TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Pemegang saham PT Garuda Indonesia Tbk menetapkan perubahan susunan pimpinan perusahaan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 8 Oktober. Dalam keputusan tersebut, Thomas Sugiarto Oentoro ditetapkan sebagai direktur utama, menggantikan Glenny H. Kairupan yang sebelumnya menduduki posisi tersebut. Perubahan ini menjadi bagian dari penataan kepemimpinan Garuda Indonesia untuk mendukung agenda pemulihan dan penguatan kinerja perusahaan.
Pada waktu yang sama, Glenny H. Kairupan melanjutkan mandat di jajaran manajemen sebagai komisaris utama, menggantikan Fadjar Prasetyo. Penempatan tersebut mencerminkan adanya penyesuaian peran dalam struktur perusahaan, sekaligus menjaga kesinambungan pengawasan terhadap pelaksanaan strategi bisnis. Keputusan pemegang saham diharapkan dapat memperjelas pembagian tanggung jawab fungsi pengelolaan dan pengawasan perusahaan.
Perombakan pengurus dilakukan ketika Garuda Indonesia berupaya mempertahankan momentum perbaikan kinerja. Perusahaan mencatat sejumlah perkembangan positif yang dikaitkan dengan pertumbuhan pendapatan, pemulihan armada, serta berkurangnya kerugian. Perbaikan pada aspek-aspek tersebut menjadi dasar penting bagi perusahaan untuk melanjutkan pemulihan bisnis dan memperkuat daya saing di tengah dinamika industri penerbangan yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Manajemen juga menaruh perhatian pada kesinambungan transformasi agar perkembangan operasional tidak berjalan terpisah dari penguatan kondisi keuangan. Pemulihan armada perlu diiringi dengan peningkatan efisiensi, pengelolaan biaya, dan penguatan kualitas layanan. Melalui susunan pimpinan yang baru, Garuda Indonesia diharapkan mampu menjaga konsistensi pelaksanaan strategi, mempercepat pembenahan operasional, serta memastikan setiap langkah pemulihan memberikan dampak yang berkelanjutan terhadap kesehatan perusahaan.
Pengalaman Thomas Sugiarto Oentoro di bidang pengawasan, investasi, dan risiko menjadi bagian dari rekam jejak yang mendukung penugasannya di Garuda Indonesia. Maskapai ini beroperasi dalam industri yang membutuhkan modal besar, sehingga keputusan mengenai keuangan, operasional, dan komersial perlu dipertimbangkan secara selaras. Latar belakang Thomas mencakup pengalaman di lingkungan perusahaan, lembaga investasi, serta fungsi manajemen risiko yang relevan dengan kebutuhan tersebut.
Sebelum menjadi wakil direktur utama, Thomas pernah menjabat komisaris independen Garuda Indonesia pada 2023–2024. Dalam posisi itu, ia memiliki pengalaman menjalankan fungsi pengawasan dan memahami proses pembenahan yang berlangsung di perusahaan. Peran tersebut juga memberinya pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi maskapai, termasuk kebutuhan untuk menjaga kesinambungan pengelolaan perusahaan ketika Garuda melakukan pemulihan armada dan mengembangkan jaringan penerbangan.
Setelah itu, Thomas menjabat chief risk officer di Indonesia Investment Authority pada 2024–2025. Pengalaman tersebut berkaitan dengan identifikasi, pengukuran, dan pengelolaan risiko dalam keputusan investasi. Sebelumnya, ia berkarier sebagai vice president pada mezzanine capital unit di OCBC dan kemudian sebagai managing director di KV Asia Capital. Rangkaian jabatan ini memberinya pengalaman dalam pembiayaan, penanaman modal, serta penilaian terhadap risiko dan prospek usaha.
Thomas juga memiliki latar belakang pendidikan di bidang keuangan dari NYU Stern School of Business dan meraih gelar MBA dari University of Chicago Booth School of Business. Kombinasi pengalaman pengawasan di Garuda Indonesia, pengelolaan risiko di Indonesia Investment Authority, serta karier di sektor perbankan dan investasi menjadi dasar profesional yang berkaitan dengan tugas barunya. Dalam konteks pemulihan armada dan pengembangan jaringan, pengalaman tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk menyelaraskan keputusan pendanaan, kesiapan operasional, dan arah komersial perusahaan secara terpadu.
