Sulawesi Utara Menjadi Tuan Rumah Kejurnas Pacuan Kuda dengan Hadiah Rp700 Juta

Sulawesi Utara Menjadi Tuan Rumah Kejurnas Pacuan Kuda dengan Hadiah Rp700 Juta

Jakarta | Sulawesi Utara dijadwalkan menjadi tuan rumah Indonesia’s Horse Racing (IHR) Kejurnas Pacuan Kuda PORDASI ke-60 Seri II 2026 pada 24 Oktober 2026. Ajang nasional tersebut akan berlangsung di Gelanggang Pacuan Kuda Maesa Tompaso, Kabupaten Minahasa, yang menjadi lokasi berkumpulnya para peserta dari berbagai daerah. Kehadiran kejuaraan ini membawa perhatian pada perkembangan olahraga berkuda di Sulawesi Utara sekaligus memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan persaingan pacuan kuda tingkat nasional. Penyelenggara menyiapkan 16 kelas pertandingan, sehingga perlombaan akan mencakup beragam kategori yang diikuti kuda-kuda peserta. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp700 juta. Nilai tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi kontingen dan pemilik kuda yang akan mengirimkan peserta terbaiknya. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di arena Maesa Tompaso, yang diharapkan dapat mendukung jalannya perlombaan secara tertib dan lancar.

Sebanyak 89 kuda dari 14 kontingen dijadwalkan berlaga dalam kejuaraan ini. Jumlah peserta tersebut menunjukkan keterlibatan berbagai daerah dalam kompetisi, dengan setiap kontingen membawa kuda untuk bersaing di kelas yang sesuai. Persiapan menuju hari perlombaan mencakup pengaturan jadwal dan kesiapan arena, agar pertandingan dapat berlangsung sesuai rencana. Selain memberikan ruang bagi atlet dan kuda untuk menunjukkan kemampuan, penyelenggaraan kejuaraan nasional juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan kompetisi pacuan kuda di Indonesia. Bagi tuan rumah, kegiatan ini berpotensi memperkenalkan Maesa Tompaso sebagai salah satu lokasi penting bagi olahraga berkuda. Kehadiran peserta, pendukung, dan penonton turut menempatkan daerah tersebut dalam kalender kegiatan olahraga nasional. Karena itu, pelaksanaan di Sulawesi Utara memiliki arti lebih luas daripada sekadar pertandingan satu hari: ajang ini mempertemukan komunitas pacuan kuda serta memperkuat kesempatan bagi daerah untuk menjadi bagian dari penyelenggaraan kejuaraan nasional.

Seri II ini merupakan seri ketujuh dalam rangkaian IHR 2026 yang mengusung tema “Race to the World Stage”. Tema tersebut menggambarkan arah rangkaian kompetisi yang menghubungkan pacuan kuda nasional dengan aspirasi untuk tampil di panggung dunia. Kejuaraan di Maesa Tompaso juga menjadi penyelenggaraan IHR pertama dalam kalender kejuaraan di Sulawesi Utara, sehingga menandai perluasan lokasi kegiatan ke wilayah tersebut. Pelaksanaan acara digelar oleh Sarga.co melalui kerja sama dengan PP PORDASI. Kolaborasi ini menghadirkan penyelenggara dan induk organisasi dalam penyelenggaraan kompetisi nasional. Dengan 16 kelas, 89 kuda, 14 kontingen, serta hadiah total Rp700 juta, agenda 24 Oktober menjadi salah satu perhentian penting dalam kalender IHR tahun ini. Perhatian kini tertuju pada kesiapan arena dan jalannya perlombaan, ketika peserta dari berbagai kontingen bertanding memperebutkan hasil terbaik di Tompaso.

Direktur Komersial Sarga.co, Diana Airin, menjelaskan bahwa pemilihan Sulawesi Utara sebagai lokasi Kejurnas Pacuan Kuda berkaitan dengan upaya memperluas rangkaian Indonesia Horse Racing (IHR) ke berbagai daerah. Perluasan ini membuka kesempatan bagi lebih banyak wilayah untuk menjadi bagian dari agenda pacuan kuda nasional, sekaligus memperkenalkan olahraga tersebut kepada masyarakat setempat. Sulawesi Utara dinilai memiliki dasar yang kuat untuk menjadi tuan rumah karena pacuan kuda telah lama menjadi bagian dari tradisi daerah. Pengalaman dan antusiasme masyarakat terhadap olahraga ini turut mendukung penyelenggaraan kompetisi berskala nasional.

Menurut Diana, Sulawesi Utara juga telah melahirkan kuda pacu unggulan, joki, serta pelatih profesional. Potensi tersebut memperlihatkan bahwa daerah ini bukan hanya memiliki hubungan historis dengan pacuan kuda, tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan atlet dan sumber daya olahraga. Penyelenggaraan kejuaraan nasional di wilayah tersebut diharapkan memberi ruang bagi para pelaku lokal untuk tampil, sekaligus mempertemukan mereka dengan peserta dari berbagai provinsi. Dengan demikian, perluasan IHR dapat berjalan seiring dengan penguatan ekosistem pacuan kuda di daerah, termasuk pembinaan dan kompetisi yang berkelanjutan.

