KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, berhasil memanen sekitar 70 ton kubis varietas Granova dari lahan seluas 1,2 hektare. Pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti peningkatan produktivitas pertanian masyarakat melalui pemanfaatan pupuk Geothermal Organic Fertilizer (Geo-Fert), produk yang dikembangkan dengan dukungan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE). Hasil panen dalam jumlah besar itu sekaligus memperlihatkan potensi komoditas hortikultura di kawasan sekitar Kamojang.
Kegiatan panen tersebut merupakan bagian dari program Harepan, yakni inisiatif panen hasil bumi yang dijalankan PGE Area Kamojang bersama masyarakat sepanjang September 2026. Melalui program ini, petani memperoleh dukungan untuk mengembangkan praktik budidaya yang lebih produktif dengan memanfaatkan sumber daya dan inovasi yang tersedia di wilayah setempat. Kubis Granova dipilih karena memiliki nilai ekonomi serta permintaan pasar yang relatif baik, sehingga diharapkan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi anggota kelompok tani.
Pemakaian Geo-Fert menjadi bagian penting dalam proses budidaya kubis tersebut. Pupuk berbasis panas bumi ini dimanfaatkan untuk membantu menyediakan unsur hara bagi tanaman, menjaga kondisi tanah, dan mendukung pertumbuhan kubis sejak tahap awal hingga masa panen. Pendekatan itu menggabungkan pengembangan energi panas bumi dengan kebutuhan sektor pertanian, sekaligus membuka peluang pemanfaatan produk turunan energi bersih bagi masyarakat sekitar wilayah operasional PGE.
Bagi KTH Cikondang, panen 70 ton dari lahan 1,2 hektare merupakan capaian yang dapat menjadi rujukan bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di Desa Laksana. Hasil tersebut juga menunjukkan pentingnya kolaborasi petani, perusahaan, dan pemangku kepentingan lokal dalam memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan nilai ekonomi lahan. PGE berharap program Harepan dapat terus mendorong keterampilan, produktivitas, dan kemandirian masyarakat melalui komoditas pertanian yang sesuai dengan potensi daerah.
Panen kubis yang dihasilkan melalui pemanfaatan pupuk berbasis panas bumi Geo-Fert mencatat nilai penjualan sekitar Rp78 juta. Angka tersebut merepresentasikan hasil penjualan komoditas kubis dari kegiatan budidaya kelompok tani di Kamojang. Penerimaan itu menjadi bagian dari dampak ekonomi yang terlihat dari pemanfaatan inovasi pupuk dalam proses produksi pertanian.
Selain memperoleh hasil penjualan, kelompok tani juga menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta. Penghematan tersebut berkaitan dengan penggunaan Geo-Fert sebagai pupuk yang dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya kubis. Dengan demikian, manfaat ekonomi yang tercatat dalam kegiatan tersebut mencakup nilai penjualan hasil panen dan berkurangnya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pupuk.
Nilai penjualan sekitar Rp78 juta dan penghematan biaya sekitar Rp20 juta menunjukkan dua bentuk manfaat yang dicatat dari kegiatan budidaya tersebut. Hasil penjualan berkaitan dengan produk pertanian yang dipasarkan setelah panen, sedangkan penghematan biaya berkaitan dengan kebutuhan sarana produksi. Kedua angka itu menjadi data ekonomi yang menyertai penerapan pupuk Geo-Fert oleh kelompok tani.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menyatakan bahwa panas bumi juga dimanfaatkan untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang dapat digunakan kembali dalam pertanian. Pernyataan tersebut menempatkan pemanfaatan panas bumi dalam kegiatan yang mendukung pengolahan limbah organik menjadi produk pertanian. Dalam kegiatan budidaya kubis ini, pemanfaatan Geo-Fert berkaitan dengan penghematan biaya pembelian pupuk serta pencatatan hasil penjualan panen.
