Kota Malang | Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Universitas Brawijaya (UB) menyiapkan prototipe modul berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mengawasi perilaku pelajar di sekolah rakyat. Pengembangan modul tersebut berlangsung melalui program AI Talent Factory (AITF) batch II di Gedung Fakultas Ilmu Komputer UB, Malang, Jawa Timur. Inisiatif ini diarahkan untuk mendukung pengasuh dalam mengenali perubahan perilaku pelajar lebih awal, sehingga mereka dapat mengambil langkah pendampingan yang sesuai.
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Komdigi, Gunawan Hutagalung, mengatakan modul itu dirancang untuk membantu pengasuh mendeteksi perilaku yang berpotensi membawa dampak buruk bagi lingkungan sekolah maupun sesama pelajar. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu. Dengan dukungan teknologi, pengasuh diharapkan memperoleh bantuan untuk mengamati kondisi dan interaksi pelajar, terutama ketika jumlah anak yang perlu didampingi cukup banyak. Meski demikian, prototipe ini berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia dalam memahami kebutuhan dan keadaan setiap pelajar.
Pengembangan melalui AITF batch II juga menghubungkan kebutuhan praktis di lingkungan sekolah dengan kemampuan talenta digital dan keahlian akademik. Kolaborasi Komdigi dan UB memungkinkan rancangan awal modul dikaji dari sisi teknologi sekaligus konteks penggunaannya. Pada tahap prototipe, perhatian dapat mencakup bagaimana informasi perilaku dihimpun, ditampilkan, dan dimanfaatkan secara tepat oleh pengasuh. Kejelasan tujuan penggunaan penting agar sistem mendukung tindakan pencegahan dan pendampingan, bukan sekadar menghasilkan penilaian terhadap pelajar.
Penerapan teknologi kecerdasan buatan di lingkungan pendidikan memerlukan pertimbangan atas privasi, keamanan data, dan perlindungan anak. Informasi yang berkaitan dengan perilaku pelajar perlu dikelola secara hati-hati, dengan akses yang sesuai dan penjelasan yang dapat dipahami pihak terkait. Hasil pengamatan sistem juga perlu ditinjau oleh pengasuh sebelum menjadi dasar tindakan, sebab konteks keluarga, lingkungan, dan perkembangan anak tidak selalu dapat dipahami melalui data saja. Dengan pengawasan manusia serta tata kelola yang memadai, prototipe ini diharapkan dapat memperkuat upaya sekolah rakyat menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung bagi seluruh pelajar.
Rancangan pengawasan yang dibahas Komdigi dan Universitas Brawijaya mencakup kamera pengawas atau CCTV yang dilengkapi sistem kecerdasan buatan (AI). Perangkat ini disiapkan untuk membantu memantau lingkungan Sekolah Rakyat, bukan sekadar merekam gambar. Menurut Gunawan, kebutuhan tersebut berkaitan dengan cakupan area bangunan yang luas. Dalam lingkungan seperti itu, pemantauan secara langsung oleh petugas dapat menjadi tantangan, sehingga teknologi diharapkan memberi dukungan untuk mengenali kondisi yang perlu diperhatikan.
Kebutuhan pengawasan juga berhubungan dengan konsep Sekolah Rakyat sebagai sekolah berasrama. Aktivitas berlangsung di lingkungan yang digunakan untuk kegiatan belajar sekaligus kehidupan sehari-hari para siswa. Karena itu, rancangan perangkat perlu mempertimbangkan area dan pola kegiatan yang beragam, serta membantu pengelola memperoleh gambaran situasi secara lebih menyeluruh. CCTV berbasis AI diarahkan untuk mendukung pemantauan tersebut, sementara pengawasan dan tindak lanjut tetap berada dalam tanggung jawab pihak terkait.
Modul yang tengah dirancang disebut menyerupai boarding management system. Sistem semacam ini dimaksudkan untuk menunjang pengelolaan dan pengawasan lingkungan berasrama, termasuk sebagai alat bantu deteksi dini. Artinya, rancangan tersebut diharapkan dapat membantu mengenali keadaan tertentu yang memerlukan perhatian lebih cepat, sehingga pengelola dapat menilai situasi dan menentukan langkah yang sesuai. Penjelasan ini menggambarkan tujuan pengembangan, bukan bukti bahwa seluruh fungsi telah diterapkan atau berjalan di sekolah.
