Jakarta | Wanita Syarikat Islam (WSI) menyelenggarakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) WSI 2026 di Jakarta dengan perhatian utama pada penguatan ketahanan keluarga. Agenda ini menempatkan keluarga sebagai lingkungan penting dalam membentuk nilai, karakter, dan kesiapan anggota keluarga menghadapi perubahan. Globalisasi serta perkembangan teknologi digital menghadirkan perubahan cepat dalam cara masyarakat berkomunikasi, belajar, bekerja, dan memperoleh informasi. Karena itu, keluarga perlu memiliki daya lenting agar dapat menyikapi peluang maupun tantangan dengan bijak.
Ketua Umum Pimpinan Pusat WSI, Valina Subekti, memandang perubahan tersebut tidak semata-mata membawa dampak negatif. Kemajuan teknologi dan keterhubungan global dapat mendukung kegiatan ekonomi serta memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan. Informasi dan kesempatan yang dahulu sulit dijangkau kini dapat diperoleh dengan lebih mudah, sehingga membuka ruang bagi keluarga untuk berkembang. Namun, manfaat itu perlu diimbangi dengan kemampuan memilah informasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dan menjaga hubungan antaranggota keluarga.
Valina juga mengingatkan bahwa perubahan yang berlangsung tanpa pendampingan dapat mengikis nilai religiositas, etika, moral, dan budaya yang ditanamkan dalam keluarga. Arus informasi dan kebiasaan digital dapat memengaruhi cara berpikir serta perilaku, terutama apabila keluarga tidak membangun komunikasi dan pedoman yang jelas. Dalam konteks tersebut, ketahanan keluarga bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memperkuat bekal nilai agar setiap anggota mampu beradaptasi tanpa kehilangan pijakan. Orang tua dan anggota keluarga dapat berperan melalui keteladanan, dialog, serta kesepakatan penggunaan teknologi yang sesuai kebutuhan. Mukernas WSI 2026 mengangkat perhatian pada keseimbangan tersebut: keluarga diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan zaman untuk meningkatkan kesejahteraan dan pengetahuan, sekaligus meneruskan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bersama. Penguatan ini penting agar perubahan digital dapat dihadapi sebagai peluang, bukan dibiarkan melemahkan fondasi keluarga dan kehidupan sosial.
Valina menilai bahwa perkembangan teknologi digital telah memperluas jangkauan informasi hingga ke pelosok daerah. Masyarakat kini memiliki kesempatan lebih besar untuk mengakses beragam informasi dan pengetahuan melalui perangkat digital, tanpa harus berada di pusat kota atau memiliki akses langsung ke sumber belajar tertentu. Perubahan ini membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal berbagai hal yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun, meluasnya akses tidak serta-merta berarti setiap orang mampu memahami dan menggunakan informasi secara tepat. Ketersediaan teknologi perlu diimbangi dengan kesiapan masyarakat dalam menyaring serta memaknai konten yang ditemui di ruang digital.
Menurut Valina, akses tersebut belum selalu disertai tingkat literasi digital yang memadai. Pendidikan dan pemahaman keagamaan juga belum tentu berkembang seiring dengan cepatnya penyebaran teknologi. Kesenjangan luasnya akses dan kemampuan memahami informasi menjadi hal yang perlu diperhatikan ketika membahas ketahanan keluarga. Teknologi dapat menghadirkan pengetahuan, tetapi masyarakat tetap membutuhkan bekal untuk menilai informasi dan menghadapi berbagai konten yang tersedia. Dengan demikian, perubahan digital bukan hanya persoalan tersedianya jaringan atau perangkat. Kesiapan keluarga dan masyarakat dalam menyikapi arus informasi turut menjadi bagian penting dari pembahasan.
Valina menyebut sejumlah risiko yang dapat meningkatkan kerentanan keluarga dalam situasi tersebut, lain kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual. Ia juga menyoroti pornografi, penyalahgunaan narkoba, konsumsi minuman keras, serta judi online. Berbagai persoalan itu menunjukkan bahwa tantangan keluarga tidak terlepas dari perubahan lingkungan digital dan kondisi sosial yang menyertainya. Ketika jangkauan teknologi bertambah luas, perhatian terhadap literasi, pendidikan, dan pemahaman keagamaan perlu ikut diperkuat agar masyarakat memiliki bekal yang lebih memadai. Penilaian ini menempatkan perluasan akses sebagai peluang sekaligus tantangan: kesempatan memperoleh informasi semakin terbuka, sementara kerentanan keluarga terhadap risiko yang disebutkan tetap perlu dicermati.
