Jakarta | Ingram Micro menerima penghargaan kategori Best Enterprise AI Ecosystem dalam ajang Road to Awards 2026 “Best AI Ecosystem”. Pengakuan ini menempatkan perusahaan sebagai salah satu pelaku usaha yang dinilai mampu membangun ekosistem kecerdasan artifisial untuk kebutuhan enterprise. Penghargaan tersebut diserahkan pada Jumat, 30 Oktober 2026, dalam sebuah acara yang menyoroti peran AI di tengah perubahan lanskap bisnis.
Ajang Road to Awards 2026 “Best AI Ecosystem” mengapresiasi pelaku usaha yang mengadaptasi kecerdasan artifisial untuk memperkuat kepercayaan masyarakat di tengah persaingan bisnis. Penerapan AI semakin menjadi bagian dari strategi organisasi, tetapi adopsi teknologi juga perlu disertai perhatian pada keandalan, tanggung jawab, dan nilai yang dihasilkan bagi pengguna. Dalam konteks tersebut, penghargaan Best Enterprise AI Ecosystem menyoroti pentingnya pendekatan yang melibatkan berbagai unsur dalam pemanfaatan AI di lingkungan perusahaan.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Said Mirza Pahlevi, Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru di Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Penghargaan diterima oleh Mulia Dewi Karnadi, President Director Ingram Micro Indonesia. Prosesi penyerahan itu menjadi bagian dari acara yang mempertemukan perhatian terhadap pengembangan AI dan kebutuhan untuk menjaga kepercayaan publik dalam penggunaan teknologi.
Pengakuan ini menandai perhatian terhadap peran ekosistem AI enterprise dalam mendukung transformasi bisnis. Ekosistem tersebut mencakup hubungan teknologi, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang terlibat dalam penerapan solusi AI. Seiring meningkatnya persaingan, organisasi perlu mempertimbangkan bagaimana AI dapat digunakan secara relevan sekaligus membangun keyakinan pemangku kepentingan. Penghargaan yang diterima Ingram Micro Indonesia dalam kategori ini mencerminkan posisi penting kolaborasi ekosistem dalam agenda tersebut. Melalui ajang ini, adaptasi AI tidak hanya dipandang sebagai pemanfaatan teknologi baru, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pelaku usaha merespons perubahan dan memperkuat hubungan dengan masyarakat. Penyerahan penghargaan pada 30 Oktober 2026 sekaligus menegaskan fokus acara pada kontribusi AI bagi dunia usaha dan kepercayaan publik.Saat menerima penghargaan untuk ekosistem AI enterprise, Mulia Dewi Karnadi menyampaikan rasa terima kasih kepada pelanggan Ingram Micro. Apresiasi itu ditujukan kepada pihak-pihak yang telah memberikan kepercayaan kepada Ingram Micro dalam perjalanan bisnisnya. Kepercayaan pelanggan menjadi bagian penting dari hubungan yang terjalin, sekaligus menjadi dukungan bagi upaya perusahaan dalam mengembangkan ekosistem teknologi dan AI enterprise.
Mulia juga menyampaikan terima kasih kepada para principal atau vendor yang bekerja sama dengan Ingram Micro. Pengakuan tersebut, dalam pesannya, tidak hanya berkaitan dengan perusahaan, tetapi juga mencerminkan dukungan dari para mitra bisnis yang telah mempercayai kerja sama dengan Ingram Micro. Pelanggan, principal, dan vendor merupakan pihak yang ia sebut secara khusus dalam menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan.
Pesan tersebut menekankan pentingnya hubungan yang telah dibangun bersama para pelanggan dan mitra. Mulia berharap kerja sama itu dapat terus berlanjut. Harapan tersebut mencakup hubungan Ingram Micro dengan pelanggan serta principal atau vendor bisnisnya, sehingga masing-masing pihak dapat melanjutkan kolaborasi yang sudah terjalin. Ia tidak hanya menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diterima, tetapi juga berharap kemitraan tersebut tetap berjalan ke depan.
Keberlanjutan kerja sama itu diharapkan dapat mendorong transformasi teknologi di Indonesia. Dalam konteks penerimaan penghargaan untuk ekosistem AI enterprise, harapan Mulia mengarah pada kontribusi kolaborasi dalam mendukung perkembangan teknologi di Tanah Air. Ia juga menyampaikan tujuan yang lebih luas, yakni agar Indonesia menjadi lebih baik. Dengan demikian, pesan yang disampaikan menghubungkan apresiasi kepada pelanggan dan mitra dengan harapan terhadap masa depan transformasi teknologi nasional.
Pernyataan Mulia memperlihatkan bahwa penghargaan tersebut menjadi kesempatan untuk mengakui peran para pihak yang memberikan kepercayaan kepada Ingram Micro. Ucapan terima kasihnya mencakup pelanggan serta principal atau vendor bisnis, sementara harapannya berfokus pada kelanjutan kerja sama. Melalui kolaborasi yang terus berlangsung, ia berharap transformasi teknologi di Indonesia dapat didorong dan pada akhirnya membawa Indonesia menjadi lebih baik.
