Kemenkes Soroti Kaitan Media Sosial dan Kecemasan pada Anak Muda Indonesia

Kemenkes Soroti Kaitan Media Sosial dan Kecemasan pada Anak Muda Indonesia

Jakarta | Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyoroti kaitan penggunaan media sosial dan tingkat kecemasan pada anak muda di Indonesia. Perhatian tersebut disampaikan oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi. Pernyataan ini menempatkan penggunaan media sosial sebagai bagian penting dalam pembahasan mengenai kondisi kecemasan yang dialami kelompok usia muda.

Dalam penyampaian tersebut, remaja dan dewasa muda disebut sebagai kelompok yang mendominasi pengguna layanan internet di Indonesia. Posisi mereka sebagai pengguna utama internet membuat aktivitas pada berbagai platform media sosial menjadi hal yang relevan untuk diperhatikan dalam isu kesehatan kelompok rentan. Karena itu, pembahasan mengenai kecemasan anak muda tidak terlepas dari perhatian terhadap pola penggunaan media sosial di kalangan remaja dan dewasa muda.

Kaitan media sosial dan kecemasan anak muda menjadi inti pemberitaan yang disoroti Kementerian Kesehatan. Informasi ini menggarisbawahi bahwa perkembangan penggunaan layanan internet di Indonesia berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesehatan anak muda. Imran Pambudi menyampaikan sorotan tersebut dalam kapasitasnya sebagai pejabat yang menangani pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan. Dengan demikian, remaja dan dewasa muda menjadi kelompok utama yang disebut dalam pembahasan mengenai hubungan penggunaan media sosial dan kecemasan.

Media sosial dapat memperluas kesempatan seseorang untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Melalui linimasa, pengguna menyaksikan pencapaian, aktivitas, penampilan, hubungan, hingga gaya hidup orang lain secara berulang. Paparan tersebut dapat membentuk kesan bahwa kehidupan orang lain lebih bahagia, berhasil, atau mapan. Perbandingan semacam ini menjadi semakin kuat ketika pengguna menilai kehidupannya sendiri berdasarkan gambaran yang muncul di layar.

Dalam konteks yang disampaikan Imran, perhatian seseorang dapat tertuju pada apa yang terjadi di lingkungan orang lain, termasuk kehidupan dan kesukaan idolanya. Pengguna mungkin mengikuti perjalanan karier seorang tokoh, melihat aktivitas hariannya, atau mengamati berbagai hal yang dianggap menarik dari sosok tersebut. Ketika unggahan itu diterima terus-menerus, kehidupan idola atau pengguna lain dapat terlihat lebih ideal dibandingkan keadaan yang sedang dihadapi dirinya.

Namun, tampilan di media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Banyak unggahan telah melalui pemilihan momen, penyuntingan foto atau video, serta penyusunan narasi tertentu. Pengguna biasanya melihat bagian yang ingin ditampilkan, bukan keseluruhan pengalaman seseorang. Kesulitan, kegagalan, dan persoalan pribadi dapat tidak terlihat, sehingga perbandingan yang terjadi sering kali berlangsung kehidupan nyata seseorang dan representasi yang telah dipoles.

Perbandingan sosial tidak otomatis menimbulkan kecemasan pada setiap pengguna. Dampaknya dapat dipengaruhi oleh frekuensi penggunaan, jenis konten yang diikuti, kondisi psikologis, serta cara seseorang menafsirkan informasi. Meski demikian, paparan yang berlebihan dan penilaian diri yang terus-menerus berdasarkan pencapaian orang lain dapat memunculkan rasa kurang, tertinggal, atau tidak cukup baik. Karena itu, penting bagi pengguna untuk memahami bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian sisi kehidupan dan tidak selalu menjadi ukuran yang adil untuk menilai diri sendiri.

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat berkembang menjadi salah satu pemicu kecemasan pada anak muda. Perbandingan itu tidak selalu dilakukan secara sadar. Paparan media sosial membuat seseorang terus melihat pencapaian, gaya hidup, dan kondisi ekonomi orang lain, lalu menilai kehidupannya sendiri berdasarkan gambaran tersebut. Ketika jarak kehidupan yang terlihat di layar dan keadaan pribadi dianggap terlalu jauh, perasaan tidak cukup baik, tertinggal, atau gagal dapat muncul.

