Saat Kandidat Tak Hadir: Ghosting dalam Proses Rekrutmen

Saat Kandidat Tak Hadir: Ghosting dalam Proses Rekrutmen

Jakarta | Di pasar kerja, keluhan datang dari dua arah yang tampak berlawanan. Banyak pencari kerja merasa sulit memperoleh panggilan, meski telah mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Pada saat yang sama, sejumlah rekruter menghadapi persoalan berbeda: kandidat yang sudah diundang untuk wawancara justru tidak hadir tanpa memberi kabar. Situasi ini memperlihatkan bahwa tantangan rekrutmen bukan hanya soal menemukan pekerjaan atau mengisi posisi, tetapi juga menjaga komunikasi dan komitmen sepanjang proses seleksi.

Pengalaman tersebut disampaikan Adel, perwakilan rekruter dari Jac School, saat ditemui di arena job fair di Pancoran, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/10). Ia menggambarkan bagaimana ketidakhadiran kandidat setelah undangan wawancara menjadi pengalaman yang berulang dalam pekerjaannya. Peristiwa itu dapat menyulitkan perusahaan yang telah menyiapkan jadwal dan mengalokasikan waktu untuk bertemu pelamar. Bagi kandidat lain yang menunggu kesempatan, kursi wawancara yang kosong juga berarti waktu dan peluang yang tidak termanfaatkan.

Menurut pengamatan Adel, perilaku kandidat yang tidak datang tanpa konfirmasi semakin terlihat dalam lima tahun terakhir. Ia menilai kecenderungan tersebut terutama muncul di kalangan pelamar muda. Pengamatan ini memberi gambaran mengenai dinamika komunikasi perusahaan dan pencari kerja, tetapi tidak serta-merta menjelaskan alasan setiap kandidat absen. Ada kemungkinan beragam keadaan di balik keputusan untuk tidak hadir, sementara perusahaan tetap membutuhkan kepastian agar proses berjalan teratur. Karena itu, pengalaman rekruter perlu dibaca berdampingan dengan keluhan pencari kerja yang merasa sulit mendapat respons atau kesempatan wawancara. Kedua sisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan dalam ekspektasi dan komunikasi selama pencarian kerja. Kandidat mengharapkan kabar dari perusahaan, sedangkan rekruter mengharapkan jawaban atas undangan yang telah diberikan. Ketika salah satu pihak tidak memperoleh kejelasan, proses seleksi dapat terasa mengecewakan dan kurang efisien. Kisah Adel menjadi titik awal untuk memahami fenomena ini tanpa mengabaikan bahwa pengalaman pencari kerja maupun rekruter sama-sama beragam. Dengan melihat kontras tersebut, pembahasan dapat menelusuri bagaimana sikap saling memberi kabar berperan dalam membentuk proses rekrutmen yang lebih tertib dan menghargai waktu semua pihak.

Adel menggambarkan situasi ketika proses rekrutmen tampak berjalan seperti biasa, tetapi komunikasi tiba-tiba berhenti pada hari wawancara. Sebagian pelamar telah mengirimkan lamaran, melewati tahap awal, lalu menerima undangan untuk bertemu atau berbincang dengan pihak perusahaan. Namun, ketika waktu wawancara tiba, mereka tidak hadir dan tidak menyampaikan kabar bahwa mereka berhalangan. Bagi perekrut, keadaan ini dapat menimbulkan pertanyaan praktis: apakah kandidat masih berminat, mengalami kendala, atau memilih mundur dari proses seleksi.

Dalam konteks tersebut, istilah ghosting merujuk pada terputusnya komunikasi kandidat selama proses rekrutmen, khususnya ketika seseorang menghilang setelah sebelumnya merespons atau menyepakati tahapan seleksi. Istilah ini tidak digunakan untuk membahas persoalan hubungan pribadi. Yang menjadi perhatian adalah tidak adanya pemberitahuan atau penjelasan setelah perusahaan menyediakan waktu, mengatur jadwal, dan menyiapkan wawancara. Perbedaan ini penting agar pembicaraan tetap berfokus pada pengalaman profesional dan dampaknya terhadap koordinasi kandidat dan perekrut.

Menurut Adel, pengalaman seperti itu belakangan kerap ia temui. Pernyataan tersebut menggambarkan apa yang ia lihat dalam proses rekrutmen yang dihadapinya, bukan kesimpulan bahwa seluruh pelamar muda bertindak dengan cara yang sama. Kandidat memiliki alasan yang beragam untuk tidak melanjutkan seleksi, termasuk perubahan rencana atau kondisi yang tidak terduga. Karena itu, ketidakhadiran tanpa kabar sebaiknya dipahami sebagai pola komunikasi yang terjadi pada sebagian pengalaman, bukan ciri kelompok usia tertentu. Menyampaikan pembatalan singkat tetap dapat membantu kedua pihak menutup proses dengan jelas. Bagi perekrut, pemberitahuan memberi kesempatan untuk menyesuaikan agenda dan menghubungi kandidat lain. Bagi pelamar, komunikasi yang sopan menjaga hubungan profesional, sekalipun keputusan akhirnya adalah tidak meneruskan lamaran. Dengan demikian, perhatian Adel tertuju pada hilangnya komunikasi setelah undangan wawancara, bukan pada dugaan mengenai karakter semua pencari kerja.Dalam proses rekrutmen di lembaga Adel, salah satu posisi yang dibuka adalah guru preschool. Kesempatan melamar untuk posisi ini tidak dibatasi pada lulusan dari jurusan tertentu: pelamar dari semua jurusan dapat mengikuti proses seleksi. Meski latar pendidikan pelamar beragam, tahapan yang dijalani mencakup wawancara dan tes micro-teaching. Kedua tahapan itu memberi gambaran mengenai kesiapan kandidat untuk menjalankan peran yang berkaitan dengan pembelajaran dan interaksi bersama anak-anak.

Dalam tes micro-teaching, kandidat diminta memperlihatkan kemampuan mendongeng atau storytelling. Mereka juga perlu menunjukkan bagaimana berinteraksi secara hangat dengan anak-anak. Dengan demikian, penilaian tidak hanya bertumpu pada penjelasan atau jawaban dalam wawancara, tetapi juga pada cara kandidat menyampaikan cerita dan membangun interaksi dalam situasi pengajaran. Bentuk tes tersebut menjadi bagian dari proses seleksi untuk posisi guru preschool di Adel, sebagaimana dijelaskan oleh Adel.

Adel menyebut bahwa sebagian kandidat memilih mundur atau tidak hadir setelah mengetahui tantangan dalam tes itu. Ada pula kandidat yang menyampaikan bahwa mereka tidak bisa datang, tetapi kemudian menghilang tanpa memberikan kabar lanjutan. Situasi tersebut menggambarkan bagaimana ketidakhadiran dapat terjadi setelah pelamar mengetahui bentuk seleksi yang akan dijalani. Dalam contoh ini, informasi mengenai tes mendongeng dan interaksi dengan anak menjadi bagian penting dari konteks keputusan sebagian kandidat untuk tidak melanjutkan proses atau tidak datang. Pengalaman Adel menunjukkan bahwa tahapan seleksi dapat menjadi titik ketika komitmen kandidat terlihat, baik melalui kehadiran maupun komunikasi. Namun, kisah ini tidak menjelaskan alasan lebih jauh di balik keputusan masing-masing pelamar, sehingga hal tersebut tidak dapat diasumsikan. Yang dapat dicatat adalah urutan prosesnya: posisi guru preschool terbuka bagi pelamar dari semua jurusan, seleksi mencakup wawancara dan micro-teaching, lalu sebagian kandidat mundur atau tidak hadir ketika mengetahui tantangan tes. Contoh ini memperlihatkan bentuk ghosting yang muncul dalam proses rekrutmen tanpa perlu menyimpulkan motif di baliknya.

Adel menggambarkan perubahan yang ia rasakan dalam perilaku pelamar selama proses rekrutmen. Pada masa sebelumnya, kandidat yang telah menyepakati jadwal wawancara umumnya datang sesuai janji. Jika ada kendala yang membuat mereka tidak dapat hadir, mereka biasanya menghubungi pihak perusahaan untuk menyampaikan keadaan dan meminta penjadwalan ulang. Dengan komunikasi tersebut, perekrut tetap dapat memahami situasi kandidat dan menyesuaikan tahapan seleksi secara wajar.

Pengalaman Adel belakangan ini terasa berbeda. Ia lebih sering menjumpai pelamar yang tidak hadir tanpa kabar, lalu sulit dihubungi atau sama sekali tidak memberikan penjelasan. Perilaku seperti ini kerap disebut ghosting dalam rekrutmen: kandidat menghilang dari komunikasi setelah melamar, menyetujui wawancara, atau menjalani tahap seleksi. Bagi perusahaan, ketidakhadiran tanpa pemberitahuan bukan hanya menyulitkan pengaturan jadwal, tetapi juga membuat proses perekrutan menjadi kurang efisien.

Meski demikian, Adel tidak menyederhanakan perbedaan tersebut sebagai persoalan baik atau buruk antargenerasi. Ia mengakui bahwa karakter generasi memang berbeda, termasuk dalam cara berkomunikasi dan menyikapi komitmen. Perubahan kebiasaan, pilihan kanal komunikasi, serta situasi pribadi dapat memengaruhi keputusan seorang kandidat. Pengakuan ini memberi ruang untuk memahami bahwa setiap pelamar memiliki latar dan pertimbangan masing-masing, tanpa mengabaikan dampak tindakannya terhadap pihak lain.

Dalam proses seleksi, komunikasi sederhana dapat menunjukkan sikap profesional. Kandidat yang berhalangan hadir dapat memberi kabar sedini mungkin, menyampaikan alasan seperlunya, dan menanyakan apakah jadwal lain tersedia. Sikap tersebut membantu perekrut mengelola waktu dan memberi kesan bahwa pelamar menghargai kesempatan yang telah diberikan.