Jakarta | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan mengganggu operasional 16 bandara di wilayah Papua. Sebaran bandara terdampak mencakup Provinsi Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Informasi mengenai lokasi-lokasi tersebut bersumber dari laporan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X, yang mencatat dampak pada sejumlah bandara di berbagai kawasan.
Di Provinsi Papua, bandara yang disebut terdampak adalah Bandara Sentani. Sementara itu, di Papua Tengah terdapat tiga bandara, yaitu Bandara Mozes Kilangin Timika, Bandara Ilaga, dan Bandara Ilu. Di Papua Pegunungan, gangguan dilaporkan terjadi di Bandara Wamena, Bandara Oksibil, dan Bandara Dekai. Dengan demikian, enam bandara yang tercatat berada di tiga provinsi tersebut, sedangkan sembilan lainnya berada di Provinsi Papua Selatan.
Papua Selatan menjadi wilayah dengan jumlah lokasi terdampak terbanyak dalam daftar tersebut. Sembilan bandara yang dilaporkan mengalami gangguan adalah Bandara Mopah di Merauke, Tanah Merah, Kepi, Ewer, Bade, Senggo, Manggelum, Yaniruma, dan Mindiptanah. Daftar ini menunjukkan luasnya sebaran dampak kabut asap, dari Merauke hingga sejumlah lokasi yang melayani kawasan pedalaman.
Pencatatan berdasarkan wilayah administratif membantu menggambarkan cakupan gangguan terhadap layanan penerbangan di Papua. Namun, laporan tersebut menyebutkan lokasi bandara yang terdampak dan tidak merinci tingkat gangguan pada masing-masing bandara. Karena itu, daftar ini sebaiknya dipahami sebagai pemetaan sebaran dampak, bukan sebagai keterangan bahwa seluruh bandara mengalami kondisi operasional yang sama. Perkembangan situasi dapat berbeda di setiap lokasi, bergantung pada kondisi kabut asap dan keadaan setempat.
Rincian dari Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X juga menegaskan bahwa dampak karhutla tidak terbatas pada satu kota atau satu provinsi. Gangguan tersebar di empat provinsi dengan kondisi geografis dan jaringan penerbangan yang beragam. Informasi wilayah ini dapat menjadi rujukan awal bagi masyarakat dan pihak terkait untuk mengenali bandara yang masuk dalam laporan, sembari tetap memeriksa pengumuman terbaru dari otoritas maupun maskapai sebelum melakukan perjalanan.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat mengurangi jarak pandang di sekitar bandara, termasuk di sejumlah wilayah Papua. Kondisi tersebut membuat awak pesawat dan petugas operasional perlu menilai keadaan secara cermat sebelum penerbangan dilaksanakan. Ketika jarak pandang berada di bawah batas yang dipersyaratkan, proses lepas landas maupun pendaratan dapat terdampak, sehingga jadwal penerbangan berisiko mengalami keterlambatan, penundaan, atau pembatalan.
Dampak pada jadwal tidak dapat dipisahkan dari pertimbangan keselamatan. Keputusan untuk tetap beroperasi, menunda keberangkatan, atau membatalkan penerbangan ditentukan berdasarkan kondisi aktual dan prosedur yang berlaku, bukan semata-mata untuk menjaga ketepatan jadwal. Penilaian dapat mempertimbangkan jarak pandang, perkembangan cuaca, kondisi bandara, serta informasi operasional dari pihak-pihak terkait. Dengan demikian, penyesuaian layanan menjadi langkah pencegahan apabila situasi dinilai belum aman bagi pesawat, penumpang, dan awak.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan terus memantau perkembangan karhutla dan dampaknya terhadap transportasi udara, termasuk di Papua. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan agar perubahan kondisi dapat diketahui dan ditindaklanjuti dengan cepat. Informasi mengenai situasi di lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah operasional serta menyampaikan perkembangan kepada pihak yang berkepentingan.
Dalam upaya tersebut, Ditjen Perhubungan Udara berkoordinasi dengan kantor otoritas bandara wilayah I hingga X, pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, BMKG, dan instansi terkait lainnya. Koordinasi membantu menyatukan informasi mengenai jarak pandang, kondisi cuaca, serta keadaan fasilitas dan layanan penerbangan di setiap wilayah. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F Laisa, menyatakan koordinasi itu bertujuan memantau situasi di tiap wilayah. Ia menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas. Karena itu, keputusan operasional dapat disesuaikan apabila kondisi asap berubah, dengan tetap memperhatikan informasi terbaru dan ketentuan keselamatan yang berlaku. Penumpang diimbau mengikuti pembaruan dari maskapai maupun pengelola bandara sebelum berangkat, terutama saat kondisi cuaca dan jarak pandang masih berpotensi berubah.Data nasional Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa gangguan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut memengaruhi penerbangan berjadwal domestik sejak 11 Agustus 2026. Hingga 13 Oktober 2026, tercatat 2.021 penerbangan terdampak. Angka ini mencakup sejumlah bentuk gangguan operasional, mulai dari keterlambatan hingga perubahan rute dan jadwal.
