Laba Adira Finance Melonjak 56%, Pembiayaan Baru Tumbuh 13%

Laba Adira Finance Melonjak 56%, Pembiayaan Baru Tumbuh 13%

Jakarta | PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance/ADMF) membukukan laba bersih sebesar Rp1,69 triliun hingga September 2026. Angka tersebut meningkat 56% dibandingkan laba bersih Rp1,08 triliun pada periode pembanding yang disebutkan dalam laporan. Kenaikan ini menandai penguatan hasil keuangan perusahaan sampai dengan kuartal III-2026, seiring pertumbuhan pendapatan dan beban yang relatif terkendali.

Pendapatan Adira Finance tercatat mencapai Rp9,8 triliun, tumbuh 9% dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, total beban berada di kisaran Rp7,6 triliun dan secara umum relatif stabil. Perbedaan arah pertumbuhan pendapatan yang meningkat dan beban yang terjaga menjadi bagian penting dalam membaca perubahan laba perusahaan. Namun, angka-angka tersebut perlu dipahami sesuai cakupan periode dan basis perbandingan yang digunakan dalam laporan.

Secara sederhana, laba bersih menunjukkan hasil akhir setelah perusahaan memperhitungkan pendapatan serta berbagai beban dan komponen lain yang relevan. Karena itu, kenaikan laba 56% lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan 9% tidak dengan sendirinya berarti seluruh kenaikan berasal dari satu faktor tertentu. Stabilnya total beban dapat menjadi konteks dalam menilai kinerja, tetapi penjelasan menyeluruh tetap memerlukan rincian laporan keuangan, termasuk komposisi pendapatan dan biaya, serta pos-pos nonoperasional maupun pajak.

Kinerja hingga September tersebut juga memberi gambaran perkembangan usaha sebelum tahun buku berakhir. Investor dan pembaca dapat mencermati apakah pertumbuhan pendapatan berlanjut pada kuartal berikutnya, sekaligus memantau kemampuan perusahaan menjaga beban pada tingkat yang terkendali. Perbandingan dengan periode sebelumnya, tren beberapa kuartal, dan kualitas pembiayaan dapat membantu menempatkan capaian laba dalam konteks yang lebih luas. Dengan demikian, capaian Rp1,69 triliun menjadi indikator positif pada periode pelaporan ini, tetapi belum menggantikan penilaian atas keberlanjutan kinerja dan risiko usaha Adira Finance.

Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, menyampaikan bahwa pembiayaan baru perusahaan tumbuh 13% seiring pergerakan positif industri otomotif. Perkembangan tersebut mendukung peningkatan penyaluran pembiayaan selama sembilan bulan pertama 2026, ketika kebutuhan konsumen dan aktivitas di berbagai lini usaha terus menjadi perhatian perusahaan. Adira membukukan pembiayaan baru sebesar Rp35,1 triliun pada periode tersebut. Capaian ini menggambarkan pertumbuhan bisnis pembiayaan di tengah kondisi pasar yang bergerak dinamis, sekaligus menunjukkan kontribusi permintaan dari beragam segmen. Perusahaan menyebut pertumbuhan tidak hanya bersumber dari satu kategori, melainkan tersebar pada pembiayaan otomotif dan nonotomotif.

Susila mengaitkan pertumbuhan pembiayaan baru dengan kondisi industri otomotif yang menunjukkan perkembangan positif. Aktivitas di sektor tersebut berperan dalam mendorong kebutuhan pembiayaan kendaraan, baik untuk pembelian sepeda motor maupun mobil. Ketika pasar otomotif bergerak, lembaga pembiayaan dapat merespons kebutuhan konsumen melalui beragam produk dan layanan yang sesuai. Meski demikian, angka pertumbuhan yang disampaikan perusahaan mencakup seluruh portofolio pembiayaan baru, sehingga hasilnya tidak hanya mencerminkan perkembangan pada satu jenis kendaraan. Kinerja industri menjadi salah satu konteks penting dalam membaca capaian Adira pada periode Januari hingga September 2026, selain perkembangan permintaan pada lini pembiayaan lainnya.

Pertumbuhan di seluruh segmen menjadi bagian penting dari hasil tersebut. Adira menyatakan kenaikan pembiayaan terjadi pada segmen otomotif maupun nonotomotif, sehingga kedua kelompok usaha sama-sama mendukung pencapaian Rp35,1 triliun. Pembiayaan nonotomotif mencakup kebutuhan di luar kendaraan, sedangkan pembiayaan otomotif berkaitan dengan kebutuhan konsumen terhadap kendaraan. Sebaran pertumbuhan tersebut memberi gambaran bahwa aktivitas perusahaan ditopang oleh sumber permintaan yang beragam. Kenaikan pembiayaan baru sebesar 13% juga menjadi indikator perkembangan penyaluran selama sembilan bulan pertama tahun ini, meskipun angka agregat tidak merinci besaran kontribusi masing-masing segmen. Pernyataan manajemen menempatkan pertumbuhan industri otomotif dan peningkatan di seluruh lini sebagai faktor yang berjalan seiring dalam mendukung kinerja pembiayaan Adira Finance.

