Kabupaten Pidie | Pengungkapan laboratorium gelap yang diduga digunakan untuk memproduksi sabu berlangsung di Kabupaten Pidie, Aceh, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Operasi tersebut melibatkan kepolisian bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Petugas bergerak serentak di lima lokasi yang tersebar di Kabupaten Pidie, Bireuen, Aceh Utara, serta Kota Lhokseumawe. Penindakan lintas wilayah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya membongkar kegiatan produksi dan peredaran narkotika yang diduga terorganisasi.
Dalam rangkaian operasi, aparat mengamankan 11 orang dan menyita barang bukti narkotika dengan berat bruto hampir 1,2 ton. Jumlah tersebut menjadi salah satu temuan utama dalam penggerebekan, sementara penyidik masih menelusuri peran masing-masing orang yang diamankan serta hubungan lokasi-lokasi yang diperiksa. Informasi mengenai berat barang bukti merujuk pada berat bruto, sehingga mencakup keseluruhan barang sebelum proses pemeriksaan dan penghitungan lebih lanjut oleh petugas.
Pengungkapan kasus ini berawal dari pengembangan informasi intelijen. Aparat kemudian memantau pergerakan sejumlah orang dan logistik yang diduga berkaitan dengan kegiatan produksi sabu. Pemantauan itu menjadi dasar bagi tim gabungan untuk menyusun langkah penindakan di beberapa titik sekaligus. Dengan melakukan penggerebekan serentak, petugas berupaya mengamankan pihak yang diduga terlibat dan mencegah barang bukti dipindahkan atau kegiatan di lokasi lain dihentikan sebelum pemeriksaan dilakukan.
Kepolisian menduga laboratorium tersebut berkaitan dengan jaringan narkotika internasional. Dugaan itu masih perlu didalami melalui penyidikan, termasuk dengan memeriksa barang bukti, menelusuri jalur distribusi, serta mengidentifikasi kemungkinan hubungan dengan pihak lain di dalam maupun luar negeri. Pengungkapan di lima lokasi menunjukkan bahwa penyelidikan tidak hanya berfokus pada satu tempat, tetapi juga pada pola pergerakan dan dukungan logistik yang diperkirakan menunjang produksi. Aparat belum merinci seluruh hasil pemeriksaan, dan perkembangan berikutnya bergantung pada proses penyidikan serta verifikasi atas informasi yang telah dikumpulkan.Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto meninjau sebuah ruko di Kabupaten Pidie, Aceh, yang diduga digunakan sebagai laboratorium gelap untuk mengolah meth oil atau sabu cair. Peninjauan itu dilakukan setelah aparat mengungkap aktivitas produksi narkotika di lokasi tersebut. Dari pemeriksaan awal, ruko itu diketahui menyimpan bahan dan hasil olahan yang berkaitan dengan proses pembuatan sabu. Temuan tersebut menjadi bagian dari pengungkapan kasus laboratorium narkotika yang beroperasi secara tersembunyi di wilayah Aceh.
Di dalam ruko, petugas menemukan 20 drum berisi meth oil serta sabu kristal dengan berat 500 kilogram. Selain dua jenis barang bukti tersebut, aparat juga menyita sejumlah peralatan yang diduga digunakan dalam kegiatan produksi. Peralatan itu diperiksa untuk membantu menelusuri tahapan pengolahan dan keterkaitan lokasi dengan jaringan yang terlibat. Rincian jumlah barang bukti dari ruko tetap mencakup 20 drum meth oil dan 500 kilogram sabu kristal; angka-angka tersebut merujuk pada temuan di lokasi, bukan jumlah gabungan seluruh pengungkapan.
Jika dihitung bersama barang bukti dari rangkaian pengungkapan tersebut, totalnya mencapai hampir 1,2 ton secara bruto. Angka gabungan itu mencakup barang bukti yang ditemukan dalam operasi terkait, sementara rincian di ruko Pidie tidak berubah sebagaimana disebutkan: 20 drum berisi meth oil dan 500 kilogram sabu kristal. Perbedaan jumlah di satu lokasi dan total bruto penting dicermati agar skala temuan tidak disalahartikan. Peninjauan Kapolri juga menegaskan perhatian aparat terhadap dugaan fasilitas produksi narkotika, bukan semata-mata peredaran barang jadi. Barang bukti dan peralatan yang disita selanjutnya menjadi bagian dari proses penyelidikan untuk memastikan fungsi setiap benda serta mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab. Aparat masih perlu menelusuri asal bahan, pola pengoperasian laboratorium, dan kemungkinan distribusi hasil produksinya. Dengan begitu, temuan di ruko dapat dikaitkan secara tepat dengan keseluruhan perkara dan pengungkapan yang membuat total barang bukti mencapai hampir 1,2 ton bruto.
Penggerebekan yang berlangsung pada Rabu di lokasi yang diduga menjadi laboratorium sabu di Aceh berujung pada penangkapan 11 orang. Di mereka terdapat dua warga negara asing (WNA), tetapi kewarganegaraan keduanya belum disebutkan kepada publik. Informasi mengenai identitas para terduga pelaku maupun hubungan mereka satu sama lain juga belum dijelaskan secara terperinci. Penangkapan tersebut menjadi bagian penting dari penyidikan, karena aparat perlu memastikan siapa yang diduga mengelola tempat itu, siapa yang terlibat dalam kegiatan di dalamnya, serta bagaimana masing-masing orang berhubungan dengan bahan dan proses produksi narkotika yang sedang diselidiki.
Penyidik masih mendalami peran setiap orang yang ditangkap dan belum menyimpulkan tingkat keterlibatan mereka. Pemeriksaan diharapkan dapat membantu mengungkap pembagian tugas, jalur komunikasi, serta kemungkinan hubungan para terduga dengan jaringan narkotika internasional. Keberadaan dua WNA menjadi salah satu aspek yang ditelusuri, namun hal itu belum cukup untuk memastikan adanya keterkaitan lintas negara. Aparat perlu menguji keterangan, bukti yang ditemukan, dan informasi lain sebelum menarik kesimpulan mengenai jaringan yang mungkin berada di balik laboratorium tersebut. Sampai proses itu berlangsung, dugaan mengenai peran individu maupun keterhubungan mereka masih menjadi bagian dari penyelidikan.
Dalam penelusuran asal bahan, penyidik menduga bahan narkotika berbentuk cair bergerak dari kawasan Asia Tenggara sebelum tiba di Aceh. Dugaan itu masih didalami, termasuk untuk memastikan rute pengiriman dan pihak yang mungkin mengatur perpindahannya. Sebelum lokasi laboratorium ditemukan, aparat disebut telah memantau sejumlah orang yang diduga terlibat. Pemantauan tersebut menjadi salah satu langkah yang mengarahkan penyidik pada lokasi yang kemudian digerebek. Temuan di tempat itu dan hasil pemeriksaan terhadap 11 orang akan menjadi bahan untuk menyusun rangkaian peristiwa. Penyidikan selanjutnya ditujukan untuk memperjelas aliran bahan, hubungan antarpihak, serta kemungkinan jaringan yang lebih luas, tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah.
Pengungkapan laboratorium sabu di Aceh dan penangkapan 11 orang belum mengakhiri proses penanganan perkara. Penyidik masih mendalami jaringan yang diduga terlibat, termasuk hubungan antar pihak dan peran masing-masing dalam kegiatan tersebut. Aparat juga terus memburu orang-orang yang telah masuk daftar pencarian orang agar seluruh pihak yang terkait dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum.
Selain mengejar tersangka, penyidik menelusuri dugaan aliran dana yang berasal dari kejahatan narkotika. Penelusuran ini penting untuk mengetahui bagaimana hasil kejahatan dikelola dan siapa saja yang mungkin memperoleh manfaat. Polri juga merencanakan koordinasi dengan otoritas luar negeri, mengingat penyelidikan dapat berkaitan dengan jaringan yang beroperasi melampaui batas negara. Kerja sama tersebut diharapkan membantu memperjelas keterhubungan para pelaku dan mendukung langkah penegakan hukum.
Suyudi menyampaikan apresiasi atas kerja sama lintas lembaga dan dukungan masyarakat dalam pengungkapan kasus. Ia juga menyoroti keikutsertaan Komisi Nasional Pengendalian Narkotika China (NNCC) dalam upaya kolaborasi. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak dapat memperkuat pertukaran informasi dan koordinasi dalam menghadapi jaringan narkotika. Partisipasi masyarakat, terutama melalui kepedulian terhadap lingkungan sekitar, juga dinilai membantu mencegah tempat tinggal maupun bangunan usaha disalahgunakan.
Karena itu, pemilik ruko, rumah kontrakan, dan rumah sewa diimbau memastikan identitas penyewa serta kegiatan yang dilakukan di tempat tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Pemilik dan warga diminta tidak bersikap apatis apabila melihat aktivitas yang mencurigakan, tetapi menyampaikan informasi kepada pihak berwenang melalui saluran yang tersedia. Sikap tetap perlu dilakukan secara bijak dan tidak menggantikan proses pemeriksaan oleh aparat.
Koordinasi lintas negara dinilai penting untuk memutus rantai pasokan narkotika, mulai dari produksi hingga distribusi.






