Kanker Payudara: Kebiasaan Sehat dan Pemeriksaan Dini yang Perlu Diperhatikan

Kanker Payudara: Kebiasaan Sehat dan Pemeriksaan Dini yang Perlu Diperhatikan

Tangerang | Menurut dr. dr. Sonar Soni Panigoro, kanker payudara dapat dicegah, dengan perkiraan peluang pencegahan sebesar 40–60 persen. Angka tersebut menekankan bahwa risiko penyakit ini tidak sepenuhnya berada di luar kendali seseorang. Meski demikian, pencegahan bukan jaminan bahwa seseorang tidak akan pernah terkena kanker, karena penyebab dan faktor risikonya beragam. Sonar menjelaskan bahwa faktor genetik memang berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kebiasaan sehari-hari dan kondisi lingkungan juga dapat berperan dalam membentuk risiko, sehingga langkah menjaga kesehatan dan membatasi paparan faktor berbahaya patut menjadi perhatian.

Salah satu anjuran yang disampaikan adalah menghindari paparan rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif. Tidak merokok membantu mengurangi paparan zat berbahaya dari asap, sementara menghindari lingkungan berasap juga penting bagi orang yang tidak merokok. Sonar menyebut upaya menghindari rokok dapat berpengaruh hingga 20 persen terhadap usaha menghindari kanker payudara. Keterangan ini merupakan pernyataan narasumber mengenai kontribusi penghindaran paparan rokok, bukan angka yang memastikan besarnya risiko pada setiap individu. Karena itu, masyarakat dapat menjadikannya sebagai dorongan untuk menciptakan lingkungan bebas asap rokok, di rumah maupun di tempat umum.

Penjelasan tersebut disampaikan Sonar dalam temu media bersama Eka Hospital BSD di Tangerang Selatan pada Senin, 26 Oktober 2026. Ia mengingatkan bahwa faktor keturunan tetap perlu dipertimbangkan, namun gaya hidup juga merupakan faktor risiko penting yang dapat diperhatikan. Mengurangi paparan rokok merupakan salah satu langkah yang bisa dilakukan, bersama upaya menjaga kebiasaan hidup sehat. Informasi mengenai perkiraan pencegahan 40–60 persen dan pengaruh hingga 20 persen di atas perlu dipahami sebagai keterangan yang disampaikan narasumber dalam kesempatan tersebut. Setiap orang memiliki kondisi dan riwayat kesehatan berbeda, sehingga kekhawatiran pribadi sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Dengan memahami faktor risiko, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih terarah mengenai kebiasaan sehari-hari dan pemeriksaan kesehatan.

Menjaga tubuh tetap aktif merupakan bagian dari kebiasaan sehat sehari-hari. Usahakan berolahraga setidaknya 1,5 jam per minggu, dengan memilih kegiatan yang nyaman dan dapat dilakukan secara konsisten. Tidak ada satu jenis olahraga tertentu yang wajib dipilih; berjalan cepat, bersepeda, berenang, atau aktivitas lain dapat menjadi pilihan sesuai kondisi dan kemampuan. Selain sesi olahraga, memperbanyak gerak sepanjang hari juga bermanfaat. Kurangi waktu duduk tanpa jeda, dan sesekali berdiri atau berjalan sebentar ketika bekerja.

Sonar menggambarkan kebiasaan aktif melalui contoh sederhana, seperti bangun pagi, berjalan kaki menuju kantor, dan menggunakan transportasi umum. Pilihan tersebut dapat menambah gerak dalam rutinitas tanpa harus menyediakan waktu khusus untuk berolahraga setiap hari. Kebiasaan ini berbeda dengan pola hidup yang lebih banyak duduk sepanjang hari, tidur larut, lalu bekerja berjam-jam di depan komputer. Perubahan kecil, misalnya memilih tangga atau berjalan saat melakukan keperluan dekat, bisa membantu seseorang lebih aktif. Sesuaikan aktivitas dengan kesehatan masing-masing dan tingkatkan secara bertahap, terutama bila sebelumnya jarang bergerak.

