Kemkomdigi dan AGI Dorong Pengembang Gim Indonesia Menembus Pasar Global

Kemkomdigi dan AGI Dorong Pengembang Gim Indonesia Menembus Pasar Global

Denpasar | Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama Asosiasi Game Indonesia (AGI) mendorong penguatan industri gim nasional agar studio lokal semakin tangguh dan mampu berkembang di tengah persaingan global. Kolaborasi ini menempatkan resiliensi sebagai perhatian bersama: ekosistem perlu memberi ruang bagi pengembang untuk membangun usaha secara berkelanjutan, sekaligus memperkenalkan kemampuan Indonesia kepada mitra dari berbagai negara.

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kemkomdigi, Sonny Hendra Sudaryana, menyampaikan bahwa studio gim di Indonesia diharapkan memiliki jalur pertumbuhan yang jelas. Kejelasan tersebut penting agar pengembang dapat memahami tahapan yang perlu ditempuh untuk mengembangkan studio, memperkuat kapasitas, serta menjangkau peluang pasar yang lebih luas. Dengan arah pertumbuhan yang terukur, pelaku industri diharapkan tidak hanya berfokus pada produksi gim, tetapi juga dapat membangun fondasi usaha yang mendukung keberlanjutan karya dan timnya.

Di sisi lain, Kemkomdigi dan AGI ingin membantu mitra internasional memahami talenta serta potensi yang dimiliki Indonesia. Pengenalan ini dapat membuka ruang dialog dan membangun pemahaman tentang kapasitas pengembang lokal, karakter ekosistem, dan peluang kerja sama. Bagi industri nasional, hubungan yang lebih terbuka dengan pihak luar dapat menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan dan memperkuat posisi studio Indonesia dalam lanskap gim global.

Upaya bersama tersebut menunjukkan bahwa penguatan industri tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir berupa gim yang dipasarkan. Ketahanan ekosistem juga bergantung pada kemampuan studio untuk bertumbuh, serta pada pemahaman dan keterhubungan dengan mitra yang dapat mendukung pengembangan industri. Karena itu, komunikasi pemerintah, asosiasi, pengembang, dan pelaku internasional menjadi unsur penting dalam membangun ekosistem yang lebih siap menghadapi perubahan pasar.

Pernyataan Sonny disampaikan dalam Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, pada Kamis. Forum tersebut menjadi kesempatan untuk menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mendorong pengembang gim Indonesia agar memiliki prospek pertumbuhan yang lebih terang dan potensi mereka semakin dikenal di tingkat global.

Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) menjadi salah satu upaya untuk memperkuat industri gim nasional sekaligus membuka akses lebih luas bagi pengembang lokal. Ajang ini mempertemukan studio, penerbit, investor, dan pelaku industri dari berbagai negara dalam satu ruang. Bagi studio Indonesia, pertemuan tersebut menyediakan kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada calon mitra dan audiens yang lebih luas, menerima masukan, serta memahami kebutuhan pasar. Interaksi langsung juga membantu pengembang melihat posisi karya mereka di tengah perkembangan industri global dan mempertimbangkan langkah pengembangan berikutnya.

Skala partisipasi IGDX mencerminkan jangkauan jejaring yang terbentuk. Perwakilan dari 339 studio gim dan 66 penerbit yang berasal dari 31 negara berkumpul dengan dukungan sembilan mitra acara. Kehadiran pelaku industri lintas negara memperbesar peluang pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Pengembang dapat belajar dari praktik produksi, penerbitan, pemasaran, dan distribusi yang diterapkan pihak lain, sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama yang sesuai dengan kebutuhan studio. Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya wadah memamerkan gim, tetapi juga sarana untuk membangun hubungan profesional yang dapat berlanjut setelah acara selesai.

IGDX turut menyediakan ruang pertemuan bisnis bagi 543 pemegang business pass untuk membahas potensi kemitraan, investasi, penerbitan, maupun distribusi. Pertemuan terarah seperti ini dapat membantu pengembang menyampaikan rencana produk dan kebutuhan pendanaan secara langsung kepada calon mitra. Studio juga berkesempatan menguji ketertarikan pasar, memperoleh tanggapan atas konsep gim, dan memahami syarat untuk menjangkau pemain di luar Indonesia. Percakapan bisnis tersebut dapat menjadi awal bagi kerja sama baru, meski tindak lanjut dan kesepakatan tetap bergantung pada kecocokan tujuan serta kesiapan setiap pihak.

