreatif. Dengan tetap belajar, menjaga nurani, dan memberi perhatian pada makna karya, peserta dapat menghadapi perkembangan AI dengan lebih percaya diri. Karya yang dibuat dengan ketulusan tetap memiliki arti karena membawa pemikiran dan perasaan manusia kepada orang lain.

IYS 2026 menjadi wadah pembinaan generasi muda yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Program ini diikuti 160 peserta utama terpilih yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Keikutsertaan para peserta menghadirkan beragam latar daerah dan pengalaman dalam satu rangkaian kegiatan, sekaligus membuka ruang untuk bertukar pandangan mengenai isu dan peluang yang dihadapi anak muda. IYS dirancang untuk membangun karakter serta meningkatkan kapasitas kepemimpinan generasi muda, sehingga peserta dapat mengembangkan potensi diri dan berperan aktif di lingkungan masing-masing. Pembinaan berlangsung selama sekitar 10 hari melalui agenda yang memadukan pembelajaran, diskusi, eksplorasi, dan ruang ekspresi.

Selama program berlangsung, peserta mengikuti forum diskusi yang memberi kesempatan untuk membahas gagasan dan isu secara bersama-sama. Mereka juga terlibat dalam pameran usaha, sebagai bagian dari rangkaian yang berkaitan dengan kewirausahaan dan karya anak muda. Eksplorasi teknologi menjadi agenda lain, memperkenalkan peserta pada perkembangan serta pemanfaatan teknologi. Dalam rangkaian pembinaan, topik digitalisasi dan kesehatan mental turut diangkat. Kehadiran tema-tema tersebut memberi cakupan yang beragam pada proses belajar, dari kepemimpinan dan usaha hingga perubahan digital serta kesejahteraan diri. Agenda disusun dalam bentuk kegiatan yang memungkinkan peserta menyimak, berdialog, dan mengenali berbagai perspektif.

Program ini juga mencakup kompetisi pidato dan debat, yang memberi ruang bagi peserta untuk menyampaikan gagasan dan berlatih mengemukakan pendapat.

Baca juga: Krida Nusantara: Mahasiswa PPG UHAMKA Kenalkan Budaya melalui Bermain dan Berkarya