Jakarta | Martha Tilaar, pendiri merek kosmetik Martha Tilaar, meninggal dunia pada Rabu pagi, 14 Oktober, dalam usia 89 tahun. Kepergiannya menjadi kabar penting bagi industri kecantikan Indonesia, mengingat kiprahnya telah melekat pada perkembangan bisnis kosmetik dan profesi kecantikan di Tanah Air.
Kabar duka tersebut disampaikan oleh keluarga besar Tiara Kusuma, organisasi persatuan ahli kecantikan dan pengusaha salon Indonesia. Penyampaian informasi itu menjadi penanda bahwa dunia kecantikan Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam membangun dan memperkuat industri tersebut.
Dalam pernyataan duka yang disampaikan, Martha disebut menjabat sebagai dewan kehormatan Tiara Kusuma. Posisi tersebut mencerminkan hubungan dan kontribusinya terhadap komunitas para ahli kecantikan serta pengusaha salon di Indonesia. Melalui peran itu, namanya juga dikenal tidak hanya sebagai pelaku usaha, tetapi sebagai bagian dari ekosistem profesional yang menaungi bidang kecantikan.
Kepergian Martha pada usia 89 tahun menutup perjalanan panjang seorang figur yang dikenal luas melalui merek kosmetik yang didirikannya. Berita ini sekaligus mengingatkan kembali besarnya jejak yang ia tinggalkan bagi industri kecantikan nasional, baik melalui dunia usaha maupun keterlibatannya dalam organisasi profesi.
Bagi keluarga besar Tiara Kusuma dan para pelaku industri kecantikan, wafatnya Martha merupakan kehilangan yang mendalam. Pernyataan duka tersebut menjadi bentuk penghormatan atas perannya sebagai dewan kehormatan serta atas kontribusinya dalam perjalanan kecantikan Indonesia.
Nama Martha Tilaar telah lama melekat dalam ingatan masyarakat Indonesia melalui berbagai produk kecantikan yang digunakan lintas generasi. Sosoknya dikenal sebagai pendiri sekaligus penggerak penting di balik pengembangan merek-merek lokal, termasuk Sariayu. Produk tersebut menghadirkan perawatan dan kosmetik dengan inspirasi bahan alam, tradisi, serta kekayaan budaya Nusantara. Kehadirannya membuat nama Martha Tilaar tidak hanya dikenal sebagai figur di dunia usaha, tetapi juga sebagai bagian dari perkembangan industri kecantikan Indonesia.
Melalui kiprahnya, Martha Tilaar turut memperkenalkan pendekatan kecantikan yang menggabungkan pengetahuan modern dengan warisan perawatan tradisional. Gagasan tersebut tercermin dalam beragam produk kosmetik, perawatan tubuh, dan perawatan rambut yang dikembangkan untuk kebutuhan konsumen di dalam negeri. Karena konsistensinya membangun merek lokal dan memperluas perhatian terhadap potensi bahan-bahan Indonesia, Martha Tilaar kerap dipandang sebagai salah satu tokoh penting, bahkan legenda, dalam industri kecantikan Tanah Air.
Jejak usaha tersebut kemudian berkembang melalui Grup Martha Tilaar, sebuah kelompok usaha yang menaungi berbagai aktivitas di bidang kosmetik dan perawatan kecantikan. Selain produk kosmetik, grup ini juga berkaitan dengan pengembangan produk obat tradisional atau jamu. Ruang lingkup tersebut memperlihatkan luasnya bidang yang menjadi perhatian Martha Tilaar, dari kebutuhan rias dan perawatan sehari-hari hingga pemanfaatan pengetahuan tradisional dalam produk kesehatan dan kecantikan.
Dalam struktur bisnisnya, salah satu perusahaan yang dikenal luas adalah PT Martina Berto Tbk. Perusahaan tersebut tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham MBTO. Keberadaan perusahaan terbuka ini menjadi bagian dari perjalanan Grup Martha Tilaar dalam mengelola aktivitas usahanya secara korporasi. Dengan demikian, kedekatan masyarakat terhadap merek seperti Sariayu juga tidak terlepas dari perjalanan panjang Martha Tilaar dalam membangun kelompok usaha yang menaungi beragam produk kecantikan, perawatan, serta obat tradisional di Indonesia.
Berdasarkan informasi perusahaan, perjalanan bisnis kecantikan ini bermula pada 1977. Usaha tersebut didirikan oleh Dr. H.C. Martha Tilaar bersama almarhum Pranata Bernard dan Theresa Harsini Setiady. Sejak awal, pengembangan bisnis diarahkan pada produksi kosmetik serta produk herbal yang memadukan pengetahuan tradisional dengan kebutuhan pasar modern. Langkah pendirian itu menjadi dasar bagi terbentuknya jaringan produksi dan merek yang kemudian dikenal luas di Indonesia.
Perluasan fasilitas produksi berlangsung beberapa tahun kemudian. Pada 1981, perusahaan membangun pabrik modern pertamanya di Jalan Pulo Ayang No. 3, Pulogadung Industrial Estate. Fasilitas ini digunakan untuk memproduksi kosmetik dan jamu dengan merek Sariayu Martha Tilaar. Kehadiran pabrik tersebut menandai peningkatan kapasitas operasional sekaligus memperkuat kemampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan konsumen yang terus berkembang.
Lima tahun setelahnya, pada 1986, perusahaan kembali memperluas infrastruktur dengan mendirikan pabrik modern kedua di Jalan Pulo Kambing, Kawasan Industri Pulogadung. Pertumbuhan penjualan selanjutnya mendorong penataan ulang kegiatan produksi. Pada 1995, produksi herbal dipindahkan ke fasilitas di Gunung Putri, Bogor, agar pengelolaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas dan perkembangan bisnis. Dalam periode yang sama, pabrik di Pulo Ayang dialihkan kepada anak perusahaan, PT Cempaka Belkosindo Indah. Fasilitas tersebut kemudian digunakan untuk memproduksi merek Mirabella dan Cempaka.
Penataan fasilitas berlanjut pada 2005 ketika PT Cempaka Indah Belkosindo digabungkan dengan perusahaan. Setelah penggabungan itu, produksi Mirabella dan Cempaka dikombinasikan dengan kegiatan manufaktur di pabrik Pulo Kambing. Sementara itu, pabrik Pulo Ayang tidak lagi berfungsi sebagai fasilitas produksi. Lokasinya dialihkan menjadi kantor penjualan yang berada dekat pusat distribusi perusahaan, beralamat di Jalan Pulo Ayang No. 24-25, Kawasan Industri Pulogadung. Rangkaian perubahan tersebut menunjukkan bagaimana perusahaan menyesuaikan lokasi dan fungsi fasilitasnya sejalan dengan pertumbuhan penjualan serta kebutuhan pengelolaan merek.
Perluasan bisnis Martha Tilaar tidak berhenti pada pengembangan merek dan jaringan pemasaran. Pada 1993, Grup Martha Tilaar memperkuat sektor hulu melalui akuisisi PT Cedefindo. Perusahaan ini memiliki bidang utama berupa manufaktur kontrak atau makloon untuk produk kosmetik. Langkah tersebut memungkinkan grup mengendalikan lebih banyak tahapan dalam rantai pasok, mulai dari pengembangan formula hingga produksi, sekaligus membuka kapasitas layanan bagi perusahaan di luar grup.
Dalam perjalanan operasionalnya, PT Cedefindo juga berkaitan dengan aset pabrik jamu di Gunung Putri. Aset pabrik tersebut kemudian dijual, tetapi kegiatan pembuatan jamu tetap dijalankan melalui perjanjian sewa. Operasional pabrik berlangsung dengan skema tersebut hingga akhir 2011. Pengaturan ini menunjukkan adanya pemisahan kepemilikan aset dan keberlanjutan kegiatan produksi, sehingga aktivitas pabrik tetap dapat berjalan selama masa perjanjian.
Secara umum, usaha utama Grup Martha Tilaar mencakup produksi kosmetik dan obat tradisional. Kegiatan tersebut dilengkapi dengan pemasaran serta perdagangan produk kosmetik, perawatan kecantikan, dan obat tradisional. PT Cedefindo mendukung kebutuhan itu melalui layanan manufaktur kontrak untuk berbagai bentuk produk, yaitu produk kering, semipadat, cair, dan aerosol. Cakupan jasanya meliputi formulasi, pendaftaran, pembuatan bahan baku atau kemasan, produksi, dan pengemasan.
Selain proses manufaktur, PT Cedefindo menyediakan layanan logistik satu pintu. Layanan ini ditujukan bagi perusahaan internal dalam Grup Martha Tilaar maupun perusahaan eksternal, sehingga kebutuhan produksi dan distribusi dapat dikelola secara lebih terpadu. Saat ini, entitas yang disebut sebagai bagian dari Grup Martha Tilaar meliputi PT Martina Berto Tbk, PT Cedefindo, PT Martha Beauty Gallery, PT Cantika Puspa Pesona, PT Creative Style Mandiri, dan PT Kreasi Boga Primatama. Susunan tersebut mencerminkan cakupan bisnis grup yang menghubungkan produksi, jasa manufaktur, pemasaran, perdagangan, serta layanan pendukung.
