Jakarta | Hujan yang mengguyur lereng selatan Gunung Merapi pada Senin, 26 Oktober 2026, mendorong Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Hujan dapat berkaitan dengan potensi awan panas guguran maupun banjir lahar hujan, terutama di kawasan yang berada dekat alur sungai berhulu di gunung tersebut. Peringatan ini disampaikan berdasarkan pemantauan kondisi hujan di sekitar Merapi.
Data dari Stasiun Kaliurang mencatat hujan mulai terpantau pada pukul 14.55 WIB. Dalam periode 30 menit, curah hujan yang tercatat mencapai 6,3 milimeter, dengan intensitas sebesar 12,4 milimeter per jam. Ketika laporan disampaikan pada pukul 15.25 WIB, hujan masih berlangsung. Dengan demikian, kondisi cuaca di lereng selatan saat itu masih perlu diperhatikan, karena hujan belum berhenti pada waktu pemantauan tersebut dilaporkan.
BPPTKG mengaitkan hujan di kawasan Merapi dengan kemungkinan terjadinya banjir lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di gunung. Air hujan dapat mengalir melalui jaringan sungai dan membawa material vulkanik yang berada di lereng atau di alur sungai. Karena itu, peningkatan aliran setelah hujan menjadi salah satu risiko yang patut diwaspadai, khususnya bagi warga maupun orang yang beraktivitas di sekitar bantaran dan jalur sungai. Potensi tersebut bergantung pada kondisi hujan serta ketersediaan material di kawasan hulu.
Selain lahar, masyarakat juga diminta memperhatikan potensi awan panas guguran. Imbauan kewaspadaan ini tidak berarti bahwa kedua bahaya tersebut dipastikan terjadi, tetapi menjadi pengingat untuk mencermati informasi resmi dan kondisi setempat. Warga sebaiknya menghindari alur sungai yang berhulu di Merapi ketika hujan turun atau setelahnya, mengikuti arahan petugas, serta tidak mendekati kawasan berisiko hanya untuk mengamati aliran. Pemantauan hujan dan perkembangan aktivitas Merapi menjadi dasar penting bagi masyarakat untuk menyesuaikan kegiatan, terutama di sekitar lereng selatan. Informasi dari BPPTKG dan pemerintah daerah perlu menjadi rujukan dalam mengambil langkah aman selama cuaca hujan berlangsung.
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk menjauhi daerah yang berpotensi terdampak aktivitas Gunung Merapi, terutama ketika hujan turun di kawasan puncak dan lereng. Warga, wisatawan, serta siapa pun yang beraktivitas di sekitar gunung diminta tidak memasuki zona bahaya dan tidak mendekati alur sungai yang berhulu di Merapi. Hujan dapat memicu aliran material vulkanik, sehingga situasi di sekitar sungai dapat berubah dengan cepat. Menghindari kawasan tersebut merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko ketika terjadi awan panas guguran maupun banjir lahar hujan. Masyarakat perlu mengutamakan keselamatan dan tidak menunggu sampai kondisi terlihat membahayakan sebelum menjauh.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengingatkan adanya ancaman awan panas guguran di daerah yang berpotensi bahaya serta banjir lahar hujan di sungai-sungai berhulu di Merapi. Peringatan ini perlu dipahami sebagai ajakan untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan alasan untuk mendekati lokasi demi melihat kondisi gunung atau merekam aliran. Awan panas guguran dapat mengancam kawasan yang telah ditetapkan rawan, sedangkan hujan dapat membawa material melalui sungai. Karena itu, warga di sekitar alur sungai sebaiknya memperhatikan perubahan cuaca dan kondisi lingkungan, serta segera menjauh apabila ada tanda bahaya atau arahan dari petugas.
Masyarakat diminta mengikuti rekomendasi keselamatan yang disampaikan BPPTKG, pemerintah daerah, dan petugas berwenang. Informasi resmi perlu menjadi acuan dalam menentukan kegiatan, perjalanan, maupun akses ke kawasan sekitar Merapi. Hindari menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, sebab informasi keliru dapat menghambat tindakan penyelamatan dan mendorong orang mengambil risiko. Jika diminta menjauhi lokasi, patuhi arahan tersebut dan bergerak menuju tempat yang lebih aman sesuai petunjuk petugas. Warga juga dapat mengingatkan keluarga dan orang di sekitarnya agar tidak beraktivitas di daerah bahaya ataupun di tepi sungai berhulu Merapi saat hujan. Kewaspadaan bersama membantu melindungi keselamatan masyarakat menghadapi potensi awan panas dan lahar.
