Jakarta | Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) harian yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menurun menjadi sekitar 3.000 kasus. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, ketika kasus harian berada pada kisaran 10.000 hingga 15.000. Meski demikian, akumulasi kasus yang tercatat hingga 22 Oktober 2026 mencapai 333.470 kasus. Data ini menunjukkan bahwa penurunan kasus harian belum menghapus beban kesehatan yang telah terbentuk selama kejadian karhutla berlangsung.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa perubahan kualitas udara juga terlihat dari berkurangnya jumlah kabupaten dan kota dengan indeks standar pencemar udara (ISPU) kategori merah atau hitam. Jumlah wilayah dalam kategori tersebut turun dari 50 menjadi 22. ISPU merah dan hitam menandakan kondisi udara yang perlu mendapat perhatian serius karena paparan pencemar dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung.
Penurunan indikator tersebut menjadi perkembangan yang patut dicermati, tetapi tidak dapat dimaknai bahwa ancaman telah berakhir. Kualitas udara di sejumlah wilayah masih berada pada tingkat berbahaya, dan kondisi dapat berubah mengikuti sebaran asap serta aktivitas kebakaran. Karena itu, masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi kualitas udara dan mengikuti anjuran kesehatan yang berlaku. Mengurangi kegiatan berat di luar ruangan ketika udara tercemar, menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas, dan mencari pertolongan apabila mengalami keluhan pernapasan merupakan langkah kewaspadaan yang relevan.
Kementerian Kesehatan terus memantau perkembangan kasus ISPA dan dampak kesehatan lainnya seiring perubahan kondisi karhutla. Pemantauan diperlukan agar respons dapat menyesuaikan kebutuhan di setiap daerah, terutama apabila paparan asap kembali meningkat atau layanan kesehatan menerima lebih banyak pasien. Angka harian, data kumulatif, serta indikator pencemaran udara memberi gambaran yang saling melengkapi, bukan alasan untuk mengabaikan risiko. Dengan demikian, penurunan menjadi sekitar 3.000 kasus per hari merupakan sinyal perbaikan, sementara kewaspadaan dan pengawasan kesehatan masyarakat tetap perlu dipertahankan.Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan langkah bantuan bagi warga terdampak karhutla di Jakarta pada Kamis. Kementerian Kesehatan menyiapkan masker, dukungan oksigen, dan obat-obatan untuk membantu penanganan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi udara. Bantuan tersebut ditujukan terutama bagi warga yang membutuhkan pertolongan, termasuk mereka yang mengalami gangguan pernapasan. Langkah ini melengkapi upaya pemerintah merespons dampak asap di wilayah dengan kualitas udara yang memburuk.
Untuk perlindungan pernapasan, Kemenkes mengirimkan masker dengan total kebutuhan sebanyak 1,6 juta. Penyaluran masker ditargetkan selesai pada minggu berikutnya. Pengiriman ini diharapkan membantu warga di daerah terdampak memperoleh perlindungan saat beraktivitas, khususnya ketika kualitas udara berada pada tingkat yang memerlukan kewaspadaan. Kementerian menyampaikan target distribusi tersebut sebagai bagian dari dukungan langsung kepada masyarakat, tanpa merinci jumlah yang dialokasikan untuk masing-masing daerah.
Bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan dan memerlukan pertolongan, Kemenkes juga menyiapkan fasilitas oksigen. Dukungan yang disediakan berupa tabung oksigen beserta selang, atau oxygen concentrator. Pengiriman fasilitas ini ditargetkan berlangsung dalam satu hingga dua minggu. Pemerintah menargetkan daerah dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berstatus merah atau hitam memiliki fasilitas tersebut, sehingga dukungan oksigen dapat tersedia di wilayah yang menghadapi tingkat pencemaran udara paling serius.
Selain masker dan sarana oksigen, obat-obatan juga dikirim untuk membantu penanganan warga yang sakit. Penyediaan beberapa jenis bantuan ini menunjukkan bahwa respons tidak hanya mencakup perlindungan dari paparan asap, tetapi juga dukungan bagi masyarakat yang telah mengalami keluhan kesehatan. Masker, obat, dan fasilitas oksigen memiliki fungsi berbeda dalam penanganan, sehingga distribusinya diarahkan untuk menjawab kebutuhan warga terdampak. Kemenkes menyampaikan sasaran dan waktu pengiriman sebagai target pelaksanaan; rincian pembagian per daerah maupun jadwal yang lebih spesifik tidak disampaikan.
