Budaya  

Museum NTB Hadirkan Artefak Sejarah di Sekolah Pelosok Lombok Tengah

Museum NTB Hadirkan Artefak Sejarah di Sekolah Pelosok Lombok Tengah

Kabupaten Lombok Tengah. Belasan | Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) berupaya membawa koleksi sejarah dan kebudayaan lebih dekat kepada masyarakat melalui program kunjungan ke sekolah-sekolah yang berada jauh dari museum. Dalam kegiatan ini, sejumlah artefak diperkenalkan langsung kepada para siswa sebagai bahan pembelajaran. Kehadiran benda-benda peninggalan di lingkungan sekolah memberi kesempatan bagi anak-anak untuk melihat objek sejarah secara nyata, bukan hanya membaca penjelasannya di buku atau mendengarnya di kelas.

Program tersebut ditujukan terutama bagi siswa yang memiliki keterbatasan kesempatan untuk berkunjung langsung ke museum. Jarak, akses transportasi, dan berbagai kondisi lain dapat membuat kunjungan ke museum sulit dilakukan oleh sebagian sekolah. Dengan membawa koleksi ke lokasi belajar, museum berusaha memperluas akses edukasi sekaligus membuka ruang interaksi siswa dan warisan masa lalu. Artefak dapat menjadi pemantik rasa ingin tahu, mendorong pertanyaan, dan membantu materi sejarah terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pengenalan ini juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan pemahaman mengenai sejarah dan budaya daerah. Melalui benda-benda yang dibawa, siswa dapat mengetahui bahwa kehidupan masyarakat terdahulu meninggalkan bukti yang dapat dipelajari dan dijaga bersama. Pamong Budaya Madya Museum NTB, Gunarti, menyampaikan harapan agar siswa di sekolah yang dikunjungi dapat mengenal benda-benda peninggalan leluhur. Harapan itu menegaskan bahwa kegiatan tidak hanya bertujuan memperlihatkan koleksi, tetapi juga menyampaikan nilai dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Siswa diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang berkesan serta mengenali keterkaitan artefak dengan identitas budaya setempat. Dengan pendekatan langsung seperti ini, museum hadir sebagai sumber pembelajaran yang dapat menjangkau sekolah di luar pusat kota. Upaya tersebut membantu memperkenalkan warisan sejarah kepada generasi muda, sekaligus mengingatkan bahwa pelestarian budaya bermula dari pengetahuan dan kepedulian terhadap peninggalan yang diwariskan.Pada 14 Oktober 2026, Museum NTB mengunjungi SDN Batu Pedang di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kunjungan ini membawa koleksi sejarah langsung ke lingkungan sekolah, sehingga para siswa dapat berkenalan dengan artefak yang biasanya tersimpan dan diperkenalkan melalui museum. Dalam kegiatan tersebut, museum membawa empat kotak berisi 15 koleksi untuk diperlihatkan kepada para siswa.

Sejumlah koleksi yang tercantum dalam daftar kunjungan meliputi keris Lombok dan takepan Nabi Haparas. Ada pula serut kecil, pengikel, serta puset atau bor. Koleksi lainnya adalah tempat perhiasan, gelang tangan, teken ima, kawari, dan anjuk. Daftar itu juga mencakup sangket pondongan, ani-ani untuk memanen padi, serta pengepak padi. Nama-nama tersebut memperlihatkan ragam benda yang dibawa untuk menjadi bahan pengenalan di sekolah.

Empat kotak koleksi menjadi sarana bagi Museum NTB untuk menghadirkan materi sejarah dalam suasana belajar yang dekat dengan keseharian siswa. Para siswa berkesempatan melihat langsung benda-benda yang diperkenalkan, bukan hanya mengenalnya melalui penjelasan atau bacaan. Dengan membawa koleksi ke SDN Batu Pedang, museum menjangkau sekolah di wilayah Kecamatan Pujut dan membuka ruang perjumpaan siswa dengan warisan budaya.

Jumlah keseluruhan yang dibawa dalam kunjungan ini disebut sebanyak 15 koleksi. Nama-nama yang tersedia dalam daftar mencakup 13 jenis benda, mulai dari keris Lombok hingga pengepak padi. Penyebutan tersebut mengikuti informasi yang tercantum mengenai kunjungan, tanpa menambahkan nama atau keterangan untuk koleksi lain yang tidak dirinci. Dengan demikian, pembaca dapat memahami jumlah koleksi yang dibawa sekaligus mengetahui benda-benda yang disebut secara jelas.