Imran menjelaskan bahwa kecemasan tersebut berakar pada perbandingan kondisi hidup, bukan semata-mata pada benda atau kendaraan yang dimiliki seseorang. Ia memberikan gambaran tentang seseorang yang merasa cemas ketika melihat orang lain yang seusia dengannya sudah mampu membeli Porsche, sementara dirinya masih menggunakan sepeda motor. Dalam contoh itu, sumber kecemasan bukan karena sepeda motor dipandang sebagai sesuatu yang buruk, melainkan karena individu tersebut membandingkan pencapaian ekonominya dengan pencapaian orang lain yang berada dalam kelompok usia yang sama.

Perbandingan semacam ini dapat membuat seseorang memandang kehidupan secara tidak proporsional. Media sosial umumnya menampilkan bagian yang paling menarik dari kehidupan seseorang, seperti keberhasilan, perjalanan, barang mewah, atau momen bahagia. Namun, proses dan kesulitan di balik tampilan tersebut sering kali tidak terlihat. Akibatnya, pengguna dapat mengukur dirinya dengan standar yang tidak lengkap dan merasa harus segera mencapai tingkat kehidupan tertentu agar dianggap berhasil.

Imran menyampaikan penjelasan itu di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Minggu (11/10). Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya memahami hubungan kebiasaan membandingkan diri dan kesehatan mental. Kesadaran bahwa setiap orang memiliki latar belakang, peluang, serta tahapan hidup yang berbeda dapat membantu mengurangi tekanan untuk mengikuti ukuran keberhasilan orang lain. Dengan demikian, penggunaan media sosial perlu disertai kemampuan untuk menilai informasi secara kritis dan menjaga ukuran keberhasilan yang lebih realistis bagi diri sendiri.

Dalam pandangan Imran, kedewasaan berperan penting dalam menentukan cara seseorang menyikapi berbagai fenomena sosial yang muncul di media sosial. Ketika kematangan berpikir bertambah, seseorang dinilai semakin mampu menerima kenyataan, termasuk informasi, perbedaan pendapat, dan situasi yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Penerimaan tersebut tidak berarti menyetujui semua hal, melainkan memiliki kemampuan untuk memahami konteks, menilai informasi secara lebih tenang, serta mengendalikan respons emosional ketika menghadapi peristiwa yang memicu tekanan. Dengan cara itu, media sosial dapat dipandang secara lebih proporsional, bukan semata-mata sebagai sumber pembanding atau penentu nilai diri.

Imran juga menjelaskan bahwa sejumlah studi menyebut otak manusia baru sepenuhnya matang dan dewasa pada usia sekitar 20-an. Keterangan tersebut menggambarkan bahwa proses perkembangan otak berlangsung bertahap, sehingga kemampuan untuk mempertimbangkan konsekuensi, mengatur emosi, dan memahami persoalan secara menyeluruh masih terus terbentuk sebelum seseorang mencapai usia 20 tahun. Pada periode tersebut, seseorang dapat belum selalu mampu mencerna suatu hal dengan tepat, terutama ketika berhadapan dengan informasi yang cepat berubah, tekanan dari lingkungan, atau penilaian sosial di ruang digital. Karena itu, respons terhadap fenomena di media sosial perlu dipahami dengan mempertimbangkan tahap perkembangan setiap individu.

Pandangan tersebut tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi bahwa semua orang di bawah usia tertentu akan mengalami kecemasan atau kesulitan menghadapi media sosial. Setiap individu memiliki pengalaman, dukungan, dan tingkat kematangan yang berbeda. Penjelasan Imran lebih menekankan pentingnya membangun kemampuan berpikir kritis dan penerimaan terhadap kenyataan seiring proses pendewasaan. Pendampingan dari keluarga, sekolah, serta lingkungan yang suportif dapat membantu anak muda memahami informasi dan mengelola responsnya secara lebih sehat. Dengan demikian, kedewasaan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi cara seseorang membaca fenomena sosial, tanpa menjadikannya sebagai satu-satunya penentu kondisi psikologis.

Baca juga: Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Semangat Kemerdekaan Dimulai dari Anak-anak, Siti Nurlaela Dorong Budaya Bermain dan Berkarya | Trauma Healing Korem 161/WS Bangkitkan Keceriaan Anak-Anak Korban Gempa Flores