Tidak ada pantangan makanan khusus yang perlu diterapkan untuk mencegah kanker payudara, tetapi beberapa jenis makanan dan minuman sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan. Batasi gorengan serta makanan atau minuman dengan asupan gula tinggi, dan utamakan pola makan seimbang. Porsi karbohidrat dapat dikurangi sesuai kebutuhan, sementara pilihan rendah lemak dan makanan kaya serat, seperti sayur, buah, serta kacang-kacangan, dapat lebih sering disertakan. Hindari konsumsi alkohol, karena mengurangi atau tidak meminumnya merupakan pilihan yang lebih baik bagi kesehatan. Suplemen juga tidak seharusnya diandalkan sebagai cara mencegah kanker. Bila mempertimbangkan suplemen, konsultasikan dahulu dengan tenaga kesehatan, terutama jika memiliki kondisi medis atau sedang menggunakan obat. Fokus pada kebiasaan yang berkelanjutan—aktif bergerak, tidur cukup, dan mengatur asupan—lebih realistis daripada mengandalkan satu makanan, produk, atau perubahan singkat. Pola hidup sehat mendukung kesehatan secara umum, tetapi tidak menjamin seseorang terbebas dari kanker; pemeriksaan dan saran medis tetap penting.Menyusui dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan ibu. Sonar menganjurkan agar ibu menyusui anaknya setidaknya selama empat bulan sebagai salah satu upaya yang dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara. Anjuran ini bukan jaminan bahwa seseorang tidak akan terkena kanker, karena risiko juga dipengaruhi berbagai faktor, termasuk usia, riwayat kesehatan keluarga, dan kondisi medis. Keputusan mengenai lama menyusui sebaiknya disesuaikan dengan keadaan ibu dan bayi. Jika terdapat kendala atau pertanyaan, ibu dapat meminta saran tenaga kesehatan agar memperoleh dukungan yang sesuai.

Selain memperhatikan kebiasaan sehari-hari, perempuan dapat mengenali kondisi payudara melalui pemeriksaan payudara sendiri, yang dikenal sebagai SADARI. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di rumah setiap bulan dan membantu seseorang memahami bentuk serta keadaan normal payudaranya. Dengan mengenali kondisi yang biasa, perubahan baru mungkin lebih mudah disadari. Bagi yang mengalami menstruasi, waktu yang disarankan adalah sekitar 7–10 hari setelah hari pertama menstruasi, ketika payudara umumnya tidak terlalu terasa tegang atau nyeri. Memilih waktu yang sama setiap bulan juga dapat membantu menjadikan pemeriksaan sebagai rutinitas.

SADARI dapat dilakukan dengan mengamati payudara di depan cermin, lalu meraba payudara dan area sekitarnya secara perlahan. Perhatikan apakah ada perubahan bentuk atau ukuran, kulit yang tampak berbeda, puting yang berubah atau mengeluarkan cairan, maupun benjolan yang sebelumnya tidak terasa. Tidak semua perubahan berarti kanker, dan tekstur payudara dapat berbeda pada setiap orang. Namun, perubahan yang baru, menetap, atau terasa mengkhawatirkan sebaiknya tidak diabaikan.

Pemeriksaan mandiri merupakan salah satu cara untuk mengenali perubahan, bukan alat untuk memastikan diagnosis. SADARI juga tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan, pemeriksaan klinis, atau pemeriksaan medis lain yang mungkin dianjurkan. Jika menemukan perubahan, segera bicarakan dengan dokter atau tenaga kesehatan, meskipun tidak ada rasa sakit. Pemeriksaan profesional dapat membantu menentukan langkah berikutnya berdasarkan kondisi masing-masing. Menyusui dan melakukan SADARI secara teratur dapat menjadi bagian dari perhatian terhadap kesehatan payudara, bersama konsultasi dan pemeriksaan yang tepat.

Menurut Sonar, pemeriksaan medis untuk mendeteksi kanker payudara dapat dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki. Pemeriksaan tidak sebaiknya baru dipertimbangkan setelah muncul keluhan, karena kanker pada tahap awal bisa hampir tidak menimbulkan gejala yang jelas. Benjolan pun belum tentu terasa atau disadari oleh orang yang mengalaminya. Sonar menyebut sekitar 80 persen benjolan payudara yang ditemuinya tidak disertai keluhan maupun rasa sakit. Karena itu, merasa sehat dan tidak nyeri bukan alasan untuk mengabaikan konsultasi atau pemeriksaan yang sesuai.

Pengalaman Sonar menangani pasien berusia 18 tahun juga menjadi pengingat bahwa risiko tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan batas usia tertentu. Ia tidak menyarankan agar masyarakat menetapkan usia 30 tahun sebagai usia paling awal untuk berkonsultasi. Anak perempuan yang sudah mulai menstruasi dapat diajak berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama bila ada hal yang mengkhawatirkan. Sonar juga menyarankan pemeriksaan USG setelah akil balik sebagai salah satu cara untuk menilai kondisi payudara. Jenis dan waktu pemeriksaan tetap dapat dibicarakan dengan dokter sesuai kondisi masing-masing.

Untuk kelompok usia 18–20 tahun, Sonar menyebut USG dapat dilakukan setiap dua hingga tiga tahun apabila hasil pemeriksaan tidak menunjukkan masalah. Setelah usia 30 tahun, frekuensi pemeriksaan sebaiknya ditingkatkan.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Kodim 0906/Kkr Hadir Untuk Masyarakat, Gelar Donor Darah Serta Pengobatan Dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Menyambut HUT TNI | TNI Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis Sambut HUT ke-81