Bogor | Gempa beruntun dirasakan di wilayah Sukabumi, Bogor, dan sekitarnya pada Kamis sore, 15 Oktober 2026. Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 17.49 WIB, sebagaimana disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Tangerang, Ana Oktavia Setiowati. BMKG mengategorikan kejadian ini sebagai gempa tektonik dangkal.
Keterangan tersebut menempatkan peristiwa gempa di Sukabumi dan Bogor dalam konteks aktivitas tektonik. Istilah “dangkal” merujuk pada karakter kedalaman sumber gempa yang dikategorikan BMKG, sementara sebutan “tektonik” menunjukkan bahwa gempa berkaitan dengan proses pergerakan pada kerak bumi. Penjelasan ini menjadi dasar untuk memahami klasifikasi kejadian yang disampaikan lembaga tersebut, tanpa menambahkan rincian yang belum tercantum dalam keterangan.
Gempa yang terjadi beruntun itu dirasakan di sejumlah wilayah yang disebutkan, yakni Sukabumi, Bogor, serta kawasan sekitarnya. Waktu kejadian yang dilaporkan adalah sore hari, tepat pada pukul 17.49 WIB pada tanggal 15 Oktober 2026. Dengan demikian, informasi pokok yang dapat dipastikan dari keterangan yang tersedia mencakup waktu, wilayah yang merasakan gempa, dan kategori kejadian menurut BMKG.
Ana Oktavia Setiowati menyampaikan informasi tersebut dalam kapasitasnya sebagai Pelaksana Tugas Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang. Klasifikasi gempa tektonik dangkal menegaskan bahwa BMKG membedakan peristiwa ini berdasarkan jenis dan kedalaman sumbernya. Penyebutan dua gempa dalam konteks kejadian di Sukabumi dan Bogor menggambarkan adanya aktivitas beruntun, tetapi keterangan yang dirujuk di sini tidak merinci urutan atau waktu terpisah untuk setiap guncangan.
Karena itu, uraian mengenai gempa pada Kamis sore tersebut dibatasi pada fakta yang telah disampaikan: aktivitas berlangsung pada pukul 17.49 WIB, dirasakan di Sukabumi, Bogor, dan sekitarnya, serta dikategorikan BMKG sebagai gempa tektonik dangkal. Informasi ini memberikan gambaran dasar peristiwa tanpa mengasumsikan rincian lain di luar keterangan yang tersedia.
BMKG menjelaskan bahwa rangkaian gempa di wilayah Sukabumi dan Bogor dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Keterangan tersebut menempatkan pergerakan pada sumber gempa di darat sebagai penjelasan atas kejadian beruntun yang tercatat. Dalam menyampaikan analisisnya, BMKG mengacu pada posisi episenter dan kedalaman hiposenter untuk memahami karakter gempa. Informasi itu menjadi dasar penting dalam penggolongan, bukan alasan untuk menyimpulkan secara lebih jauh mengenai nama atau jalur sesar tertentu. Karena itu, penjelasan mengenai pemicunya tetap terbatas pada aktivitas sesar aktif sebagaimana disampaikan lembaga tersebut.
Ana menerangkan bahwa penilaian gempa dangkal berkaitan dengan kedalaman hiposenter, yaitu titik di bawah permukaan bumi tempat gempa bermula. Sementara itu, episenter menunjukkan lokasi di permukaan yang berada tepat di atas titik awal tersebut. Dengan mencermati kedua unsur itu, BMKG dapat menilai letak sumber gempa dan kedalamannya. Pada rangkaian ini, hasil analisis lokasi episenter serta kedalaman hiposenter mendukung penggolongan kejadian sebagai gempa dangkal. Dengan demikian, istilah “dangkal” merujuk pada posisi sumber gempa yang relatif dekat dengan permukaan, bukan pada besarnya dampak atau kekuatan getaran.
Hubungan data lokasi dan kedalaman itu juga membantu menjelaskan mengapa BMKG mengaitkan gempa dengan sesar aktif. Analisis tersebut merujuk pada karakter sumber gempa yang teridentifikasi dari pemantauan, sedangkan keterangan yang tersedia tidak menyebutkan identitas sesar secara spesifik. Ana menyampaikan penjelasan itu sebagai hasil pembacaan atas parameter gempa, bukan sebagai penetapan nama struktur geologi tertentu. Oleh sebab itu, informasi yang dapat dipastikan dari keterangan BMKG adalah bahwa rangkaian gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif dan tergolong dangkal berdasarkan posisi episenter serta kedalaman hiposenternya. Penjelasan ini menjaga batas hasil analisis yang diumumkan dan rincian yang belum dinyatakan, tanpa menambahkan dugaan mengenai penyebab lain ataupun struktur sesar yang terlibat.