Sementara itu, 1.037 pemegang public pass dapat menyaksikan tren perkembangan industri gim nasional. Akses publik ini memperluas pemahaman tentang karya dan pelaku lokal, sekaligus menghubungkan ekosistem pengembang dengan komunitas yang lebih luas. Secara keseluruhan, IGDX mendukung studio Indonesia untuk meningkatkan visibilitas, memperluas koneksi, menarik minat investasi, dan menjajaki pasar global. Kesempatan untuk belajar, memperkenalkan produk, serta mengembangkan kemitraan menjadikan ajang ini bagian penting dari upaya membangun industri gim yang semakin terhubung dan berdaya saing.

Pemerintah berharap industri gim Indonesia tidak sekadar menyaksikan perubahan yang berlangsung di pasar global. Pelaku nasional diharapkan mengambil peran aktif sebagai pencipta, inovator, dan pemain yang diperhitungkan di tingkat dunia. Harapan tersebut disampaikan sebelumnya oleh Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kemkomdigi, Edwin Hidayat Abdullah. Menurutnya, perkembangan industri gim membuka peluang bagi talenta dan perusahaan lokal untuk menunjukkan kemampuan, membangun produk bernilai, serta bersaing di pasar internasional.

Untuk mewujudkan peluang itu, pengembang membutuhkan akses yang lebih luas terhadap mitra, pengetahuan, dan sumber daya. Indonesia Game Developer eXchange (IGDX) diharapkan menjadi salah satu ruang yang mempertemukan pelaku industri gim dengan mitra potensial. Pertemuan tersebut dapat mendorong kemitraan bisnis dalam berbagai bidang, termasuk investasi, pengembangan, penerbitan, dan distribusi gim. Kolaborasi di bidang-bidang ini penting karena sebuah gim tidak hanya memerlukan ide dan proses produksi, tetapi juga dukungan pembiayaan, strategi penerbitan, serta jalur distribusi yang mampu menjangkau pemain di berbagai negara.

Kemitraan yang terbentuk melalui IGDX juga dapat membantu pengembang memahami kebutuhan pasar dan standar kerja internasional. Dengan bertukar pengalaman bersama penerbit, investor, dan pelaku industri lainnya, studio Indonesia berpeluang memperkuat kapasitas bisnis sekaligus meningkatkan kualitas produknya. Akses terhadap jaringan global dapat membuka kesempatan untuk mengembangkan proyek bersama, memperoleh dukungan pendanaan, dan membawa gim lokal kepada audiens yang lebih luas. Namun, keberhasilan kerja sama tetap bergantung pada kesiapan pelaku industri untuk menjaga kualitas, memenuhi kesepakatan, dan mengembangkan karya secara berkelanjutan.

Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI), Shafiq Husein, turut mengajak peserta memperkuat ekosistem industri agar semakin kompetitif. Ajakan tersebut mencakup upaya membangun hubungan yang produktif antarpelaku, mendorong pertukaran pengetahuan, serta memperluas peluang bagi pengembang dan talenta lokal. Ekosistem yang kuat dapat membantu studio bertumbuh, menarik mitra, dan menghadapi persaingan internasional dengan kesiapan lebih baik. Pada saat yang sama, penguatan kapasitas talenta menjadi bekal untuk menghasilkan karya yang relevan dan memiliki daya saing.

Melalui dukungan pemerintah, kolaborasi industri, dan ruang temu seperti IGDX, karya serta talenta Indonesia diharapkan semakin dikenal di pasar global. Tujuannya bukan hanya menghadirkan lebih banyak gim lokal, melainkan memastikan pelaku nasional ikut membentuk arah industri melalui kreativitas dan inovasi. Dengan kemitraan yang tepat dan ekosistem yang terus diperkuat, Indonesia berpeluang tampil sebagai kontributor aktif dalam industri gim dunia.

Penguatan ekosistem gim merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengembangkan ekonomi digital Indonesia. Ekosistem ini mencakup pengembang, perusahaan rintisan, tenaga kerja terampil, lembaga pendidikan, investor, serta akses ke pasar. Ketika berbagai unsur tersebut terhubung, pelaku industri memiliki peluang lebih baik untuk memperoleh pengetahuan, dukungan usaha, pendanaan, dan jaringan yang diperlukan untuk mengembangkan produk. Upaya tersebut juga dapat memperluas kesempatan bagi talenta lokal untuk bekerja dan berinovasi di sektor digital.

Potensi industri gim turut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan ekosistem tersebut. Industri gim Indonesia diperkirakan menyumbang Rp59 triliun pada 2030. Angka itu merupakan proyeksi mengenai potensi kontribusi sektor gim, bukan ukuran kontribusi yang telah terealisasi. Di tingkat ekonomi digital secara keseluruhan, laporan e-Conomy SEA 2025 memperkirakan nilai transaksi bruto Indonesia pada 2025 mencapai 99 miliar dolar AS, atau naik 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Menembus Langit Banua, Hercules TNI AU Bawa Bantuan Presiden RI untuk Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan