Pemakaman Massal 105 Warga Palestina Digelar Setelah Jenazah Ditemukan Hampir Tiga Tahun Usai Serangan

Pemakaman Massal 105 Warga Palestina Digelar Setelah Jenazah Ditemukan Hampir Tiga Tahun Usai Serangan

DEPOK, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 10 September 2026, Ratusan warga menghadiri pemakaman massal bagi 105 warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Kota Gaza pada Oktober 2023. Prosesi tersebut digelar setelah jenazah para korban ditemukan hampir tiga tahun usai serangan itu. Pemakaman ini menjadi rangkaian penting setelah penemuan jenazah, sekaligus menandai penghormatan terakhir bagi mereka yang kehilangan nyawa dalam peristiwa tersebut.

Prosesi berlangsung pada Kamis, 1 Oktober 2026, di Pemakaman Martir kawasan Sheikh Radwan, barat laut Kota Gaza. Di lokasi itu, jenazah 105 warga Palestina dimakamkan dalam sebuah upacara bersama. Kehadiran ratusan warga menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap pemakaman para korban yang jenazahnya baru ditemukan setelah waktu yang panjang.

Pemakaman massal tersebut berlangsung hampir tiga tahun setelah serangan Israel pada Oktober 2023. Rentang waktu itu memisahkan peristiwa serangan dari penemuan jenazah dan pelaksanaan pemakaman. Dengan digelarnya prosesi di Pemakaman Martir, jenazah yang telah ditemukan kemudian mendapatkan pemakaman secara bersamaan di kawasan Sheikh Radwan.

Peristiwa ini berpusat pada 105 warga Palestina yang menjadi korban serangan di Kota Gaza. Tidak ada rincian tambahan mengenai identitas para korban atau keluarga mereka yang disampaikan dalam prosesi tersebut. Fokus utama pemakaman adalah penghormatan terhadap para korban serta penguburan jenazah yang ditemukan hampir tiga tahun setelah serangan berlangsung. Ratusan warga hadir untuk menyaksikan dan mengikuti prosesi di Pemakaman Martir, barat laut Kota Gaza.

Keluarga para korban melaksanakan salat jenazah sebelum prosesi pemakaman dimulai. Salat tersebut dilakukan setelah jasad 105 warga Palestina ditemukan, hampir tiga tahun setelah serangan yang menyebabkan mereka meninggal. Pelaksanaan salat jenazah menjadi bagian awal dari rangkaian pemakaman massal yang disiapkan untuk para korban.

Setelah salat selesai, jasad para korban dibungkus dengan bendera Palestina. Jenazah kemudian dibawa secara berurutan menuju lokasi pemakaman. Penggunaan bendera Palestina pada pembungkusan jasad menjadi bagian yang terlihat dalam prosesi tersebut, sebelum jenazah ditempatkan di area pemakaman yang telah disiapkan.

Prosesi itu berlangsung sebagai satu rangkaian pemakaman bagi seluruh korban yang ditemukan dalam waktu yang berdekatan. Keluarga mengikuti tahapan pemakaman, mulai dari pelaksanaan salat jenazah hingga pemindahan jasad ke lokasi peristirahatan terakhir. Karena jumlah korban mencapai 105 orang, pemakaman dilakukan secara massal, bukan melalui prosesi terpisah untuk setiap jenazah.

Penemuan jasad setelah hampir tiga tahun membuat pemakaman dilaksanakan setelah identifikasi dan persiapan yang diperlukan. Dalam prosesi tersebut, salat jenazah, pembungkusan dengan bendera Palestina, dan pengantaran menuju lokasi pemakaman menjadi tahapan utama yang dilaporkan. Setelah dibawa ke area pemakaman, jasad para korban dimakamkan bersama dalam pemakaman massal.

Sebanyak 105 warga Palestina meninggal dunia dalam rangkaian serangan udara Israel yang berlangsung pada 25 Oktober 2023. Peristiwa tersebut menjadi asal-usul tragedi yang kemudian berujung pada pemakaman massal, setelah jenazah para korban ditemukan hampir tiga tahun sesudah serangan terjadi. Rentang waktu itu memisahkan saat serangan berlangsung dari saat jasad ditemukan dan dimakamkan, tetapi hubungan keduanya tetap berawal dari peristiwa pada tanggal tersebut.

