MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Kualitas udara di Kota Makassar dan sejumlah wilayah sekitarnya dilaporkan memburuk dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk menyiapkan langkah perlindungan bagi masyarakat, khususnya mereka yang harus beraktivitas di ruang terbuka. Penurunan kualitas udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan bahwa pemerintah berencana menerbitkan surat edaran mengenai penggunaan masker. Edaran itu akan ditujukan terutama kepada masyarakat yang melakukan kegiatan di luar ruangan, sebagai upaya mengurangi paparan partikel atau polutan yang berpotensi mengganggu kesehatan. Penggunaan masker dipandang sebagai salah satu langkah pencegahan yang dapat diterapkan sembari pemerintah memantau perkembangan kondisi udara.
Meski demikian, penerapan imbauan atau kewajiban penggunaan masker belum langsung ditetapkan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan masih melakukan analisis dan pendataan untuk mengetahui tingkat bahaya kualitas udara di Makassar serta wilayah sekitarnya. Data tersebut diperlukan agar kebijakan yang dikeluarkan memiliki dasar yang jelas dan sesuai dengan tingkat risiko yang dihadapi masyarakat.
Hasil analisis nantinya akan menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk surat edaran, termasuk apakah penggunaan masker cukup disampaikan sebagai imbauan atau perlu diberlakukan sebagai kewajiban dalam situasi tertentu. Pernyataan gubernur menegaskan bahwa ketentuan tersebut berfokus pada warga yang berada di luar ruangan, sementara pemerintah terus mengumpulkan informasi untuk memastikan langkah yang diambil tepat dan proporsional.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan perlindungan diri ketika melakukan kegiatan di luar ruangan. Menurutnya, penggunaan masker atau perlindungan sejenis penting dipertimbangkan, terutama saat warga harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang belum sepenuhnya baik.
Munafri, yang juga dikenal dengan sapaan Appi, menyampaikan bahwa kualitas udara yang kurang baik dapat meningkatkan paparan terhadap berbagai partikel di lingkungan. Karena itu, masyarakat perlu mengurangi kemungkinan udara tersebut langsung terhirup dalam jumlah besar saat berada di ruang terbuka. Perlindungan sederhana, seperti mengenakan masker, dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu membatasi paparan.
Imbauan tersebut ditujukan kepada warga yang tetap harus bekerja, bepergian, berolahraga, atau menjalankan kegiatan lain di luar rumah. Masyarakat diharapkan memperhatikan kondisi tubuh dan lingkungan sekitar sebelum beraktivitas. Apabila kualitas udara masih menunjukkan kondisi yang kurang baik, penggunaan perlindungan pernapasan dapat dipilih sebagai bentuk kehati-hatian.
Alasan utama yang disampaikan Munafri adalah perlunya mengurangi dampak langsung paparan udara terhadap kesehatan. Udara yang tercemar atau memiliki kualitas rendah berpotensi mengganggu kenyamanan pernapasan, khususnya bagi orang yang sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Dengan mengurangi paparan, risiko gangguan akibat udara yang dihirup diharapkan tidak semakin besar.
Warga juga diminta tidak mengabaikan kondisi udara ketika merencanakan aktivitas luar ruangan. Kesadaran untuk melindungi diri menjadi penting selama kualitas udara belum kembali membaik. Penggunaan masker atau perlindungan sejenis dapat dilakukan sesuai kebutuhan, sehingga masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas dengan perhatian lebih terhadap kesehatan pernapasan.
Pemerintah Kota Makassar mempertimbangkan langkah lanjutan apabila kondisi udara di wilayah tersebut belum menunjukkan perbaikan. Evaluasi akan dilakukan dengan melihat perkembangan kualitas udara serta situasi di lapangan. Jika udara tetap kurang baik, pemerintah berpeluang menerbitkan imbauan atau edaran yang lebih maksimal agar masyarakat memperoleh arahan yang lebih jelas mengenai upaya perlindungan diri.
Langkah tersebut dapat mencakup penguatan penyampaian informasi kepada warga, khususnya mengenai pentingnya mengurangi paparan udara luar ketika kondisinya memburuk. Penggunaan masker juga dapat kembali ditekankan sebagai salah satu bentuk kewaspadaan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan. Namun, bentuk dan cakupan kebijakan akan tetap disesuaikan dengan hasil pemantauan serta kebutuhan masyarakat.
Munafri menjelaskan bahwa kondisi udara yang sangat kering menjadi hal yang mengganggu dan perlu segera diintervensi. Udara kering, terlebih apabila berlangsung dalam waktu tertentu, dinilai dapat meningkatkan ketidaknyamanan bagi warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan respons yang proporsional sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang dapat dijadikan dasar untuk meningkatkan kewaspadaan.
Perhatian juga diarahkan pada kemungkinan dampak yang lebih parah, terutama kekhawatiran terhadap gangguan atau penyakit pada saluran pernapasan. Pernyataan tersebut bukan berarti memastikan bahwa kondisi udara telah menyebabkan penyakit tertentu, melainkan menjadi alasan untuk memperkuat langkah pencegahan. Masyarakat diharapkan memperhatikan kondisi tubuh, membatasi aktivitas yang tidak mendesak di luar ruangan, serta menggunakan perlindungan yang sesuai. Dengan pemantauan berkelanjutan dan edaran yang lebih efektif bila diperlukan, pemerintah berupaya menekan risiko sambil menunggu kualitas udara kembali membaik.
BMKG Wilayah IV Makassar menjelaskan bahwa penurunan kualitas udara di Sulawesi Selatan dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan. Asap tersebut terbawa oleh pergerakan angin hingga memasuki wilayah Sulawesi Selatan, sehingga sejumlah daerah mengalami peningkatan konsentrasi partikel halus di udara. Kondisi ini menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil dapat terpantau melalui indikator PM2,5.
Prakirawan BMKG Makassar, Asriani Idrus, menyampaikan bahwa indikator PM2,5 di Maros, wilayah sekitarnya, dan Makassar berada dalam kategori kurang sehat hingga sedang. Kategori tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara belum berada pada kondisi terbaik, terutama bagi kelompok yang lebih sensitif terhadap paparan udara dengan konsentrasi partikel tinggi. Pemantauan tetap dilakukan untuk melihat perubahan kondisi dari waktu ke waktu.
Pola harian turut memengaruhi tingkat kualitas udara. Berdasarkan keterangan BMKG, kondisi cenderung memburuk pada tengah malam hingga pagi atau dini hari. Pada periode tersebut, asap dan partikel dapat lebih terkonsentrasi di dekat permukaan. Kualitas udara biasanya mulai membaik ketika memasuki siang hingga sore, seiring perubahan kondisi atmosfer dan pergerakan angin.
Arah angin juga memberikan petunjuk mengenai kemungkinan asal asap yang terbawa ke Sulawesi Selatan. Apabila angin bergerak dari barat hingga barat laut, terdapat potensi asap dari Kalimantan masuk ke wilayah ini. Sementara itu, angin yang dominan dari timur membuka peluang masuknya asap karhutla dari Papua dan Maluku. Karena arah angin dapat berubah, kondisi kualitas udara di Makassar, Maros, dan wilayah sekitar perlu dipantau secara berkala mengikuti pembaruan informasi BMKG.







