Jakarta | Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menempatkan sejumlah proyek domestik sebagai bukti bahwa kebijakan hilirisasi sumber daya alam mulai diterapkan melalui pembangunan ekosistem industri. Menurutnya, pengolahan komoditas di dalam negeri tidak berhenti pada kegiatan produksi bahan mentah, tetapi diarahkan untuk membentuk rangkaian usaha yang memiliki nilai tambah lebih besar. Kerangka tersebut terlihat dalam pengembangan kawasan industri Weda Bay di Maluku Utara.
Weda Bay menjadi salah satu contoh utama pengembangan hilirisasi nikel di Indonesia. Di kawasan tersebut, dilakukan groundbreaking untuk 11 ekosistem hilirisasi nikel. Pembangunan berbagai ekosistem itu menunjukkan upaya menghubungkan kegiatan pengolahan nikel dengan tahapan industri lanjutan secara lebih terintegrasi. Dengan demikian, proyek yang berjalan di Weda Bay dipandang sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan kapasitas industri domestik sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai berbasis sumber daya alam.
Momentum tersebut juga ditandai dengan ekspor perdana baterai kendaraan listrik. Peluncuran ekspor itu menjadi salah satu penanda bahwa pengembangan industri di Weda Bay telah memasuki tahap yang lebih maju. Pemerintah melihat keterkaitan hilirisasi nikel dan industri kendaraan listrik sebagai peluang untuk mendorong pemanfaatan sumber daya nasional hingga menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta Selatan, Selasa, 13 Oktober, Juda Agung menyampaikan bahwa peluncuran ekspor baterai tersebut merupakan bagian dari program besar di Weda Bay. Ia juga menyebut nilai investasi program itu mencapai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun. Besarnya nilai tersebut menegaskan skala pengembangan kawasan sekaligus memperlihatkan bahwa hilirisasi ditempatkan sebagai agenda industri jangka panjang, bukan sekadar pembangunan fasilitas pengolahan komoditas.
Contoh kedua yang disampaikan Juda adalah fasilitas perakitan mobil BYD di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat. Fasilitas tersebut dikelola oleh PT BYD Auto Indonesia dan menjadi bagian dari pengembangan basis produksi kendaraan listrik di Indonesia. Kehadiran fasilitas ini menunjukkan bahwa investasi pada sektor kendaraan listrik tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur pendukung, tetapi mulai bergerak ke kegiatan manufaktur yang lebih terintegrasi.
Fasilitas BYD itu memiliki nilai investasi sebesar Rp11,6 triliun. Dalam rancangan operasionalnya, pabrik tersebut disiapkan untuk mencapai kapasitas maksimal hingga 150 ribu unit kendaraan per tahun. Angka tersebut menggambarkan skala pengembangan industri yang ditargetkan, tetapi tidak berarti bahwa kapasitas produksi itu telah sepenuhnya tercapai. Tingkat produksi aktual akan bergantung pada kesiapan fasilitas, tahapan operasional, permintaan pasar, serta perkembangan rantai pasok kendaraan listrik di dalam negeri.
Ketika beroperasi penuh, fasilitas ini berpotensi menyerap tenaga kerja lokal hingga lebih dari 20 ribu orang. Potensi tersebut mencakup kebutuhan tenaga kerja dalam kegiatan perakitan, pengelolaan fasilitas, logistik, pemeliharaan, serta berbagai layanan penunjang industri. Namun, proyeksi penyerapan tenaga kerja itu masih merupakan kapasitas potensial dan tidak dapat dipahami sebagai jumlah pekerja yang telah terserap saat ini. Fasilitas BYD di Subang diresmikan pada September 2026. Juda menekankan bahwa kehadiran pabrik tersebut memperluas rantai industri Indonesia menuju tahap manufaktur kendaraan listrik. Perkembangan ini memperkuat keterhubungan investasi, produksi kendaraan, pemasok komponen, dan pengembangan kompetensi tenaga kerja, sekaligus membuka ruang bagi peningkatan peran industri domestik dalam ekosistem kendaraan listrik.
Hilirisasi dipandang penting bagi perekonomian Indonesia karena tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah, tetapi juga mendorong peningkatan kemampuan produksi nasional. Menurut Juda, kebijakan ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kompleksitas ekonomi, yakni kemampuan suatu negara menghasilkan barang dan jasa yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, teknologi, serta proses produksi yang semakin kompleks. Dengan demikian, hilirisasi berhubungan langsung dengan upaya memperkuat kualitas kegiatan ekonomi dan memperluas nilai yang dihasilkan di dalam negeri.
