Kota Banyak Belanja Non-Pangan | Perbedaan tingkat pengeluaran menjadi salah satu gambaran awal untuk melihat ketimpangan ekonomi penduduk perkotaan dan perdesaan di Indonesia. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk “Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026”, rata-rata pengeluaran penduduk perkotaan tercatat sebesar Rp1.902.997 per kapita per bulan. Pada periode yang sama, rata-rata pengeluaran penduduk perdesaan berada pada angka Rp1.287.359 per kapita per bulan.
Angka tersebut menunjukkan adanya selisih nominal sebesar Rp615.638 per kapita setiap bulan penduduk perkotaan dan perdesaan. Dengan demikian, rata-rata pengeluaran penduduk perkotaan tercatat lebih tinggi dibandingkan penduduk perdesaan. Perbedaan ini bukan hanya terlihat dalam besaran rupiah yang dikeluarkan, tetapi juga berjalan beriringan dengan perbedaan pola dan struktur konsumsi harian. Nilai pengeluaran per kapita memberikan dasar untuk memahami bagaimana konsumsi penduduk di kedua wilayah memiliki gambaran yang tidak sepenuhnya sama.
Data dalam uraian ini bersumber dari publikasi BPS tersebut, yang dikutip pada Minggu, 11 Oktober 2026. Penyajian angka rata-rata per kapita per bulan membantu menempatkan perbedaan pengeluaran dalam ukuran yang lebih terukur. Penduduk perkotaan dan perdesaan sama-sama memiliki kebutuhan konsumsi, tetapi besaran pengeluaran yang tercatat memperlihatkan jarak yang jelas di keduanya. Jarak tersebut menjadi pembuka untuk menelaah lebih lanjut komposisi konsumsi, termasuk bagaimana pengeluaran harian tersusun menurut kelompok kebutuhan masing-masing wilayah.
Struktur pengeluaran rumah tangga di wilayah perkotaan Indonesia memperlihatkan bahwa kebutuhan non-pangan mengambil porsi terbesar dalam anggaran bulanan penduduk. Berdasarkan data yang digunakan, kelompok bukan makanan menyerap 53,61 persen dari total pengeluaran, setara dengan Rp1.020.147 per kapita per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa belanja warga kota tidak hanya berpusat pada pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga mencakup berbagai keperluan lain yang mendukung kehidupan rumah tangga.
Komponen bukan makanan tersebut meliputi perumahan, barang dan jasa, transportasi, pendidikan, serta kesehatan. Perumahan menjadi bagian penting karena mencakup kebutuhan tempat tinggal dan biaya terkait, sedangkan transportasi diperlukan untuk menunjang mobilitas penduduk dalam menjalankan aktivitas pekerjaan, pendidikan, maupun kegiatan sosial. Di sisi lain, pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan mencerminkan kebutuhan rumah tangga terhadap layanan yang berpengaruh pada kualitas hidup. Barang dan jasa juga meliputi beragam pembelian rutin di luar konsumsi makanan.
Sementara itu, pengeluaran untuk makanan tercatat sebesar 46,39 persen atau Rp882.850 per kapita per bulan. Meskipun tetap menjadi kebutuhan utama, porsinya berada di bawah pengeluaran bukan makanan. Komposisi ini menggambarkan pola konsumsi masyarakat kota yang lebih beragam. Anggaran rumah tangga perkotaan telah terbagi pemenuhan pangan dan pembiayaan kebutuhan non-pangan, seperti tempat tinggal, mobilitas, layanan pendidikan, dan kesehatan. Dengan demikian, konsumsi penduduk kota menunjukkan bahwa kebutuhan hidup tidak lagi didominasi oleh pangan, melainkan turut dipengaruhi oleh berbagai pengeluaran non-pangan yang menjadi bagian penting dari keseharian.
Pola pengeluaran penduduk perdesaan di Indonesia menunjukkan kondisi yang berbeda dibandingkan dengan wilayah perkotaan. Sebagian besar anggaran rumah tangga desa masih dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Berdasarkan data yang tersedia, sebanyak 57,39 persen pengeluaran penduduk desa digunakan untuk makanan. Sementara itu, porsi pengeluaran bukan makanan berada pada angka 42,61 persen.
Besarnya alokasi untuk makanan memperlihatkan bahwa kebutuhan pangan pokok masih menjadi bagian utama dalam penggunaan pendapatan masyarakat perdesaan. Anggaran yang tersedia lebih banyak terserap untuk membeli beras, lauk-pauk, sayuran, minuman, serta berbagai komoditas pangan yang diperlukan setiap hari. Dengan demikian, ruang untuk membiayai kebutuhan lain di luar makanan menjadi lebih terbatas. Perbedaan komposisi ini menjadi salah satu gambaran penting dalam melihat kondisi konsumsi penduduk desa dan penduduk kota.
Nilai rata-rata belanja non-pangan penduduk perdesaan tercatat sebesar Rp548.514 per kapita per bulan. Jumlah tersebut kurang dari separuh alokasi non-pangan penduduk perkotaan. Pengeluaran non-pangan mencakup kebutuhan seperti pakaian, perumahan, pendidikan, kesehatan, transportasi, komunikasi, dan keperluan rumah tangga lainnya. Rendahnya nilai belanja pada kelompok ini menunjukkan bahwa sebagian besar anggaran masyarakat desa belum dapat diarahkan secara luas untuk kebutuhan penunjang kesejahteraan.
Komposisi tersebut menegaskan bahwa pemenuhan makanan harian masih menjadi prioritas utama dalam pengeluaran penduduk desa. Selama porsi anggaran untuk pangan tetap dominan, kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan non-pangan akan relatif terbatas. Data ini juga menjadi keterangan bahwa daya beli masyarakat desa masih perlu diperkuat agar anggaran tidak habis untuk komoditas pangan pokok. Penguatan daya beli dapat membuka ruang yang lebih besar bagi rumah tangga perdesaan untuk membiayai kebutuhan pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, serta keperluan lain yang mendukung kualitas hidup.
Perbedaan pola konsumsi penduduk kota dan desa terlihat jelas pada komposisi belanja makanan. Penduduk perkotaan membelanjakan rata-rata Rp325.119 per kapita per bulan untuk makanan dan minuman jadi. Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan penduduk perdesaan, yang mengalokasikan Rp208.572 untuk kelompok pengeluaran yang sama. Selisih ini menunjukkan bahwa makanan siap santap memiliki peran lebih besar dalam keseharian masyarakat kota.
Tingginya belanja makanan dan minuman jadi di perkotaan dapat berkaitan dengan ritme aktivitas yang lebih cepat, jarak perjalanan yang lebih panjang, serta ketersediaan pilihan kuliner yang beragam. Kesibukan bekerja dan keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan juga dapat mendorong rumah tangga kota membeli makanan yang sudah diolah. Sebaliknya, masyarakat perdesaan cenderung memiliki akses yang lebih dekat terhadap bahan pangan segar dan kesempatan lebih besar untuk menyiapkan makanan sendiri.
Gambaran berbeda terlihat pada belanja bahan makanan mentah yang dimasak di rumah, terutama kelompok beras atau padi-padian. Penduduk perdesaan mengeluarkan Rp114.739 per kapita per bulan untuk kelompok tersebut, sedikit lebih tinggi daripada penduduk perkotaan yang membelanjakan Rp108.971. Angka ini memperlihatkan bahwa bahan pangan pokok masih menjadi bagian penting dalam pengeluaran rumah tangga desa, baik untuk memenuhi kebutuhan keluarga maupun karena konsumsi makanan rumahan lebih dominan.
Secara keseluruhan, penduduk perkotaan memperlihatkan porsi belanja non-pangan dan makanan jadi yang lebih besar. Kondisi tersebut mengindikasikan tingkat kesejahteraan yang relatif lebih tinggi sekaligus variasi kebutuhan harian yang lebih beragam. Sementara itu, masyarakat desa masih membutuhkan penguatan daya beli agar pengeluaran rumah tangga tidak terutama terserap untuk pangan pokok. Perbedaan ini menegaskan bahwa pola konsumsi bukan hanya mencerminkan pilihan individu, tetapi juga dipengaruhi pendapatan, akses, ketersediaan layanan, dan karakter lingkungan tempat tinggal.