Piutang pembiayaan yang dikelola Adira Finance mencapai Rp65,8 triliun pada akhir September 2026. Angka tersebut tumbuh 7% dibandingkan posisi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan bertambahnya nilai pembiayaan yang masih berjalan dalam portofolio perusahaan, sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas penyaluran pembiayaan tetap berkembang di tengah dinamika kebutuhan konsumen dan kondisi industri jasa keuangan.

Pertumbuhan piutang perlu dibaca bersama perkembangan kualitas aset. Pada September 2026, rasio non-performing financing (NPF) gross konsolidasian Adira berada di level 1,8%. Rasio tersebut lebih rendah daripada 2,1% yang tercatat pada September 2025. Penurunan sebesar 0,3 poin persentase ini menunjukkan porsi pembiayaan bermasalah terhadap total pembiayaan yang dikelola menjadi lebih kecil dibandingkan setahun sebelumnya.

Kombinasi pertumbuhan piutang dan perbaikan NPF memberi gambaran bahwa ekspansi portofolio berlangsung bersamaan dengan kualitas pembiayaan yang lebih terjaga. Meski demikian, kedua indikator tersebut mengukur aspek berbeda. Piutang menunjukkan besaran pembiayaan yang masih dikelola, sedangkan NPF gross menggambarkan tingkat pembiayaan bermasalah sebelum memperhitungkan pencadangan. Karena itu, tren keduanya perlu terus dipantau pada periode berikutnya, terutama ketika perusahaan memperluas penyaluran pembiayaan.

Pengelolaan risiko menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan tersebut. Penilaian calon debitur, pemantauan pembayaran, serta penanganan pembiayaan yang mengalami keterlambatan dapat mendukung kualitas portofolio. Perkembangan kondisi ekonomi dan daya beli juga berpotensi memengaruhi kemampuan konsumen memenuhi kewajibannya. Dengan demikian, rasio NPF yang membaik merupakan perkembangan positif, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan untuk menjaga disiplin dalam proses pembiayaan dan pengawasan akun yang telah berjalan.

Data hingga akhir September 2026 memperlihatkan piutang Adira tumbuh secara tahunan, sementara NPF gross konsolidasian turun. Pergerakan ini menjadi salah satu tolok ukur untuk menilai arah bisnis pembiayaan perusahaan. Kinerja selanjutnya akan bergantung pada kemampuan mempertahankan pertumbuhan yang sehat, mengelola risiko secara konsisten, dan menyesuaikan kebijakan penyaluran dengan perubahan kondisi pasar serta profil debitur.

Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, Adira Finance berupaya menjaga keseimbangan pertumbuhan bisnis dan kualitas pembiayaan. Direktur Utama Dewa Made Susila menekankan bahwa ekspansi perlu dilakukan secara terukur, dengan mempertimbangkan kemampuan bayar konsumen dan risiko pada setiap segmen. Pendekatan ini penting agar kenaikan penyaluran pembiayaan dapat berjalan seiring dengan pengelolaan portofolio yang sehat. Bagi perusahaan, pencapaian pertumbuhan bukan satu-satunya tolok ukur kinerja; konsistensi menjaga kualitas aset juga menjadi dasar bagi keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Dengan seleksi pembiayaan yang disiplin serta pemantauan risiko, perusahaan berupaya tetap responsif terhadap kebutuhan pasar tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

Susila juga melihat integrasi operasional pascamerger sebagai momentum untuk meningkatkan produktivitas jaringan. Penyelarasan proses dan pemanfaatan sumber daya di berbagai wilayah diharapkan membantu layanan menjadi lebih efektif, sekaligus memperluas jangkauan kepada konsumen dan mitra usaha. Perusahaan dapat meninjau kembali cara kerja, memperbaiki koordinasi, dan menggunakan kapasitas jaringan secara lebih optimal. Di saat yang sama, sinergi dengan Bank Danamon dan MUFG Group menjadi peluang untuk memperkuat kemampuan perusahaan dalam menawarkan solusi pembiayaan yang relevan. Kolaborasi tersebut dapat mendukung akses, kapabilitas, dan efisiensi, dengan tetap memastikan bahwa setiap inisiatif sesuai kebutuhan nasabah. Langkah-langkah ini diarahkan untuk memperkuat daya saing Adira di tengah persaingan industri yang terus berkembang.

Kondisi pasar turut memberi konteks bagi strategi tersebut. Pada sembilan bulan pertama 2026, penjualan ritel sepeda motor baru tumbuh 10% secara tahunan menjadi 5,1 juta unit. Sementara itu, penjualan ritel mobil baru naik 16% menjadi 676 ribu unit.