Kejurnas II 2026 juga memiliki posisi penting dalam kalender PP PORDASI. Atlet bertanding mewakili kontingen daerah masing-masing untuk mengumpulkan poin. Hasil yang diperoleh pada kejuaraan ini akan diakumulasikan dengan poin dari Kejurnas I. Perolehan gabungan tersebut menjadi dasar untuk menentukan kontingen yang berhak meraih piala bergilir Presiden Republik Indonesia. Karena itu, setiap penampilan berpengaruh terhadap peluang daerah dalam persaingan keseluruhan, bukan semata-mata hasil satu nomor pertandingan. Sumber menyebutkan terdapat 14 kontingen peserta. Daerah yang tercantum adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan. Penyebutan 13 daerah tersebut mengikuti daftar yang tersedia; nama kontingen lainnya tidak dirinci. Format pengumpulan poin antarkejuaraan menjadikan agenda di Sulawesi Utara bagian dari persaingan tingkat nasional yang berlangsung sepanjang kalender kompetisi, serta memberi nilai strategis bagi setiap kontingen daerah yang berupaya mengumpulkan hasil terbaik.Susunan lomba utama Kejurnas Pacuan Kuda di Sulawesi Utara mencakup kelas A dan B, masing-masing dengan nomor sprint. Kelas A Star of Stars menempuh jarak 2.200 meter, sementara kelas A Sprint Super Sprint berlangsung sejauh 1.300 meter. Kedua nomor tersebut menawarkan hadiah masing-masing Rp90 juta. Pada kelompok berikutnya, kelas B menempuh 1.850 meter dan kelas B Sprint berjarak 1.200 meter; setiap kelas menyediakan hadiah Rp70 juta.

Sejumlah kuda yang pernah meraih podium di ajang IHR 2026 akan menjadi peserta yang patut diperhatikan. Di kelas A Star of Stars, daftar peserta mencakup Zilong Rimboka dari Rimboka Stable, Monochrome dari Miranda Stable, serta Kashmir BB dan Duke BB dari Blue Blood Stable. Kehadiran kuda-kuda tersebut menghadirkan persaingan dari beberapa stable yang telah menorehkan hasil di ajang sebelumnya.

Persaingan di kelas A Super Sprint juga diikuti nama-nama yang pernah naik podium pada IHR 2026. Nara Eclipse mewakili Eclipse Stable, sedangkan Surya BB dan Vhagar BB, yang tercatat sebagai Romeo Berjaya, berasal dari Blue Blood Stable. Di kelas B, peserta unggulan yang disebut lain Melasti dari Miranda Stable, Kancil Mas T.A dari Tombo Ati Stable, dan Agatha Star. Sementara itu, Beautiful Sion dari Prima Sion Stable akan berlaga di kelas B Sprint. Nama-nama tersebut menjadi bagian dari daftar kuda yang memiliki catatan podium di IHR 2026.

Selain empat kelas utama itu, kejuaraan juga menyediakan 12 kelas lain dengan rentang jarak lomba 600 hingga 1.600 meter. Kategori tambahan meliputi kelas kuda berusia dua tahun, serta kelas F, D, C, dan E. Ada pula kelas 3 tahun calon remaja dan kelas 3 tahun calon derby. Ragam kelompok usia dan kelas tersebut memberi ruang bagi kuda dengan tingkat pengalaman serta tahapan pengembangan berbeda untuk bertanding. Dengan susunan jarak, hadiah, dan kategori yang beragam, program lomba mencakup persaingan jarak pendek hingga menengah, sekaligus mempertemukan peserta dari berbagai stable.Tersedia beberapa pilihan tiket untuk penonton yang ingin menyaksikan Kejurnas Pacuan Kuda di Sulawesi Utara. Harga tiket dibedakan berdasarkan jenis tribun dan layanan yang disertakan. Tribun B merupakan pilihan dengan harga Rp50.000, sedangkan tiket tribun A dijual seharga Rp75.000. Kedua kategori tersebut sudah dilengkapi racebook, sehingga penonton dapat mempertimbangkan perbedaan harga dan lokasi tribun ketika memilih tiket.

Untuk penonton yang memilih tribun VIP, harga tiketnya adalah Rp150.000. Tiket ini termasuk snack dan racebook.

Baca juga: Ketika Luka Menjadi Barang Bukti: Dedy Luqman Hakim Bongkar Titik Kritis Visum dalam Perkara Kekerasan | Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026 | Dedy Luqman Hakim: “Viralitas Boleh Menjadi Alarm, Tetapi Palu Hakim Tidak Boleh Digerakkan Algoritma”