Data dua gempa yang mengguncang wilayah Sukabumi dan Bogor menunjukkan bahwa keduanya memiliki magnitudo, kedalaman, serta posisi pusat yang berbeda. Informasi lokasi dinyatakan berdasarkan koordinat lintang dan bujur, sementara jarak dalam kilometer merujuk pada perkiraan posisi pusat gempa terhadap wilayah yang disebutkan. Kedua pusat gempa berada di darat dan tergolong dangkal karena kedalamannya tercatat kurang dari sepuluh kilometer. Rincian tersebut membantu membedakan karakter masing-masing kejadian, tanpa menyamakan lokasi atau ukuran guncangannya.
Gempa pertama tercatat bermagnitudo 3,5. Pusatnya berada di darat pada koordinat 6,73 derajat lintang selatan dan 106,61 derajat bujur timur. Lokasi itu berada sekitar 25 kilometer di utara Kabupaten Sukabumi. Kedalaman sumber gempa dilaporkan sembilan kilometer di bawah permukaan. Dengan demikian, angka magnitudo 3,5, jarak sekitar 25 kilometer, dan kedalaman sembilan kilometer merupakan rincian khusus untuk kejadian pertama. Data koordinatnya juga menunjukkan titik pusat berada sedikit lebih ke timur dibandingkan pusat gempa kedua.
Gempa kedua memiliki magnitudo 4,1, lebih besar daripada gempa pertama berdasarkan angka magnitudo yang dilaporkan. Pusat gempa ini juga berada di darat, tepatnya pada koordinat 6,73 derajat lintang selatan dan 106,60 derajat bujur timur. Lokasinya sekitar 26 kilometer barat daya Kota Bogor, dengan kedalaman lima kilometer. Rincian tersebut berlaku untuk kejadian kedua, bukan untuk gempa di utara Kabupaten Sukabumi. Perbedaan satu angka pada nilai bujur menandakan kedua titik pusat tidak persis sama, meskipun letaknya berdekatan secara geografis.
Jika dibandingkan, gempa di sekitar Sukabumi bermagnitudo 3,5 dengan kedalaman sembilan kilometer, sedangkan gempa yang dikaitkan dengan wilayah barat daya Kota Bogor bermagnitudo 4,1 pada kedalaman lima kilometer. Pusat keduanya sama-sama dicatat pada lintang 6,73 derajat selatan, tetapi bujurnya masing-masing 106,61 dan 106,60 derajat timur. Jarak yang dilaporkan pun mengacu pada acuan wilayah berbeda: sekitar 25 kilometer di utara Kabupaten Sukabumi untuk gempa pertama dan sekitar 26 kilometer barat daya Kota Bogor untuk gempa kedua. Penyajian terpisah ini menjaga agar angka lokasi, magnitudo, dan kedalaman tidak tertukar.
Laporan masyarakat menunjukkan bahwa getaran gempa dirasakan dengan tingkat intensitas yang berbeda di sejumlah wilayah Sukabumi dan Bogor. Perbedaan tersebut tercermin dalam skala MMI, yang menggambarkan dampak getaran berdasarkan apa yang dirasakan warga serta respons benda-benda di sekitar mereka. Di beberapa lokasi, guncangan cukup jelas terasa di dalam rumah, sedangkan di wilayah lain hanya dirasakan oleh sebagian orang dan tampak dari gerakan benda ringan.
Di Pamijahan dan Kabandungan, intensitas getaran tercatat mencapai IV MMI. Pada tingkat ini, getaran dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam rumah dan oleh beberapa orang di luar rumah. Guncangan juga dapat menimbulkan respons pada benda maupun bagian bangunan: gerabah berpotensi pecah, jendela atau pintu terdengar berderik, dan dinding dapat berbunyi. Laporan tersebut menggambarkan getaran yang cukup nyata, meskipun intensitasnya tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya kerusakan bangunan.
Sementara itu, Kalapanunggal, Leuwiliang, Cipeuteuy, Lengkong, dan Parakansalak melaporkan intensitas III MMI. Getaran pada skala ini terasa nyata di dalam rumah, dengan sensasi yang dapat diibaratkan seperti berada di dalam truk yang sedang melintas. Di Palabuhan Ratu, Pabuaran, dan Cicantayan, intensitas yang tercatat lebih rendah, yakni II MMI. Pada tingkat tersebut, getaran dirasakan oleh beberapa orang dan dapat membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Rincian intensitas ini membantu memberikan gambaran mengenai sebaran dampak yang dirasakan warga, tanpa menyamakan pengalaman di setiap lokasi. Hingga keterangan disampaikan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan akibat rangkaian gempa tersebut.