Penguatan jajaran direksi Garuda Indonesia turut ditandai dengan penunjukan Alan McIntyre sebagai direktur komersial. Penempatan tersebut berlangsung dalam rangkaian perombakan pengurus yang juga mencakup pergantian direktur utama, Thomas Sugiarto Oentoro. Kehadiran McIntyre diharapkan menambah perspektif internasional serta memperkuat kapasitas perusahaan dalam mengelola aspek komersial pada tengah persaingan industri penerbangan yang semakin dinamis.
Alan McIntyre memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan strategi dan pengelolaan bisnis penerbangan. Ia pernah menjabat sebagai executive manager strategy di Qantas Group, salah satu kelompok usaha penerbangan besar di Australia. Dalam posisi tersebut, ia terlibat dalam perumusan arah strategis, evaluasi peluang pertumbuhan, serta pengembangan pendekatan bisnis yang mendukung kinerja jaringan penerbangan.
Selain pengalaman di Qantas Group, McIntyre juga pernah memegang jabatan chief customer and commercial officer di Jetstar. Peran itu berkaitan erat dengan pengelolaan pendapatan, pengembangan produk dan layanan, strategi pemasaran, serta peningkatan pengalaman pelanggan. Rekam jejak tersebut memberikan dasar yang relevan bagi tugasnya di Garuda Indonesia, terutama ketika maskapai perlu menyelaraskan kebutuhan penumpang dengan sasaran pertumbuhan pendapatan.
Penunjukan McIntyre dipandang berkaitan dengan kebutuhan Garuda Indonesia untuk memperkuat strategi jaringan dan menentukan prioritas rute secara lebih terukur. Pengalaman dalam mengelola fungsi komersial dapat mendukung perusahaan ketika menilai permintaan pasar, mengoptimalkan kapasitas, serta menyusun penawaran yang sesuai dengan karakteristik setiap segmen pelanggan. Pendekatan berbasis data juga diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan menjaga daya saing di tengah perubahan pola perjalanan.
Di sisi lain, perhatian terhadap pengalaman pelanggan menjadi bagian penting dari mandat direktur komersial. Garuda Indonesia perlu memastikan kualitas layanan tetap konsisten, baik pada tahap pemesanan, perjalanan, maupun layanan setelah penerbangan. Dengan latar belakang tersebut, Alan diharapkan dapat berkontribusi dalam menghubungkan strategi jaringan, pengelolaan pendapatan, dan peningkatan layanan sebagai bagian dari agenda pengurus baru.
Perombakan pengurus Garuda Indonesia turut mencakup penunjukan Jaan Albrecht dan Trey Urbahn sebagai komisaris independen. Kehadiran keduanya menambah perspektif profesional yang berasal dari pengalaman panjang di industri penerbangan internasional. Penunjukan ini mencerminkan upaya perusahaan untuk memperkuat fungsi pengawasan serta memperluas pertimbangan strategis dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis penerbangan yang semakin kompleks dan kompetitif.
Jaan Albrecht dikenal memiliki pengalaman kepemimpinan di sejumlah perusahaan dan aliansi penerbangan besar. Ia pernah menjabat sebagai CEO Saudia Airlines dan Austrian Airlines, serta memiliki pengalaman memimpin Star Alliance. Rekam jejak tersebut memberikan pemahaman mengenai pengelolaan maskapai, pengembangan jaringan penerbangan, hubungan dengan mitra strategis, dan koordinasi dalam ekosistem aliansi global. Pengalaman di berbagai organisasi dengan skala dan karakter pasar berbeda dapat menjadi bekal penting dalam menilai arah pengembangan Garuda Indonesia.
Sementara itu, Trey Urbahn memiliki pengalaman sebagai penasihat dan dalam fungsi pengawasan di sejumlah perusahaan penerbangan. Keterlibatannya mencakup perusahaan seperti Spirit Airlines, Etihad Airways, dan TAP Air Portugal. Pengalaman tersebut berkaitan dengan pemahaman terhadap tata kelola, strategi korporasi, serta dinamika operasional maskapai di berbagai wilayah. Sebagaimana dinyatakan dalam sumber, keterlibatan profesional internasional Jaan dan Trey ditujukan untuk memperkuat kompetensi dalam menjalankan transformasi Garuda Indonesia sebagai maskapai yang beroperasi di industri global. Pengetahuan dari beragam pasar diharapkan dapat memperkaya pertimbangan bisnis dan membantu penerapan praktik industri yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan serta karakteristik pasar Indonesia. Perspektif tersebut juga dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih terukur ketika Garuda Indonesia menata kembali kinerja, layanan, dan daya saingnya.