Kompleksitas ekonomi mencerminkan seberapa beragam dan canggih kapabilitas yang dimiliki suatu negara. Semakin kompleks produk yang dapat dihasilkan, semakin besar pula kebutuhan terhadap penguasaan teknologi, tenaga kerja terampil, riset, inovasi, dan tata kelola produksi. Dalam konteks tersebut, pengembangan industri pengolahan menjadi penting karena dapat menghubungkan sumber daya alam dengan kegiatan manufaktur serta menghasilkan produk yang memiliki tingkat pengetahuan dan keterampilan lebih tinggi.
Data Harvard Growth Lab menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 140 negara dalam kompleksitas ekonomi. Posisi tersebut masih berada di bawah Malaysia, Thailand, dan India. Peringkat ini menunjukkan bahwa ruang peningkatan kemampuan ekonomi Indonesia masih terbuka luas. Salah satu gambaran yang berkaitan dengan kondisi tersebut terlihat pada struktur ekspor Indonesia, yang masih banyak bertumpu pada komoditas berbasis sumber daya alam serta produk berkompleksitas rendah hingga menengah. Karena itu, hilirisasi diarahkan untuk mendorong pergeseran menuju produksi barang dengan nilai tambah dan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Proses tersebut diharapkan memperkuat kapasitas industri nasional secara bertahap, sehingga Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan dasar, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang menuntut penguasaan teknologi, keterampilan, dan proses produksi yang lebih maju.
Dorongan untuk meningkatkan kapasitas manufaktur nasional mengarah pada tahap yang lebih maju, yakni produksi barang dengan nilai tambah yang semakin tinggi. Arah ini tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah, tetapi mencakup pengembangan komponen, teknologi, desain, serta kemampuan produksi yang mendukung rantai pasok industri secara lebih lengkap. Menurut Juda, pergeseran tersebut penting agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok komoditas, melainkan juga mampu menghasilkan produk yang memiliki daya saing di pasar domestik dan internasional.
Pergerakan menuju manufaktur bernilai tambah tinggi diharapkan membuka akses ke pasar yang lebih luas. Produk dengan tingkat pengolahan dan kandungan teknologi lebih besar dapat menjangkau kebutuhan industri yang beragam, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan produksi global. Perkembangan ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi, mulai dari teknik, pengelolaan produksi, riset dan pengembangan, hingga layanan pendukung berbasis teknologi. Dengan demikian, peningkatan kapasitas industri berkaitan pula dengan penguatan kualitas sumber daya manusia.
Juda menekankan bahwa manfaat hilirisasi terletak pada kemampuan untuk memberikan nilai tambah di dalam negeri, memperluas kegiatan ekonomi, serta menghadirkan kesempatan kerja yang lebih baik bagi masyarakat. Pernyataan tersebut menempatkan hilirisasi sebagai proses penguatan struktur industri, bukan sekadar peningkatan volume produksi. Agar manfaat itu dapat berkembang, kesinambungan investasi, kepastian kebijakan, pembangunan infrastruktur, dan kesiapan tenaga kerja tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem manufaktur.
Dalam konteks tersebut, proyek Weda Bay dan fasilitas BYD disebut Wakil Menteri Keuangan sebagai contoh yang memperlihatkan hubungan pengolahan sumber daya, pembangunan industri, dan produksi kendaraan listrik. Keduanya menjadi bagian dari pembahasan mengenai langkah Indonesia untuk bergerak menuju aktivitas ekonomi dengan kompleksitas yang lebih tinggi. Keterkaitan Weda Bay dan fasilitas BYD dengan agenda tersebut menunjukkan arah yang sedang didorong, yaitu menghubungkan kekuatan bahan baku dan investasi manufaktur dalam ekosistem industri yang lebih bernilai tambah.
Baca juga: Perkuat Kesiapsiagaan Dalam Menangani Karhutla, Personel Lanud Sjamsudin Noor Asah Kemampuan Operasikan Kendaraan Pemadam Kebakaran | PLTMH Hadir di Kampung Tabukeker, Buka Akses Listrik dan Air Bersih bagi Masyarakat