Kementerian Kesehatan menyiapkan ratusan fasilitas rumah oksigen dan layanan mobil keliling untuk mempercepat pertolongan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Langkah ini ditujukan agar warga yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh akses oksigen dan pemeriksaan awal lebih dekat, terutama ketika kualitas udara memburuk. Kehadiran fasilitas tersebut juga diharapkan membantu layanan kesehatan setempat merespons kebutuhan warga secara lebih cepat, tanpa harus menunggu kondisi pernapasan memburuk sebelum mencari pertolongan.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. dr. Ten Suyanti, menjelaskan bahwa rumah oksigen merupakan ruangan atau bangunan khusus yang dilengkapi pasokan oksigen. Pasokan itu dapat disediakan melalui alat konsentrat oksigen maupun tabung oksigen konvensional, menyesuaikan ketersediaan dan kebutuhan di lokasi. Dengan pilihan sumber tersebut, fasilitas dapat dirancang sesuai kondisi wilayah dan dukungan logistik yang tersedia. Rumah oksigen berfungsi sebagai tempat pertolongan, bukan pengganti layanan medis lanjutan. Warga dengan keluhan berat atau kondisi yang memburuk tetap perlu mendapat penanganan tenaga kesehatan dan dirujuk ke fasilitas kesehatan sesuai penilaian petugas.
Selain menyiapkan titik layanan, Kemenkes merencanakan mobil keliling untuk menjangkau masyarakat di wilayah terdampak yang sulit mengakses fasilitas kesehatan. Layanan bergerak ini dapat membawa dukungan oksigen serta membantu petugas memberikan pertolongan awal di lapangan. Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi akses, tingkat paparan asap, dan kemampuan layanan daerah. Kemenkes juga berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah untuk memantau perkembangan kasus gangguan pernapasan sekaligus mengenali kebutuhan logistik masing-masing wilayah. Pemantauan tersebut penting agar dukungan, termasuk pasokan oksigen dan perlengkapan pelindung, dapat diarahkan ke lokasi yang memerlukan. Data daerah dapat membantu menentukan jumlah dan penempatan rumah oksigen, kebutuhan operasional mobil keliling, serta langkah tindak lanjut ketika jumlah warga yang membutuhkan pertolongan berubah. Melalui koordinasi ini, bantuan diharapkan lebih terencana dan menjangkau masyarakat secara tepat waktu selama kabut asap karhutla berlangsung.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Pesan ini disampaikan sebagai langkah perlindungan di tengah kondisi udara yang masih berbahaya di sejumlah wilayah. Asap kebakaran hutan dan lahan dapat menurunkan kualitas udara, sehingga warga perlu memperhatikan situasi di lingkungan masing-masing dan menyesuaikan aktivitas sehari-hari. Mengurangi waktu di luar rumah menjadi pilihan penting, terutama saat kondisi udara sedang tidak baik.
Menurut Budi, pilihan yang paling aman bagi masyarakat dalam keadaan tersebut adalah tetap berada di rumah. Imbauan ini ditujukan agar paparan terhadap udara tercemar dapat dikurangi, khususnya ketika keadaan di luar masih berisiko. Warga sebaiknya mempertimbangkan kembali kegiatan yang tidak mendesak dan menunda aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk. Dengan demikian, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan sederhana tanpa mengabaikan kondisi kualitas udara yang terjadi di wilayahnya.
Apabila harus keluar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker. Budi menyampaikan imbauan tersebut sebagai perlindungan bagi warga yang tetap perlu beraktivitas di luar, bukan sebagai pengganti anjuran untuk mengurangi kegiatan. Karena itu, tetap di rumah merupakan pilihan utama ketika memungkinkan, sementara penggunaan masker perlu dilakukan jika keluar tidak dapat dihindari. Imbauan ini berlaku di tengah kualitas udara yang masih berbahaya pada sejumlah daerah akibat karhutla, sehingga kehati-hatian dalam mengatur aktivitas tetap diperlukan.
Pesan pencegahan tersebut menekankan dua hal: membatasi kegiatan luar ruang dan menggunakan masker apabila harus bepergian.
Baca juga: Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel | Panglima TNI Salurkan Bantuan dan Perkuat Pencegahan Karhutla di Sambas | Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla






