Palembang | Kebakaran hutan dan lahan yang belum sepenuhnya padam memicu kabut asap di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Asap terlihat menyelimuti kawasan terdampak, sementara kondisi udara di beberapa daerah menunjukkan tingkat pencemaran yang mengkhawatirkan. Situasi ini menjadi perhatian karena kualitas udara berada pada rentang yang dapat memengaruhi kenyamanan dan kesehatan masyarakat, terutama di area yang mengalami paparan asap lebih pekat.
Berdasarkan data Air Quality Index (AQI) US yang dibagikan IQAir pada Rabu (14/10/2026), sejumlah daerah terdampak tercatat dalam kategori sangat tidak sehat. Pada tingkat ini, kualitas udara dinilai berisiko bagi kelompok sensitif, termasuk anak-anak, orang lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan. Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa kabut asap bukan sekadar mengurangi jarak pandang, melainkan telah menekan mutu udara secara signifikan.
Di beberapa wilayah lainnya, indeks kualitas udara bahkan berada dalam kategori berbahaya. Peringkat ini menandakan kondisi udara yang sangat buruk dan berpotensi berdampak lebih luas terhadap masyarakat di sekitar lokasi terdampak. Perbedaan tingkat AQI satu daerah dan daerah lain menggambarkan bahwa intensitas kabut asap tidak seragam, meskipun sama-sama berada di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Pengukuran pada Rabu tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi kualitas udara saat kebakaran hutan dan lahan masih belum padam. Dengan munculnya kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, kabut asap menjadi penanda utama memburuknya kualitas udara di sejumlah daerah yang terdampak.
Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatra menunjukkan tingkat pencemaran yang perlu mendapat perhatian serius. Palembang, Sumatra Selatan, tercatat berada dalam kategori berbahaya dengan indeks kualitas udara 877. Di kota ini, konsentrasi PM2.5 mencapai 514,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³), jauh di atas tingkat yang aman bagi kesehatan.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Partikel tersebut juga berpotensi mencapai aliran darah sehingga dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat memicu iritasi pada mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta gangguan pernapasan lainnya. Pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit jantung atau paru-paru, polusi ini dapat memperburuk kondisi yang telah diderita.
Wilayah lain di Sumatra juga mencatat angka yang menunjukkan kualitas udara tidak sehat. Lampung berada pada indeks 158, sedangkan Jambi mencatat angka 198. Kedua daerah tersebut masuk kategori tidak sehat, sehingga masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap terlihat semakin pekat atau muncul keluhan pernapasan.
Pekanbaru, Riau, menghadapi kondisi yang lebih buruk dengan indeks 401 dan kategori berbahaya. Sementara itu, Padang, Sumatra Barat, mencatat indeks 227 dalam kategori tidak sehat. Medan, Sumatra Utara, juga berada pada kondisi tidak sehat dengan angka 205. Perbedaan nilai antardaerah menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak merata, tetapi seluruh wilayah dengan kategori tersebut tetap memerlukan kewaspadaan. Penggunaan masker yang sesuai, pengurangan paparan langsung, dan pemantauan informasi kualitas udara menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kesehatan.
Kabut asap kebakaran hutan masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan. Asap pekat terbentuk akibat titik api yang belum sepenuhnya padam, sehingga menurunkan jarak pandang sekaligus memperburuk kualitas udara. Kondisi tersebut berisiko mengganggu aktivitas masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Di Kalimantan Barat, Kubu Raya, Sintang, hingga Pangkalan Bun disebut berada dalam kategori berbahaya. Angka indeks kualitas udara di sejumlah wilayah itu tercatat mencapai 1.144, menunjukkan paparan polutan yang sangat tinggi dan berpotensi membahayakan kesehatan seluruh kelompok masyarakat. Warga diimbau mengurangi kegiatan di luar ruangan, menutup akses masuk asap ke dalam rumah, serta menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus apabila harus bepergian.
Pontianak juga menghadapi tekanan serius akibat kabut asap. Kota ini masuk kategori sangat tidak sehat dengan indeks 223. Pada tingkat tersebut, kualitas udara dapat memicu gangguan kesehatan bagi masyarakat secara umum, bukan hanya kelompok sensitif. Keluhan seperti batuk, iritasi mata, sesak napas, dan sakit tenggorokan dapat meningkat apabila paparan berlangsung dalam waktu lama.
Situasi serupa terpantau di Kalimantan Selatan. Kualitas udara di Banjarmasin berada dalam kondisi berbahaya, sehingga aktivitas luar ruangan perlu dibatasi dan pemantauan kesehatan harus dilakukan lebih cermat. Sementara itu, Balikpapan, Kalimantan Timur, tercatat berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Kelompok tersebut disarankan menghindari olahraga luar ruang dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala pernapasan yang memburuk.
Data IQAir masih menunjukkan adanya kebakaran hutan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Tingkat kebakaran di wilayah-wilayah tersebut berada pada tahap rendah, sedang, hingga tinggi. Perbedaan tingkat kebakaran dapat berubah mengikuti cuaca, arah angin, dan upaya pemadaman, sehingga perkembangan indeks kualitas udara perlu dipantau secara berkala.
Risiko kesehatan akibat kabut asap tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Dampaknya dipengaruhi oleh kategori kualitas udara berdasarkan AQI, konsentrasi polutan yang terdapat di udara, serta lamanya seseorang terpapar. Ketika pencemaran meningkat, udara dapat membawa lebih banyak partikel dan zat pencemar ke dalam saluran pernapasan. Paparan yang berlangsung lebih lama juga dapat meningkatkan beban pencemaran yang diterima tubuh. Karena itu, kondisi kesehatan perlu dipertimbangkan bersama keadaan udara sebelum seseorang melakukan kegiatan di luar ruangan.
Kelompok sensitif memerlukan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Kelompok ini mencakup anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit jantung. Aktivitas di luar ruangan dapat menimbulkan risiko yang lebih besar bagi mereka, terutama apabila udara berada pada kategori yang kurang baik. Perubahan kondisi udara sebaiknya menjadi pertimbangan dalam menentukan waktu, jenis, dan intensitas kegiatan yang dilakukan di luar ruangan.
Masyarakat perlu memantau kualitas udara secara berkala agar dapat mengetahui perubahan tingkat pencemaran. Pemantauan tersebut membantu setiap orang menyesuaikan aktivitas apabila kualitas udara memburuk. Saat udara berada dalam kategori tidak sehat, aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi untuk menekan paparan polutan. Penyesuaian ini penting bagi seluruh masyarakat, dengan perhatian khusus terhadap anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan atau jantung.
Perlindungan tambahan dapat dilakukan dengan menutup jendela ketika udara luar tercemar, sehingga masuknya polutan ke dalam ruangan dapat ditekan. Penggunaan penyaring udara di dalam ruangan juga dapat membantu menjaga kondisi udara yang dihirup selama pencemaran berlangsung. Kedua langkah tersebut dapat diterapkan bersamaan dengan pemantauan kualitas udara dan penyesuaian aktivitas, terutama ketika kategori AQI menunjukkan kondisi yang tidak sehat.
Baca juga: Komandan Lanud Sjamsudin Noor Pimpin Langsung Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Selatan | Tiga Ton NaCl Disemai dari Udara, Lanud Sjamsudin Noor Dukung OMC Tekan Karhutla Kalimantan Selatan | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah
