Prabowo Subianto Genap 75 Tahun: Perjalanan dari Militer hingga Presiden

Prabowo Subianto Genap 75 Tahun: Perjalanan dari Militer hingga Presiden

Jakarta | Presiden Prabowo Subianto berulang tahun ke-75 pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Ia lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951. Dengan demikian, tanggal ulang tahunnya pada 2026 bertepatan dengan tanggal dan bulan kelahirannya, sementara tahun kelahirannya tercatat sebagai 1951. Peristiwa yang diperingati pada Sabtu tersebut adalah ulang tahun Prabowo yang ke-75. Nama Prabowo Subianto merujuk pada presiden yang berulang tahun itu, dan Jakarta merupakan tempat kelahirannya. Keterangan mengenai usia, tanggal lahir, serta tempat lahir tersebut menjelaskan inti peristiwa ulang tahun ke-75 yang berlangsung pada 17 Oktober 2026.

Prabowo merupakan putra ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo dan Dora Marie Sigar. Keterangan ini menempatkan Soemitro Djojohadikoesoemo dan Dora Marie Sigar sebagai orang tua Prabowo. Profesi yang disebutkan dalam latar belakang keluarganya adalah ekonom, yakni profesi Soemitro Djojohadikoesoemo. Nama Dora Marie Sigar juga tercatat sebagai ibunya. Prabowo adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Urutan tersebut berarti ia berada pada posisi ketiga di empat anak dalam keluarganya. Dengan demikian, informasi keluarga yang tercatat mencakup nama ayah, nama ibu, profesi ayah, serta posisi Prabowo sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Tidak ada keterangan lain tentang saudara-saudaranya yang disebutkan dalam informasi ini.

Informasi ulang tahun dan latar belakang keluarga tersebut menghubungkan peringatan pada 2026 dengan data kelahiran Prabowo. Ia lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951, sedangkan ulang tahun ke-75 diperingati pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Dalam keluarga, ia adalah putra Soemitro Djojohadikoesoemo, seorang ekonom, dan Dora Marie Sigar. Ia juga tercatat sebagai anak ketiga dalam keluarga dengan empat bersaudara. Jadi, pokok informasi mengenai peristiwa ini terdiri atas usia yang genap 75 tahun, hari dan tanggal peringatan, tempat dan tanggal kelahiran, serta keterangan keluarga tersebut. Rangkaian fakta itu menyampaikan siapa yang berulang tahun, kapan ia lahir, dan bagaimana posisi keluarganya tercatat.

Masa kecil Prabowo Subianto berlangsung di sejumlah negara, sehingga kehidupannya pada periode tersebut tidak hanya terkait dengan Indonesia. Ia pernah tinggal di Singapura, Hong Kong, Malaysia, Swiss, dan Inggris. Perpindahan dari satu negara ke negara lain menjadi bagian dari kisah awal kehidupannya, sebelum ia menempuh pendidikan militer di Indonesia. Catatan mengenai masa kecilnya menyebutkan negara-negara tersebut sebagai tempat yang pernah ia tinggali. Urutan tempat tinggal itu mencakup kawasan Asia dan Eropa, tanpa perlu menambahkan keterangan mengenai alasan perpindahan maupun pengaruhnya terhadap perjalanan hidup Prabowo. Informasi tentang masa kecil ini juga memberi konteks pada kemampuan bahasanya, sebagaimana disebutkan dalam sumber biografi.

Prabowo diketahui fasih berbahasa Inggris, Prancis, Belanda, dan Jerman. Kemampuan dalam empat bahasa tersebut dapat dicatat berdampingan dengan pengalaman masa kecilnya yang berlangsung di beberapa negara. Inggris dan Prancis, misalnya, termasuk bahasa yang ia kuasai, sementara Belanda dan Jerman juga tercantum dalam keterangan mengenai kemampuannya. Pengalaman tinggal di Singapura, Hong Kong, Malaysia, Swiss, dan Inggris serta kefasihan berbahasa itu merupakan bagian dari informasi biografis yang tersedia. Namun, keterangan tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan kapan ia mempelajari setiap bahasa atau bagaimana kemampuan itu berkembang. Riwayat yang dapat dinyatakan secara jelas adalah bahwa ia pernah tinggal di lima negara tersebut dan fasih menggunakan empat bahasa itu.

Setelah masa kecilnya, perjalanan pendidikan Prabowo berlanjut ke pendidikan militer. Pada 1970, ia masuk Akademi Militer di Magelang. Empat tahun kemudian, pada 1974, ia lulus dari akademi tersebut. Kedua tanggal itu menunjukkan urutan waktu yang jelas: masuk pada 1970, lalu menyelesaikan pendidikan pada 1974. Dengan demikian, pendidikan militernya di Magelang menandai tahap berikutnya setelah periode masa kecil yang diwarnai perpindahan di sejumlah negara. Keterangan mengenai masa pendidikan ini dapat disampaikan tanpa menambahkan penjelasan tentang motivasi, pengalaman khusus selama belajar, atau dampak kelulusannya, karena rincian tersebut tidak termasuk dalam informasi yang dirujuk. Rangkaian biografi pada bagian ini terbatas pada tempat tinggal masa kecil, kemampuan bahasa, serta tahun masuk dan lulus Akademi Militer Magelang.

Setelah menamatkan pendidikan di Akademi Militer pada 1974, Prabowo Subianto memulai pengabdian sebagai perwira TNI Angkatan Darat. Kariernya kemudian banyak berkaitan dengan pasukan khusus, terutama Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Di lingkungan tersebut, ia menjalani berbagai penugasan dan menduduki sejumlah posisi komando. Pengalaman itu membentuk reputasinya sebagai perwira yang memiliki latar belakang operasi dan kepemimpinan lapangan. Perjalanannya di Kopassus menjadi bagian penting dari kiprah militernya sebelum ia beralih ke jajaran komando strategis Angkatan Darat.

Dalam perjalanan kariernya, Prabowo terlibat dalam sejumlah operasi, salah satunya Operasi Mapenduma di pegunungan Papua pada 1996. Operasi tersebut dilaksanakan untuk membebaskan para peneliti yang disandera oleh kelompok bersenjata. Penugasan di wilayah dengan medan berat itu menuntut koordinasi pasukan, perencanaan, serta pengambilan keputusan dalam situasi yang kompleks. Mapenduma kerap disebut dalam catatan perjalanan militernya karena menjadi salah satu operasi yang paling dikenal publik. Pengalaman tersebut turut menempatkannya sebagai figur yang lekat dengan Kopassus dan operasi militer di lapangan.

Di kalangan Kopassus, Prabowo dikenal dengan julukan “08”, yang berasal dari tradisi penyebutan nomor komandan di satuan tersebut. Julukan itu melekat selama kiprahnya di lingkungan pasukan khusus dan sering digunakan oleh para prajurit maupun dalam pemberitaan. Setelah bertugas di Kopassus, ia memasuki jenjang komando yang lebih luas. Pada 20 Maret 1998, Prabowo diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), salah satu jabatan penting dalam struktur TNI AD. Di lingkungan Kostrad, ia juga dikenal dengan julukan “Pandu”, yang berasal dari satuan tersebut. Kedua sebutan itu mencerminkan kedekatannya dengan lingkungan tempat ia bertugas. Peralihan dari Kopassus ke Kostrad menandai perubahan tanggung jawab, dari komando pasukan khusus menuju kepemimpinan atas komando strategis yang memiliki cakupan organisasi dan tugas lebih luas.

Setelah meninggalkan dunia militer, Prabowo Subianto mengarahkan perhatian pada politik dan membangun kendaraan politiknya sendiri. Pada 2008, ia membentuk Partai Gerakan Indonesia Raya, yang lebih dikenal sebagai Partai Gerindra. Kehadiran partai tersebut menjadi langkah penting dalam upayanya memasuki arena politik nasional secara lebih terorganisasi. Prabowo kemudian memimpin Gerindra sebagai ketua umum pada 2014. Di bawah kepemimpinannya, partai itu menjadi basis utama bagi pencalonan dan aktivitas politiknya, sekaligus memperluas keterlibatannya dalam pemilihan umum dan perdebatan publik.

Perjalanan Prabowo menuju kursi kepresidenan berlangsung melalui beberapa kali pemilihan. Ia maju sebagai calon wakil presiden pada 2009, kemudian menjadi calon presiden pada pemilihan 2014 dan 2019. Dalam dua pemilihan presiden tersebut, ia belum berhasil memperoleh jabatan yang dituju. Persaingan pada Pilpres 2019 berakhir dengan kemenangan Joko Widodo, yang kemudian memasuki masa jabatan keduanya sebagai Presiden Republik Indonesia. Meski sebelumnya menjadi rival politik, Prabowo menerima tawaran untuk bergabung dalam pemerintahan setelah pemilihan itu.

Pada Oktober 2019, Presiden ketujuh RI Joko Widodo mengangkat Prabowo sebagai Menteri Pertahanan. Penunjukan tersebut menandai babak baru dalam perjalanan politiknya: dari pesaing dalam pemilihan presiden menjadi anggota kabinet. Prabowo menjalankan jabatan itu hingga kembali mencalonkan diri dalam Pilpres 2024. Kali ini, ia berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden. Pasangan tersebut memperoleh sekitar 58 persen suara, berdasarkan hasil resmi pemilihan, dan ditetapkan sebagai pemenang untuk memimpin Indonesia pada periode berikutnya.

Prabowo dan Gibran dilantik.

Baca juga: Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan | TNI Dan Militer Negara Sahabat Bangun Sinergi Operasi Gabungan Melalui STAFFEX SGS 2026 | Staff TNI Dan Militer Negara Mitra Simulasikan Operasi Gabungan Dalam Super Garuda Shield 2026