MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, mengungkapkan tiga bekal utama yang diperlukan oleh calon pemimpin maupun pemimpin yang telah menjalankan tanggung jawabnya. Hal tersebut disampaikannya dalam Makassar Leadership Summit melalui sambungan daring dari Makassar, Kamis. Menurut Kalla, tiga bekal tersebut meliputi kecakapan atau kemampuan untuk terus menjadi lebih pintar, keberanian, serta kepercayaan dari masyarakat.
Kalla menjelaskan, kecakapan tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan seseorang dalam bergaul atau mendekati penguasa. Seorang pemimpin juga harus memiliki kemauan untuk terus belajar dan berkreasi. Kemampuan untuk menjadi lebih pintar, dalam pandangannya, perlu disertai dengan upaya menghasilkan gagasan serta melakukan sesuatu secara nyata.
Bekal berikutnya adalah keberanian. Kalla menyampaikan bahwa pemimpin harus siap menghadapi dan mengambil risiko untuk mencapai keberhasilan. Keberanian tersebut menjadi bagian penting dalam menjalankan tanggung jawab, terutama ketika seorang pemimpin harus menentukan langkah dan menghadapi berbagai kemungkinan dari keputusan yang diambil.
Selain kecakapan dan keberanian, pemimpin juga memerlukan kepercayaan dari masyarakat. Kepercayaan menjadi bekal yang penting bagi seseorang dalam menjalankan kepemimpinan. Dengan demikian, tiga hal yang disampaikan Kalla mencakup kemampuan untuk terus berkembang dan berkreasi, kesiapan mengambil risiko, serta kepercayaan masyarakat yang menopang pelaksanaan tanggung jawab seorang pemimpin.
Dalam dunia usaha, kepemimpinan tidak cukup dibangun melalui jabatan atau kewenangan formal. Seorang pemimpin perusahaan perlu memiliki keberanian untuk mengambil keputusan, terutama ketika berhadapan dengan situasi yang belum sepenuhnya pasti. Keberanian tersebut bukan berarti bertindak tanpa perhitungan, melainkan kesediaan menilai peluang, memahami risiko, dan menentukan langkah secara tegas berdasarkan informasi yang tersedia. Sikap ini dibutuhkan agar perusahaan tidak berhenti pada pola lama ketika perubahan pasar menuntut penyesuaian.
Jusuf Kalla juga menekankan pentingnya kreativitas dalam menjalankan usaha. Pemimpin perlu mampu melihat kemungkinan baru, mengembangkan gagasan, serta menemukan cara yang lebih efektif untuk menjawab kebutuhan pelanggan dan menghadapi persaingan. Kreativitas dapat hadir dalam bentuk inovasi produk, perbaikan proses kerja, maupun strategi untuk memperluas pasar. Namun, setiap gagasan tetap harus diterjemahkan ke dalam keputusan yang bertanggung jawab dan dapat dilaksanakan oleh organisasi.
Ketika keputusan atau inovasi tersebut menghasilkan keberhasilan, tantangan berikutnya adalah mempertahankan konsistensi. Hasil positif tidak boleh dipandang sebagai akhir, karena keberhasilan perlu dijaga melalui disiplin, evaluasi, dan pelaksanaan yang berkelanjutan. Pemimpin harus memastikan bahwa standar kerja, kualitas layanan, dan nilai yang menjadi dasar usaha tetap diterapkan, bahkan ketika perusahaan mulai berkembang. Konsistensi inilah yang membantu keberhasilan menjadi fondasi jangka panjang, bukan sekadar pencapaian sesaat.
Dalam pandangan Kalla, keberhasilan bisnis juga tidak hanya bergantung pada modal. Usaha dan modal tidak akan memiliki masa depan apabila tidak dilindungi dengan kepercayaan. Kepercayaan pelanggan, mitra, karyawan, dan masyarakat terbentuk melalui kejujuran, pemenuhan janji, serta tanggung jawab dalam setiap keputusan. Karena itu, keberanian mengambil risiko dan kreativitas harus berjalan bersama integritas. Pemimpin yang mampu menjaga kepercayaan akan lebih siap menghadapi tekanan, memulihkan usaha ketika muncul masalah, serta mempertahankan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Kepercayaan dipandang sebagai salah satu penopang utama kelangsungan bisnis. Dalam lingkungan usaha yang terus berubah dan penuh persaingan, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menghasilkan keuntungan. Keberlanjutan juga bergantung pada keyakinan berbagai pihak bahwa perusahaan menjalankan usahanya secara bertanggung jawab, konsisten, dan memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan sosial di sekitarnya.