Valina memandang pendidikan sebagai kunci untuk memperkuat sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan digital dan berbagai tantangan yang menyertainya. Kemajuan teknologi mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, generasi muda membutuhkan bekal yang memadai agar mampu memahami perubahan, menggunakan teknologi secara bijak, serta mengambil keputusan dengan tanggung jawab. Pendidikan berperan menyiapkan kemampuan tersebut, bukan hanya melalui pembelajaran di sekolah, tetapi juga melalui keteladanan dan pendampingan di lingkungan keluarga. Dengan dukungan yang konsisten, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang siap menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai.
Menurut Valina, pendidikan tidak cukup hanya membangun kecerdasan pengetahuan atau keterampilan. Proses pendidikan juga perlu menumbuhkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak yang baik sebagai landasan perilaku. Bekal tersebut membantu seseorang memilah informasi, menjaga etika ketika berinteraksi di ruang digital, serta mempertimbangkan dampak tindakannya bagi orang lain. Penguasaan teknologi dan pengetahuan akan lebih bermakna apabila berjalan seiring dengan karakter yang kuat. Oleh sebab itu, pembentukan generasi yang cakap dan berintegritas memerlukan perhatian bersama, dengan keluarga sebagai lingkungan awal yang memperkenalkan nilai, membangun kebiasaan, dan memberikan arahan secara berkelanjutan.
WSI mendorong pembahasan persoalan strategis ini melalui Mukernas, agar tantangan perubahan digital dapat dicermati bersama dan ditanggapi dengan langkah yang relevan. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai peran keluarga dalam mendampingi anak serta membentuk generasi berkarakter. Upaya ini penting karena perubahan zaman bukan hanya menghadirkan kemudahan, tetapi juga menuntut kesiapan menghadapi risiko dan menjaga nilai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menempatkan pendidikan sebagai perhatian utama, pembahasan Mukernas diharapkan mendukung keluarga dalam menjalankan fungsi pembinaan secara lebih kuat. Sinergi pendidikan, nilai keagamaan, dan pengasuhan dapat menjadi bekal bagi generasi mendatang untuk beradaptasi secara bijak, tetap berakhlak, dan berkontribusi positif di tengah masyarakat yang terus berubah.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) WSI 2026. Forum ini dinilai menjadi ruang penting untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan kebutuhan perempuan dari berbagai wilayah. Melalui pertemuan tersebut, organisasi dapat meninjau tantangan yang dihadapi anggotanya sekaligus menyusun langkah yang relevan dengan perubahan sosial, ekonomi, dan digital. Apresiasi itu juga mencerminkan harapan agar hasil musyawarah tidak berhenti sebagai rumusan, tetapi diterjemahkan menjadi kegiatan yang dirasakan manfaatnya oleh perempuan dan keluarga.
Arifatul berharap Mukernas menghasilkan program kerja yang konkret, terukur, serta sesuai kebutuhan perempuan, baik pada tingkat nasional maupun daerah. Perencanaan yang baik perlu berangkat dari kondisi setempat, dengan mempertimbangkan perbedaan akses, sumber daya, dan persoalan yang dihadapi perempuan. Sasaran, tahapan pelaksanaan, serta cara mengevaluasi hasil dapat dirumuskan secara jelas agar kemajuan program dapat dipantau. Dengan demikian, WSI dapat memastikan kegiatan yang disusun menjawab kebutuhan nyata, menjangkau kelompok yang beragam, dan memberi dasar bagi perbaikan berkelanjutan.
WSI juga didorong untuk memperkuat kapasitas perempuan melalui pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan kepemimpinan. Upaya tersebut perlu berjalan bersama perluasan akses terhadap pendidikan dan peluang ekonomi, termasuk kesempatan untuk mengembangkan usaha serta berpartisipasi dalam dunia kerja. Di sisi lain, kontribusi organisasi dalam perlindungan perempuan dan anak perlu terus ditingkatkan, lain dengan memperkuat pemahaman mengenai pencegahan kekerasan dan mendorong lingkungan yang aman. Dukungan yang terarah dapat membantu perempuan memperoleh informasi dan pertolongan ketika menghadapi risiko atau kekerasan.
Menteri turut mengajak WSI membangun sinergi dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Kerja sama dapat menyelaraskan program, memperluas jangkauan layanan, serta mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Tujuan bersama ialah menciptakan kondisi agar perempuan dapat berkembang, terlindungi dari kekerasan, berdaya secara ekonomi, dan berpartisipasi dalam pembangunan.
Baca juga: Dukung Ketahanan Energi Nasional, Bati Tuud Koramil Ngasem Bojonegoro Hadiri Sosialisasi Survei Seismik 2D Lamturo | Sebuah Harapan dari Tuban, Keluarga Hendro Kacung Asal Tasikmadu Tengah Dicari