Dari total tersebut, sebanyak 919 penerbangan mengalami keterlambatan. Sebanyak 1.067 penerbangan dibatalkan atau ditunda, sedangkan 18 penerbangan dialihkan ke bandara lain. Selain itu, enam penerbangan kembali ke bandara keberangkatan, dan 11 penerbangan dimajukan jadwalnya. Rincian ini menggambarkan bahwa dampak asap tidak hanya berupa pembatalan, tetapi juga perubahan perjalanan yang dapat memengaruhi rencana penumpang dan koordinasi maskapai.
Gangguan karhutla juga terjadi pada layanan internasional. Pada 12–23 September 2026, sebanyak 12 penerbangan berjadwal rute Singapura–Pontianak pulang-pergi dibatalkan akibat asap di Bandara Supadio. Pembatalan itu berkaitan dengan kondisi visibilitas dan keselamatan operasional di bandara, sehingga berbeda cakupannya dari angka gangguan penerbangan domestik yang dihimpun sejak Agustus.
Pemisahan penyebab penting agar data tidak ditafsirkan secara keliru. Pada periode yang sama, terdapat pula 18 penerbangan domestik yang dibatalkan, tetapi pembatalan tersebut disebabkan faktor lain, bukan karhutla. Penyebab yang tercatat meliputi abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, cuaca buruk, angin kencang, serta perawatan pesawat. Karena itu, angka 18 tersebut tidak semestinya dijumlahkan sebagai bagian dari pembatalan akibat asap.
Secara keseluruhan, data Kementerian Perhubungan menunjukkan besarnya tekanan terhadap layanan udara ketika kualitas udara dan kondisi operasional memburuk. Penumpang yang bepergian melalui wilayah terdampak perlu memeriksa informasi terkini dari maskapai dan bandara, sebab status penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi setempat. Pembedaan gangguan karena karhutla dan faktor lain juga membantu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai penyebab perubahan jadwal.
Pemerintah terus menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui berbagai langkah, termasuk pemadaman dari udara atau water bombing. Upaya ini dilakukan untuk membantu menjangkau titik api di wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat serta menekan penyebaran kebakaran. Pesawat mengangkut dan menjatuhkan air di area terdampak berdasarkan kebutuhan penanganan dan kondisi lapangan. Pelaksanaan operasi turut mempertimbangkan cuaca, keselamatan penerbangan, dan koordinasi dengan pihak terkait, sehingga kegiatan pemadaman dapat berjalan seiring dengan pengelolaan lalu lintas udara secara cermat.
Pada periode 20 April hingga 12 Oktober 2026, operasi pemadaman udara berlangsung sebanyak 5.035 siklus penerbangan. Kegiatan tersebut melibatkan 38 pesawat yang dioperasikan oleh 11 operator di berbagai wilayah rawan karhutla. Intensitas operasi itu menunjukkan skala upaya yang dikerahkan untuk mendukung penanganan kebakaran, sekaligus menggambarkan pentingnya koordinasi instansi pemerintah, operator penerbangan, dan unsur penanggulangan di lapangan. Di tengah upaya tersebut, kabut asap dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran dan keadaan cuaca. Karena itu, kondisi di sekitar bandara maupun jalur penerbangan dapat mengalami perubahan, dan jadwal perjalanan mungkin perlu disesuaikan demi keselamatan.
Kementerian Perhubungan mengimbau masyarakat agar tetap tenang apabila terjadi penyesuaian jadwal penerbangan. Penumpang sebaiknya tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar yang beredar melalui media sosial atau pesan berantai. Sebelum berangkat ke bandara, masyarakat dianjurkan memantau kondisi cuaca dan mencari informasi terbaru dari maskapai mengenai status penerbangan, waktu keberangkatan, serta kemungkinan perubahan jadwal. Langkah ini membantu penumpang merencanakan perjalanan dengan lebih baik dan menghindari ketidaknyamanan akibat informasi yang tidak akurat.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla






