Kabupaten Barito Kuala | Nurdin, seorang relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan, meninggal dunia setelah membantu upaya pemadaman kebakaran di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Peristiwa tersebut terjadi seusai ia bertugas di area kebakaran yang berada di belakang Kantor Kecamatan Handil Bakti. Rangkaian kejadian yang diketahui menunjukkan bahwa Nurdin sempat berada di lokasi untuk membantu mengendalikan api sebelum kondisinya memburuk.
Menurut keterangan rekannya, Amat, Nurdin dinilai dalam keadaan sehat sebelum berangkat menjalankan tugas. Tidak ada keluhan yang disebutkan saat ia bersiap membantu pemadaman. Namun, setelah berhadapan dengan api di lokasi, Nurdin mengeluhkan sakit pada bagian dada. Keluhan itu muncul setelah ia berada di tengah upaya pemadaman, ketika para relawan berupaya menangani kebakaran di area tersebut.
Informasi yang tersedia mencatat urutan kejadian dan gejala yang disampaikan Nurdin, tetapi tidak menetapkan penyebab medis kematiannya. Karena itu, keluhan sakit dada setelah bertugas tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan ia meninggal dunia. Penentuan penyebab memerlukan keterangan atau pemeriksaan medis yang dapat memastikan kondisi tersebut. Tanpa informasi semacam itu, hubungan aktivitas pemadaman dan kematiannya tidak dapat dipastikan hanya dari rangkaian peristiwa yang dilaporkan.
Keterangan Amat menjadi gambaran mengenai kondisi Nurdin sebelum dan setelah berada di lokasi kebakaran. Ia disebut tampak sehat sebelum berangkat, kemudian menyampaikan keluhan dada setelah membantu menghadapi api di belakang kantor kecamatan. Nurdin akhirnya meninggal dunia setelah kejadian itu. Rincian tersebut menggambarkan perubahan kondisi yang dialaminya, sekaligus pentingnya menyampaikan kronologi secara hati-hati agar gejala yang tercatat tidak diperlakukan sebagai diagnosis atau kepastian mengenai penyebab kematian.
Setelah Nurdin mengeluhkan nyeri dada ketika membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Barito Kuala, Amat dan rekan-rekannya berupaya memberikan pertolongan. Mereka meminta Nurdin berhenti beraktivitas dan beristirahat. Rekan-rekannya juga memberikan oksigen menggunakan tabung yang tersedia. Namun, meski telah diminta beristirahat dan diberi bantuan oksigen, Nurdin tetap mengalami kesulitan bernapas. Kondisinya yang belum membaik membuat mereka berusaha segera membawanya untuk mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Mereka menunggu ambulans, tetapi kendaraan tersebut belum tiba saat pertolongan perlu dilanjutkan.
Karena ambulans belum datang, Amat dan rekan-rekan memutuskan membawa Nurdin menggunakan mobil BPK menuju rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan, Nurdin berulang kali menyampaikan bahwa dadanya terasa sakit. Ia beberapa kali kehilangan kesadaran, kemudian tersadar kembali. Rekan-rekannya terus membawanya menuju rumah sakit, meski kondisinya mengalami perubahan selama perjalanan. Nurdin juga sempat mengalami kejang di dalam kendaraan. Peristiwa itu berlangsung ketika mereka sedang berupaya mencapai fasilitas kesehatan secepatnya, setelah langkah awal berupa istirahat dan pemberian oksigen tidak membuat kesulitan bernapasnya mereda.
Setibanya di rumah sakit, Nurdin dinyatakan tidak selamat. Keterangan mengenai upaya pertolongan tersebut disampaikan Amat pada Rabu, 21 Oktober, sebagaimana tercantum dalam sumber. Dalam penuturannya, rangkaian kejadian mencakup keluhan nyeri dada, bantuan oksigen, keputusan untuk menggunakan mobil BPK karena ambulans belum tiba, serta perubahan kondisi Nurdin di perjalanan. Rekan-rekannya telah berusaha membawanya ke rumah sakit terdekat, tetapi Nurdin tidak berhasil diselamatkan setelah tiba di sana. Kesaksian Amat menggambarkan langkah yang dilakukan sebelum dan selama perjalanan, tanpa mengubah kenyataan bahwa pertolongan medis tidak dapat menyelamatkan Nurdin.
Amat menggambarkan kondisi di lokasi pemadaman sebagai berat, terutama karena asap kebakaran sangat tebal. Menurut keterangan rekannya itu, asap memenuhi area tempat para relawan berupaya membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Barito Kuala. Situasi tersebut membuat pekerjaan di lapangan berlangsung dalam lingkungan dengan jarak pandang dan udara yang dipengaruhi kepulan asap. Amat juga menyebut perlengkapan yang dikenakan Nurdin saat berada di lokasi: ia hanya memakai masker biasa yang tipis. Keterangan mengenai asap dan masker itu merupakan gambaran Amat tentang keadaan yang mereka hadapi, bukan penetapan mengenai penyebab Nurdin meninggal dunia.
Dalam penuturannya, perbedaan tebalnya asap dan tipisnya masker menjadi bagian yang ia ingat dari kegiatan pemadaman tersebut. Ia menyampaikan keadaan itu sebagai pengalaman yang terlihat dan dirasakan di area kerja. Namun, informasi tentang kondisi lokasi tidak dengan sendirinya menjelaskan hubungan sebab-akibat dengan wafatnya Nurdin. Karena itu, keterangan Amat perlu dipahami sebatas uraian tentang situasi ketika bantuan pemadaman dilakukan. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan penyebab kematian hanya dari gambaran mengenai asap atau jenis masker yang dipakai.
Amat juga mengungkapkan keterkejutannya atas meninggalnya Nurdin. Kepergian rekannya itu menjadi kabar yang mengejutkan bagi dirinya, terlebih setelah mereka berada dalam kegiatan yang sama untuk membantu penanganan kebakaran. Sikap terkejut tersebut menunjukkan kehilangan yang dirasakan Amat, tanpa mengubah keterangannya mengenai keadaan lokasi menjadi dugaan tentang apa yang menyebabkan kematian. Ia menyampaikan kondisi asap yang sangat tebal dan masker Nurdin yang tipis sebagai bagian dari ingatannya tentang peristiwa itu. Dengan demikian, laporan mengenai pengalaman Amat tetap berfokus pada situasi pemadaman serta responsnya terhadap kabar duka, sementara penyebab wafatnya Nurdin tidak dipastikan melalui keterangan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Barito Kuala menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Nurdin, relawan yang meninggal setelah membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Bupati Barito Kuala, Bahrul Ilmi, menyatakan pemerintah daerah turut berduka atas kehilangan yang dialami keluarga. Ia juga menyampaikan kesiapan pemkab untuk memberikan dukungan kepada keluarga Nurdin, terutama dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal, pekerjaan, dan pendidikan anak-anaknya.
Bahrul mengatakan pemkab bersedia membangun rumah bagi keluarga tersebut apabila mereka bersedia pindah dan menetap di Barito Kuala. Tawaran itu disampaikan sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah kepada keluarga Nurdin setelah peristiwa tersebut. Namun, keputusan untuk pindah tetap berada di tangan keluarga. Saat ini, keluarga Nurdin tinggal di Banjarmasin, sehingga rencana tersebut masih memerlukan pertimbangan dari pihak keluarga sebelum dapat ditindaklanjuti.
Selain bantuan tempat tinggal, pemerintah daerah menawarkan untuk membantu menyediakan pekerjaan bagi Sarini, istri Nurdin. Pemkab juga ingin meringankan beban pendidikan ketiga anak mereka dengan membantu agar anak-anak itu dapat melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat Barito Kuala. Dukungan tersebut ditujukan agar keluarga memiliki pilihan untuk melanjutkan kehidupan setelah kehilangan Nurdin. Meski demikian, seluruh tawaran itu masih berupa kesediaan pemerintah daerah dan belum berarti telah diterima atau disepakati oleh keluarga.
Sarini disebut belum mengambil keputusan mengenai tawaran tersebut karena masih merasa bingung. Pemerintah daerah menyatakan memahami bahwa keluarga membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan berbagai pilihan di tengah suasana duka. Tidak ada kepastian mengenai langkah selanjutnya sebelum keluarga menyampaikan keputusan mereka. Bahrul menyampaikan bahwa perhatian terhadap keluarga Nurdin dapat dibicarakan lebih lanjut sesuai kebutuhan serta kesiapan pihak keluarga.
Dalam kesempatan itu, Bahrul juga mengingatkan para relawan agar memperhatikan kesehatan dan keselamatan saat bertugas menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Asap tebal di lokasi dapat membahayakan kondisi tubuh, sehingga relawan perlu menjaga diri ketika membantu pemadaman. Ia berharap para petugas dan relawan tetap terhadap dampak asap serta tidak mengabaikan kondisi kesehatan selama menjalankan tugas kemanusiaan.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla





