Riset BeHousing Soroti Kerentanan Warga Berpenghasilan Rendah terhadap Panas Perkotaan

Riset BeHousing Soroti Kerentanan Warga Berpenghasilan Rendah terhadap Panas Perkotaan

Kota Kita Foundation | Riset BeHousing menunjukkan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan perkotaan tidak tinggal diam menghadapi suhu yang semakin panas. Warga telah menyesuaikan kegiatan sehari-hari, misalnya dengan mengubah waktu atau cara melakukan aktivitas, sekaligus berupaya membuat tempat tinggal lebih nyaman. Sejumlah rumah tangga melakukan perubahan pada hunian agar dapat mengurangi paparan panas dan membantu menjaga kenyamanan di dalam rumah. Temuan ini memperlihatkan adanya pengetahuan dan inisiatif warga dalam merespons kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Namun, kemampuan untuk mengambil langkah tersebut tidak merata. Bentuk adaptasi yang dapat dilakukan sering kali bergantung pada sumber daya, pilihan, serta keadaan masing-masing individu dan keluarga.

Ketergantungan pada upaya rumah tangga menjadi penting karena panas perkotaan bukan sekadar persoalan kenyamanan pribadi. Kondisi hunian, lingkungan sekitar, dan kemampuan untuk membiayai perubahan dapat menentukan seberapa jauh warga mampu melindungi diri. Keluarga yang memiliki pilihan terbatas mungkin sulit mengubah rumah atau menerapkan langkah yang lebih efektif, meskipun kebutuhan untuk mengurangi dampak panas sama mendesaknya. Akses terhadap hunian yang nyaman masih menjadi kendala, sementara pembiayaan untuk melakukan adaptasi juga tidak selalu tersedia. Akibatnya, tindakan yang dilakukan warga dapat membantu menghadapi panas sehari-hari, tetapi belum tentu mampu mengatasi kerentanan yang lebih luas atau memberikan perlindungan yang memadai dalam jangka panjang.

Riset tersebut dengan demikian menyoroti batas pendekatan yang hanya mengandalkan daya upaya individu. Ketika perlindungan terutama ditentukan oleh kemampuan keluarga untuk menyesuaikan aktivitas dan memperbaiki tempat tinggal, rumah tangga berpenghasilan rendah menanggung beban yang besar. Dukungan yang lebih luas diperlukan agar upaya menghadapi panas tidak menjadi tanggung jawab warga semata. Sumber yang dirangkum juga mencatat bahwa perlindungan kebijakan belum memadai, sehingga kebutuhan kelompok rentan belum sepenuhnya ditopang oleh kerangka perlindungan yang kuat. Perhatian terhadap akses hunian layak dan nyaman, tersedianya pembiayaan adaptasi, serta kebijakan yang melindungi warga dapat membantu mengurangi kesenjangan kemampuan untuk merespons panas. Tanpa dukungan tersebut, keberhasilan adaptasi akan terus bergantung pada kapasitas rumah tangga, padahal kapasitas itu berbeda-beda dan sering kali terbatas.

Kekhawatiran terhadap panas perkotaan semakin besar ketika Indonesia menghadapi kemarau panjang. Suhu tinggi bukan hanya membuat aktivitas harian terasa lebih berat, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi warga yang bekerja atau tinggal di lingkungan dengan perlindungan terbatas. Di Jakarta, paparan panas dapat berbeda antarwilayah, bergantung pada kepadatan bangunan, kondisi jalan, pepohonan, dan akses terhadap ruang teduh. Karena itu, suhu yang tercatat sebagai angka harian tidak selalu menggambarkan sepenuhnya panas yang dirasakan warga di permukaan kota.

Data yang dikutip dalam riset BeHousing menunjukkan bahwa suhu harian di salah satu lokasi penelitian di Jakarta dapat terasa melebihi 40°C saat puncak kemarau panjang pada Oktober 2026. Angka tersebut menggambarkan beratnya paparan panas di lingkungan perkotaan, khususnya bagi kelompok berpenghasilan rendah yang mungkin memiliki pilihan terbatas untuk menghindari panas atau mendinginkan tempat tinggal. Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menunjukkan bahwa kondisi panas di Jakarta meningkat selama beberapa dekade terakhir. Perubahan ini menjadikan panas ekstrem sebagai persoalan yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kota, bukan sekadar ketidaknyamanan musiman.

Salah satu faktor yang memperkuat paparan tersebut adalah fenomena pulau panas perkotaan atau urban heat island. Beton, aspal, dan kaca pada bangunan maupun jalan menyerap serta menyimpan panas pada siang hari, kemudian melepaskannya secara perlahan. Akibatnya, lingkungan dapat tetap terasa menyengat hingga malam, ketika suhu seharusnya mulai turun. Susunan gedung yang tinggi dan rapat juga menghambat aliran angin, sehingga udara panas lebih sulit tersebar dan sirkulasi menjadi terbatas. Pada saat yang sama, ruang terbuka hijau yang belum memadai mengurangi ketersediaan naungan dan pendinginan alami dari vegetasi. Kombinasi permukaan yang menyimpan panas, pergerakan udara yang terhalang, dan minimnya pepohonan membuat sebagian kawasan lebih rentan mengalami suhu tinggi. Dampaknya tidak tersebar merata: penduduk yang tinggal di hunian padat dan minim ventilasi dapat menghadapi paparan lebih lama, sementara pilihan untuk berlindung atau mengakses ruang sejuk mungkin terbatas. Kondisi ini mempertegas perlunya memahami karakter lingkungan setempat saat menilai risiko panas perkotaan.

Di kawasan perkotaan yang padat, paparan panas tidak dirasakan secara merata. Warga berpenghasilan rendah yang tinggal di permukiman dengan kepadatan tinggi dapat menghadapi risiko lebih besar, terutama ketika rumah tidak mampu melindungi penghuni dari suhu panas. Kondisi hunian turut menentukan seberapa jauh panas di luar memengaruhi kehidupan di dalam rumah. Karena itu, persoalan panas perkotaan berkaitan erat dengan kualitas tempat tinggal dan kerentanan sosial ekonomi penghuninya.

Bangunan dengan sirkulasi udara yang tidak memadai dapat membuat udara panas lebih sulit berganti dan mengurangi kenyamanan di dalam hunian. Penggunaan atap seng juga dapat memerangkap panas, sehingga rumah terasa lebih panas ketika suhu lingkungan meningkat. Bagi keluarga berpenghasilan rendah di kawasan padat, pilihan untuk memperbaiki kondisi bangunan mungkin terbatas. Akibatnya, penghuni dapat memiliki lebih sedikit perlindungan dari panas dalam keseharian mereka dibandingkan warga yang tinggal di hunian dengan kondisi lebih mendukung.

Dampak panas dapat menjalar ke kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Risiko kesehatan menjadi perhatian karena warga menghadapi paparan panas di lingkungan tempat mereka tinggal, sementara kualitas bangunan dapat membatasi kemampuan rumah untuk menjadi ruang yang lebih nyaman. Dari sisi ekonomi, kondisi ini menambah beban bagi kelompok yang sumber dayanya terbatas dan yang memiliki keterbatasan untuk mengubah hunian. Dalam kehidupan sosial, panas dapat memengaruhi keseharian penghuni di permukiman padat. Ketiga ranah tersebut saling berkaitan: kerentanan hunian memperbesar paparan, sedangkan keterbatasan ekonomi dapat menyulitkan upaya mengurangi paparan. Dengan demikian, perhatian terhadap panas perkotaan perlu mempertimbangkan kualitas bangunan dan keadaan warga yang paling rentan, bukan hanya suhu lingkungan. Sirkulasi udara dan bahan atap merupakan unsur penting dalam menilai apakah hunian memberi perlindungan memadai. Ketika unsur tersebut kurang mendukung, beban panas lebih mungkin dirasakan di dalam rumah dan berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan penghuni. Risiko ini menunjukkan bahwa kerentanan terhadap panas tidak terpisah dari kondisi tempat tinggal maupun kemampuan rumah tangga untuk menghadapi keadaan tersebut.

Riset BeHousing mengkaji kerentanan warga berpenghasilan rendah terhadap panas perkotaan melalui kolaborasi lintas organisasi dan disiplin. Penelitian ini dilaksanakan oleh konsorsium BeHousing yang dipimpin Rujak Center for Urban Studies, bersama Kota Kita Foundation, Arkom Indonesia, serta Institut Alam dan Tamadun Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia. Kemitraan tersebut mempertemukan perspektif kajian perkotaan, komunitas, arsitektur, dan lingkungan untuk memahami bagaimana panas memengaruhi kehidupan sehari-hari di kawasan hunian.

Studi mencakup empat lokasi, yakni Jakarta, Semarang, dan Surabaya di Indonesia, serta Selangor di Malaysia. Pemilihan lokasi di dua negara memungkinkan penelitian melihat persoalan panas perkotaan dalam konteks tempat yang berbeda, sekaligus memberi perhatian pada pengalaman kelompok yang menghadapi keterbatasan sumber daya. Dengan menempatkan warga berpenghasilan rendah sebagai perhatian utama, riset ini tidak hanya membahas suhu atau kondisi fisik lingkungan, tetapi juga menelaah faktor yang membentuk kemampuan rumah tangga menghadapi tekanan panas.

Fokus penelitian mencakup hubungan tipologi hunian, kondisi sosial-ekonomi, tata kelola, dan kapasitas warga untuk beradaptasi.

Baca juga: Panen Padi Bersama Petani, Babinsa Perkuat Dukungan Terhadap Ketahanan Pangan | Surat Kuasa Bukan Mandat Tanpa Batas: DAF & Partners Resmi Akhiri Kuasa terhadap AD