Kabupaten Aceh Tamiang | Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Aceh Tamiang sejak Minggu, 11 Oktober, menyebabkan sejumlah sungai meluap dan merendam permukiman warga. Air yang keluar dari alur sungai kemudian menggenangi sejumlah wilayah, sehingga banjir meluas ke beberapa kecamatan di kabupaten tersebut. Kondisi ini menjadi perhatian karena ketinggian air di sejumlah lokasi bervariasi dan pada beberapa titik telah mencapai lebih dari satu meter.
Berdasarkan informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tamiang pada Senin, 12 Oktober pukul 10.00 WIB, banjir telah melanda enam kecamatan. Wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Bendahara, Kejuruan Muda, Tamiang Hulu, Karang Baru, Tenggulun, dan Seruway.
Genangan dengan ketinggian yang berbeda-beda terlihat di sejumlah lokasi dalam enam kecamatan tersebut. Di beberapa kawasan, permukaan air telah melewati satu meter, sementara di lokasi lain ketinggiannya berada di bawah angka tersebut. Data BPBD itu menunjukkan bahwa dampak banjir tidak terpusat pada satu wilayah, melainkan tersebar di beberapa bagian Kabupaten Aceh Tamiang setelah hujan lebat berlangsung sejak sehari sebelumnya. Perkembangan kondisi di setiap kecamatan menjadi bagian penting dalam pemantauan penanganan banjir di daerah itu.
Proses evakuasi warga terdampak banjir di Aceh Tamiang mulai dilakukan ke tempat yang lebih aman. Langkah tersebut menjadi bagian dari penanganan terhadap dampak langsung banjir yang merendam sejumlah wilayah, termasuk enam kecamatan. Warga yang terdampak dipindahkan secara bertahap, sementara pendataan jumlah pengungsi masih berlangsung.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, Iman Suhery, menyampaikan bahwa data sementara mencatat 365 orang telah mengungsi. Keterangan itu disampaikan saat dikonfirmasi pada Senin, 12 Oktober. Angka tersebut menggambarkan jumlah warga yang telah meninggalkan wilayah terdampak untuk mencari tempat yang lebih aman akibat kondisi banjir.
Evakuasi dilakukan sebagai respons terhadap situasi di lapangan dan kebutuhan warga untuk menjauh dari area yang terendam. Berdasarkan keterangan BPBD, proses pemindahan warga masih menjadi bagian dari perkembangan penanganan bencana. Data mengenai jumlah pengungsi dapat berubah seiring berlangsungnya pendataan dan evakuasi warga lainnya.
Dengan demikian, penanganan banjir tidak hanya berfokus pada pemantauan wilayah terdampak, tetapi juga pada keselamatan warga yang harus mengungsi. Sebanyak 365 orang telah tercatat berada di tempat yang lebih aman berdasarkan data sementara yang disampaikan Iman Suhery. Perkembangan berikutnya akan mengikuti hasil pendataan dan proses evakuasi yang masih berjalan di wilayah Aceh Tamiang.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang masih melakukan pendataan terhadap dampak genangan yang terjadi di sejumlah kecamatan. Pendataan tersebut belum selesai karena air di beberapa wilayah hingga kini belum surut. Situasi itu membuat proses pengumpulan informasi terus berjalan, sehingga pemerintah daerah masih memantau perkembangan kondisi di lapangan sebelum memperoleh gambaran yang lebih lengkap.
BPBD memusatkan perhatian pada pembaruan data dari wilayah yang masih terdampak genangan. Informasi tersebut diperlukan untuk mengetahui perkembangan keadaan secara berkala, terutama karena ketinggian dan luas genangan dapat berubah seiring kondisi cuaca. Selama air belum surut, data yang dihimpun masih bersifat sementara dan dapat mengalami pembaruan sesuai hasil pemantauan berikutnya.
Perkembangan situasi ini menjadi bagian dari respons sementara pemerintah daerah terhadap banjir yang melanda enam kecamatan di Aceh Tamiang. BPBD tetap mengikuti kondisi terkini sambil melanjutkan pendataan. Langkah tersebut dilakukan agar informasi mengenai wilayah terdampak dapat disusun secara lebih akurat, meskipun prosesnya masih berlangsung dan kondisi di sejumlah lokasi belum sepenuhnya berubah.
Iman Suhery mengimbau warga untuk tetap terhadap kemungkinan perkembangan situasi. Imbauan itu disampaikan karena curah hujan masih tinggi, sehingga masyarakat perlu memperhatikan kondisi di sekitar tempat tinggal dan mengikuti informasi terbaru dari pihak berwenang. Kewaspadaan tetap diperlukan selama hujan berpotensi berlanjut dan air di sejumlah kecamatan belum menunjukkan tanda-tanda surut.
Peristiwa banjir tidak hanya terjadi di enam kecamatan di Aceh Tamiang. Berdasarkan data yang dihimpun, genangan juga mulai meluas ke sejumlah daerah lain di Aceh, yakni Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara. Perkembangan ini menunjukkan bahwa hujan berintensitas tinggi berpotensi memengaruhi wilayah yang lebih luas, terutama kawasan yang memiliki aliran sungai, dataran rendah, serta daerah dengan kemiringan lereng tertentu.
Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi cuaca dan lingkungan sekitar. Genangan yang semula muncul di ruas jalan atau permukiman dapat bertambah apabila hujan berlangsung dalam waktu lama. Warga juga disarankan mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta petugas setempat mengenai perkembangan ketinggian air, jalur evakuasi, dan lokasi pengungsian.
Kewaspadaan tersebut sejalan dengan peringatan dini cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode 10–12 Oktober 2026. Dalam informasi tersebut, Provinsi Aceh dan Sumatera Utara berada pada level siaga menghadapi potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Status siaga itu berlaku pada waktu yang berbeda di masing-masing provinsi.
Untuk Aceh, status siaga berlaku pada 10 dan 12 Oktober 2026. Sementara itu, Sumatera Utara berada pada level siaga pada 10, 11, dan 12 Oktober 2026. Peringatan ini mencakup potensi dampak hidrometeorologi, termasuk banjir hingga longsor, di kedua provinsi.
Level siaga tidak berarti banjir atau longsor pasti terjadi di seluruh wilayah. Status tersebut merupakan penanda adanya potensi risiko yang perlu diantisipasi berdasarkan prakiraan cuaca dan kondisi setempat. Karena itu, masyarakat di daerah rawan perlu memperhatikan pembaruan informasi BMKG, mengamankan dokumen serta barang penting, dan segera menjauh dari lokasi berbahaya apabila hujan deras memicu peningkatan debit air atau tanda-tanda pergerakan tanah.
Baca juga: TNI Intensifkan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di 11 Kecamatan Kabupaten Melawi, Kalbar

