JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Kasun Bodawatta, peneliti dari Universitas Copenhagen, mengalami mata berair dan hidung berair ketika mengambil sampel dari burung pitohui di hutan Papua. Reaksi tersebut muncul saat ia berhadapan langsung dengan burung yang dikenal sebagai salah satu burung paling beracun di dunia. Kondisi itu bukan disebabkan oleh kesedihan, tekanan emosional, atau beratnya perjalanan selama ekspedisi, melainkan akibat paparan racun yang terdapat pada tubuh pitohui.
Orang-orang di sekitar Bodawatta sempat mengira ia sedang sedih karena melihat air matanya terus mengalir. Namun, dugaan tersebut segera terbantahkan. Bodawatta menjelaskan bahwa ia sebenarnya hanya duduk dan mengambil sampel dari burung tersebut ketika iritasi mulai terasa. Air mata dan cairan dari hidung menjadi tanda bahwa tubuhnya merespons senyawa beracun yang menempel atau keluar dari bagian tertentu pada burung.
Pitohui memiliki pertahanan kimia yang tidak biasa bagi burung. Racun pada spesies ini dapat menimbulkan rasa terbakar, iritasi, dan gangguan pada mata atau saluran pernapasan apabila terjadi kontak. Para peneliti karena itu perlu bekerja secara hati-hati ketika menangkap, memegang, atau mengumpulkan sampelnya. Pengalaman Bodawatta memperlihatkan bahwa risiko paparan dapat muncul bahkan ketika kegiatan dilakukan untuk tujuan ilmiah dan tanpa adanya serangan langsung dari burung.
Peristiwa tersebut menjadi gambaran awal mengenai tantangan penelitian satwa liar di Papua. Di lapangan, peneliti bukan hanya menghadapi medan hutan yang sulit, tetapi juga harus memahami mekanisme pertahanan alami hewan yang diteliti. Respons fisik yang dialami Bodawatta sekaligus menegaskan reputasi pitohui sebagai burung beracun, serta pentingnya perlindungan dan prosedur penanganan yang tepat selama pengambilan sampel.
Pitohui ditemukan di hutan Papua dan menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai burung beracun di wilayah tersebut. Keberadaannya menunjukkan bahwa Papua memiliki fakta keanekaragaman burung yang tidak hanya berkaitan dengan jumlah atau jenis, tetapi juga dengan kandungan racun yang diketahui terdapat pada beberapa burung. Dalam berbagai sumber, pitohui juga disebut dengan nama regent whistler, sedangkan nama ilmiahnya adalah Pachycephala schlegelii. Penyebutan nama-nama tersebut membantu memperjelas bahwa pitohui dan regent whistler merujuk pada burung yang sama dalam pembahasan ini.
Pitohui bukan satu-satunya burung di wilayah Papua yang diketahui mengandung racun. Burung lain yang juga disebut memiliki kandungan racun adalah burung lonceng rufous-naped. Burung tersebut memiliki nama ilmiah Aleadryas rufinucha. Dengan demikian, pitohui dan burung lonceng rufous-naped merupakan dua jenis burung yang termasuk dalam fakta mengenai keanekaragaman burung beracun yang ditemukan di Papua.
Penyebutan kedua jenis burung itu memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai pitohui perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Pitohui, atau regent whistler dengan nama ilmiah Pachycephala schlegelii, dikenal bersama burung lonceng rufous-naped, atau Aleadryas rufinucha, sebagai burung yang diketahui mengandung racun. Keduanya menjadi bagian dari informasi tentang burung beracun di Papua, tanpa mengubah fakta bahwa pitohui merupakan salah satu jenis yang ditemukan di hutan Papua. Oleh karena itu, keberadaan pitohui tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan keberadaan jenis lain yang juga disebut memiliki kandungan racun di wilayah tersebut. Nama lokal atau sebutan umum, nama lain, serta nama ilmiah yang dicantumkan pada kedua burung membantu membedakan jenis yang dibahas dan menegaskan keragaman burung beracun di Papua.
Pitohui dan burung lonceng rufous-naped diketahui menyimpan batrachotoxin, yaitu neurotoksin yang dalam sejumlah sumber disebut sebagai salah satu racun paling berbahaya. Keberadaan senyawa ini membuat kedua burung tersebut menjadi perhatian peneliti, khususnya karena racun ditemukan pada bagian tubuh yang bersentuhan langsung dengan lingkungan, seperti bulu. Batrachotoxin bukan sekadar zat yang menimbulkan rasa tidak nyaman, melainkan senyawa beracun yang dapat memengaruhi tubuh manusia.
Istilah neurotoksin merujuk pada racun yang dapat memberikan dampak terhadap sistem saraf. Berdasarkan keterangan yang tersedia, paparan racun dari kedua burung itu dapat membuat mata manusia berair, dengan efek yang digambarkan menyerupai kondisi ketika seseorang memotong bawang. Iritasi tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dialami peneliti saat berhadapan dengan pitohui beracun di hutan Papua. Meskipun gejalanya tampak sederhana, sifat racun yang terkandung di dalamnya membuat kontak langsung perlu dihindari.
Asal batrachotoxin pada tubuh pitohui dan burung lonceng rufous-naped masih dikaitkan dengan makanan yang mereka konsumsi di habitatnya. Berdasarkan keterangan peneliti, terdapat dugaan bahwa racun itu tidak dihasilkan sepenuhnya oleh tubuh burung, melainkan berasal dari organisme atau makanan tertentu yang tersedia di hutan. Setelah masuk melalui makanan, senyawa tersebut diduga tersimpan dan kemudian berpindah ke bulu kedua burung.
Hal yang menarik, kedua burung itu tidak mengalami sakit ataupun mati setelah mengonsumsi makanan yang mengandung racun tersebut. Burung tetap dapat hidup dan beraktivitas, sementara batrachotoxin kemudian masuk ke bulu serta menyatu di sana. Kondisi ini menjadikan bulu sebagai bagian penting dalam pembahasan mengenai mekanisme pertahanan alami kedua spesies tersebut. Bagi manusia, menyentuh atau berdekatan dengan burung tanpa kehati-hatian berpotensi memicu iritasi, termasuk mata berair, karena racun dapat berpindah melalui kontak dengan bulu.
Racun pada pitohui dan burung lonceng memiliki dampak yang sangat berbeda terhadap burung pemiliknya dan manusia yang bersentuhan dengannya. Bagi burung, senyawa beracun tersebut berfungsi sebagai perlindungan alami dari serangan predator. Racun yang terdapat pada bagian tubuh atau bulunya membuat kedua jenis burung itu tidak mudah dimangsa, sehingga menjadi salah satu bentuk pertahanan penting untuk bertahan hidup di lingkungan hutan Papua.
Burung-burung tersebut dapat membawa racun tanpa mengalami dampak yang sama seperti manusia. Mekanisme yang memungkinkan pitohui dan burung lonceng tetap hidup dengan racun di tubuhnya menunjukkan adanya perbedaan biologis burung dan manusia. Dalam konteks ini, racun bukanlah tanda bahwa burung tersebut sedang sakit, melainkan bagian dari sistem perlindungan yang membantu mengurangi risiko serangan hewan pemangsa.
Pada manusia, dampaknya jauh lebih serius. Menurut sumber, racun itu dapat menyebabkan kematian apabila dikonsumsi. Keterangan penduduk lokal juga menyebutkan bahwa memakan daging pitohui atau burung lonceng dapat menimbulkan sensasi seperti tubuh terbakar. Bahkan, sekadar memegang burung tersebut disebut dapat memicu rasa terbakar pada tubuh. Pengalaman iritasi mata yang dialami peneliti turut menggambarkan bahwa kontak dengan burung beracun itu dapat menimbulkan reaksi yang mengganggu, meskipun dampaknya pada setiap orang dapat berbeda.
Perbedaan tersebut menjadi pengingat bahwa burung yang tampak biasa dapat memiliki mekanisme pertahanan yang berbahaya bagi manusia. Pitohui maupun burung lonceng sebaiknya tidak diperlakukan seperti burung lain yang aman disentuh atau dikonsumsi. Masyarakat dan pengunjung yang berada di hutan Papua perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melihat kedua jenis burung ini. Menghormati jarak dan tidak melakukan kontak sembarangan merupakan sikap penting agar pertemuan dengan satwa beracun tersebut tidak menimbulkan risiko yang tidak diinginkan.