Status teknologi tersebut masih berupa prototipe. Dengan demikian, perangkat CCTV yang dilengkapi AI belum dapat disebut sebagai sistem operasional yang sudah siap digunakan secara luas. Tahap prototipe menunjukkan bahwa rancangan dan pengembangan masih berlangsung, sehingga kemampuan, penerapan, serta kebutuhan pengelolaannya masih perlu dipastikan lebih lanjut. Penegasan ini penting agar rencana pengawasan tidak disalahartikan sebagai layanan yang telah tersedia. Untuk saat ini, teknologi itu merupakan gagasan yang sedang dirancang guna mendukung kebutuhan pemantauan sekolah berasrama dengan area yang luas.
Talenta peserta Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) batch II tetap berpeluang berperan dalam pengembangan modul pengawasan berbasis kecerdasan buatan apabila gagasan tersebut nantinya diterapkan di Sekolah Rakyat. Gunawan menyatakan bahwa keterlibatan peserta tidak berhenti pada pembuatan prototipe yang telah mereka miliki. Mereka akan tetap dilibatkan dalam proses pengembangan ketika modul diarahkan untuk digunakan dalam lingkungan sekolah tersebut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kontribusi peserta dipandang relevan untuk diteruskan, dengan penyesuaian terhadap kebutuhan penerapan yang sebenarnya.
Keterlibatan itu penting karena sistem AI yang dibutuhkan Sekolah Rakyat tidak cukup hanya mengandalkan rancangan umum. Pengawasan di lingkungan sekolah memerlukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks penggunaannya. Karena itu, modul yang mungkin diterapkan perlu dirancang secara khusus atau disesuaikan, bukan sekadar memakai prototipe yang tersedia tanpa perubahan. Penyesuaian tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan teknologi dapat mendukung kebutuhan sekolah secara tepat, alih-alih menganggap satu bentuk sistem dapat digunakan dengan cara yang sama di setiap lingkungan.
Peserta AITF batch II diketahui telah memiliki bentuk umum prototipe. Namun, prototipe tersebut menjadi titik awal, bukan gambaran final dari sistem khusus yang dibutuhkan sekolah. Jika penerapan berlanjut, pengembangan dapat melibatkan para talenta untuk menyesuaikan rancangan dengan kebutuhan Sekolah Rakyat. Dengan demikian, pengalaman dan hasil kerja peserta dapat menjadi masukan dalam proses tersebut, sementara arah modul tetap ditentukan oleh kecocokannya dengan kebutuhan sekolah. Keterangan Gunawan menegaskan adanya ruang bagi kolaborasi lanjutan, tanpa menyatakan bahwa prototipe umum itu sudah siap digunakan langsung sebagai sistem pengawasan di sekolah.
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya (UB), Imam Santoso, menjelaskan bahwa rancangan pengawasan berbasis kecerdasan artifisial merupakan bagian dari upaya memitigasi perundungan dan intoleransi di lingkungan Sekolah Rakyat. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu memahami kondisi yang dihadapi sekolah, sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan langkah penanganan yang sesuai. Dengan demikian, pengembangan model tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada pemetaan persoalan dan kebutuhan di lapangan.
Menurut Imam, peserta yang terlibat dalam kegiatan ini akan mempelajari kondisi yang ada dan memetakannya secara terstruktur. Tahap tersebut penting agar masalah yang berpotensi muncul dapat dikenali berdasarkan situasi nyata, bukan semata-mata asumsi. Setelah pemetaan dilakukan, peserta akan mengkaji berbagai cara mitigasi yang mungkin diterapkan. Proses belajar dan analisis itu diharapkan menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai bentuk risiko, konteks kemunculannya, serta pendekatan yang dapat dipertimbangkan untuk menghadapinya.
Perundungan dan intoleransi menjadi perhatian karena keduanya dapat memengaruhi rasa aman serta kenyamanan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pendidikan. Namun, rancangan pengawasan yang tengah disiapkan masih berada pada tahap awal. Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Komputer UB, Sabriansyah Rizqika Akbar, menyampaikan bahwa rancangan tersebut masih perlu dikembangkan sebelum dapat dinyatakan siap dioperasikan. Artinya, gagasan awal itu belum dapat diperlakukan sebagai sistem yang sudah berjalan atau sebagai mekanisme yang telah terbukti menangani persoalan di sekolah.
Pengembangan lebih lanjut diperlukan agar model dapat disesuaikan dengan kebutuhan Sekolah Rakyat dan kondisi yang telah dipetakan. Kajian mengenai cara mitigasi juga menjadi bagian penting sebelum rancangan diterapkan, sehingga pendekatan yang dipilih tidak hanya mengandalkan pemantauan, tetapi mempertimbangkan tujuan dan konteks penggunaannya. UB berharap model yang dihasilkan kelak dapat terus dikembangkan sebagai salah satu upaya untuk mencegah perundungan, intoleransi, dan masalah lain di lingkungan sekolah.






