Bisnis  

Pembiayaan Digital dan Industri Keuangan Nonbank Tumbuh hingga Agustus 2026

Pembiayaan Digital dan Industri Keuangan Nonbank Tumbuh hingga Agustus 2026

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan pinjaman daring mencapai Rp106,94 triliun hingga Agustus 2026. Nilai tersebut meningkat 22,07 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa layanan pembiayaan berbasis teknologi digital masih mengalami ekspansi, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha terhadap akses pendanaan yang cepat serta mudah dijangkau.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut masih disertai profil risiko industri yang terkendali. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK September 2026 di Jakarta pada Senin, 5 Oktober.

Agusman menjelaskan, tingkat risiko kredit macet secara agregat atau tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) tercatat sebesar 4,73 persen. Indikator ini menggambarkan proporsi pembiayaan yang mengalami keterlambatan pembayaran hingga lebih dari 90 hari terhadap total penyaluran pembiayaan. Dengan demikian, pertumbuhan outstanding pinjaman daring perlu dilihat bersama perkembangan kualitas portofolio, bukan hanya dari sisi peningkatan nilai penyaluran.

OJK terus memantau kinerja industri untuk memastikan perluasan pembiayaan digital berlangsung secara sehat dan berkelanjutan. Pengawasan tersebut mencakup kualitas penyaluran, kemampuan penyelenggara dalam mengelola risiko, serta perlindungan konsumen. Bagi masyarakat, data pertumbuhan dan TWP90 dapat menjadi rujukan untuk memahami kondisi industri sekaligus mempertimbangkan kemampuan pembayaran sebelum menggunakan fasilitas pinjaman daring.

Perkembangan industri perusahaan pembiayaan, yang juga dikenal sebagai multifinance, hingga Agustus 2026 memperlihatkan pertumbuhan pada nilai pembiayaan. Sampai dengan periode tersebut, nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp514,08 triliun. Nilai itu tumbuh 1,68 persen secara tahunan. Dengan demikian, catatan hingga Agustus 2026 menunjukkan bahwa pembiayaan multifinance berada pada tingkat Rp514,08 triliun, dengan pertumbuhan tahunan yang tercatat sebesar 1,68 persen.

Peningkatan nilai pembiayaan tersebut didukung oleh pertumbuhan pembiayaan modal kerja. Segmen pembiayaan modal kerja tumbuh 5,4 persen secara tahunan hingga Agustus 2026. Pertumbuhan ini menjadi bagian dari perkembangan pembiayaan perusahaan multifinance pada periode tersebut. Data tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan modal kerja mengalami kenaikan tahunan sebesar 5,4 persen, sementara keseluruhan nilai pembiayaan tumbuh 1,68 persen secara tahunan menjadi Rp514,08 triliun.

Di tengah pertumbuhan tersebut, kondisi risiko perusahaan pembiayaan tercermin melalui rasio non-performing financing atau NPF. Hingga Agustus 2026, NPF gross tercatat sebesar 3,04 persen. Rasio ini menjadi ukuran yang tercantum untuk menggambarkan posisi pembiayaan bermasalah secara gross pada industri multifinance dalam periode tersebut.

Selain NPF gross, NPF net perusahaan pembiayaan hingga Agustus 2026 tercatat sebesar 0,83 persen. Dengan posisi tersebut, data risiko multifinance mencakup NPF gross sebesar 3,04 persen dan NPF net sebesar 0,83 persen. Rangkaian data hingga Agustus 2026 memperlihatkan nilai pembiayaan Rp514,08 triliun, pertumbuhan tahunan 1,68 persen, dukungan pembiayaan modal kerja yang tumbuh 5,4 persen secara tahunan, serta rasio NPF gross dan NPF net masing-masing sebesar 3,04 persen dan 0,83 persen.

Pembiayaan modal ventura mencatat pertumbuhan positif hingga Agustus 2026. Nilainya mencapai Rp16,50 triliun, atau meningkat 1,05 persen secara tahunan. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pembiayaan berbasis penyertaan modal dan dukungan terhadap perusahaan yang membutuhkan pendanaan tetap berkembang, meskipun laju pertumbuhannya relatif terbatas. Perubahan tahunan ini menjadi gambaran perkembangan sektor modal ventura dalam industri keuangan nonbank pada periode pelaporan.

Perkembangan yang lebih kuat terlihat pada penyaluran pembiayaan pegadaian. Hingga Agustus 2026, nilainya meningkat 44,60 persen secara tahunan menjadi Rp156,61 triliun. Produk gadai masih menjadi kontributor terbesar dalam portofolio tersebut, dengan nilai Rp132,84 triliun. Jumlah itu setara dengan 84,82 persen dari total pembiayaan pegadaian. Dominasi produk gadai memperlihatkan bahwa layanan pembiayaan dengan agunan tersebut tetap menjadi bagian utama dari kegiatan usaha pegadaian, sekaligus menopang peningkatan total penyaluran selama periode berjalan.

Sementara itu, lembaga keuangan mikro (LKM) mencatat arah perkembangan yang berbeda. Penyaluran pembiayaan LKM turun 0,33 persen secara tahunan menjadi Rp1,05 triliun pada Agustus 2026. Penurunan tersebut terjadi ketika simpanan LKM justru bertumbuh 7,70 persen secara tahunan, mencapai Rp0,63 triliun. Perbedaan perkembangan pembiayaan dan simpanan menunjukkan bahwa penghimpunan dana di LKM mengalami peningkatan, sedangkan penyalurannya masih menghadapi tekanan. Dengan demikian, ketiga subsektor tersebut memperlihatkan kinerja yang beragam: modal ventura tumbuh terbatas, pegadaian mencatat peningkatan tinggi, dan LKM mengalami penurunan pembiayaan di tengah pertumbuhan simpanan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan industri perusahaan pembiayaan atau multifinance masih mencatat pertumbuhan positif hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut disampaikan Agusman dengan kisaran pertumbuhan sekitar 2 hingga 4 persen. Perkiraan ini menunjukkan bahwa aktivitas pembiayaan dipandang tetap bergerak, meskipun laju ekspansinya menghadapi sejumlah tekanan pada sisa tahun berjalan.

Proyeksi pertumbuhan itu dibuat ketika tekanan ekonomi global meningkat dan memengaruhi berbagai kegiatan ekonomi, termasuk permintaan pembiayaan. Salah satu dampaknya terlihat pada perlambatan penjualan kendaraan bermotor. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pembiayaan kendaraan, yang selama ini menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan perusahaan pembiayaan. Penurunan penjualan dapat membatasi pertumbuhan penyaluran pembiayaan baru hingga akhir tahun.

Selain pembiayaan kendaraan bermotor, tekanan yang sama juga tercermin pada perlambatan pembiayaan investasi. Pelemahan pada segmen tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam melihat kinerja industri perusahaan pembiayaan secara keseluruhan. Meski menghadapi kondisi tersebut, OJK tetap memperkirakan sektor multifinance berada dalam jalur pertumbuhan positif, yakni pada rentang 2 sampai 4 persen hingga penutupan 2026. Proyeksi Agusman itu menjadi gambaran mengenai arah kinerja industri perusahaan pembiayaan di tengah perlambatan penjualan kendaraan bermotor dan pembiayaan investasi.