Geo-Fert merupakan pupuk organik yang proses produksinya memanfaatkan ekses uap dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Pemanfaatan ini menunjukkan bahwa energi panas bumi tidak hanya dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, tetapi juga mendukung inovasi di bidang pertanian. Uap yang sebelumnya menjadi bagian dari proses operasional pembangkit dimanfaatkan sebagai sumber panas dalam tahapan pengeringan pupuk.
Ekses uap dari PLTP Kamojang memiliki suhu sekitar 60–70 derajat Celsius. Panas tersebut membantu mengurangi kadar air pada bahan pupuk organik secara lebih cepat dan terkendali. Dengan demikian, proses pengeringan Geo-Fert tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca atau paparan sinar matahari. Hubungan fasilitas panas bumi dan produksi pupuk ini berlangsung secara sederhana: panas dari uap dialirkan untuk membantu mengeringkan pupuk hingga siap digunakan.
Sebelum memanfaatkan panas bumi, proses pengeringan pupuk organik dapat membutuhkan waktu hingga sekitar 14 hari. Durasi tersebut kemudian dapat dipangkas menjadi sekitar 12 jam setelah menggunakan panas dari ekses uap PLTP Kamojang. Perubahan waktu ini membuat proses produksi Geo-Fert berlangsung jauh lebih cepat, sekaligus membantu meningkatkan efisiensi pengolahan pupuk.
Pemanfaatan panas bumi dalam produksi Geo-Fert menjadi contoh kolaborasi sektor energi dan pertanian. PLTP Kamojang menyediakan sumber panas, sedangkan pengolahan pupuk memanfaatkannya untuk mempercepat tahap pengeringan. Inovasi tersebut memberi nilai tambah pada energi panas bumi dan mendukung ketersediaan pupuk organik bagi petani. Bagi kegiatan pertanian di Kamojang, proses yang lebih singkat dapat membantu menyiapkan pupuk secara lebih praktis untuk mendukung kebutuhan budidaya, termasuk tanaman kubis.
Penerapan Geo-Fert dilakukan pada lahan budidaya kubis seluas 1,2 hektare di Kamojang dengan total penggunaan sekitar 30 ton. Pemakaian tersebut mencakup dua bentuk pupuk, yaitu pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Keduanya diterapkan pada tahap yang berbeda selama kegiatan budidaya, sesuai dengan kebutuhan pengelolaan lahan dan pemeliharaan tanaman yang telah ditetapkan.
Pupuk organik padat digunakan sebelum penanaman kubis. Pemberian pada tahap awal ini menjadi bagian dari persiapan lahan sebelum bibit atau tanaman kubis ditempatkan di area budidaya. Dengan demikian, penggunaan pupuk padat dilakukan terlebih dahulu, sebelum rangkaian pemeliharaan tanaman berlangsung. Total pemakaian Geo-Fert pada lahan tersebut tetap dihitung dalam keseluruhan volume sekitar 30 ton.
Berikutnya, pupuk organik cair diberikan secara berkala selama masa budidaya. Aplikasinya dilakukan setiap 15 hari, sehingga pemberian berlangsung mengikuti interval pemeliharaan tanaman. Pola tersebut membedakan penggunaan pupuk cair dari pupuk organik padat yang telah diberikan sebelum penanaman. Penerapan pupuk cair secara berkala menjadi bagian dari metode pemakaian Geo-Fert selama kubis tumbuh hingga memasuki masa panen.
Hasil panen yang dicatat memperlihatkan ukuran fisik kubis yang beragam. Beberapa kubis mencapai bobot sekitar 6 kilogram per buah. Bobot tersebut lebih besar dibandingkan rata-rata kubis lokal yang berada di kisaran 3 kilogram per buah. Perbandingan ini merujuk pada bobot beberapa hasil kubis yang ditimbang dan tidak menunjukkan bahwa seluruh kubis di lahan tersebut memiliki bobot yang sama. Oleh karena itu, angka 6 kilogram per buah digunakan sebagai gambaran bobot yang dicapai oleh sebagian hasil panen, sedangkan 3 kilogram per buah menjadi pembanding rata-rata kubis lokal.







