Pesan Ruben Onsu untuk Thalia dan Thania: Kasih Sayang Tetap Ada di Tengah Jarak

Pakar Telematika Minta Pemeriksaan Forensik atas Video Call Ruben Onsu dan Seorang Pria

Jakarta | Ruben Onsu menyampaikan pesan penuh kasih kepada Thalia dan Thania, kedua putrinya yang kini tinggal bersama Sarwendah. Dalam pesannya, ia mengungkapkan harapan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik, memiliki hati yang tulus, serta mampu menjalani kehidupan dengan sikap yang membanggakan. Doa tersebut menggambarkan perhatian Ruben terhadap perkembangan dan masa depan kedua anaknya, meskipun mereka saat ini berada dalam jarak. Ia ingin Thalia dan Thania terus bertumbuh dengan nilai-nilai positif dan menjadi sosok yang membawa kebaikan di lingkungan mereka.

Selain berharap kedua putrinya menjadi pribadi baik dan membanggakan, Ruben juga mendoakan agar mereka selalu sehat. Ia berharap Thalia dan Thania dapat menjalani hari-hari dengan kuat, terus belajar, dan kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Harapan itu disampaikan sebagai bentuk kepedulian seorang ayah terhadap kebahagiaan serta perjalanan hidup anak-anaknya. Pesan tersebut tidak hanya berisi doa untuk masa depan, tetapi juga mengingatkan bahwa kasih sayang Ruben kepada mereka tetap ada. Jarak tidak mengubah perhatiannya ataupun harapan baik yang ia panjatkan untuk kedua putrinya.

Ruben menegaskan bahwa rasa sayangnya kepada Thalia dan Thania tidak berkurang. Ia menyatakan akan selalu ada untuk mereka, termasuk menjadi tempat untuk didengarkan dan sosok yang siap melindungi. Pernyataan itu menegaskan komitmennya untuk tetap hadir dalam kehidupan kedua putrinya, sekalipun mereka tidak selalu berada berdekatan. Ia juga berharap dapat segera bertemu dengan mereka. Harapan untuk berjumpa tersebut hadir bersama doa dan pesan kasih yang ia sampaikan, tanpa mengurangi makna bahwa dukungan serta perhatian seorang ayah tetap tersedia. Melalui kata-katanya, Ruben ingin kedua putrinya mengetahui bahwa mereka selalu disayangi, didoakan, dan dapat mengandalkannya sebagai pendengar maupun pelindung.

Ruben Onsu menyampaikan bahwa dirinya masih memperjuangkan kesempatan untuk bertemu Thalia dan Thania. Dalam pesannya, ia menyebut kedua putrinya sebagai anak kandungnya, sekaligus menegaskan bahwa ikatan tersebut tetap berarti baginya meskipun saat ini ada jarak. Pernyataan itu menggambarkan kerinduan seorang ayah dan harapannya untuk kembali memiliki kesempatan bertemu anak-anaknya. Ruben tidak memaparkan secara terperinci langkah yang sedang ditempuh, sehingga pesannya dapat dipahami sebagai ungkapan mengenai keinginan dan perjuangan yang masih ia rasakan, bukan keterangan tentang proses tertentu.

Ia juga menggambarkan keadaan yang sedang dihadapi sebagai badai, sebuah ungkapan untuk masa sulit yang menurutnya perlu dilalui. Ruben berharap badai itu dapat berlalu sehingga keadaan menjadi lebih tenang. Setelah masa tersebut lewat, ia menginginkan agar tidak ada lagi keributan. Harapan itu disampaikan sebagai keinginan pribadi, bukan sebagai tanda bahwa persoalan di pihak-pihak terkait telah selesai. Dengan demikian, pesannya berisi harapan untuk masa depan, sementara keadaan saat ini tetap perlu dipahami sesuai dengan apa yang ia sampaikan.

Ucapan Ruben tentang Thalia dan Thania memperlihatkan bahwa ia masih ingin bertemu dan tetap memandang mereka sebagai anak kandungnya. Ia berharap masa sulit yang disebutnya sebagai badai berakhir, lalu tidak muncul lagi keributan. Namun, harapan tersebut tidak serta-merta memastikan bahwa hubungan atau persoalan yang ada telah pulih. Pesan itu lebih tepat dibaca sebagai ungkapan kasih sayang, kerinduan, dan keinginan agar keadaan kelak lebih damai. Di tengah jarak yang ia sebutkan, Ruben menyatakan masih memperjuangkan kesempatan untuk berjumpa dengan kedua putrinya, tanpa menyampaikan rincian mengenai bagaimana perjuangan tersebut dilakukan.Saat ini, Ruben Onsu tinggal bersama dua anak angkatnya, Betrand Putra Onsu dan Thayaka Putra Onsu. Di tengah kehidupan yang dijalaninya bersama mereka, ia tetap menyimpan harapan untuk dapat bertemu Thalia dan Thania. Jarak dan keadaan yang sedang dihadapi tidak membuat kasih sayangnya kepada kedua putrinya hilang. Dalam menyampaikan perasaannya, Ruben menggambarkan bahwa ia berusaha menerima kenyataan hari ini, sambil tetap membuka ruang bagi kemungkinan untuk kembali berjumpa. Harapan tersebut disampaikan sebagai keinginan pribadi, bukan kepastian mengenai apa yang akan terjadi.