Pandangan tersebut menempatkan kepercayaan sebagai modal yang dibangun melalui hubungan jangka panjang. Perusahaan perlu menunjukkan bahwa keberadaannya tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi kepentingan internal atau memperbesar keuntungan bagi pihak tertentu. Cara perusahaan berinteraksi dengan masyarakat, memahami kebutuhan lingkungan sosial, serta menjaga tanggung jawabnya akan memengaruhi penerimaan dan dukungan yang diterimanya.
Pertumbuhan usaha, dengan demikian, memiliki hubungan timbal balik dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perusahaan dapat berkembang karena memperoleh ruang, dukungan, dan kepercayaan dari lingkungan tempatnya beroperasi. Pada saat yang sama, perkembangan tersebut perlu memberikan manfaat yang dirasakan lebih luas, sehingga masyarakat memiliki alasan untuk terus mendukung keberadaan perusahaan. Hubungan ini tidak bersifat satu arah, melainkan menjadi bagian dari fondasi keberlangsungan bisnis.
Ketika perusahaan mampu membangun relasi yang sehat dengan masyarakat, tantangan akibat persaingan dan perubahan lingkungan bisnis dapat dihadapi dengan landasan yang lebih kuat. Dukungan sosial membantu menjaga kesinambungan usaha, sementara sikap bertanggung jawab memperkuat kepercayaan dari waktu ke waktu. Karena itu, perusahaan perlu memandang masyarakat bukan sekadar pihak di luar kegiatan bisnis, melainkan unsur penting yang turut menentukan kemampuan usaha untuk bertahan dan berkembang.
Kepercayaan tidak terbentuk secara instan dan tidak dapat dipertahankan hanya melalui pernyataan. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam perilaku perusahaan yang selaras dengan kepentingan bersama. Dengan menempatkan hubungan sosial dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari pertumbuhan, perusahaan memiliki dasar yang lebih kokoh untuk menjaga keberadaannya dalam jangka panjang.
Jusuf Kalla mendorong perusahaan untuk menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG) sebagai bagian dari tanggung jawab sekaligus upaya menjaga keberlanjutan bisnis. Dalam pandangan ini, perusahaan tidak lagi cukup mengarahkan seluruh perhatian kepada pemegang saham. Kegiatan usaha juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Pada aspek lingkungan, keberlangsungan perusahaan memiliki hubungan erat dengan kondisi alam. Kerusakan hutan, kebakaran, kekeringan, dan banjir bukan hanya menimbulkan persoalan ekologis, tetapi juga dapat mengganggu kehidupan masyarakat serta aktivitas dunia usaha. Bencana dan perubahan kondisi lingkungan berpotensi merusak infrastruktur, menghambat rantai pasok, mengurangi ketersediaan sumber daya, dan meningkatkan biaya operasional. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan risiko dan perencanaan bisnis jangka panjang, bukan sekadar kegiatan tambahan.
Aspek sosial juga menjadi unsur penting dalam keberlanjutan perusahaan. Hubungan yang baik perusahaan dan masyarakat dapat membangun kepercayaan, mengurangi potensi konflik, serta menciptakan ruang kerja sama yang saling menguntungkan. Perusahaan perlu memahami kebutuhan masyarakat, menghormati lingkungan sosial, dan memastikan bahwa kehadiran kegiatan usaha memberikan manfaat yang wajar bagi komunitas setempat. Sikap tersebut mendukung terciptanya hubungan yang stabil, yang pada akhirnya turut menjaga kelancaran operasional.
Pesan Kalla menempatkan tanggung jawab perusahaan dalam cakupan yang lebih luas. Keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari kinerja keuangan atau manfaat bagi pemegang saham, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menjaga lingkungan dan membangun hubungan yang sehat dengan masyarakat. Penerapan ESG menjadi dorongan agar perusahaan menjalankan usaha secara bertanggung jawab, dengan memperhatikan dampak jangka panjang terhadap alam, kehidupan sosial, dan kesinambungan kegiatan bisnis.