Pada hari itu, serangan udara Israel menghantam kawasan Yarmouk Square. Salah satu dampak utama serangan tersebut adalah hancurnya Gedung Al Taj 3, disertai kehancuran sejumlah bangunan tempat tinggal di sekitarnya. Kerusakan itu berkaitan langsung dengan jatuhnya korban, karena 105 warga Palestina tewas dalam rangkaian serangan yang terjadi di kawasan tersebut. Dengan demikian, kehancuran bangunan dan hilangnya nyawa berlangsung dalam rangkaian peristiwa yang sama, yakni serangan udara pada 25 Oktober 2023.

Rangkaian kejadian tersebut dapat dipahami secara kronologis. Serangan udara berlangsung pada 25 Oktober 2023, kemudian Gedung Al Taj 3 dan sejumlah bangunan tempat tinggal di Yarmouk Square mengalami kehancuran. Dalam serangan itu, sebanyak 105 warga Palestina kehilangan nyawa. Jenazah mereka baru ditemukan hampir tiga tahun kemudian, sehingga pemakaman massal digelar setelah penemuan tersebut. Urutan ini menunjukkan bahwa pemakaman yang berlangsung belakangan berkaitan dengan korban serangan dan kehancuran yang terjadi pada 25 Oktober 2023, bukan peristiwa yang berdiri terpisah.

Penemuan jenazah hampir tiga tahun setelah serangan menegaskan panjangnya jarak waktu tragedi dan pemakaman. Namun, keterangan mengenai asal-usul korban tetap merujuk pada tanggal 25 Oktober 2023. Pada tanggal itulah rangkaian serangan udara Israel menyebabkan Gedung Al Taj 3 hancur dan sejumlah bangunan tempat tinggal di Yarmouk Square turut runtuh. Kehancuran tersebut terjadi bersamaan dengan tewasnya 105 warga Palestina. Karena itu, pemakaman massal merupakan tahap lanjutan dari penanganan korban yang meninggal dalam serangkaian serangan tersebut, setelah jenazah ditemukan kembali hampir tiga tahun kemudian dari peristiwa pada tanggal yang sama tersebut.

Proses pencarian jenazah warga Palestina dilakukan setelah adanya informasi dan penelusuran terhadap lokasi yang berkaitan dengan serangan hampir tiga tahun sebelumnya. Pertahanan Sipil Gaza menjadi bagian utama dalam upaya tersebut, bersama sebuah komite dari Mesir. Kedua pihak bekerja untuk menemukan, mengangkat, dan mengevakuasi jenazah yang masih berada di lokasi penemuan.

Evakuasi berlangsung setelah jenazah ditemukan dalam kondisi yang membuat proses identifikasi dan penanganannya memerlukan kehati-hatian. Setiap jenazah dikeluarkan dari lokasi secara bertahap sebelum dibawa untuk proses berikutnya. Langkah ini dilakukan agar seluruh korban yang ditemukan dapat dikumpulkan dan disiapkan untuk dimakamkan secara layak.

Penemuan tersebut terjadi hampir tiga tahun setelah serangan yang merenggut nyawa mereka. Jarak waktu yang panjang membuat pencarian jenazah menjadi proses yang dinanti oleh keluarga korban. Selama periode itu, keluarga menunggu kepastian mengenai keberadaan anggota mereka yang belum ditemukan dan belum dapat dimakamkan.

Setelah rangkaian pencarian dan evakuasi selesai, sebanyak 105 jenazah kemudian dimakamkan secara massal. Pemakaman itu menandai berakhirnya penantian panjang bagi keluarga para korban. Dengan ditemukannya jenazah dan dilaksanakannya pemakaman, keluarga akhirnya memperoleh kepastian mengenai keberadaan orang-orang yang mereka tunggu selama hampir tiga tahun.