Ruben juga mengungkapkan bahwa situasi yang kini dihadapinya membuat ia merasa tidak lagi memiliki banyak mimpi. Alih-alih menyusun beragam rencana besar, ia memilih menjalani sisa usianya dan berusaha melakukan yang terbaik. Sikap itu menunjukkan fokusnya pada hal-hal yang masih dapat ia jalani sekarang, termasuk menjalankan tanggung jawab dan menjaga hubungan dengan keluarga. Pernyataan tersebut mencerminkan cara Ruben memaknai masa yang sedang berlangsung, dengan menerima keterbatasan tanpa meniadakan kepedulian dan harapan yang masih ia rasakan terhadap anak-anaknya.

Mengenai apakah dan kapan ia dapat bertemu Thalia dan Thania, Ruben menyatakan sikap pasrah. Ia menyerahkan waktu dan kesempatan pertemuan itu pada keadaan, tanpa menyebutnya sebagai sesuatu yang dapat dipastikan. Ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa ia tidak ingin memaksakan jawaban atas hal yang belum ia ketahui. Namun, sikap menerima itu berjalan berdampingan dengan harapan untuk bertemu kembali. Ruben tetap berharap suatu saat dapat berada dekat dengan kedua putrinya, meski ia tidak memastikan kapan hal itu mungkin terjadi. Dengan demikian, pesannya menekankan kasih sayang yang tetap ada di tengah jarak, sekaligus pilihan untuk menjalani hari demi hari dan melakukan yang terbaik menurut kemampuannya. Ia menyampaikan perasaan itu sebagai bagian dari pengalaman pribadinya, sementara kemungkinan pertemuan selanjutnya tetap terbuka dan tidak dapat disimpulkan dari pernyataannya saja.

Di tengah perhatian publik terhadap hubungan Ruben Onsu dan Sarwendah, psikolog sekaligus mantan artis Lita Gading turut menyampaikan pandangannya mengenai perseteruan yang disebut semakin memanas. Salah satu hal yang ia komentari adalah keputusan Sarwendah mengunggah rekaman video call Ruben dengan seorang pria melalui akun Instagram. Tanggapan tersebut disampaikan sebagai penilaian pribadi Lita terhadap pilihan yang diambil di ruang publik, bukan sebagai kesimpulan yang telah dibuktikan secara independen mengenai seluruh latar belakang konflik keluarga itu.

Dalam pandangan Lita, tindakan mengunggah rekaman tersebut sebagian besar keliru. Ia menilai keputusan semacam itu berpotensi membawa dampak bagi anak-anak, terutama karena perselisihan orang tua yang menjadi konsumsi publik dapat menyentuh kehidupan keluarga dan membuat anak berada dekat dengan persoalan yang seharusnya ditangani secara lebih tertutup. Lita menyebut penilaiannya sebesar 75 persen untuk menyatakan bahwa langkah tersebut tidak tepat, sementara 25 persen lainnya ia kaitkan dengan kemungkinan adanya pertimbangan seorang ibu. Angka itu menggambarkan pendapat Lita, bukan ukuran objektif tentang dampak yang pasti dialami anak-anak.

Lita juga mengakui bahwa seorang ibu memiliki hati nurani dan pada dasarnya menginginkan kebaikan bagi anak. Pengakuan tersebut memberi konteks pada komentarnya: ia tidak semata-mata menilai tindakan Sarwendah tanpa mempertimbangkan kemungkinan niat atau alasan di baliknya. Namun, menurut penjelasan yang disampaikan, niat baik tidak serta-merta menghapus risiko ketika rekaman pribadi dibagikan ke media sosial. Perbedaan maksud orang tua dan kemungkinan akibat bagi anak menjadi bagian penting dari penilaiannya.

Komentar itu menempatkan kesejahteraan anak sebagai pertimbangan utama di tengah kabar konflik Ruben dan Sarwendah. Meski begitu, publik sebaiknya memahami pernyataan Lita sebagai opini seorang komentator, bukan kepastian mengenai pengalaman anak-anak atau keputusan terbaik bagi keluarga tersebut. Pembahasan mengenai video call dan unggahan Instagram juga perlu dilakukan secara hati-hati, tanpa menambah spekulasi tentang isi maupun konteks yang tidak tersedia.