Status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Dalam kondisi tersebut, masyarakat perlu memperhatikan rekomendasi bahaya yang disampaikan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), terutama ketika hujan turun di kawasan gunung. Hujan dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap aliran lahar, sementara guguran lava dan awan panas guguran tetap menjadi potensi bahaya yang harus diantisipasi sesuai sektor dan alur sungai yang telah ditetapkan.
Untuk sektor selatan hingga barat daya, rekomendasi BPPTKG mencantumkan Sungai Boyong dengan jarak potensi bahaya maksimal 5 kilometer. Sementara itu, potensi bahaya di Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng tercantum hingga maksimal 7 kilometer. Rincian ini merujuk pada jangkauan potensi bahaya guguran lava dan awan panas guguran di alur-alur sungai tersebut. Warga yang berada di sekitar alur sungai maupun beraktivitas di kawasan yang masuk dalam jangkauan itu perlu mencermati arahan resmi dan menghindari zona berbahaya.
Di sektor tenggara, rekomendasi yang sama menyebut Sungai Woro dengan jarak potensi bahaya maksimal 3 kilometer. Adapun Sungai Gendol memiliki jarak potensi bahaya maksimal 5 kilometer. Perbedaan angka pada setiap sungai menunjukkan batas jarak potensi bahaya yang dicantumkan untuk masing-masing sektor, bukan ukuran yang dapat disamakan bagi seluruh wilayah di sekitar Merapi. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengenali posisi tempat tinggal atau lokasi kegiatan terhadap alur sungai yang disebutkan dalam rekomendasi.
Angka 3, 5, dan 7 kilometer tersebut adalah jarak potensi bahaya sebagaimana tercantum dalam rekomendasi BPPTKG. Angka itu bukan pernyataan bahwa guguran atau awan panas pasti mencapai batas tersebut, maupun jaminan bahwa kawasan di luar batas sepenuhnya bebas risiko. Perkembangan aktivitas gunung dan kondisi hujan dapat berubah, sehingga warga perlu mengikuti informasi terkini dari BPPTKG dan arahan pemerintah daerah. Kewaspadaan khusus diperlukan di kawasan sungai yang berhulu di Merapi, termasuk dengan tidak mendekati alur ketika terjadi hujan lebat atau ketika ada peringatan resmi.Berdasarkan pemantauan BPPTKG, suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pengisian material di tubuh gunung api belum berhenti dan dapat berkaitan dengan aktivitas erupsi. Selama suplai magma tersebut terus terjadi, guguran material dari kubah lava berpotensi menghasilkan awan panas guguran. Bahaya ini terutama perlu diperhatikan di wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan potensi bahaya. Karena itu, pemahaman terhadap informasi resmi dan batas zona berisiko menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi ancaman bagi warga serta kegiatan yang berlangsung di sekitar lereng Merapi. Perkembangan kondisi gunung api dapat berubah, sehingga pemantauan dan penyampaian informasi secara berkala tetap diperlukan.
Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di zona bahaya, termasuk mendekati alur sungai yang berhulu di Merapi atau memasuki kawasan yang berpotensi terdampak awan panas guguran. Imbauan ini perlu dipatuhi meskipun kondisi di sekitar tampak tenang, sebab ancaman dapat muncul seiring perubahan aktivitas maupun guguran material. Warga juga perlu memperhatikan arahan petugas dan pemerintah setempat, serta mengikuti pembaruan informasi dari BPPTKG dan instansi berwenang. Membatasi aktivitas di wilayah berisiko merupakan langkah pencegahan penting, terutama bagi warga, pengunjung, dan siapa pun yang beraktivitas di sekitar kawasan rawan. Hindari menyebarkan kabar yang belum terverifikasi dan pastikan keputusan keselamatan didasarkan pada informasi resmi yang tersedia.
Saat hujan turun, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir lahar hujan, khususnya di sekitar alur sungai yang membawa material vulkanik dari kawasan puncak.
Baca juga: Forkopimda dan Warga Bersatu dalam Doa, Gelar Sholat Istisqa Memohon Turunnya Hujan





