Jakarta | PT Pertamina Patra Niaga, PT Len Industri, dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatukan langkah untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia melalui Program Motor Listrik Nasional (Molinas). Kesepakatan ini menandai kerja sama tiga badan usaha milik negara dalam menyiapkan dukungan yang dibutuhkan agar penggunaan motor listrik dapat tumbuh, tidak hanya dari sisi kendaraan, tetapi juga ketersediaan layanan energi. Nota kesepahaman ditandatangani oleh para direksi ketiga perusahaan di Jakarta pada Selasa (27/10/2026), dengan disaksikan jajaran pimpinan Danantara Indonesia.
Ruang lingkup kerja sama mencakup pengembangan infrastruktur pengisian daya atau charging serta fasilitas penukaran baterai atau swapping untuk motor listrik. Kedua jenis layanan tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun pengalaman penggunaan yang lebih praktis. Pengisian daya memungkinkan baterai diisi kembali di titik yang tersedia, sedangkan penukaran baterai memberi pilihan bagi pengguna untuk mengganti baterai yang telah habis dengan baterai terisi. Pengembangan keduanya dapat membantu menjawab kebutuhan pengguna dengan pola perjalanan dan kondisi operasional yang beragam.
Melalui Molinas, ketiga BUMN diharapkan dapat menyelaraskan peran dan kapasitas masing-masing dalam mendukung penyediaan layanan tersebut. Kolaborasi lintas perusahaan juga membuka ruang untuk merancang infrastruktur secara lebih terintegrasi, sehingga titik pengisian dan penukaran baterai dapat dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan pengguna serta kesiapan ekosistem. Kesepahaman ini menjadi landasan awal untuk pembahasan dan pelaksanaan langkah-langkah berikutnya. Implementasinya akan bergantung pada pengaturan teknis, kesiapan fasilitas, dan koordinasi antarpihak. Dengan menjadikan charging dan swapping sebagai fokus, kerja sama ini menempatkan infrastruktur pendukung sebagai salah satu unsur utama dalam pengembangan motor listrik nasional, sekaligus memperkuat upaya mendorong mobilitas yang lebih elektris di Indonesia.
Direktur Pemasaran Retail Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky, menilai pengembangan fasilitas pengisian dan penukaran baterai sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik. Infrastruktur tersebut dibutuhkan agar pengguna motor listrik dapat mengisi daya atau mengganti baterai dengan lebih praktis, sesuai kebutuhan perjalanan mereka. Karena transportasi roda dua digunakan secara luas untuk mobilitas harian, ketersediaan layanan yang mudah dijangkau dapat membantu menjadikan kendaraan listrik pilihan yang lebih relevan bagi masyarakat. Fasilitas yang memadai juga dapat memperkuat kepercayaan calon pengguna terhadap keandalan operasional motor listrik.
Menurut Eko, transisi menuju kendaraan listrik tidak cukup hanya mengandalkan penyediaan kendaraan. Perubahan tersebut perlu ditopang ekosistem energi yang andal, mudah diakses, dan tersebar merata. Artinya, pengguna memerlukan dukungan layanan yang berfungsi baik di lokasi-lokasi strategis, bukan hanya produk kendaraan yang tersedia di pasar. Pengembangan tempat pengisian dan penukaran baterai menjadi salah satu cara untuk menjawab kebutuhan itu. Jika aksesnya semakin luas dan layanan berjalan konsisten, kendala terkait pengisian daya dapat berkurang, sehingga penggunaan motor listrik berpotensi meningkat dalam aktivitas sehari-hari.
Ketersediaan infrastruktur juga memiliki kaitan dengan upaya mengurangi emisi dari sektor transportasi. Dengan mendorong peralihan sebagian perjalanan menggunakan motor listrik, inisiatif ini diharapkan mendukung mobilitas yang lebih rendah emisi, sekaligus memperkuat langkah menuju sistem transportasi yang lebih berkelanjutan. Dampaknya bergantung pada sejumlah faktor, termasuk pemanfaatan kendaraan, mutu layanan, dan dukungan energi yang menyertainya. Karena itu, pembangunan fasilitas perlu dipandang sebagai bagian dari upaya jangka panjang, bukan sekadar penambahan titik layanan.
Kolaborasi tiga BUMN dalam pengembangan fasilitas tersebut sejalan dengan target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Sasaran itu memerlukan langkah lintas sektor, termasuk perubahan pada cara masyarakat bergerak dan tersedianya infrastruktur pendukung. Dalam pandangan Eko, ekosistem energi yang dapat diandalkan dan menjangkau lebih banyak pengguna merupakan fondasi penting bagi perluasan kendaraan listrik. Dengan dukungan fasilitas yang praktis dan merata, pemakaian motor listrik dapat tumbuh sekaligus berkontribusi pada agenda pengurangan emisi nasional.
Keterlibatan Pertamina Patra Niaga dalam pengembangan Molinas berfokus pada penyediaan infrastruktur hilir yang dapat menjangkau pengguna kendaraan listrik dalam kegiatan sehari-hari. Perusahaan memiliki jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan titik ritel strategis di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan tersebut menjadi modal untuk menghubungkan layanan energi konvensional dengan fasilitas pengisian daya maupun penukaran baterai. Dengan demikian, infrastruktur kendaraan listrik dapat hadir di lokasi yang telah dikenal masyarakat dan mudah dijangkau.
Pengembangan Green Energy Station (GES) merupakan bagian dari upaya Pertamina Patra Niaga untuk mendukung kebutuhan energi yang lebih ramah lingkungan sekaligus menopang ekosistem Molinas. GES dirancang sebagai SPBU yang menyediakan fasilitas dan layanan energi baru, termasuk dukungan bagi kendaraan listrik. Hingga saat ini, sebanyak 837 SPBU telah dikembangkan menjadi GES di berbagai daerah. Perluasan ini memberi landasan bagi integrasi layanan kendaraan listrik dengan jaringan ritel perusahaan, sehingga pengguna dapat menemukan fasilitas pendukung di lebih banyak lokasi, tidak hanya di pusat kota.
Data yang disampaikan menunjukkan bahwa SPBU Pertamina telah dilengkapi 112 unit EV charging station dan 122 unit battery swapping station. Kedua jenis fasilitas tersebut melayani kebutuhan kendaraan listrik, termasuk motor listrik, dengan pendekatan berbeda: pengisian daya langsung dan penukaran baterai. Ketersediaan opsi ini penting karena kebutuhan pengguna dapat berbeda menurut jenis kendaraan, pola perjalanan, serta waktu yang diperlukan untuk mengisi energi. Jaringan yang terhubung dengan lokasi SPBU juga berpotensi membuat layanan lebih praktis bagi masyarakat. Menurut Eko, transformasi SPBU melalui penambahan fasilitas pengisian dan penukaran baterai memperlihatkan kesiapan perusahaan dalam menghadirkan ekosistem energi masa depan yang andal dan mudah diakses. Peran Pertamina Patra Niaga, karena itu, tidak terbatas pada penyediaan titik layanan, tetapi juga mencakup pengembangan jaringan hilir yang mendukung penggunaan kendaraan listrik secara lebih luas. Melalui GES, charging station, dan swapping station, perusahaan menyiapkan infrastruktur yang dapat memperkuat keterhubungan kendaraan, layanan energi, dan kebutuhan mobilitas masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari dukungan operasional bagi Molinas dan perkembangan motor listrik di Indonesia.
Sinergi tiga badan usaha milik negara dalam pembangunan fasilitas motor listrik diharapkan menjadi langkah penting untuk mempercepat kemandirian industri kendaraan listrik dalam negeri. Kerja sama ini dapat menyatukan kapasitas dan peran masing-masing perusahaan, sehingga pengembangan tidak hanya berfokus pada perakitan produk, tetapi juga memperkuat mata rantai industri yang diperlukan. Dengan dukungan yang terkoordinasi, Indonesia berpeluang membangun kemampuan produksi yang lebih kokoh dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar negeri. Upaya tersebut sekaligus mendukung target pemerintah untuk menurunkan emisi karbon dari sektor transportasi secara berkelanjutan. Peralihan menuju kendaraan listrik perlu disertai kesiapan industri, layanan, serta infrastruktur pendukung agar manfaatnya dapat berkembang dalam jangka panjang.
Molinas ditempatkan sebagai inisiatif strategis nasional untuk membangun kemandirian industri kendaraan listrik roda dua di Indonesia. Inisiatif ini diresmikan pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan mencakup penguatan berbagai unsur dalam ekosistem, mulai dari komponen lokal dan kegiatan manufaktur hingga baterai serta layanan purnajual. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan motor listrik tidak berhenti pada tersedianya kendaraan, tetapi juga membutuhkan kemampuan domestik untuk mendukung proses produksi dan kebutuhan pengguna setelah pembelian. Penguatan komponen lokal dapat membuka ruang lebih besar bagi industri dalam negeri, sementara kapasitas manufaktur dan baterai menjadi bagian penting dari kesiapan produksi. Pada saat yang sama, layanan purnajual diperlukan agar penggunaan kendaraan listrik dapat didukung secara memadai.
Baca juga: Bukan Sekadar Jalan Santai, 10 Ribu Peserta Satukan Langkah di HUT TNI | Encap SGS 2026 Buktikan Komitmen Tni Bersama Negara Bangun Fasilitas Pendidikan Untuk Masyarakat Di Martapura | Jelang HUT TNI ke-81, Satgas Habema Yonif 2 Marinir Tuntaskan Pembersihan Fasilitas Publik Langan Karel Gobay di Hari Kedua






