Longsor Timpa Penginapan di Pelaga, Dua Pengunjung Diduga Tertimbun

Longsor Timpa Penginapan di Pelaga, Dua Pengunjung Diduga Tertimbun

Denpasar | Longsor menimpa satu bangunan penginapan di kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Banjar Bukit Munduk Tiying, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Material tanah dari tebing di sekitar lokasi dilaporkan menimbun bangunan tersebut. Peristiwa ini menjadi perhatian karena dua pengunjung diduga berada di dalam penginapan ketika longsor terjadi.

Hingga informasi awal ini disampaikan, identitas kedua pengunjung tersebut belum diketahui. Keberadaan mereka di dalam bangunan masih berupa dugaan yang bersumber dari laporan pengelola, sehingga belum dapat dipastikan sebagai keterangan final mengenai kondisi di lokasi. Belum ada informasi yang dapat mengonfirmasi secara terpisah siapa saja yang berada di dalam penginapan saat material tanah menimpa bangunan.

Lokasi kejadian berada di kawasan wisata Eco Park Pelaga Glamping Retreat, wilayah Desa Pelaga, Badung. Longsor yang membawa material tanah itu mengenai bangunan penginapan, bukan sekadar area terbuka di sekitarnya. Informasi mengenai kejadian tersebut menyoroti risiko yang dapat muncul ketika tebing di kawasan penginapan mengalami pergerakan tanah, terutama bagi orang yang berada di dekat bangunan terdampak.

Laporan pengelola menjadi dasar penyebutan dua pengunjung yang diduga tertimbun. Karena status tersebut masih dugaan, informasi mengenai keberadaan maupun identitas mereka perlu dibedakan dari hal yang telah dipastikan. Belum diketahui pula rincian lebih lanjut mengenai kondisi kedua pengunjung, tingkat kerusakan bangunan, ataupun keadaan area di sekitar titik longsor.

Peristiwa longsor di Pelaga ini dengan demikian berpusat pada satu bangunan penginapan yang tertimpa material tanah dan dugaan adanya dua pengunjung di dalamnya. Perkembangan berikutnya masih diperlukan untuk memastikan situasi di lokasi serta menjelaskan keadaan orang-orang yang mungkin terdampak. Sampai ada keterangan terverifikasi, penyebutan dua pengunjung tetap merujuk pada laporan pengelola, sementara identitas mereka belum tersedia.

Longsor yang menimpa sebuah penginapan di kawasan Pelaga, wilayah utara Kabupaten Badung, Bali, terjadi setelah hujan lebat turun sejak Minggu malam, 1 November 2026. Hujan tersebut mendahului kejadian yang menyebabkan dua pengunjung diduga tertimbun. Informasi ini menempatkan hujan lebat sebagai kondisi yang berlangsung sebelum longsor, tanpa menyebutkan perkiraan waktu pasti ketika material tanah bergerak.

Pelaga berada di bagian utara Kabupaten Badung, sehingga lokasi kejadian perlu dibedakan secara jelas dari wilayah lain di Bali. Penyebutan kawasan ini membantu pembaca memahami tempat penginapan yang terdampak, sekaligus memberi konteks geografis atas laporan longsor. Berdasarkan informasi yang tersedia, peristiwa tersebut berkaitan dengan penginapan di Pelaga dan dugaan bahwa dua pengunjung tertimbun.

Hujan lebat sejak Minggu malam menjadi keterangan penting dalam urutan peristiwa. Namun, informasi tersebut tidak memastikan berapa lama hujan berlangsung, seberapa luas wilayah yang terdampak, atau kapan tepatnya longsor terjadi. Karena itu, rincian kronologi sebaiknya disampaikan secara hati-hati: hujan turun lebih dahulu, kemudian longsor dilaporkan menimpa penginapan di kawasan Pelaga.

Keterangan mengenai hujan dan lokasi memberikan latar awal bagi pembaca untuk memahami kejadian, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh penyebab longsor. Belum ada rincian tambahan yang dapat digunakan untuk menyimpulkan kondisi tanah, intensitas hujan secara terukur, maupun faktor lain di sekitar penginapan. Informasi yang dapat ditegaskan pada bagian ini terbatas pada hujan lebat yang turun sejak Minggu malam, 1 November 2026, serta lokasi longsor di Pelaga, wilayah utara Kabupaten Badung, Bali. Dalam perkembangan pemberitaan, detail waktu kejadian dan keadaan di lokasi perlu merujuk pada keterangan resmi atau informasi terverifikasi. Dengan demikian, penyampaian fakta tetap berfokus pada hubungan waktu yang dilaporkan, tanpa menambahkan rincian cuaca atau dugaan kronologi yang belum tersedia. Perhatian utama tetap pada dampak longsor terhadap penginapan dan dua pengunjung yang diduga tertimbun, sementara informasi lanjutan menunggu konfirmasi.