Kehadiran Museum NTB di SDN Batu Pedang pada 14 Oktober 2026 menandai upaya membawa koleksi sejarah lebih dekat kepada pelajar di Lombok Tengah. Melalui empat kotak berisi 15 koleksi, pengenalan artefak berlangsung di sekolah dan melibatkan siswa sebagai penerima materi. Kegiatan ini menghubungkan ruang museum dengan lingkungan pendidikan, sekaligus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengenali beragam nama koleksi yang dibawa ke sekolah mereka.

Dalam kegiatan Museum NTB di sekolah pelosok Lombok Tengah, siswa tidak hanya diajak melihat artefak yang dibawa ke lingkungan sekolah. Mereka juga mengikuti kegiatan mendongeng sebagai bagian dari pengalaman belajar mengenai sejarah dan budaya. Perpaduan pengamatan koleksi dengan cerita memberi siswa lebih dari satu cara untuk mengenal materi yang disampaikan. Artefak dapat diamati secara langsung, sementara kegiatan mendongeng menghadirkan pendekatan yang lebih naratif bagi peserta didik. Kegiatan ini dirancang untuk mendekatkan pengetahuan tentang warisan budaya kepada siswa di luar ruang museum, sehingga pembelajaran dapat berlangsung di lingkungan yang akrab bagi mereka.

Dongeng yang disampaikan berkisah tentang sosok anak yang memiliki rasa ingin tahu terhadap budaya. Informasi yang tersedia tidak merinci alur maupun bagian-bagian cerita tersebut, sehingga kegiatan ini dapat dijelaskan sebatas penggunaan tokoh anak dengan rasa ingin tahu sebagai unsur penceritaan. Pendekatan mendongeng memberi ruang bagi siswa untuk menyimak dan membangun perhatian terhadap topik budaya. Bersama pengamatan artefak, kegiatan itu membantu menciptakan pengalaman belajar yang melibatkan perhatian dan imajinasi, tanpa menggantikan penjelasan mengenai koleksi. Siswa memperoleh kesempatan untuk mengenal peninggalan sejarah melalui benda yang diamati dan cerita yang mengantar mereka pada tema kebudayaan.

Gunarti menjelaskan bahwa pengenalan koleksi sejak dini membantu siswa memahami peninggalan leluhur serta mengenali identitas budaya mereka. Dengan melihat artefak, siswa dapat berhadapan langsung dengan benda-benda yang berkaitan dengan warisan masa lalu. Pengenalan pada usia dini juga membuka kesempatan untuk membangun pemahaman bahwa koleksi museum memiliki hubungan dengan kehidupan dan kebudayaan masyarakat. Kegiatan di sekolah tersebut karena itu tidak semata-mata memperlihatkan benda, tetapi juga mendorong pemahaman awal tentang makna warisan budaya. Penjelasan Gunarti menegaskan pentingnya akses terhadap koleksi bagi siswa, termasuk mereka yang tinggal jauh dari museum. Pengamatan dan dongeng menjadi cara untuk memperkenalkan sejarah serta identitas budaya sejak dini.

Kepala SDN Batu Pedang, Murtam, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program Museum Masuk Sekolah di sekolahnya. Menurutnya, kegiatan yang membawa koleksi dan cerita sejarah ke lingkungan belajar ini memberi kesempatan berharga bagi siswa untuk mengenal sejarah serta budaya lokal dengan cara yang lebih dekat. Kehadiran museum di sekolah membuat pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui buku atau penjelasan di kelas, tetapi juga melalui pengalaman melihat benda-benda bersejarah secara langsung.

Murtam menjelaskan bahwa banyak siswa sebelumnya belum memahami warisan budaya yang berada di sekitar tempat tinggal mereka. Padahal, sekolah tersebut berada di kawasan Gunung Piring yang memiliki kaitan dengan sejarah dan budaya setempat. Bagi sebagian anak, cerita tentang peninggalan di lingkungan sendiri belum pernah disampaikan dengan cara yang mudah mereka bayangkan. Program ini kemudian membuka ruang bagi siswa untuk menghubungkan materi sejarah dengan tempat dan kehidupan sehari-hari mereka.

Melalui pemaparan dan koleksi yang dibawa ke sekolah, siswa dapat melihat artefak, mendengarkan kisah yang menyertainya, serta memperoleh penjelasan secara langsung. Murtam menilai pengalaman tersebut membantu anak-anak memahami sejarah dan budaya secara lebih nyata. Mereka tidak sekadar mendengar nama benda atau membaca keterangan, tetapi dapat mengamati bentuk koleksi dan mengajukan perhatian terhadap hal-hal yang menarik bagi mereka. Kesempatan seperti ini juga mendorong rasa ingin tahu terhadap warisan lokal yang selama ini mungkin terasa jauh, meskipun berada di sekitar tempat tinggal.

Sambutan positif juga terlihat dari para siswa yang mengikuti kegiatan.

Baca juga: Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT