Kota Novi Sad | Gerakan mahasiswa menyatakan diri sebagai pemenang pemilihan parlemen Serbia yang berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2026. Pernyataan kemenangan itu menandai perubahan besar dalam peta politik negara tersebut, setelah bertahun-tahun Partai Progresif Serbia menjadi kekuatan dominan di pemerintahan. Aleksandar Vucic, yang memimpin partai itu, mengakui kekalahan dan mengatakan bahwa Student List menang.
Pengakuan Vucic menjadi perkembangan penting pada malam pemilu. Ia tidak hanya menyampaikan bahwa partainya kalah, tetapi juga secara terbuka menyebut Student List sebagai pemenang. Sikap tersebut mengonfirmasi bahwa gerakan yang digerakkan mahasiswa berhasil memperoleh dukungan cukup kuat untuk menantang partai penguasa. Dengan demikian, hasil pemilu ini mengakhiri 14 tahun kekuasaan Partai Progresif Serbia pimpinan Vucic.
Kemenangan yang diumumkan gerakan mahasiswa mencerminkan pergeseran pilihan politik pemilih Serbia. Selama 14 tahun, partai Vucic memegang peran utama dalam pemerintahan, sehingga berakhirnya dominasi tersebut menjadi titik balik bagi kehidupan politik nasional. Pemilu parlemen kali ini memperlihatkan bahwa gerakan mahasiswa dapat tampil sebagai kekuatan politik yang mampu bersaing dan mengambil alih perhatian publik dari partai yang telah lama berkuasa.
Pengakuan kekalahan oleh Vucic juga memberi bobot tersendiri pada hasil yang diumumkan. Meski rincian angka suara dan perolehan kursi tidak disertakan, dua hal telah menjadi inti dari perkembangan ini: Student List dinyatakan menang oleh gerakan mahasiswa, dan Vucic mengakui partainya kalah. Peralihan ini membuka babak baru bagi Serbia, dengan berakhirnya masa dominasi Partai Progresif Serbia serta munculnya gerakan mahasiswa sebagai pemenang pemilihan parlemen. Perhatian kini tertuju pada bagaimana hasil tersebut akan diterjemahkan ke dalam susunan politik dan pemerintahan berikutnya, serta bagaimana para pemenang menjalankan mandat yang mereka klaim dari pemilih Serbia.Selama hampir dua tahun, mahasiswa di Serbia menggelar demonstrasi yang menantang pemerintah dan menuntut pertanggungjawaban atas dugaan korupsi serta kecenderungan pemerintahan yang semakin otoriter. Aksi tersebut berkembang menjadi salah satu tekanan politik paling menonjol di negara itu, dengan mahasiswa berada di garis depan mobilisasi publik. Mereka mempersoalkan cara pemerintah mengelola kepentingan masyarakat, keterbukaan lembaga negara, dan tanggapan pejabat terhadap kritik. Demonstrasi tidak muncul sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan berakar pada kemarahan yang lebih luas terhadap tata kelola pemerintahan dan kepercayaan publik yang menurun. Dengan terus turun ke jalan, para mahasiswa membuat persoalan tersebut tetap menjadi perhatian nasional dan mendorong perdebatan mengenai tanggung jawab politik.
Pemicu awal gelombang protes adalah ambruknya kanopi atap sebuah stasiun kereta di Novi Sad pada 2024. Peristiwa tragis itu menewaskan 16 orang dan segera menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan, pengawasan, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab. Bagi banyak warga, musibah tersebut bukan sekadar kegagalan teknis, tetapi juga gambaran dari dugaan korupsi dan buruknya tata kelola pemerintahan. Kemarahan publik kemudian menguat karena masyarakat menuntut penjelasan yang dapat dipercaya dan pertanggungjawaban atas keadaan yang memungkinkan tragedi terjadi. Mahasiswa mengangkat tuntutan itu dalam aksi-aksi mereka, sekaligus menghubungkannya dengan kritik yang lebih besar terhadap cara kekuasaan dijalankan. Dengan demikian, tragedi Novi Sad menjadi titik penting yang menyatukan tuntutan keselamatan, transparansi, dan perubahan politik.
Seiring waktu, demonstrasi meluas dan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Aleksandar Vucic semakin besar. Aksi mahasiswa memperoleh perhatian di tengah ketidakpuasan publik yang telah terbentuk, sehingga pemerintah menghadapi desakan untuk menanggapi tuntutan secara politik. Dalam situasi tersebut, Vucic menggelar pemilu dini pada September. Langkah itu menempatkan protes mahasiswa dalam konteks perubahan politik yang lebih luas: demonstrasi bukan hanya menyuarakan kemarahan atas satu tragedi, tetapi juga memperlihatkan penolakan terhadap dugaan korupsi dan arah pemerintahan yang dianggap semakin otoriter. Gelombang aksi tersebut menjadi latar penting bagi perkembangan politik Serbia, karena tekanan dari masyarakat mendorong keputusan pemilu dini dan membuat tuntutan pertanggungjawaban tetap berada di pusat perhatian publik.
Dalam politik Serbia, Aleksandar Vucic dikenal sebagai politikus populis dan nasionalis yang menempati posisi penting di panggung nasional selama lebih dari satu dekade. Pengaruhnya menguat sejak 2014, ketika ia mulai memimpin pemerintahan sebagai perdana menteri. Setelah itu, ia menjabat sebagai presiden, sehingga tetap berada di pusat pemerintahan dan kehidupan politik Serbia. Pergantian jabatan tersebut tidak mengakhiri perannya sebagai tokoh dominan; sebaliknya, namanya terus menjadi poros dalam pembahasan mengenai arah politik negara itu.
Dominasi yang berlangsung sejak 2014 kini menghadapi titik perubahan setelah pihak yang didukung Vucic mengalami kekalahan. Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi, Vucic mengakui hasil tersebut secara terbuka. Ia menyatakan bahwa pihaknya kalah dan Student List menang. Pernyataan itu menandai pengakuan langsung atas hasil yang berseberangan dengan posisi politik yang selama ini ia pertahankan. Karena disampaikan kepada publik melalui siaran televisi, pengakuan tersebut menjadi momen penting dalam perkembangan politik Serbia, sekaligus memperjelas bahwa hasil pemungutan suara tidak dimenangkan oleh pihaknya.
Pengakuan Vucic juga menegaskan berakhirnya periode panjang ketika ia mendominasi politik Serbia, baik sebagai perdana menteri maupun sebagai presiden. Sejak kemunculannya sebagai pemimpin pemerintahan pada 2014, ia telah menjadi figur utama selama lebih dari sepuluh tahun. Kekalahan yang ia akui dan kemenangan Student List menunjukkan perubahan pada hasil politik setelah masa dominasi tersebut. Peristiwa ini dapat dipahami sebagai penanda berakhirnya dominasi lebih dari satu dekade, tanpa mengubah fakta mengenai posisi Vucic sebelumnya sebagai tokoh populis dan nasionalis. Pernyataannya dalam pidato televisi menjadi pengakuan publik yang jelas mengenai siapa yang kalah dan siapa yang menang. Dengan demikian, kabar kekalahan itu tidak sekadar menyebut hasil yang berbeda bagi kedua pihak, tetapi juga menandai berakhirnya rentang panjang kepemimpinan politik Vucic sejak 2014. Rangkaian jabatannya sebagai perdana menteri dan presiden menjadi latar bagi arti pengakuan tersebut dalam politik Serbia.
Begitu kemenangan diumumkan, suasana di Beograd berubah menjadi perayaan terbuka. Warga memenuhi jalanan, sementara kerumunan terus membesar hingga jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Di tengah suasana tersebut, kendaraan yang melintas membunyikan klakson, menambah riuh perayaan yang berlangsung di berbagai bagian kota. Warga menari bersama, dan para mahasiswa menyuarakan kegembiraan mereka dengan meneriakkan “kemenangan” serta “dia sudah tamat”. Seruan itu mencerminkan keyakinan bahwa hasil pemilu menandai berakhirnya dominasi politik yang telah lama mereka tantang.
Perayaan tersebut bukan semata-mata luapan emosi setelah hasil pemungutan suara. Banyaknya warga yang turun ke jalan memperlihatkan besarnya perhatian publik terhadap perubahan politik di Serbia. Kehadiran mahasiswa di pusat perayaan juga menegaskan peran penting gerakan mereka dalam mendorong tuntutan perubahan. Bagi para pendukung, kemenangan ini menjadi penanda bahwa suara masyarakat dapat mengubah keseimbangan kekuasaan, sekaligus membuka harapan terhadap arah pemerintahan yang berbeda. Namun, suasana meriah itu sendiri belum menjawab bagaimana perubahan tersebut akan dijalankan dalam praktik politik sehari-hari.
Makna hasil ini terasa lebih luas karena Serbia merupakan negara Balkan dengan jumlah penduduk sekitar enam juta jiwa. Pergeseran politik di negara tersebut dapat menjadi peristiwa penting bagi kawasan, terutama setelah masa dominasi partai penguasa. Hasil itu juga mengingatkan pada kekalahan Viktor Orbán di Hungaria pada April lalu. Perbandingan tersebut memberi konteks bagi pengamat yang melihat adanya tantangan terhadap kekuatan politik mapan di Eropa, meskipun situasi dan latar masing-masing negara tetap berbeda.
Sejumlah pihak menilai kemenangan gerakan mahasiswa Serbia berpotensi menginspirasi.






