Erick Thohir Dorong Dukungan Nyata untuk Indonesia Women’s League

Jakarta | Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengajak masyarakat menyaksikan langsung pertandingan Indonesia Women’s League 2026/2027 sebagai bentuk dukungan nyata bagi sepak bola wanita. Ajakan tersebut disampaikan setelah pembukaan kompetisi di Stadion Madya, Jakarta, pada Minggu (18/10/2026). Menurut Erick, kehadiran penonton di stadion dapat menjadi dorongan penting bagi para pemain sekaligus menunjukkan bahwa publik memberi perhatian terhadap perkembangan liga wanita di Indonesia.

Erick menilai dukungan tidak cukup hanya disampaikan melalui permintaan agar kompetisi digelar. Liga yang berlangsung membutuhkan keterlibatan masyarakat, termasuk dengan datang ke tribune dan menyaksikan pertandingan. Kehadiran suporter dapat membantu menciptakan suasana pertandingan yang lebih hidup serta memberi pengalaman bermain yang berarti bagi para atlet. Dukungan langsung juga dapat memperlihatkan kepada klub, penyelenggara, dan calon mitra bahwa kompetisi ini memiliki penonton serta layak terus dikembangkan.

Ia pun menyampaikan ajakan kepada mereka yang selama ini mempertanyakan keberadaan liga untuk melihat kompetisi tersebut secara langsung. “Bagi yang selama ini mempertanyakan liga ini ada atau tidak, silakan datang dan menonton langsung,” ujar Erick. Pesan itu menekankan bahwa Indonesia Women’s League bukan sekadar gagasan atau rencana, melainkan kompetisi yang telah dimulai dan dapat disaksikan masyarakat. Dengan hadir di stadion, publik bisa menilai jalannya pertandingan sekaligus memberi dukungan kepada para pemain yang berkompetisi.

Ajakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem sepak bola wanita yang lebih kuat. Minat penonton dapat mendorong perhatian lebih luas terhadap liga, sementara atmosfer pertandingan yang baik berpotensi menambah motivasi pemain dan klub. Karena itu, Erick mendorong masyarakat untuk menjadikan pertandingan sebagai ruang dukungan, bukan hanya menunggu perkembangan dari jauh. Kehadiran penonton di setiap laga dapat memberi sinyal bahwa kompetisi ini mendapat tempat di tengah masyarakat. Dukungan yang konsisten di tribune diharapkan membantu liga tumbuh secara berkelanjutan dan membuka peluang lebih besar bagi sepak bola wanita Indonesia untuk berkembang.

Erick Thohir menjelaskan bahwa keberlangsungan Indonesia Women’s League dirancang melalui kesepakatan PSSI, operator kompetisi, dan klub-klub peserta. Ketiga pihak, menurut keterangan tersebut, berkomitmen menjalankan liga selama lima tahun terlebih dahulu sebelum menilai kembali pelaksanaannya. Kesepakatan ini menjadi kerangka waktu untuk menjaga kompetisi tetap berlangsung, sekaligus memberi ruang bagi para pihak untuk mengamati bagaimana penyelenggaraannya berjalan dari musim ke musim.

Erick menyampaikan komitmen itu dengan mengatakan, “Kami sepakat kompetisi ini dijalankan selama lima tahun, kemudian setelah itu akan kami evaluasi bersama.” Pernyataan tersebut menekankan adanya kesediaan untuk bekerja sama dalam periode yang telah ditentukan. PSSI, operator, dan klub disebut sebagai unsur yang terlibat dalam kesepakatan, sehingga rencana keberlanjutan liga tidak hanya bertumpu pada satu pihak. Evaluasi direncanakan setelah lima tahun, bukan sebagai penilaian yang dilakukan sebelum periode komitmen tersebut selesai.

Rencana peninjauan itu memberi kesempatan bagi pihak-pihak terkait untuk membahas pelaksanaan kompetisi berdasarkan pengalaman selama lima tahun. Evaluasi dapat menjadi momen untuk menilai berbagai aspek penyelenggaraan dan menentukan langkah berikutnya melalui pembicaraan bersama. Namun, keterangan mengenai kesepakatan tersebut tidak merinci tolok ukur evaluasi, perubahan yang mungkin diputuskan, ataupun bentuk kompetisi setelah peninjauan. Hal-hal itu tidak dapat dipastikan hanya dari pernyataan tentang periode komitmen.

Karena itu, kesepakatan lima tahun sebaiknya dipahami sebagai rencana untuk menjalankan kompetisi dalam jangka waktu tersebut, disertai agenda evaluasi setelahnya. Pernyataan Erick tidak dengan sendirinya menjamin hasil tertentu, peningkatan kualitas, pertumbuhan liga, ataupun perkembangan spesifik lainnya. Hasil pelaksanaan akan bergantung pada berbagai hal yang belum dijelaskan dalam keterangan itu. Fokusnya adalah komitmen PSSI, operator, dan klub untuk menjaga kompetisi berlangsung selama lima tahun, lalu meninjau kembali pelaksanaannya bersama. Dengan penjelasan terbatas ini, publik dapat membedakan rencana keberlangsungan yang telah disampaikan dan klaim mengenai dampak yang belum dinyatakan.

Erick Thohir menilai keberlanjutan Indonesia Women’s League tidak cukup ditentukan oleh semangat saat kompetisi diperkenalkan. Liga perlu dibangun secara bertahap, dengan kesiapan setiap klub sebagai salah satu syarat utama. Sebelum musim berjalan, klub perlu memastikan memiliki pengelolaan yang tertata, sumber daya yang memadai, serta rencana operasional yang realistis. Dengan demikian, peserta tidak hanya hadir pada awal kompetisi, tetapi juga mampu menjalani seluruh rangkaian pertandingan. Menurut pandangan tersebut, perhatian terhadap kesiapan klub menjadi bagian dari upaya menjaga mutu liga sekaligus memberi kepastian kepada pemain, staf, dan pihak yang mendukung penyelenggaraan sepak bola putri di Indonesia.

Perhatian itu berkaitan erat dengan kemungkinan munculnya kendala keuangan maupun persoalan internal. Jika pembiayaan tidak terencana, klub dapat kesulitan memenuhi kebutuhan perjalanan, fasilitas latihan, pembayaran kewajiban, atau operasional sehari-hari. Sementara itu, perbedaan pandangan di dalam organisasi dan lemahnya koordinasi juga berpotensi menghambat persiapan tim. Masalah semacam ini bukan hanya urusan satu klub, karena dampaknya dapat merembet ke jadwal dan kelancaran pertandingan. Erick mengkhawatirkan situasi ketika sebuah tim tidak sanggup melanjutkan kompetisi dan akhirnya berhenti di tengah musim. Kondisi tersebut bisa merugikan pemain serta mengurangi kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan liga.

Karena itu, fondasi kompetisi perlu disiapkan bersama proses pembentukan liga, bukan setelah masalah muncul. Penyelenggara dan klub perlu membangun komunikasi yang terbuka, menetapkan standar operasional yang jelas, serta memetakan kebutuhan dan risiko sejak awal. Perencanaan bertahap juga memberi ruang untuk mengevaluasi kemampuan peserta, memperbaiki tata kelola, dan mengembangkan dukungan bagi klub secara berkelanjutan. Bagi Erick, liga yang kuat bukan sekadar kompetisi yang ramai pada musim perdana, melainkan kompetisi yang dapat berlangsung konsisten dari satu musim ke musim berikutnya. Kesiapan organisasi dan kestabilan operasional menjadi landasan agar Indonesia Women’s League tumbuh tanpa mengabaikan kondisi nyata klub.

Erick Thohir berharap dukungan terhadap Indonesia Women’s League hadir dalam bentuk yang dapat dirasakan langsung oleh para pemain dan klub. Masyarakat tidak hanya diminta menyatakan bahwa sepak bola wanita penting, tetapi juga diajak mengikuti pertandingan dan memberikan semangat kepada tim-tim yang berlaga. Kehadiran penonton, menurutnya, dapat membantu menciptakan suasana kompetisi yang lebih hidup sekaligus menunjukkan bahwa liga ini mendapat tempat di tengah masyarakat.

Dukungan tersebut juga ditujukan kepada pemain tim nasional Indonesia yang tersebar di berbagai klub peserta. Dengan menyaksikan pertandingan, publik berkesempatan mengenal kemampuan para pemain lebih dekat, mengikuti perkembangan mereka sepanjang musim, serta memberi dorongan kepada klub yang menjadi tempat mereka berkompetisi. Perhatian yang konsisten dapat membuat perjuangan para atlet lebih terlihat dan membantu membangun hubungan pemain, klub, dan pendukung.

Erick menekankan bahwa kontribusi bagi sepak bola wanita perlu diwujudkan lewat tindakan, bukan berhenti pada pernyataan. Ia menyampaikan, “Dukungan tidak cukup hanya dengan kata-kata. Masyarakat bisa menunjukkan dukungannya dengan hadir, menyaksikan pertandingan, dan menyemangati klub serta para pemain.” Pesan ini menempatkan penonton sebagai bagian penting dari perkembangan liga, tanpa mengabaikan peran pemain, klub, dan pihak penyelenggara dalam menjaga kualitas kompetisi.

Baginya, setiap orang yang datang menyaksikan pertandingan memberikan kontribusi nyata bagi sepak bola wanita Indonesia. Kehadiran penonton membantu menunjukkan bahwa kompetisi memiliki dukungan publik dan layak terus berkembang. Antusiasme masyarakat memang diharapkan tumbuh secara bertahap seiring liga berjalan, ketika lebih banyak orang mengenal klub dan pemain serta memperoleh kesempatan untuk mengikuti pertandingan.

Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah | Lompatan Ranking FIFA Timnas Indonesia di Era Erick Thohir: Tiga Pelatih, Naik 31 Peringkat