Pengelola penginapan di Pelaga menyampaikan laporan kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar pada Senin pagi, 2 November 2026, setelah longsor menimpa bangunan tersebut. Laporan itu menjadi dasar bagi tim SAR untuk menerima informasi awal mengenai kejadian dan dugaan adanya orang yang belum diketahui keberadaannya. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, I Nyoman Sidakarya, mengatakan pengelola menduga masih ada tamu di dalam bangunan saat material tanah menimbun penginapan. Dugaan tersebut mendorong perlunya pencarian dan pemeriksaan lebih lanjut di lokasi terdampak. Namun, kondisi lapangan membuat penanganan awal tidak dapat berlangsung tanpa hambatan. Informasi yang disampaikan pengelola juga membantu pihak terkait memahami situasi sebelum tim SAR tiba, termasuk kemungkinan adanya pengunjung yang belum keluar dari bangunan ketika longsor terjadi. Pada tahap ini, keberadaan tamu masih berupa dugaan yang disampaikan pengelola, sehingga diperlukan upaya pencarian untuk memastikan keadaan di lokasi.

Sebelum bantuan SAR tiba, pencarian awal telah dilakukan oleh pengelola bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Badung, camat Petang, dan Polsek Petang. Mereka berupaya menelusuri area yang terdampak serta mencari tanda keberadaan orang di sekitar bangunan. Keterlibatan unsur setempat memungkinkan pemeriksaan awal dilakukan setelah laporan diterima, sembari menunggu dukungan tim pencarian dan pertolongan. Meski demikian, upaya tersebut harus mempertimbangkan keselamatan personel dan kondisi medan. Material longsor serta lingkungan sekitar penginapan menjadi bagian dari area yang perlu diperiksa secara hati-hati. Proses pencarian tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan risiko, terutama ketika cuaca memburuk dan jalur masuk ke lokasi sulit dilalui. Karena itu, tim di lapangan menghadapi keterbatasan dalam menjangkau titik yang dicurigai, sementara informasi mengenai tamu yang mungkin berada di dalam bangunan masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan langsung.

Pencarian awal sempat dihentikan ketika hujan lebat turun. Curah hujan tersebut menambah risiko bagi personel yang berada di area longsor dan menyulitkan upaya untuk melanjutkan pemeriksaan. Selain cuaca, akses menuju lokasi yang curam turut menghambat pergerakan tim. Jalur yang menanjak atau menurun tajam membuat mobilitas menjadi terbatas, khususnya ketika petugas perlu membawa perlengkapan dan mendekati bagian bangunan yang tertimbun. Penghentian sementara dilakukan dalam kondisi tersebut, bukan berarti pencarian telah memastikan tidak ada korban, melainkan karena situasi lapangan belum mendukung pergerakan yang aman. Informasi awal mengenai dugaan tamu di dalam bangunan tetap menjadi perhatian dalam proses penanganan. Cuaca dan akses yang sulit menjadi kendala penting bagi pengelola serta unsur setempat sebelum operasi SAR dapat berjalan lebih lanjut. Keadaan di lokasi perlu terus dinilai agar langkah berikutnya dapat disesuaikan dengan keselamatan personel dan kebutuhan pencarian.Setelah upaya awal untuk menangani kejadian longsor tidak dapat dilanjutkan secara optimal, pengelola penginapan meminta bantuan kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Denpasar. Permintaan tersebut menjadi dasar bagi tim SAR untuk bergerak menuju lokasi dan membantu proses pencarian serta pertolongan. Informasi yang tersedia menyebutkan bahwa pengelola menghubungi KPP Denpasar setelah langkah awal menghadapi kendala, sehingga diperlukan dukungan personel yang memiliki tugas dalam operasi SAR.

Menindaklanjuti laporan itu, satu tim rescue yang terdiri atas sembilan personel diberangkatkan ke lokasi longsor di Pelaga. Tim tersebut ditugaskan melakukan operasi pencarian dan pertolongan terhadap pengunjung yang dilaporkan belum diketahui keberadaannya setelah material longsor menimpa penginapan. Pemberangkatan personel merupakan respons terhadap laporan pengelola, sekaligus langkah untuk mendukung upaya menemukan orang yang diduga terdampak dalam kejadian tersebut.

Dalam penanganan peristiwa seperti ini, informasi dari lokasi menjadi bagian penting untuk mengarahkan upaya pencarian.

20 kunjungan