Jakarta | Film yang mewakili Indonesia di ajang Oscar ini menempatkan kepulangan Pertiwi sebagai pusat cerita. Setelah dua dekade berlalu, ia kembali ke tanah kelahirannya. Kepulangan tersebut menjadi momen penting yang mempertemukan kembali Pertiwi dengan tempat yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Namun, perjalanan pulang itu tidak serta-merta menghadirkan rasa nyaman atau kepastian tentang rumah. Tanah kelahiran yang didatangi kembali justru membawa lapisan pengalaman yang belum sepenuhnya selesai.
Bagi Pertiwi, kembali bukan sekadar berpindah tempat atau mencari ruang untuk menetap. Kepulangan itu menjadi proses untuk berhadapan dengan persoalan yang selama ini membayangi hidupnya. Kehadiran kembali di tanah kelahiran membuat berbagai hal dari masa lalu muncul ke permukaan, sekaligus menempatkannya pada situasi yang menuntut keberanian untuk melihat kembali pengalaman yang pernah ditinggalkan. Karena itu, perjalanan Pertiwi terasa lebih kompleks daripada kisah seseorang yang pulang setelah lama berada jauh dari rumah.
Alih-alih langsung menemukan rasa memiliki, Pertiwi harus menghadapi kenyataan bahwa hubungan dengan tanah kelahiran tidak dapat dipulihkan hanya melalui kepulangan. Ada luka lama dan pengalaman pahit yang kembali hadir dalam perjalanannya. Hal tersebut membuat proses pulang menjadi perjalanan batin, bukan semata-mata perjalanan menuju sebuah tempat. Pertiwi perlu berhadapan dengan persoalan yang terus mengikuti hidupnya, sambil mencari pemahaman mengenai arti kembali dan kemungkinan untuk kembali memiliki hubungan dengan tanah kelahirannya. Melalui kisah ini, film tersebut membuka cerita tentang kepulangan yang penuh pertanyaan serta pergulatan personal.
Kepulangan Pertiwi setelah dua dekade tidak menghadirkan sambutan hangat seperti yang mungkin diharapkan dari seseorang yang kembali ke tanah kelahirannya. Alih-alih menemukan rasa aman dan penerimaan, ia berhadapan dengan keluarga serta warga di lingkungan asal yang justru enggan menyambut kehadirannya. Jarak waktu yang panjang tidak serta-merta menghapus luka, kecurigaan, atau penilaian yang telah terbentuk selama ia berada jauh dari rumah.
Situasi tersebut membuat kepulangan Pertiwi terasa lebih seperti ujian daripada perjalanan menuju tempat bernaung. Rumah dan lingkungan yang semestinya menjadi ruang untuk memulihkan diri berubah menjadi ruang yang penuh penolakan. Tatapan, sikap menjaga jarak, dan keengganan untuk membuka kembali hubungan memperlihatkan bahwa kehadirannya masih memunculkan ketidaknyamanan bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak hanya perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tempat, tetapi juga menghadapi perubahan sikap orang-orang yang pernah dikenalnya.
Beban itu semakin berat karena masa lalu Pertiwi pernah membawanya ke balik jeruji penjara. Fakta tersebut menjadi bagian penting dari latar kehidupannya, sekaligus unsur yang memengaruhi cara keluarga dan warga memandang kepulangannya. Film ini tidak sekadar menempatkan Pertiwi sebagai seseorang yang kembali setelah lama pergi, melainkan sebagai tokoh yang harus berhadapan dengan konsekuensi sosial dari masa lalu yang belum sepenuhnya diterima oleh lingkungan asalnya.
Dalam keadaan demikian, kepulangan tidak otomatis berarti rekonsiliasi. Pertiwi harus melewati ruang sosial yang menutup diri dan menghadapi kenyataan bahwa status sebagai orang yang berasal dari tempat tersebut belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan. Penolakan keluarga dan warga menjadi cermin dari konflik yang lebih luas: bagaimana seseorang dapat kembali ke akar kehidupannya ketika masa lalu terus hadir dalam pandangan orang lain. Melalui pengalaman Pertiwi, film ini menggambarkan tanah kelahiran bukan hanya sebagai tempat pulang, tetapi juga sebagai ruang yang menuntut keberanian untuk menghadapi ingatan, stigma, dan kemungkinan penerimaan yang belum pasti.
Kehadiran Bisma, karakter yang diperankan Arya Saloka, menjadi salah satu unsur penting dalam perjalanan Pertiwi setelah pulang ke tanah kelahirannya. Kepulangan tersebut tidak berlangsung dalam suasana yang sepenuhnya hangat. Di tengah sikap keluarga dan warga setempat yang menunjukkan penolakan, Bisma hadir sebagai sosok yang tidak menambah beban keterasingan Pertiwi. Kehadirannya memperlihatkan bahwa penerimaan dapat muncul dari seseorang yang bersedia melihat Pertiwi sebagai manusia dengan pengalaman dan perasaan, bukan semata-mata sebagai sosok yang dinilai berdasarkan masa lalu atau keputusan yang membuatnya dijauhkan.
Posisi Bisma dalam cerita terutama tampak melalui perannya dalam perjalanan emosional Pertiwi. Ia menjadi bagian dari kisah tentang seseorang yang kembali, tetapi justru harus berhadapan dengan penolakan dari lingkungan terdekatnya. Dalam situasi itu, keberadaan Bisma memberi ruang bagi Pertiwi untuk tetap dipandang dan didengarkan. Peran tersebut tidak perlu dipahami sebagai penghapus konflik yang dihadapi Pertiwi, melainkan sebagai penanda bahwa pengalaman pulang dapat berjalan berdampingan dengan kebutuhan untuk memperoleh pengakuan. Bisma hadir di sekitar perjalanan itu sebagai sosok yang mencerminkan kemungkinan penerimaan ketika hubungan dengan keluarga dan warga setempat tidak memberikan rasa aman.
Sementara itu, Mak Ira, tokoh yang dimainkan Christine Hakim, juga menjadi sosok yang menyambut Pertiwi ketika penolakan datang dari lingkungan sekitarnya. Kehadirannya memperkuat gagasan bahwa penerimaan tidak selalu diperoleh dari tempat yang paling dekat secara sosial. Mak Ira memberi makna pada tindakan menyambut, terutama ketika Pertiwi berada dalam posisi yang rentan dan harus menghadapi jarak yang dibangun oleh keluarga serta masyarakat setempat. Bersama Bisma, Mak Ira menempati posisi penting dalam rangkaian kepulangan Pertiwi. Keduanya tidak menghapus persoalan yang dihadapi, tetapi menunjukkan adanya ruang kemanusiaan di tengah penolakan. Melalui dua karakter ini, kisah Pertiwi menegaskan bahwa penerimaan dapat menjadi kekuatan yang membantu seseorang menghadapi keterasingan tanpa mengabaikan luka dan konflik yang menyertainya.
Empat Musim Pertiwi menjadi karya Kamila Andini yang menghadirkan kisah personal sekaligus refleksi tentang luka yang belum selesai. Film ini mengikuti pergulatan emosional Pertiwi setelah berhadapan dengan trauma, penolakan, dan berbagai konsekuensi dari masa lalu. Kepulangannya setelah dua dekade bukan sekadar perjalanan kembali ke tempat asal, melainkan proses untuk menghadapi kenangan, relasi, serta pilihan yang selama ini tertunda.
Melalui karakter-karakternya, film tersebut memperlihatkan bahwa kesempatan untuk memulai kembali tidak selalu hadir dalam bentuk yang sederhana. Pertiwi harus menimbang kembali arti rumah, penerimaan, dan keberanian untuk membuka diri terhadap kemungkinan baru. Pendekatan Kamila Andini menempatkan konflik batin sebagai bagian penting dari cerita, sehingga pengalaman tokoh utama dapat dibaca sebagai kisah mengenai upaya berdamai dengan masa lalu dan menemukan ruang untuk melanjutkan hidup.
Putri Marino memerankan Pertiwi, tokoh yang menjadi pusat perjalanan emosional dalam film ini, sementara Arya Saloka berperan sebagai Bisma. Christine Hakim turut tampil sebagai Mak Ira, sosok yang memperkaya hubungan antartokoh dan lapisan cerita. Kehadiran para pemeran tersebut memperkuat penantian terhadap film yang membawa persoalan pribadi ke dalam konteks yang lebih luas mengenai keluarga, kehilangan, serta pemulihan.
Empat Musim Pertiwi juga menjadi film yang mewakili Indonesia di ajang Oscar. Posisi tersebut menempatkan karya Kamila Andini dalam perhatian yang lebih luas, sekaligus memperlihatkan keberagaman cerita yang dapat dibawa sinema Indonesia ke panggung internasional. Film ini disebut siap tayang pada 2026, sehingga penonton masih perlu menantikan kehadirannya untuk menyaksikan secara utuh kisah Pertiwi, Bisma, dan Mak Ira dalam menghadapi trauma, penolakan, serta kesempatan untuk memulai kembali.
Baca juga: Dari Pesantren untuk Ibu Pertiwi: Kodim 0813 Bojonegoro Bangun Sarana Olahraga Militer, Siapkan Santri Jadi Prajurit TNI | Dharma Pertiwi Peduli, Bantuan untuk Korban Gempa NTT Disalurkan