Ingram Micro berperan sebagai mitra yang membantu perusahaan memahami, memilih, dan mengadopsi teknologi kecerdasan buatan sesuai kebutuhan bisnis. Peran ini mencakup upaya menjembatani kemampuan teknologi dengan tantangan operasional yang dihadapi organisasi di berbagai sektor. Bagi banyak perusahaan, mengawali penggunaan AI bukan sekadar memasang perangkat lunak baru; mereka juga perlu menentukan tujuan, menyiapkan infrastruktur dan data, serta memastikan solusi dapat digunakan secara bertanggung jawab. Dukungan ekosistem mitra teknologi dapat membantu proses tersebut menjadi lebih terarah, sehingga organisasi dapat menilai pilihan yang tersedia dan merencanakan penerapan yang relevan dengan prioritas mereka.
Adopsi AI memiliki potensi untuk mendukung efisiensi, produktivitas, dan inovasi. Teknologi ini dapat membantu menyederhanakan pekerjaan berulang, mempercepat analisis informasi, serta memberi tim lebih banyak ruang untuk berfokus pada tugas yang membutuhkan pertimbangan manusia. Dampaknya bergantung pada konteks penggunaan: kebutuhan perusahaan manufaktur, layanan kesehatan, ritel, keuangan, maupun sektor lainnya tidak selalu sama. Karena itu, pendekatan penerapan perlu mempertimbangkan proses kerja, kesiapan data, keamanan, dan keterampilan tenaga kerja. Dengan memahami faktor-faktor tersebut, perusahaan dapat menghubungkan pemanfaatan AI dengan sasaran bisnis yang terukur, bukan mengadopsinya hanya karena teknologi itu sedang berkembang pesat.
Dalam satu dekade terakhir, penggunaan AI di lingkungan perusahaan terus berkembang, seiring meningkatnya kemampuan komputasi, ketersediaan data, dan kemajuan perangkat lunak. Banyak organisasi memulai dengan proyek percontohan untuk menguji manfaat, risiko, dan kelayakan solusi dalam skala terbatas. Kini, penerapan bergerak menuju tahap pengembangan: perusahaan berupaya memperluas penggunaan yang terbukti bermanfaat, mengintegrasikannya ke alur kerja, dan mengelola penerapan secara lebih konsisten. Peralihan ini membutuhkan perencanaan, dukungan teknis, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Melalui perannya dalam ekosistem teknologi, Ingram Micro membantu perusahaan menavigasi langkah-langkah tersebut, dari penilaian kebutuhan hingga pengembangan penggunaan AI yang selaras dengan tujuan organisasi.
Laporan McKinsey “The State of AI in 2025: Agents, Innovation, and Transformation” menunjukkan bahwa lebih dari 75% organisasi telah menggunakan kecerdasan buatan (AI) pada setidaknya satu fungsi bisnis. Angka ini menandakan bahwa AI telah masuk ke agenda operasional banyak perusahaan, tidak lagi terbatas pada eksperimen sejumlah kecil pelaku. Namun, tingkat adopsi tersebut perlu dibaca secara cermat: penggunaan AI pada satu fungsi belum tentu mencerminkan perubahan mendasar terhadap cara organisasi bekerja, mengambil keputusan, atau melayani pelanggan.
Di banyak perusahaan, penerapan AI masih berada pada tahap awal dan belum meluas ke seluruh rangkaian proses bisnis. Teknologi mungkin digunakan untuk tugas tertentu, sementara alur kerja terkait tetap berjalan dengan cara lama. Kesenjangan ini terlihat, lain, pada proses manajemen dokumen dan kegiatan back-office yang belum sepenuhnya terhubung dengan inisiatif AI. Akibatnya, manfaat yang diperoleh dari aplikasi terpisah belum tentu terakumulasi menjadi peningkatan produktivitas atau transformasi operasional di tingkat perusahaan.
Laporan itu juga menyoroti perbedaan organisasi yang sekadar memakai AI dan perusahaan yang menjadikannya bagian dari transformasi bisnis menyeluruh. Sebanyak 50% perusahaan yang menggunakan AI untuk transformasi semacam itu, yang dalam sumber disebut AI high performers, menargetkan perubahan besar dalam tiga tahun ke depan. Proporsi ini 3,6 kali lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum memanfaatkan AI. Perbandingan tersebut memperlihatkan adanya hubungan penggunaan AI dan ambisi untuk melakukan perubahan yang lebih luas, meskipun adopsi teknologi saja tidak otomatis menjamin keberhasilan.
Karena itu perusahaan perlu menilai AI bukan.






