KOTA PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kondisi ini terpantau sejak pagi dan belum berakhir hingga sore hari. Lapisan asap terlihat menutup ruang pandang di sejumlah bagian kota, sehingga suasana Palembang tampak diselimuti kabut berwarna kelabu. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan masih dirasakan di wilayah perkotaan.
Kepadatan asap mengurangi jarak pandang bagi masyarakat yang menjalankan aktivitas di luar ruangan. Objek-objek yang biasanya terlihat dari kejauhan menjadi lebih samar, sementara pandangan ke arah depan terasa terbatas. Situasi ini membuat kondisi kota berbeda dari biasanya dan memengaruhi kelancaran berbagai kegiatan yang berlangsung sejak pagi sampai sore. Pergerakan di ruang terbuka berlangsung dalam kondisi jarak pandang yang tidak optimal.
Dari pagi hingga sore, kabut asap tetap menjadi pemandangan yang menonjol di Palembang. Asap yang bertahan sepanjang rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa gangguan terhadap jarak pandang tidak hanya berlangsung sesaat. Kepadatan kabut membuat perubahan situasi kota mudah terlihat, terutama pada area yang semestinya memiliki pandangan lebih luas. Selimut asap juga menjadikan suasana perkotaan tampak lebih tertutup dan terbatas.
Kondisi ini langsung memengaruhi situasi kota pada hari tersebut. Aktivitas masyarakat berlangsung di tengah pandangan yang berkurang, sedangkan wajah Palembang tampak tertutup asap dari pagi hingga sore. Kabut yang belum menipis menjadi keadaan utama yang mewarnai aktivitas perkotaan.
Kabut asap karhutla terlihat menyelimuti sejumlah kawasan di Palembang dan mengganggu aktivitas warga sejak pagi. Lapisan asap tampak cukup pekat, terutama di ruas jalan yang ramai dilalui kendaraan. Jarak pandang di beberapa titik terlihat terbatas, sementara suasana lingkungan menjadi lebih redup dibandingkan kondisi biasanya. Warga yang tetap beraktivitas di luar rumah tampak bergerak lebih singkat dan tidak banyak berlama-lama di ruang terbuka.
Di kawasan permukiman dan pusat kegiatan masyarakat, aktivitas warga masih berlangsung, tetapi tidak seramai biasanya. Pengendara sepeda motor melaju dengan lebih hati-hati karena pandangan ke arah depan terhalang asap. Sejumlah warga yang ditemui saat beraktivitas terlihat mengenakan masker. Mereka berjalan menuju tempat kerja, berbelanja, atau mengurus keperluan sehari-hari di tengah kondisi udara yang dipenuhi kabut asap. Beberapa pedagang juga tetap membuka lapak, meski suasana di sekitar tempat usaha tampak lebih sepi.
Kondisi serupa terlihat di sejumlah titik jalan lainnya. Kendaraan masih melintas, namun kepadatan aktivitas di luar ruangan tampak berkurang. Warga cenderung menyelesaikan urusan dengan cepat sebelum kembali ke dalam rumah atau bangunan. Kabut yang menggantung membuat pemandangan gedung, pepohonan, dan kendaraan di kejauhan tampak samar. Situasi tersebut turut memengaruhi kegiatan masyarakat yang biasanya berlangsung di ruang terbuka, termasuk perjalanan singkat dan aktivitas perdagangan di tepi jalan. Hingga siang hari, asap masih terlihat menyelimuti kawasan Palembang, sementara warga menjalankan kegiatan dengan menyesuaikan diri terhadap kondisi lapangan.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan turut memengaruhi operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Penurunan kualitas udara yang disertai berkurangnya jarak pandang membuat aktivitas di kawasan bandara harus dilakukan dengan perhatian lebih terhadap aspek keamanan dan keselamatan penerbangan.
Pada Kamis, jarak pandang di Palembang sempat turun hingga 400 meter. Kondisi tersebut menyulitkan proses pengamatan visual yang diperlukan dalam sejumlah tahapan operasional penerbangan, terutama saat pesawat hendak berangkat atau tiba. Dengan jarak pandang yang terbatas, pengelola dan pihak terkait perlu mempertimbangkan situasi terkini sebelum memberikan izin terhadap pergerakan pesawat.
Dampaknya, sejumlah penerbangan mengalami penundaan. Penundaan itu dilakukan dengan alasan keamanan dan keselamatan, mengingat kondisi jarak pandang yang belum mendukung kelancaran operasional penerbangan. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di darat, tetapi juga dapat memengaruhi jadwal perjalanan udara dari dan menuju Palembang.
Gangguan serupa juga tercatat sehari sebelumnya. Sebanyak tiga penerbangan sipil mengalami gangguan pada jadwal keberangkatan maupun kedatangan. Perubahan jadwal itu mencerminkan dampak langsung kabut asap terhadap operasional bandara, khususnya ketika jarak pandang berubah-ubah dan perlu dipantau secara berkala.
Situasi ini membuat penumpang perlu memperhatikan informasi terbaru mengenai jadwal penerbangan mereka. Pembaruan dari pihak bandara atau penyelenggara penerbangan menjadi penting agar penumpang dapat menyesuaikan rencana perjalanan dengan kondisi operasional yang berlaku. Selama kabut asap masih menurunkan jarak pandang, aspek keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan keberangkatan dan kedatangan pesawat di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 7 Oktober 2026 mencatat kondisi karhutla di Sumatera Selatan melalui dua indikator, yaitu hot spot dengan tingkat kepercayaan tinggi dan titik api yang masih membakar lahan. Berdasarkan data tersebut, sebanyak 354 hot spot atau titik panas terdeteksi di wilayah Sumatera Selatan. Angka ini menjadi catatan faktual mengenai indikasi panas yang terpantau pada waktu pengumpulan data.
Pada waktu yang sama, BNPB mencatat terdapat 92 titik api yang masih membakar lahan. Luas lahan yang terbakar berdasarkan catatan tersebut mencapai 390,61 hektare. Data mengenai jumlah titik api dan luas lahan terbakar memberikan gambaran terukur tentang kebakaran lahan yang tercatat di Sumatera Selatan hingga 7 Oktober 2026.
Perbedaan 354 hot spot dan 92 titik api perlu dicatat dalam membaca informasi karhutla. Hot spot merujuk pada titik panas yang terdeteksi dengan tingkat kepercayaan tinggi, sedangkan titik api dalam data BNPB merujuk pada lokasi yang masih membakar lahan. Kedua angka tersebut merupakan indikator yang dicatat secara terpisah dan memiliki keterangan masing-masing.
Dalam konteks kabut asap yang mengganggu aktivitas dan penerbangan di Palembang, data BNPB tersebut menjadi informasi faktual mengenai situasi karhutla di Sumatera Selatan. Hingga tanggal pencatatan, terdapat 354 hot spot dengan tingkat kepercayaan tinggi, 92 titik api yang masih membakar lahan, serta luas lahan terbakar sebesar 390,61 hektare. Data itu disampaikan sesuai kondisi yang tercatat per 7 Oktober 2026, tanpa memuat perkiraan mengenai perkembangan kebakaran, penyebab titik api, maupun langkah penanganan di luar bahan sumber.

